Contoh Studi Kelayakan Usaha Kecil

Pada saat merintis usaha, sebaiknya gunakanlah modal pribadi atau pinjaman lunak yang tidak mengikat (biasanya pinjaman seperti ini berasal dari keluarga atau sahabat). Dengan demikian, Anda bisa lebih fokus mengurus usaha tanpa dipusingkan oleh kewajiban membayar pinjaman. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat Anda mengajukan permohonan modal adalah :

  • Anda harus meyakinkan pemodal bahwa Anda akan berpegang teguh pada perjanjian dan berusaha sekuat tenaga mempertahankan kekayaan usaha sehingga ada jaminan bahwa modal akan dikembalikan sesuai perjanjian.
  • Anda harus menunjukkan dokumen yang menggambarkan studi kelayakan usaha yang Anda dirikan.
  • Anda harus memberikan bukti bahwa sebagian besar modal usaha berasal dari modal pribadi. Hal ini menjadi bukti bahwa Anda sendiri merasa optimis dengan prospek usaha yang Anda dirikan.
  • Anda harus mampu memberikan agunan/jaminan kepada pemodal, berupa tanah, rumah, surat berharga atau yang lainnya.
  • Anda harus menunjukkan keseriusan dalam berusaha, tidak sekedar main-main atau bahkan ikut-ikutan.
  • Anda harus menunjukkan bahwa tubuh Anda sehat dan memiliki kesiapan pengamanan terhadap kemungkinan kebakaran, banjir, perampokan dan musibah lain yang bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kekayaan Anda.

Beberapa informasi yang perlu dicantumkan dalam laporan studi kelayakan usaha diantaranya adalah :

A. Pengantar
– Manfaat Umum (dari usaha Anda) :
– Manfaat ekonomis (dari usaha Anda) :
– Manfaat lain-lain (dari usaha Anda) :

B. Gambaran Umum
– Nama Perusahaan :
– Pemilik Perusahaan :
– Bentuk Perusahaan :
– Lokasi Perusahaan :
– Ketenagakerjaan :

C. Perizinan
– Izin Usaha :
– Izin Penggunaan Tanah :
– Izin lain-lain :

D. Rencana Produksi
– Jenis Usaha :
– Kapasitas Produksi : /bulan
– Rencana Produksi : /semester

E. Pemasaran dan Pesaing
– Daerah Pemasaran :
– Jumlah yang dipasarkan :
– Sistem Penjualan :
– Produk Pesaing :
– Jumlah Perusahaan sejenis :
– Jumlah Produksi dari Perusahaan Sejenis :

F. Modal
(dicantumkan detail kebutuhan modal hingga waktu balik modal seperti yang dicontohkan di bagian akhir artikel ini)

G. Lampiran
– Denah lokasi
– Lay out pabrik
– Alur proses produksi beserta mesin dan peralatan

Contoh Kebutuhan Modal Usaha Pengolahan Keripik Singkong

1. Modal Tetap

No Uraian Biaya Jumlah
1 Tanah :
– Luas (m2) 50
– Harga/m2 Rp      200,000 Rp 10,000,000
2 Bangunan :
– Luas (m2) 40
– Harga/m2 Rp   1,000,000 Rp 40,000,000
3 Mesin dan Peralatan
– Pisau 2 pcs Rp         30,000
– Mesin Perajang  1 pcs Rp   8,000,000
– Ember Besar 4 pcs Rp       120,000
– Wajan 2 pcs Rp       540,000
– Serokan 4 pcs Rp       200,000
– Mesin pengaduk  1 pcs Rp   4,000,000
– Baskom 4 pcs Rp       320,000
– Timbangan 2 pcs Rp       800,000
– Hand Sealer 2 pcs Rp       800,000
– Dispenser plakban 2 pcs Rp       100,000
– Kompor Gas 2 pcs Rp       500,000
4 Sepeda Motor  1 pcs Rp14,000,000
5 Lain-lain 5% Rp   3,970,500
  Total   Rp 83,380,500

