Biarkan Dia Kencing di Dalam Masjid

Dulu, orang Arab Badui dikenal sebagai orang pedalaman yang terbelakang moralnya. Mereka mudah dikenali. Perawakan tubuhnya tinggi. Hidungnya mancung. Suatu hari, seorang Arab Badui memasuki masjid. Ia berdiri, tapi bukan sedang sholat. Orang Arab Badui itu sedang kencing di dalam masjid.

Appaaa ??? Kencing di dalam masjid ???.

Mendapati perilakunya yang kurang ajar, beberapa sahabat yang berada di dalam masjid langsung berdiri dan hendak menghajar orang Arab Badui itu. Namun, Rasulullah Saw yang berhati mulia mencegahnya: “Biarkanlah dia dan tuangkanlah di bekas kencingnya sesiraman atas seember air. Karena, kalian semata diutus untuk memberikan kemudahan, bukan untuk memberikan kesulitan” (Shahih Bukhari).

Selanjutnya, Rasulullah Saw memanggil orang Arab Badui tersebut dan berkata: “Sesungguhnya masjid ini tidak digunakan untuk kencing dan untuk kotoran, akan tetapi sesungguhnya masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an” (Shahih Muslim).

Kita sadar, masalah adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Kita tahu, sebuah masalah bisa diselesaikan dengan beberapa solusi. Kita mengerti, beda pilihan solusi, beda pula hasilnya. Tapi, seringkali kita tak sanggup memilih solusi yang bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Kencing di dalam masjid itu salah. Orang salah pantas dihukum. Logikanya begitu. Seandainya sahabat memilih untuk menghukum orang Arab Badui itu, tentu akan butuh energy besar untuk bertengkar dan berkelahi, belum lagi mereka harus membersihkan masjid dari air kencing. Selain itu, orang Arab Badui yang merasa buang hajatnya terganggu bisa jadi akan melawan karena diperlakukan kasar. Lalu, mungkin saja, orang Arab Badui itu akan membenci sahabat, membenci Rasulullah Saw dan membenci agama Islam.

Rasulullah Saw sangat memahami persoalan ini. Beliau memilih untuk menempuh jalan damai. Tak ada kekerasan. Sahabat hanya perlu membersihkan masjid dari air kencing tanpa perlu berkelahi. Demikian pula orang Arab Badui yang tidak terganggu hajatnya dan belajar tentang adab di dalam masjid yang belum diketahuinya.

Begitulah seharusnya kita. Kita hadir untuk menjadi solusi atas permasalahan umat, yaitu memberikan kemudahan, bukan kesulitan. Fokus pada masalah terkadang justru menimbulkan masalah baru, tapi fokus pada solusi tak jarang menjadikan segala sesuatunya lebih baik.

Kini, orang-orang seperti orang Arab Badui itu masih ada di sekitar kita. Boleh jadi mereka tak lagi mengencingi masjid, tapi mereka membakar Al Qur’an, membuat karikatur Nabi atau perbuatan bodoh lainnya. Anda pilih yang mana, menghajar mereka atau memberinya nasehat ?. Membuat mereka makin menjauh ? atau justru mendekat ?.

Saat Rasulullah Saw mengutus Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berpesan: “Hendaknya kalian berdua mempermudah, jangan mempersulit, memberi kabar gembira, tidak menjadikan orang menjauh, dan bersatu padulah!” (Shahih Bukhari).

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*