Desain Kemasan Makanan Untuk UKM

Tujuh kali tujuh, empat puluh sembilan. Setuju tidak setuju, yang penting penampilan. Seenak apapun produk Anda, kalau penampilannya ”ndeso”, boleh jadi orang enggan melirik. Sedemikian pentingnya penampilan membuat Anda harus menaruh perhatian khusus pada desain kemasan yang akan Anda gunakan untuk membungkus produk. Selain bisa memberi daya tarik bagi konsumen untuk membeli produk (1), kemasan bisa mencegah kerusakan selama pengangkutan dan distribusi (2) serta memperpanjang umur simpan makanan, sehingga makanan dapat didistribusikan ke daerah lain (3).

Desain Kemasan

Otak memiliki kecenderungan untuk merekam segala sesuatu yang dianggapnya menarik, oleh karena itu kemasan yang dirancang harus memiliki daya tarik visual dan praktis. Jika Anda tidak bisa merancang kemasan yang menarik, jangan memaksakan diri. Tidak semua orang bisa memadukan goresan & warna menjadi gambar atau tulisan yang enak dipandang. Ini butuh seni tersendiri. Mintalah bantuan saudara atau siapapun yang lebih menguasai untuk merancangnya. Atau Anda bisa menghubungi Studio desain Merk dan Kemas (Ditjen Industri dan Dagang Kecil Menengah Jl. Gatot Subroto Kav 52 – 53 Lt. 14, Telp. 021 525 5509 ext. 2361). Ingat, kemasan yang menarik bisa mempengaruhi orang untuk membeli produk Anda.

Seringkali produk UKM hanya dikemas menggunakan plastik transparan (jenis PP) yang disertai kertas bertuliskan merk produk atau menggunakan stiker atau langsung disablon. Kemasan seperti ini sudah umum (tidak unik). Usahakan kemasan yang Anda gunakan bisa memberi kesan pertama yang lebih menggoda dan tampil beda. Kemasan etnik (misal : anyaman dari rotan/bambu, daun jati), kardus dari kertas duplex atau ivory, alumunium foil atau plastik metallized yang dipadukan dengan tulisan dan gambar full color bisa menjadi alternatif pilihan. Memang, modal yang dikeluarkan untuk kemasan tersebut lebih besar, namun tak seberapa jika dibandingkan dengan potensi keuntungan yang bisa Anda peroleh.

Beberapa informasi yang perlu dimuat dalam kemasan diantaranya adalah :

  1. Nama produk & merk

Branding (terjemahan sederhananya : pemberian merk) itu penting. Merk merupakan identitas yang bisa membedakan produk Anda dengan produk pesaing. Konon, banyak produk yang sukses di pasaran lantaran merk. Sebaiknya Anda memilih merk yang mudah diucapkan (misal : Coca Cola, Aqua), unik, bukan nama umum dan belum ada yang memakai merk serupa agar kelak merk Anda bisa didaftarkan ke Departemen Hukum & HAM. Jika merk Anda sudah terdaftar, maka orang lain tidak berhak menggunakan merk tersebut.

  1. Berat bersih

Berat bersih merupakan berat produk yang dikemas. Jika produk Anda mengandung cairan – misal : fruit cocktail, nata de coco dalam syrup, sarden dengan saus tomat – maka Anda perlu mencantumkan bobot tuntas produk tersebut. Bobot tuntas merupakan bobot produk berupa padatan (tanpa cairan).

  1. Nama dan alamat produsen atau distributor

Alamat surat atau nomor telpon produsen sangat berguna bagi konsumen yang ingin menyampaikan keluhan terkait mutu produk. Produsen membutuhkan feed back dari konsumen untuk mengevaluasi kualitas produknya.

  1. Nomor P-IRT/MD

Nomor MD yang dikeluarkan oleh BPOM diperuntukkan bagi produk makanan hasil produksi perusahaan besar (proses produksinya melibatkan mesin semi otomatis atau mesin otomatis di pabrik) dalam negeri. Untuk UKM (proses produksinya kebanyakan masih manual dan produksinya dilakukan di area rumah), cukuplah mencantumkan nomor P-IRT. Nomor P-IRT bisa Anda peroleh dari Dinas Kesehatan yang terdapat di tiap Kabupaten/Kota. Untuk memperoleh nomor P-IRT, Anda perlu mengikuti pelatihan tentang Cara Pengolahan Makanan yang Baik yang diadakan oleh Dinas Kesehatan. Selanjutnya, Dinas Kesehatan akan melakukan survey ke lokasi usaha. Untuk mengetahui prosedur selengkapnya, Anda bisa menghubungi Dinas Kesehatan yang ada di kota Anda.

