Investasi Sosial, Membantu Sesama

Rasulullah Saw bertanya: “Siapakah di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa?”.

Abu Bakar Ra menjawab: “Saya”.

Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah mengantarkan jenazah?”.

Abu Bakar Ra menjawab: “Saya”.

Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”.

Abu Bakar Ra menjawab: “Saya”.

Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?”.

Lagi-lagi, Abu Bakar Ra menjawab: “Saya”.

Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah itu semua ada pada seseorang, kecuali dia pasti akan masuk surga” (Shahih Muslim).

Pertanyaan Rasulullah Saw diajukan kepada sahabat yang jumlahnya banyak. Tapi, di antara sekian banyak sahabat yang sholeh, hanya Abu Bakar Ra yang memborong habis semua kebajikan pada hari itu. Sempurna.

Puasa itu wujud dari kesalehan pribadi (hablumminallah). Urusan manusia dengan Tuhan. Adapun membantu sesama (mengantar jenazah, memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakit) adalah wujud kesalehan sosial (hablumminannas). Terbayang oleh kita, betapa beratnya berpuasa di panas teriknya padang pasir. Tapi, di tengah “penderitaan” itu, Abu Bakar Ra tak lupa memenuhi tiga hak orang lain sekaligus, di hari yang sama (meski itu sangat melelahkan).

Saya berandai-andai, apa jadinya jika pertanyaan itu diajukan kepada kita, hari ini. Berapa pertanyaan yang bisa kita jawab?. Boleh jadi hanya satu atau bahkan tidak satupun – di antara 4 kebajikan itu – yang telah kita lakukan hari ini.

Betapa senangnya kita, jika pertanyaan itu diganti menjadi pertanyaan yang mudah kita jawab, semisal: “siapa di antara kalian yang hari ini telah sholat berjama’ah meski tidak khusyuk?” atau “membaca Al Qur’an walau tidak paham artinya?”. Sayangnya, sepertinya Rasulullah Saw sengaja mengajukan pertanyaan yang tidak semua orang bisa menjawabnya. Tentu saja, karena jackpot atau hadiah besar itu hanya diberikan kepada orang-orang pilihan yang jumlahnya memang tak banyak.

Rasulullah Saw bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barangsiapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat” (Shahih Muslim).

Balasan dari Allah itu pasti. Tidak diragukan lagi. Inilah yang menjadi spirit bagi manusia – manusia berorientasi langit, untuk terus berbuat baik kepada sesama. Tidak menzhalimi dan menghina sesama. Tapi, membantu dan melapangkan kesusahannya. Tanpa pamrih. Meski orang yang dibantu tidak mampu membalas budi baiknya. Mereka yakin, Gusti Allah mboten sare (tidak tidur).

Mari membantu sesama !.

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*