Ke Temanggung Aku Kan Kembali

baksolombokuleg.com

Judul artikel ini sangat provokatif. Bagi sebagian besar masyarakat urban (baca: orang Temanggung dalam perantauan), mudik adalah tradisi yang wajib digelar tiap tahun. Demi mudik, gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi. Macet tak jadi soal. Tiket mahal bukan masalah. Apapun kondisinya, judulnya tetap pulang kampung. Titik.

Pulang kampung – selain untuk bersilaturahim jajah deso milang kori – juga bisa membangitkan kembali rasa kedaerahan serta nostalgia masa lalu. Termasuk nostalgia bahasa. Anda tentu masih ingat dengan sebutan “nyong” (saya) dan “samang” (kamu). Meski tak semua orang Temanggung memakainya dalam bahasa jawa ngoko atau madya sehari-hari, tetap saja kosakata itu merupakan bagian dari kekayaan bahasa masyarakat Temanggung. Ya..ya..seringkali kosakata seperti itu hanya dimengerti oleh masyarakat lokal, sebut saja : gigal (jatuh), gendul (botol), tak ndoki (coba lihat), joteksi (ojo ngantek, ojo ngasi), kemlinthi (gaya) dan jidor (sejenis kata-kata umpatan). Ha..ha..kedengarannya lucu ya. Silahkan Anda tambahkan sendiri, contoh kosakata seperti itu.

Pulang kampung juga tak bisa dipisahkan dari nostalgia kuliner. Sebut saja kupat tahu mbatoar (asal kata : abbatoir, bahasa Belanda yang artinya tempat penyembelihan, karena dulu di tempat ini ada tempat penyembelihan sapi), gudeg mbak Mah di belakang tugu pertigaan Galeh, warung Bakso favorit ABG tahun 90-an (Cipto Roso dan Sampurno), martabak telor dan tahu petis di depan BCA Temanggung, Soto Pringgading, Bakso Uleg Pak Di, atau rumah makan yang legendaris seperti RM Ani dan Sari Ayam serta masih banyak lagi tempat yang lain (kalau Anda belum puas dengan apa yang sudah saya tulis, silahkan Anda tambahkan sendiri. Puas ?).

Ngomong-ngomong soal rumah makan, seinget saya, rumah makan yang cukup besar di Temanggung kala itu (tahun 90-an), ya RM Ani. Menu ayam gorengnya tak tertandingi oleh Fried Chicken manapun. Sempat, dulu, ada California Fried Chicken (CFC) di Terminal Lama. Tapi, CFC hanya bertahan seumur jagung sebelum akhirnya gulung tikar. Lain dulu, lain sekarang. Jaman sudah berubah. Kini, sudah banyak rumah makan di mana-mana, ada Kampung Sawah yang menyajikan suasana persawahan, Larisa, hingga Omah Kebon yang pernah dijadikan tempat resepsi pernikahan artis Tria The Changchuters. Dari beberapa rumah makan yang saya kunjungi, saya belum pernah menemukan menu steak Wagyu, padahal di Temanggung terdapat sentra peternakan sapi Wagyu (ini Wagyu lho ya, sapi peranakan Jepang yang dagingnya empuk itu, bukan Wahyu temen kamu yang wagu).

Kalau ingin berburu kuliner warung tenda, Anda bisa mengunjungi kawasan Rolikuran. Dari dulu sampai sekarang, kawasan ini dipenuhi dengan warung tenda di malam hari, mulai dari bakso lombok uleg hingga masakan oriental. Ada sebuah warung yang menyajikan menu Cap Jay (pakai huruf J, bukan C). Menu ini sedikit berbeda dengan Cap Cay pada umumnya yang biasanya hanya terdiri dari sepuluh sayuran. Cap Jay beda karena dilengkapi dengan kekian, olahan terigu mirip bakwan yang rasanya sungguh make news (baca : mak nyus), pemirsa.

Sik..sik..sik…kembali ke bakso uleg dulu. Menu khas Temanggung ini terdiri dari bakso, tahu pong, kuah dan mi atau ketupat. Sensational offer-nya terletak pada Lombok yang langsung diuleg di mangkoknya. Dijamin Anda akan berkeringat dan mengeluarkan air mata serta ludah karena saking pedasnya. Dulu, Lombok yang dipakai adalah Lombok rawit, tapi sekarang sudah mulai menggunakan Lombok setan (ghost pepper) yang pedasnya bisa bikin Anda kesetanan. Seandainya Menteri Pendidikan Nasional masih dijabat oleh Bpk. Bambang Sudibyo yang orang Temanggung (tepatnya, Tembarak) itu, saya ingin mengusulkan agar istilah “kecil-kecil cabe rawit” diganti dengan “gemuk pendek cabe setan”…hua..ha..ha…Lombok itu pedas, jendral !.

