“Dosa” Restoran Cepat Saji

Restoran cepat saji (fast food) telah dipersepsikan sebagai biang keladi maraknya penyakit degeneratif (misal : obesitas, jantung dan diabetes). Sebenarnya, produk apa saja sih yang tersaji di restoran cepat saji? Saya tidak ingin menyebut merek. Sebut saja burger, pizza, fried chicken, French fries (kentang goreng), salad, ice cream hingga minuman ringan berkarbonasi.

Menu yang disajikan di restoran cepat saji, pada umumnya, mengandung banyak lemak (termasuk trans fat), kalori tinggi, garam tinggi (resto cepat saji biasa menyediakan garam tambahan di meja) serta minim sayuran (sumber serat, vitamin dan mineral). Kebiasaan mengonsumsi makanan dengan menu yang tidak seimbang inilah yang dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif.

Saat ini, pemerintah Amerika Serikat, Australia, Selandia baru, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya gencar mengampanyekan “perang” terhadap makanan jenis ini. Alasannya tak lain karena anak-anak di negara tersebut telah mengonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan. Jadi, sedikit meniru gaya bahasa Chairil Anwar, bukan menu fast food itu benar membahayakan kesehatan, tapi kebiasaanmulah penyebab semuanya.

Seberapa besar “dosa” yang dibuat oleh restoran cepat saji? Mari kita hitung bersama. Lazimnya, setiap 1 potong paha atas fried chicken (100 gram) mengandung kurang lebih 20 – 25 gram lemak dan 100 – 120 miligram kolesterol. Sekitar 3 – 5 gram lemaknya berasal dari kulit ayam. Fried chicken yang disajikan di restoran cepat saji berbeda dengan ayam goreng biasa. Fried chicken digoreng dengan metode deep frying. Dengan metode ini, minyak yang digunakan lebih banyak dan biasanya ditambah dengan lemak atau hydrogenated oil (sumber trans fat). Adapun burger, yang terdiri atas roti, daging, sayur dan saus/mayonnaise, menyumbang sekitar 11 – 12 gram lemak dan 30 – 35 miligram kolesterol, kecuali burger keju/cheese burger (mengandung lemak 5 gram dan kolesterol 10 miligram lebih banyak).

Apakah cukup hanya makan fried chicken atau burger? Tentu tidak. Biasanya, kita juga disuguhi French fries/kentang goreng (100 gram) yang mengandung 12 – 13 gram lemak dan 2 – 8 miligram kolesterol. Agaknya salad dengan beragam sayurannya terlihat lebih sehat ketimbang French fries. Tapi, makan salad dengan banyak mayonnaise juga tidak bagus, karena mayonnaise biasanya mengandung banyak lemak.

Selesai makan, kita masih disuguhi ice cream atau minuman ringan. Keduanya mengandung lumayan banyak kalori yang bisa bikin perut kita tambah “ndut”.

Sekarang, silahkan hitung sendiri. Setiap hari, kita rata-rata hanya membutuhkan lemak sekitar 65 gram dan kolesterol sekitar 300 miligram. Ini berarti, konsumsi sepotong fried chicken telah memenuhi sekitar 50% kebutuhan tubuh akan lemak dan kolesterol.

Rasanya tidak adil jika kita hanya menuduh fried chicken dan burger sebagai biang keladi penyakit degeneratif. Kalau kita cermati, gorengan juga pantas dijadikan ”tersangka”. Jika 6 potong gorengan saja bisa mengandung sekitar 24 gram asam lemak jenuh, maka waspadalah! Karena kita hanya butuh asam lemak jenuh sekitar 20 gram per hari.

Selain restoran fast food, ada juga restoran ”all you can eat”. Disini, Anda hanya cukup membayar sejumlah uang tertentu dan Anda boleh makan apa saja. Bahkan beberapa restoran tersebut memberlakukan ”denda” jika makanan yang telah diambil/dipesan tidak dihabiskan. Menu yang ditawarkan beraneka ragam, mulai dari sup burung dara, nugget, sosis, steak, udang goreng, ayam panggang, lumpia, martabak hingga jus terung. Model restoran seperti ini mendorong Anda untuk makan lebih banyak. Jadi, pandai-pandailah memilih menu, jika Anda “terpaksa” harus makan di restoran seperti ini.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*