7 Tips Belanja Cerdas

Ini cerita tentang kebanyakan (tidak semua) ibu-ibu. Konon, selain ngerumpi, ibu-ibu juga suka shopping (belanja). Berdasarkan hasil survey AC Nielsen tahun 2002 tentang shopper trend di Indonesia, didapati fakta bahwa lebih dari 87% shoppers (orang yang ber belanja) adalah wanita. Fakta lain mengatakan bahwa sekitar 59% penentu keputusan untuk membeli adalah shopper, sementara sisanya (41%) dipengaruhi oleh keinginan orang-orang di sekitar shopper (misal: keluarga). Fenomena ini mungkin disebabkan oleh ”kenyataan” bahwa ”laki-laki berasal dari Mars, sedang wanita berasal dari Venus”. Menurut John Gray, penduduk Venus (wanita) selalu lebih emosional (mengedepankan emosi ketimbang rasio) dibanding penduduk Mars (laki-laki). Jadi, agar penduduk Venus lebih rasional dalam ber belanja, simaklah penjelasan berikut:

Produk termahal belum tentu yang terbaik.

Produk menjadi mahal bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti :

  • Harga bahan baku atau kemasan yang mahal
  • Proses produksi melibatkan teknologi tinggi sehingga biaya operasionalnya mahal
  • Operasional perusahaan tidak efisien sehingga biaya tinggi dibebankan ke konsumen
  • Produsen sengaja menerapkan strategi premium pricing (harga mahal) untuk membidik segmen kelas atas (the have)
  • Produk langka di pasaran

Sungguh tidak lucu jika Anda mengira produk mahal yang Anda beli adalah produk terbaik, sementara pada kenyataannya pabrik pembuat produk tersebut tidak efisien (contoh gampang : menggaji orang yang tidak becus bekerja dengan gaji tinggi). Memang, untuk tahu sejauh itu hampir tidak mungkin. Urusan harga memang sensitif. Tapi, kebanyakan konsumen kesulitan untuk menghitung apakah uang yang dikeluarkan sudah sepadan dengan kualitas barang yang dibeli atau belum.

Tak ada barang gratisan

Sebenarnya, konsumen diuntungkan dengan semakin ketatnya persaingan bisnis. Lihat saja saat berbagai produk gencar berpromosi, beli ini gratis itu. Beli susu anu dapat gelas. Beli 5 bungkus mie instan, gratis 1 bungkus. Discount 20 %. Asal kualitas produknya memang bagus, it’s OK. Tak ada salahnya memilih produk tersebut agar sekaligus dapat gratisan. Tapi ingat, biaya promosi akan dibebankan ke konsumen. Mana ada produsen yang mau rugi. Jadi, sama saja. Akhirnya, selalu konsumen yang harus membayar barang ”gratisan” tersebut. Di zaman sekarang, apa sih yang gratis? Kencing saja bayar!

Perhatikan pula promosi yang dilakukan di sebuah mini market yang memasang spanduk berbunyi “Hanya dalam minggu ini. Setiap belanja kelipatan Rp100.000, Anda berhak membeli payung cantik dengan hanya Rp. 15.000”. Wow! Perhatikan dulu, apakah harga barang setelah ada spanduk lebih mahal dibanding harga barang sebelum ada spanduk? Jika lebih mahal, berarti biaya promosi dibebankan ke konsumen dengan cara menaikkan harga. Jika tidak, perhatikan payungnya. Sebab ada yang “gelap” di sini, yaitu: seperti apakah payung cantik itu? Jangan–jangan biaya pembuatan payung tersebut tidak lebih mahal dari Rp15.000. Jika tebakan Anda benar, berarti toko tersebut sedang jualan payung.

Beli produk atau kemasan?

