Berat Badan Ideal Idaman Wanita

Merasa cukup dengan apa yang ada merupakan tingkah laku makhluk hidup di bumi pada umumnya, kecuali manusia. Lihatlah harimau. Seganas apa pun harimau, dia hanya memakan mangsa secukupnya. Apakah Anda pernah menjumpai harimau sedang ngemil?. Lain halnya dengan manusia. Makhluk serakah, seperti terkisah dalam dongeng Yunani kuno tentang Midas. Karena keserakahannya, ia ingin agar semua benda yang disentuhnya menjadi emas. Hingga akhirnya, anaknya berubah menjadi emas, makanannya berubah menjadi emas. Dan Midas-pun hidup merana. Oleh karena itu, jika Anda ingin mencapai bentuk badan ideal, jangan serakah.

BERAT BADAN

Siapa sih yang tidak ingin memiliki berat badan ideal? Hampir semua orang ingin memiliki badan ideal, terutama wanita. Badan ideal diperoleh dari asupan gizi yang memadai dan penggunaan energi yang cukup. Pendek kata, besar pasak sama dengan tiang. Jumlah kalori yang masuk seimbang dengan kalori yang keluar. Nah, berikut ini beberapa rumus yang terkait dengan bentuk badan:

1. BROCCA

Berat badan normal (Kg): tinggi badan (cm) – 100 cm

Berat badan ideal (BBI): (berat badan normal) x 0.9

Adapun untuk orang Indonesia pada umumnya, berat badan (Kg) yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

Umur lebih dari 35 tahun : Tinggi badan (cm) dikurangi 100

Umur 20 – 35 tahun : Tinggi badan dikurangi 100 dikurangi 10%

Remaja di bawah umur 20 tahun : Tinggi badan (cm) dikurangi 110

 2. Body Mass Index (Indeks Massa Tubuh)

BMI : Berat Badan (Kg)
Tinggi Badan dikuadratkan (m)
BMI Kategori
< 18,5 Kurus
18,5 – 22,9 Normal
23,0 – 25,0 Gemuk
> 25,0 Obesitas

3. Kerangka Tubuh

r : Tinggi Badan (cm)
Lingkar Pergelangan Tangan (cm)
Kerangka Tubuh Pria Wanita
Besar r < 9,6 r < 10,1
Sedang R = 9,6 – 10,4 r = 10,1 – 11,0
Kecil r > 10,4 r > 11,0

4. Apel dan Pear

Tipe Ukuran Pinggang Pria Ukuran Pinggang Wanita
Apel > 101.6 cm > 88.9 cm
Pear <  101.6 cm < 88.9 cm

Apel : gemuk di perut (biasa terjadi pada pria),

Pear : gemuk di pinggul (biasa terjadi pada wanita)

”CEKING”

Anak kecil berambut merah, tapi bukan bule. Kurus, perutnya buncit dan terkadang mengeluarkan cacing dari (maaf) anus. Orang Afrika menyebutnya kwashiorkor. Dunia internasional menyebutnya Calorie Protein Malnutrition. Orang Indonesia menyebutnya busung lapar. Penyebabnya jelas, si anak mengalami kekurangan kalori dan protein (KKP).

Pada pertengahan tahun 2005, media massa gencar memberitakan penyakit busung lapar yang diderita oleh 1,67 juta dari 20,8 juta balita di Indonesia, atau sekitar 8% populasi balita. Miris mendengarnya. Bak anak ayam mati di lumbung padi. Selain gizi buruk, masyarakat kita juga banyak yang terkena anemia, gangguan akibat kekurangan Iodium (GAKI) serta kekurangan vitamin A.

Sejak tahun 80-an, angka balita yang mengalami kekurangan vitamin A terus meningkat. Selain rentan terhadap infeksi, kekurangan vitamin A dapat menyebabkan buta senja atau xerophtalmia (mata kering), yang bisa berlanjut pada kebutaan.

GAKI pada ibu hamil dapat menyebabkan kelainan fisik serta mental janin, keguguran, lahir mati, lahir cacat, kerdil hingga kelainan psikomotorik. GAKI pada remaja dan dewasa menyebabkan pembesaran kelenjar gondok, cacat mental dan fisik (kerdil). Selain itu, penderita gondok akan mengalami penurunan IQ sebesar 10 poin, sementara penderita kretin (kerdil) mengalami penurunan IQ sebesar 50 poin di bawah normal.

Kekurangan zat besi (anemia) mengakibatkan badan terasa lemah, letih, lesu, terganggunya proses pertumbuhan sel otak, serta dapat menurunkan produktivitas kerja sebesar 10 – 20%.

“GEMBROT”

Aktifitas fisik yang sedikit, lapar mata (setiap melihat makanan, bawaannya lapar melulu), kesukaan terhadap makanan berlemak dan makanan manis memungkinkan orang mudah terkena obesitas. Selanjutnya, penderita obesitas berisiko menderita penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi (hipertensi), kanker, ginjal, hati, stroke, varises, stres, arthritis dan diabetes mellitus. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Berat badan merupakan indikator termudah untuk mengetahui ”gembrot” tidaknya seseorang. Mengapa ?. Karena kita dengan mudah bisa menjumpai alat pengukur berat badan di banyak tempat, sehingga kita bisa tahu berat badan kita dengan mudah pula. Tapi, berat badan bukanlah satu-satunya indikator ke-”gembrot”-an. Komposisi tubuh, jumlah lemak serta massa otot juga merupakan indikator yang perlu diperhatikan. Ada orang yang berat badannya cukup berat, tapi jumlah lemaknya sedikit. Orang seperti ini belum bisa dikatakan ”gembrot”. Sayang, alat pengukur lemak hanya bisa kita jumpai di klinik-klinik tertentu.

Selain itu, penyebaran berat tubuh juga perlu diperhatikan. Timbunan lemak di sekitar perut berisiko menimbulkan penyakit. Wanita bertubuh “apel” lebih berisiko menderita penyakit jantung dan diabetes dibanding wanita bertubuh “pear”.

Kebanyakan orang ”gembrot” ingin melangsingkan tubuhnya. Caranya bisa dengan mengonsumsi produk ”pelangsing”, akupuntur hingga sedot lemak. Tetapi, diet yang paling ”murah” tentu saja dengan mengubah gaya hidup sejak dini. Kunyahlah makanan hingga lembut, mulailah makan setelah lapar dan berhentilah sebelum kenyang, gunakanlah piring kecil (agar makanan yang sedikit terlihat banyak) serta cobalah untuk tidak mengonsumsi makanan berat sebelum tidur.

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*