  1. Logo Halal

Sertifikat halal bisa diperoleh dari LPPOM MUI di tiap provinsi, atau jika Anda kesulitan, cobalah hubungi Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Kabupaten/Kota. Anda tidak perlu latah dengan mencantumkan tulisan ”100 % Halal” karena sebenarnya hukum halal adalah mutlak, bukan prosentase (99.9 % halal berarti haram).

  1. Tanggal kadaluarsa

Tanggal kadaluarsa dicantumkan sebagai “best before date”, manakala produk masih dalam kondisi baik dan masih dapat dikonsumsi beberapa saat setelah tanggal yang tercantum terlewati (biasa dicantumkan pada produk makanan kering). Tanggal kadaluarsa dicantumkan sebagai “use by date” jika produk tidak dapat dikonsumsi setelah tanggal yang tercantum terlewati, karena berbahaya bagi kesehatan manusia (biasanya dicantumkan pada produk yang sangat mudah rusak oleh mikroba, seperti sosis, susu cair dll). Permenkes 180/Menkes/Per/IV/1985 menegaskan bahwa tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa wajib dicantumkan secara jelas pada label, setelah pencantuman “best before/use by date”. Produk pangan yang memiliki umur simpan 3 bulan dinyatakan dalam tanggal, bulan, dan tahun, sedang produk pangan yang memiliki umur simpan lebih dari 3 bulan dinyatakan dalam bulan dan tahun saja. Beberapa jenis produk yang tidak memerlukan pencantuman tanggal kadaluarsa diantaranya adalah : sayur dan buah segar, minuman beralkohol,vinegar/cuka, gula/sukrosa, bahan tambahan makanan dengan umur simpan lebih dari 18 bulan, roti dan kue dengan umur simpan kurang atau sama dengan 24 jam.

  1. Komposisi (bahan baku)

Bahan baku yang Anda gunakan untuk membuat produk harus dicantumkan pada kemasan, termasuk bahan baku seperti pengawet, pemutih, pemanis dan bahan tambahan lainnya. Anda harus jujur (jangan mengelabui konsumen).

Bahan tambahan makanan yang perlu dibatasi konsumsinya atau bahan baku tertentu harus diberi keterangan yang lebih detail, misal :

  • siklamat 0,15 g per serving (ADI 11 mg/Kg berat badan). ADI : Acceptable Daily Intake. Artinya, anak berbobot minimum 13,6 kg boleh mengonsumsi produk yang mengandung 0,15 g siklamat tersebut sebanyak sekali dalam sehari.
  • Produk yang mengandung babi harus mencantumkan tulisan “MENGANDUNG BABI” (tulisan berwarna merah disertai gambar babi)
  • ”Perhatian! Tidak cocok untuk bayi”. Peringatan ini terdapat pada label susu kental manis. Sebagian ibu-ibu di kampung memberikan susu kental manis kepada anaknya sebagai pengganti ASI. Sebagian lagi beranggapan bahwa mengonsumsi susu kental manis sama dengan mengonsumsi susu sapi. Padahal kalau dicermati, komposisi susu kental manis sangat jauh berbeda dengan komposisi susu sapi. Kandungan terbesar dari susu kental manis atau condensed milk adalah gula.
  • Tulisan “PANGAN IRADIASI” atau “bahan telah diiradiasi” dicantumkan pada produk yang telah diiradiasi (misal : iradiasi menggunakan Cobalt-60). Iradiasi merupakan sebuah proses yang melibatkan senyawa radioaktif. Salah satu tujuannya adalah untuk memperpanjang umur simpan. Pangan yang telah diiradiasi berpotensi menghasilkan radikal bebas yang dapat memicu kanker.
  • Tulisan ”MINUMAN BERALKOHOL” dicantumkan pada minuman yang mengandung alkohol
  • Tulisan “mengandung phenylalanine, tidak cocok untuk penderita phenylketonurics” dicantumkan pada label produk yang mengandung aspartame sebagai pemanis buatannya. Penderita phenylketonurics memiliki kelainan sehingga tidak dapat memetabolisme phenylalanine. Gejala kelainan ini diantaranya adalah keterbelakangan mental serta pusing dan lemas setelah mengonsumsi phenylalanine. Satu dari 15.000 orang dimungkinkan menderita kelainan ini.
  • Tulisan “konsumsi berlebihan dapat menyebabkan efek laksatif” dicantumkan pada label produk yang mengandung sorbitol. Efek laksatif adalah efek yang memicu terjadinya pengosongan isi perut. Efek laksatif yang mungkin timbul adalah diare.
  • Produk yang mengandung pangan hasil rekayasa genetika perlu diberi keterangan bahwa produk tersebut mengandung pangan hasil rekayasa genetika. Amerika merupakan negara penghasil pangan hasil rekayasa genetika terbesar di dunia. Beberapa komoditi andalannya adalah kedelai dan jagung yang sudah merambah ke pasar Indonesia.
  1. Petunjuk penyimpanan