Mampirlah sebentar ke Pasar Entho. Dulu, pasar entho pernah menjadi tempat bersarangnya mbok dhe – mbok dhe yang bergentayangan menjajakan (mohon maaf) dagingnya di tengah malam. Yu no wot ai min, tho ?. PSK. Kalau ingin “makan sate tanpa harus beli kambing”, ya di sini tempatnya. Tapi, itu dulu. Sekarang, tiap minggu pagi, Pasar Entho menyajikan beraneka jajan pasar. Ada sego jagung kluban yang dilengkapi dengan peyek teri, rempah (bentuknya mirip bakso, tapi terbuat dari campuran tepung dan kelapa), serta tempong (tempe gembus yang dibumbui pedas dan digoreng pake terigu). Ada sate tempe, ketan lopis, ketan bubuk, cethil, kocomotho, entho cothot, wehku, lentho, puyur, kemplang, saranggesing, putu mayang, klepon, gandhos, kipo, nogosari, mendhut, thiwul, gathot (ini singkong berjamur. Beneran berjamur lho. Ga percaya ? atau ada masalah ?) dan lain sebagainya (he..he..sampai capek nulis karena saking banyaknya dan sedikit ndlewer ilere karena terbayang kelezatannya). Itu semua jajan pasar yang “waras”. Kenapa saya sebut “waras”, karena ada jajanan lain yang ga “waras” (nama makanannya berkonotasi negative), contohnya : ndhas borok atau sikil krowak (makanan dari parutan singkong yang dikukus, diatasnya ditaburi parutan kelapa serta juruh dari gula aren kental. Bentuknya bundar dan dipotong-potong mirip pizza), bokong chino (bakpao) dan tai kucing (rasanya mirip widaran, hanya bentuknya yang mirip kotoran kucing). Yah, apalah arti sebuah nama. Walau namanya menjijikkan, yang penting rasanya lekkerrrr dan ga bikin laperrr.

Temanggung juga memiliki camilan andalan, seperti : ping jet/ping tho (sejenis emping yang terbuat dari singkong), pisang aroma dan keripik jamur kancing (champignon). Camilan yang memiliki ultimate advantage (wuidih..) ini sangat recommended untuk dijadikan buah tangan.

Bagi poro kadang yang sudah lama tinggal di kota, barangkali sebagian makanan yang saya sebutkan tadi sangat jarang dinikmati. Kalaupun saat mudik sempat mencicipi makanan tersebut, boleh jadi rasanya sudah tidak seenak dulu. Setidaknya itu yang saya rasakan. Sebenarnya bukan makanannya yang tidak enak, tapi karena lidah dan selera kita yang sudah bergeser. Lidah kita sudah terpengaruh oleh makanan-makanan dari daerah lain. Lidah ndeso telah berganti dengan lidah international (walah…sok yes).

Kembali ke masalah mudik. Sudah sekian tahun belakangan, saya terdampar di kawasan Puncak (Bogor) dan tak tahu kemana arah pulang (he..he…lebay.com). Kalau mau mudik via darat ke Temanggung, pilihannya cuma ada dua, lewat jalur selatan atau utara. Lewat jalur selatan secara jarak tempuh relative lebih pendek. Kanan kiri jalan, terbentang pemandangan hijau memanjakan mata. Tapi, karena kondisi jalan yang berkelok, naik turun dan sempit, lewat jalur selatan lebih capek nginjek koplingnya (yes…real man use three pedals…wkwkwk). Akibatnya, tiap kali mudik, salah satu agenda wajibnya adalah pijetan (ha..ha..umur berbicara). Jika lewat pantura, secara jarak tempuh lebih panjang. Tapi jalannya lurus dan lebar. Walaupun macet, ga terlalu berasa capeknya. Ya…ya…ya, tiap pilihan selalu ada plus minusnya. Ya tho ?. Thoooo…(sambil ngowoh).