Konon, sekitar 80% penglihatan akan tertuju pada kemasan yang sederhana, tapi menarik. Berangkat dari kenyataan ini, banyak produsen yang berlomba-lomba untuk menarik konsumen melalui desain kemasan yang eye catching. Saking menariknya kemasan membuat tak jarang harga kemasan lebih mahal dibanding produk yang dikemasnya. Sebagai contoh, saya akan mengambil produk yang fenomenal, yaitu air minum dalam kemasan (AMDK). Sekitar tahun 2005, bahan baku berupa air pegunungan bisa dibeli di Sukabumi seharga Rp50.000 untuk 1 tanki (volume 8.000 liter) air. Sementara botol PET berukuran 600 mL bisa dibeli seharga Rp. 600/pcs. Berapa rupiah yang Anda bayar untuk membeli AMDK tersebut di toko? Sekitar Rp1.000. Selamat berhitung. Jadi, Anda mau beli air atau beli botol?.

Hati-hati berbelanja di toko murah

Kebanyakan toko menjual 1 kg gula seharga Rp12.000, sementara toko “anu” menjual hanya seharga Rp11.500. Pendeknya, toko “anu” menjual barang dengan harga yang “lebih murah”. Pengunjung pun membludak. Padahal, toko “anu” menerapkan subsidi silang. Harga ”ini” lebih murah, tapi harga ”itu” lebih mahal. Barang yang banyak dicari biasanya dibandrol dengan harga murah untuk menarik pengunjung. Ini butuh kejelian.

Tapi, tidak semua toko menggunakan strategi seperti ini. Hypermarket misalnya, strategi minus margin dan rantai distribusi yang pendek membuatnya bisa menjual dengan harga murah.

Jangan hanya berpatokan pada harga dan netto

Terkadang, konsumen hanya membandingkan harga dan netto saat memilih produk refill (isi ulang). Ambil contoh, sebuah susu formula Y dengan netto 250 g dijual seharga Rp 20.000, sementara susu Z dengan netto 250 g dijual seharga Rp 21.000. Jika keduanya memiliki kandungan nutrisi yang sama, produk mana yang Anda pilih? Sekilas, produk Y lebih murah dibanding produk Z. Sekarang, coba perhatikan petunjuk penyajiannya. Meski sama-sama 250 g, produk Y bisa disajikan menjadi 10 gelas susu, sedang produk Z bisa disajikan menjadi 12 gelas susu. Sekali lagi, produk mana yang Anda pilih? Tentu produk Z, bukan? Meski bandrol harga produk Z lebih mahal dibanding produk Y (dengan netto yang sama) tetapi produk Z bisa disajikan menjadi 12 gelas susu. Selisih harga cuma Rp1.000 (21.000 dikurangi 20.000), tetapi selisih penyajiannya 2 gelas (12 gelas dikurangi 10 gelas).

Hindari gaya belanja yang tak baik

Beberapa konsumen senang melakukan impulsive buying (belanja berdasar kata hati). Orang seperti ini tidak memikirkan dari awal, barang apa saja yang hendak dibeli. Tapi, begitu tiba di hypermarket, barang apa saja yang menurutnya bagus, dibeli. Ini dibeli. Itu dibeli. Aduh, boros banget. Mending, dari rumah sudah bikin daftar belanja. Barang apa saja sih yang benar-benar diperlukan dan harus dibeli? Be wise!

Awas penipuan

Model penipuan ini pernah saya temui, baik di kota besar maupun di kampung-kampung pinggiran. Seorang salesman parlente berdasi, tiba-tiba bertanya : ”Untuk memasak di rumah, ibu menggunakan kecap apa?” ”Oh, kecap anu yang katanya nomor satu itu”, jawab si ibu, polos. ”Wah, selamat Bu! Ibu beruntung! Kami dari PT. Antah Berantah, produsen kecap yang ibu gunakan. Karena ibu telah membeli produk kami, maka ibu berhak mendapat diskon sebesar 50% untuk pembelian paket eksklusif yang terdiri dari panci teflon, panggangan sate dan 1 set pisau dapur senilai Rp100.000. Jadi, karena ibu dapat diskon, ibu hanya cukup membayar Rp50.000 saja”. Padahal, seandainya ibu tadi menggunakan kecap selain kecap dari PT. Antah Berantah, salesman tersebut tetap menawarkan diskon yang sama. Dasar penipu. Wajar saja ”diskon”, lha wong panci, panggangan dan pisau yang ditawarkan bukan barang ber-merk (kualitasnya belum jelas), yang harga sebenarnya tak lebih dari Rp. 40.000.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*