Produk makanan pada umumnya rentan rusak oleh suhu, kelembaban, udara dan sinar matahari. Penyimpanan di tempat yang aman dari faktor lingkungan tersebut akan membuat produk Anda lebih awet.

  1. Petunjuk penggunaan

Ada beberapa produk yang rasanya akan berubah jika penggunaannya salah, contohnya adalah sirup. Untuk mendapatkan rasa yang enak, sekian sendok sirup harus dilarutkan dalam sekian gelas air dingin/hangat. Jika tidak tercantum di kemasannya, bagaimana konsumen bisa tahu aturan penggunaannya ?.

  1. Jika memungkinkan, Anda bisa menambahkan informasi nilai gizi dan barcode pada kemasan Anda.

Untuk membuat informasi nilai gizi, Anda perlu menguji kandungan produk Anda ke laboratorium penguji. Hasil uji tersebut kemudian dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi yang biasanya dihitung berdasarkan rata-rata kebutuhan orang akan kalori (2.000 kilokalori).

Kalau produk Anda akan dijual di supermarket, maka Anda harus mencantumkan barcode pada kemasan. Untuk mendapatkan barcode, Anda bisa langsung menghubungi penyedia jasa barcode (GS1 Indonesia, Jl. R.P. Soeroso no 26, Jakarta 10350, telp. 021 319 25800, 021 319 25608, www.gs1.or.id) atau melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan di Kabupaten/Kota Anda. Syarat yang harus dilampirkan untuk membuat barcode adalah fotocopy Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dan fotocopy Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, fotocopy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP), fotocopy Akta pendirian perusahaan dari notaris, fotocopy KTP dan fotocopy sertifikat (P-IRT) dari Dinas Kesehatan.

Gambar pada kemasan tidak boleh menyesatkan. Gambar buah-buahan, sayuran, daging, ikan atau gambar asli lainnya (bukan gambar tiruan) boleh dicantumkan apabila produk yang dikemas memang mengandung bahan tersebut. Hati-hati pula dalam pencantuman tulisan. Jangan menuliskan klaim yang Anda tidak punya pengetahuan tentangnya. Saya pernah menemukan produk makanan ringan buatan UKM yang mencantumkan klaim ”bergizi”. Padahal, produk makanan boleh diklaim ”bergizi” jika produk tersebut mengandung lebih dari tiga zat gizi masing-masing dalam jumlah lebih dari 10 % Angka Kecukupan Gizi (AKG). Ada pula makanan yang diberi embel-embel ”berkhasiat untuk….” atau ”menyehatkan”. Ingat, ini produk makanan bukan obat. Anda tidak boleh mencantumkan tulisan seperti itu. Anda cukup mencantumkan tulisan seperti ”lezat” atau ”enak”.