Jarak tempuh perjalanan ke luar kota sebenarnya bisa kita perkirakan tanpa harus mengacu ke GPS ataupun peta. Sebagai contoh, jarak tempuh perjalanan darat dari Bogor ke Temanggung melewati jalur selatan, perkiraan kasarnya sekitar 480 s/d 560 km. Angka itu diperoleh dengan cara mengalikan jumlah kota yang dilewati dengan angka 60 km. Asal tahu saja, dulu, Belanda mengatur jarak antar kota (pusat kota/kabupaten) tidak lebih dari 60 km. Alasannya, sekali menempuh perjalanan, kuda (kendaraan di masa itu) hanya bisa berlari sejauh 60 km sebelum harus beristirahat semalaman. Dari Bogor ke Temanggung akan melewati 8 sampai 9 kota (Cianjur, Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Cilacap, Banyumas, Banjarnegara dan Wonosobo), jika dikalikan dengan 60 km, maka ketemulah angka diatas. Ilmiah, kan ?

Kalau mudik lewat jalur utara, kita akan memasuki Temanggung melalui Candiroto. Di sini terdapat mata air Jumprit yang tiap tahun diambil air sucinya untuk peringatan Hari Raya Waisak di Borobudur. Anda juga bisa mampir (tepatnya blusukan, soalnya akses menuju TKP penuh dengan keringat dan cucuran air mata perjuangan…hi..hi..) ke Curug Lawe di Gemawang. Perjalanan dilanjutkan ke Ngadirejo, tempat ditemukannya situs Liyangan (diduga merupakan kawasan pemukiman penduduk di masa Mataram Kuno) serta candi Pringapus yang dibangun pada tahun 850 M. Lanjut lagi ke sisi utara Parakan. Kita akan melewati daerah Batuloyo (depan kantor kecamatan), tempat pertempuran antara lascar bambu runcing dengan pasukan Dai Nippon, Jepang.

Jika mudik lewat jalur selatan, kita akan melewati Kledung. Sebuah daerah dengan pemandangan yang indah ditengah dua gunung, yaitu : Sumbing dan Sindoro. Di sini terdapat tempat wisata bernama Posong dan Embung (telaga) Kledung. Hawanya sejuk. Kalau saja tempat ini dekat dengan kota besar, kemungkinan nasibnya akan sama dengan kawasan Puncak di Bogor. Macet tiada tara.

Lanjut ke Parakan. Setibanya di pertigaan pasar kembang, beloklah ke kanan, melewati Jalan Bambu Runcing. Di sebelah kanan jalan itu (sonoan dikit tapi) merupakan desa tempat kelahiran Meester in de Rechten (Sarjana Hukum jaman dulu, disingkat Mr.) Mohammad Roem. Beliau adalah diplomat yang menjadi anggota delegasi saat perjanjian Renville dan Linggarjati serta pemimpin delegasi pada saat perjanjian Roem – Roiyen yang mebicarakan batas Negara antara Indonesia dengan Belanda. Setelah kemerdekaan, beliau sempat menjadi Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri hingga Wakil Perdana Menteri di era Orde Lama.

Di sekitar jalan ini pula, dahulu, bambu runcing melegenda. Sebenarnya, pada jaman itu, bambu runcing sudah biasa digunakan oleh masyarakat untuk berburu tikus di sawah. Tapi, di tangan kyai-kyai Parakan (KH. Sumomihardho, KH. Subkhi, KH. Ali, KH. Abdurrohman dan Kyai lainnya), bambu runcing menjadi senjata yang mampu menggentarkan musuh. Melalui do’a-do’a para kyai itu, bambu runcing menjadi ampuh. Ribuan orang datang ke Parakan seraya membawa senjata untuk dido’akan Kyai. Tak hanya bambu runcing, bahkan pedang, senapan hingga tank tempur. Bung Tomo beserta pasukannya pernah ke sini. Pejuang dari Jawa Timur datang ke Parakan dengan menaiki kereta api (sayang, setelah tahun 1973, stasiun kereta api di Temanggung tak lagi beroperasi). Panglima Besar Jendral Sudirman beserta pasukannya, sebelum bertempur melawan Belanda di Ambarawa, juga datang ke tempat ini. Parakan menjadi sangat ramai pada masa itu. Tak heran, pedagang pinggir jalan bermunculan. Mereka tak menawarkan “akua….mijon..akua…mijon” seperti pedagang asongan jaman sekarang, karena pada saat itu memang belum ada (ya..iyalah..bray). Barang yang ditawarkan hanya sandang dan pangan. Meskipun ada satu dua pedagang yang menjual barang unik seperti cerutu yang panjangnya lebih dari 1 meter (kebayang kan, gimana nyedotnya).

