Beda Aja Kok Repot !

Saya bersuku Jawa dan beragama Islam, tapi saya (dulu) minoritas. Lah, kok bisa ?. Ya bisa lah. Meski tinggal di Jawa, saya dibesarkan di lingkungan Pecinan. Keluarga jawa-islam seperti saya di kampung kami, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tak sampai seperempat dari keluarga non jawa – non islam. Ya, namanya juga Pecinan, sebagian besar penduduk kampung kami tentu ber-“suku” Cina. Ada Cina miskin, Cina super kaya (di kota kami), Cina muslim, Cina ber-indera keenam, hingga penerus Lauw Djeng Tie, pendekar Kung Fu Siauw Liem Sie legendaris Indonesia.

Kami bermain bersama. Ikut ronda malam bersama (terutama pasca kerusuhan 98). Meski sesekali berkelahi saat remaja. Bukan karena masalah kesukuan (jawa vs cina), tapi soal keisengan dan ejek-ejekan. Salah satu keisengan terkonyol yang saya ingat adalah menyumpal lubang kunci pintu pagar dengan permen karet atau memencet tombol bel rumah berkali-kali, lalu lari terbirit birit sebelum si empunya rumah membuka pintu. Sekali lagi, ini bukan soal kesukuan. Korban keisengan kami adalah rumah-rumah besar yang kami tidak tahu siapa penghuninya. Benar, tak kenal maka tak sayang. Kami bertetangga, tapi kami tak kenal siapa tetangga yang bahkan belum pernah kami lihat pintu rumahnya terbuka.

Mushola kami sederhana. Sempit dan tanpa pengeras suara. Dalam radius sekian meter, tempat tinggal kami dikelilingi oleh Kelenteng yang berhalaman luas, Gereja Pantekosta yang mewah, Gereja Kristen Jawa serta dua Gereja Katholik yang megah. Suara kebaktian seolah menjadi backsound kampung kami. Bahkan di rumah kami pun tersimpan beberapa Injil Perjanjian Baru yang kami peroleh secara gratis. Kami dilarang oleh orang tua kami untuk menghadiri undangan Natal, tapi kami diijinkan ke Gereja di luar waktu ibadah untuk bermain dengan anak-anak pak Pendeta. Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Urusan agama, urusan individu. Bukan urusan interaksi sosial. Walau minoritas, pengenalan kami akan agama Islam cukup baik (baca: bukan abangan). Ada pak Haji yang mengajari kami mengaji, ada “santri NU”, ada “pemuda Muhammadiyah”.

Bapak saya (sebelum meninggal di usia yang belum tua) adalah seorang penjahit yang cukup banyak pelanggannya. Dan entah kenapa, banyak orang dengan beragam latar belakang yang betah berlama lama di rumah reot kami sambil curhat tentang apa saja : usahanya yang seret, anaknya yang kuliah di luar negeri atau sekedar bermain catur hingga (ibu-ibu) nonton telenovela bareng (halah). Lucu-lucu memang, bahkan ada pemilik hotel yang mobilnya banyak, bilang tak punya uang untuk beli celana, lalu minta celana-celana lamanya yang sudah robek untuk ditambal. That’s life.

Mungkin karena pernah merasakan tinggal di lingkungan yang beragam itulah, walau saya introvert, saya bisa menerima per beda an. Dari per beda an itulah saya bisa belajar.

Saya nyaman berteman dengan semua orang : baik jokower, hater, wahabi, anti wahabi, pro atau anti LGBT dan lain-lain. Tak ada niat saya untuk un-friend pertemanan ini. Justru saya merasa wawasan saya bertambah dengan selalu melihat sesuatu dari 2 sisi (pro & kontra).

Lha wong Tuhan saja sengaja menciptakan per beda an ini, kok kenapa saya yang cuma manusia harus repot menginginkan semua musti seragam sesuai dengan pendapat saya ?.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al Hujurat : 13).

Sudah. Itu saja.

Komentar dari pengguna Facebook

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*