Beberapa klaim lain yang perlu Anda ketahui adalah :

  • Rendah kalori : produk mengandung kalori kurang dari atau sama dengan 40 kkal per penyajian
  • Tanpa kalori : produk mengandung kalori kurang dari 5 kkal per penyajian
  • Rendah lemak : produk mengandung kurang dari atau sama dengan 3 g lemak per 50 g produk
  • Bebas lemak : produk mengandung lemak kurang dari 0,5 g lemak per penyajian
  • Rendah kolesterol : produk mengandung kurang dari atau sama dengan 20 mg kolesterol dan kurang atau sama dengan 2 g asam lemak jenuh per 50 g produk
  • Bebas kolesterol : produk mengandung kurang dari 2 mg kolesterol dan kurang atau sama dengan 2 g asam lemak jenuh per 50 g produk
  • Rendah Natrium/Sodium : produk mengandung kurang dari atau sama dengan 140 mg Natrium per 50 g
  • Bebas Natrium/Sodium : produk mengandung kurang dari 5 mg Natrium per penyajian
  • Bebas gula : produk mengandung kurang dari 0,5 g gula per penyajian

Jenis Kemasan

Faktor lingkungan seperti sinar matahari, oksigen dan uap air dalam udara dapat mempercepat kerusakan makanan (ketengikan, perubahan warna dan aroma). Oleh karena itu, pilihlah jenis kemasan yang mampu memperlambat migrasi oksigen dan uap air dari lingkungan ke dalam produk. Contohnya adalah botol gelas/plastik berwarna gelap (hijau tua atau biru tua atau coklat) yang bisa memperlambat penurunan vitamin B, perubahan warna dan ketengikan yang disebabkan oleh paparan sinar matahari.

Sebelum dipakai, kemasan primer (kemasan yang langsung kontak dengan produk) sebaiknya dipastikan dalam kondisi bersih dan steril agar tidak mengontaminasi produk. Jika Anda akan menggunakan botol gelas, misalnya, maka Anda perlu merebusnya di dalam air mendidih 100ºC selama 30 menit untuk mencegah kontaminasi mikroba.

Produk cair seperti sirup, sari buah, jus, kecap atau saos, biasa dikemas menggunakan botol gelas. Produk dimasukkan ke dalam botol pada saat kondisi produk masih panas (hot filling) kemudian langsung ditutup rapat dan didinginkan pada air mengalir. Cara seperti ini bisa mengurangi jumlah udara & mikroba di dalam botol sehingga kerusakan produk bisa diperlambat. Tapi, botol gelas memiliki bobot yang cukup berat, sehingga sebagian orang berpindah ke botol plastik (PET) yang bobotnya lebih ringan. Botol plastik ”tahan panas” (contohnya adalah botol yang di bagian ulir tutup-nya berwarna solid/bukan bening) memungkinkan Anda mengemas produk dengan cara hot filling, sehingga penggunaan bahan pengawet bisa diminimalkan.

Produk semi padat seperti selai, jam atau jelly, biasa dikemas menggunakan botol gelas bermulut lebar. Produk dimasukkan ke dalam botol dalam kondisi panas. Udara yang terperangkap di dalam produk bisa dikurangi dengan cara menusuk-nusuk produk tersebut pada saat proses ekshausting (pengukusan botol berisi produk sebelum botol ditutup). Botol langsung ditutup rapat, lalu didinginkan pada air mengalir. Jika botol menjadi pilihan Anda, pilihlah jenis botol yang bisa diperoleh bebas di pasaran (bukan customized), kecuali jika Anda punya modal besar dan merasa perlu membuat botol khusus yang hanya digunakan untuk produk Anda.

Botol gelas yang disimpan selang beberapa lama pada tempat yang memiliki suhu dan kelembaban fluktuatif (berubah-ubah) menyebabkan kondensasi air dari udara yang pada akhirnya mengakibatkan terlarutnya garam ke luar dari botol gelas. Kondisi ini menyebabkan botol tampak berkabut (blooming). Biasanya, botol gelas seperti ini tidak digunakan karena penampilannya kurang menarik.