2. Modal Tidak Tetap

No Uraian Biaya Jumlah
1 Upah karyawan
– pimpinan 1 orang Rp   1,500,000
– pelaksana 6 orang Rp   4,800,000
– sales 1 orang Rp   1,200,000
2 Persediaan bahan baku & kemas
– Singkong
(25 hari x 1000 Kg x Rp. 700) Rp 17,500,000
– Bumbu Balado
(25 hari x 40 Kg x Rp. 31000) Rp 31,000,000
– Minyak Goreng
(25 hari x 150 Kg x Rp. 9000) Rp 33,750,000
– LPG
(25 hari x 2 tabung @ 12 Kg x Rp. 75000) Rp   3,750,000
– Plastik pengemas
(25 hari x 1280 pcs x Rp. 300) Rp   9,600,000
– Karton
(25 hari x 320 pcs x Rp. 1500) Rp 12,000,000
– Plakban
(25 hari x 4 pcs x Rp. 7000) Rp       700,000
  Total   Rp 115,800,000

misal : perhitungan dalam 1 bulan atau 25 hari kerja

3. Biaya Tetap per Bulan

No Uraian Biaya Jumlah
1 Gaji Rp   7,500,000
2 Tunjangan karyawan 20% Rp   1,500,000
3 Biaya Pemeliharaan
– Bangunan 1% Rp       400,000
– Mesin dan alat 1% Rp       154,100
– Kendaraan 1% Rp       140,000
4 Biaya Penyusutan
– Bangunan 1% Rp       400,000
– Mesin dan alat 2% Rp       308,200
– Kendaraan 1% Rp       140,000
5 Bunga Modal
– Modal Tetap 1% Rp       833,805
– Modal Kerja 1% Rp   1,158,000
6 Listrik Rp       150,000
7 Air Rp       100,000
8 Telpon Rp       100,000
  Total   Rp 12,884,105

4. Biaya Tidak Tetap per Bulan

No Uraian Biaya Jumlah
1 Singkong
(23 hari x 1000 Kg x Rp. 700) Rp 16,100,000
2 Bumbu Balado
(23 hari x 40 Kg x Rp. 31000) Rp 28,520,000
3 Minyak Goreng
(23 hari x 150 Kg x Rp. 9000) Rp 31,050,000
4 LPG
(23 hari x 2 tabung @ 12 Kg x Rp. 75000) Rp   3,450,000
5 Plastik pengemas
(23 hari x 1280 pcs x Rp. 300) Rp   8,832,000
6 Karton
(23 hari x 320 pcs x Rp. 1500) Rp 11,040,000
7 Plakban
(23 hari x 4 pcs x Rp. 7000) Rp       644,000
  Total   Rp 99,636,000

misal : perhitungan dalam 1 bulan hanya 23 hari kerja karena ada 2 hari libur nasional

 

Hasil produksi selama sebulan                    : 23 hari x 1280 pcs @ 250 g

Harga per pcs (sesuai harga pasaran)       : Rp. 4,500

Hasil penjualan                                              : 23 x 1280 x 4500 = Rp. 132,480,000

Biaya produksi                                               : 12,884,105 + 99,636,000 = Rp. 112,520,105

Keuntungan kotor                                         : 132,480,000 – 112,520,105 = Rp. 19,959,895

Zakat, pajak dan biaya lain (misal : 7%)   : (7/100) x 19,959,895 = Rp. 1,397,193

Keuntungan bersih per bulan                     : 19,959,895 – 1,397,193 = Rp. 18,562,702

Titik impas/break event point (BEP)       : biaya tetap dibagi dengan 1-(biaya tidak tetap dibagi hasil penjualan)

: Rp. 12,884,105/(1-(Rp 99,636,000/ Rp. 132,480,000)) = Rp.   52,012.256

Persentase BEP                                             : biaya tetap dibagi hasil penjualan dikurangi biaya tidak tetap
: Rp 12,884,105 / (Rp. 132,480,000 – Rp 99,636,000)  =          39,2 %

Kapasitas pada BEP                                      : presentase BEP x hasil produksi sebulan

: 0,392 x (23 hari x 1280 pcs) = 11540,48 pcs

 

Artinya : pada saat produksi mencapai 11541 pcs @ 250 g, maka pengusaha sudah mencapai titik impas (tidak mengalami untung maupun rugi)

 

Tingkat pengembalian modal        = (keuntungan bersih + biaya penyusutan) dibagi investasi awal

: Rp.18,562,702 + (Rp400,000 + Rp308,200+Rp140,000) / Rp 83,380,500 + Rp 115,800,000 = 9.74%

 

Waktu balik modal                             : 1/tingkat pengembalian modal

: 1/0,0974 = 10,27 bulan

Jadi, waktu yang dibutuhkan untuk kembali modal adalah 10 bulan 8 hari

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*