Produk ready to drink (minuman siap saji) bisa dikemas menggunakan tetra pack, botol atau cup plastik. Namun, biaya untuk mengemas produk ke dalam tetra pack masih terlalu mahal bagi UKM. Cup plastik bisa jadi alternatif pilihan karena harganya jauh lebih murah. Tetapi, kendala yang dihadapi adalah mahalnya harga plastik penutup/lid. Plastik penutup ini dijual dalam bentuk gulungan/roll. Untuk mencetak plastik penutup diperlukan silinder yang biayanya mencapai puluhan juta rupiah. Sebenarnya, plastik penutup bisa dicetak dengan teknologi flexo. Dengan teknologi ini, harga plastik penutup bisa jauh lebih murah karena teknologi ini tidak menggunakan silinder. Hanya saja, supplier kemasan yang memiliki mesin flexo bisa dihitung dengan jari. Solusi lainnya, Anda bisa menggunakan plastik penutup polos (tanpa dicetak) yang ditempel dengan stiker.

Anda bisa menggunakan kemasan kaleng untuk mengemas sarden, corned beef, fruit cocktail, manisan buah dan asinan. Pastikan kondisi kaleng dalam keadaan tidak penyok, tergores atau berkarat, karena kondisi tersebut berpotensi memperpendek umur simpan produk. Jenis kaleng yang sering digunakan adalah tipe L (untuk produk yang sangat korosif/keasaman tinggi), MR (untuk produk dengan tingkat korosif sedang), MC (untuk produk yang tidak bersifat korosif/tidak asam) dan tipe N (kombinasi). Produk yang dikemas dalam kaleng melewati proses sterilisasi (pemanasan menggunakan uap air) pada suhu 121ºC selama 15 menit untuk menghilangkan spora bakteri patogen (salah satunya adalah Clostridium botulinum yang bersifat mematikan).

Produk kering seperti minuman serbuk, snack dan biskuit bisa dikemas menggunakan sachet/bag/kantong yang terbuat dari alumunium foil, metallized plastic atau plastik bening. Dari segi harga, alumunium foil paling mahal dibanding metallized plastic atau plastik bening. Namun, alumunium foil dengan ketebalan hanya 7 mikron saja sudah mampu memberi perlindungan yang jauh lebih bagus dibanding metallized plastic maupun plastik bening. Umur simpan produk yang dikemas menggunakan metallized plastik jauh lebih pendek dari umur simpan produk yang dikemas menggunakan alumunium foil. Dari segi penampilan, sekilas, metallized plastic mirip dengan alumunium foil. Cara termudah untuk membedakan alumunium foil dengan metalized plastic adalah dengan cara meremasnya. Kemasan yang terbuat dari alumunium foil akan berbekas (meninggalkan kerutan/lipatan) jika diremas, sedangkan metallized plastic tidak berbekas. Umur simpan produk yang dikemas menggunakan plastik bening jauh lebih pendek dari umur simpan produk yang dikemas menggunakan metallized plastik. Kemasan yang paling murah tentu saja plastik bening. Anda bisa menggunakan plastik bening jenis polypropylene (PP). Selain tembus pandang, jernih dan mengkilap, plastik ini relatif tahan terhadap minyak serta memiliki daya lindung yang relatif bagus dibanding plastik bening jenis lain. Selain plastik yang bersifat fleksible, ada pula plastik yang bersifat rigid. Berikut ini jenis plastik beserta contoh aplikasinya :

PET (Polyethylene Terephthalate) : Air Minum Dalam Kemasan

HDPE (High Density Polyethylene) : Wadah susu bubuk berbentuk tumbler, kantong plastic

PVC (Polyvinyl Chloride) : Shrink wrap, cling film

LDPE (Low Density Polyethylene) : Makanan beku, roti tawar

PP (Polypropylene) : Botol kecap

PS (Polystyrene) : Tray untuk daging, cup mi instan, tempat telur

Kalau Anda ingin menggunakan kemasan dus, ada 2 bahan yang biasa digunakan, yaitu duplex dan ivory. Dus jenis ivory terlihat putih bersih, sedang duplex tampak lebih kusam. Dari segi harga, duplex lebih murah.

Untuk memudahkan handling dan distribusi, produk yang sudah dikemas dimasukkan ke dalam box/karton. Berdasar jenis flute-nya, karton dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

  • Flute A, cocok digunakan untuk produk yang dikemas menggunakan botol gelas
  • Flute B, cocok digunakan untuk produk yang dikemas menggunakan botol kaleng
  • Flute C, cocok digunakan untuk produk yang dikemas menggunakan dus dan botol
Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*