Perjalanan berlanjut. Sebelum ex gedung bioskop Wisnu, di sekitar tempat itu (namanya Gambiran, mungkin dulu terdapat gudang gambir, komoditas yang laku selain menyan pada jaman itu) ada rumah Bah Sutur (Hoo Lin Pun). Beliau adalah salah satu murid Lauw Tjheng Tie, pendekar kung fu yang terkenal itu. Rumah Bah Sutur pernah menjadi tempat syuting film tahun 80-an berjudul “Apanya Dong” yang dibintangi oleh artis gaek, Titik Puspa (tante Titik pernah tinggal di Gemoh, Temanggung. Beliau membangun masjid “Birrul Walidain” yang berarti “berbakti kepada kedua orang tua”). Sedikit bercerita tentang Lauw Tjheng Tie. Dia adalah guru kung fu dari daratan Tiongkok yang merantau ke Indonesia. Setelah merantau ke beberapa kota (Jakarta, Semarang), Lauw memutuskan untuk tinggal di Parakan karena merasa disambut baik oleh masyarakat Tiong Hoa di sana. Ia mengajarkan kung fu aliran Shaolin Utara yang jurus-jurusnya banyak menggunakan tangan (beda dengan aliran Shaolin Selatan yang banyak menggunakan kaki). Muridnya tersebar di seantero Jawa. Dia menguasai Gin Kang (ilmu meringankan tubuh). Hap…hap…sekali lompat bisa naik ke atap rumah.

Di kawasan ini banyak pemukiman warga Tiong Hoa. Salah satu yang terkaya adalah Bah Yung Gie (juragan tembakau yang juga pendiri bank Aspac. Belakangan, salah satu cucu beliau sempat disorot media saat menikah dengan putra Setya Novanto, seorang pengusaha & mantan ketua DPR). Sekilas rumahnya tampak sederhana. Seperti rumah orang Tiong Hoa pada umumnya. Hanya terlihat gerbang tua dari luar. Tapi, setelah masuk ke dalamnya, saya takjub. Di era 80-an, lahan rumahnya sangat luas, lebih luas dari kampung yang saya tempati. Di dalamnya ada lapangan olah raga, deretan koleksi mobil kuno (salah satu yang saya ingat adalah Jeep Willys) dan kebun binatang kecil yang berisi rusa, kasuari, kakatua putih, merak dan lain sebagainya. Konon, dahulu kala, pengusaha Liem Sioe Liong (Sudono Salim) pernah berdagang menyan keliling hingga ke tempat ini.

Lanjut lagi. Setelah pertigaan terdapat Kelenteng Hok Tek Kong. Di sebelahnya lagi ada kantor Kawedanan. Dulu, Parakan adalah pusat pemerintahan Kabupaten Menoreh. Bupati yang menjabat adalah Kanjeng Raden Tumenggung Soemodilogo. Konon, sang Bupati menguasai ilmu Rawarontek (tidak mempan dibunuh jika menyentuh tanah). Tapi, akhirnya Soemodilogo terbunuh oleh pasukan Diponegoro. Kepalanya dipenggal dan ditanam di Selarong (Yogyakarta) sementara tubuhnya dimakamkan di Tegalrejo (Bulu). Terakhir kali saya melintasi Tegalrejo beberapa tahun silam, saya dapati makam Soemodilogo telah dibangun menjadi tempat pemakaman yang megah. Sebagian masyarakat menghormati jenazah yang bersemayam di makam itu, tapi sebagian lagi (maaf) mencibir, karena menganggap sang Bupati adalah antek Belanda. Tidak jauh dari makam itu, di desa Jolopo, terdapat makam salah satu panglima perang Diponegoro yang berjuluk Honggo Yudho. Makamnya biasa saja karena ia ingin menjadi rakyat biasa di akhir hidupnya. Ia tak mau kembali ke Keraton meski dijemput oleh abdi dalem. Dulu, masyarakat sekitar tidak tahu bahwa sang panglima memiliki ilmu kanuragan dan tosan aji. Hingga suatu saat, ketika masyarakat desa sedang bekerja bakti, mereka takjub melihat Honggo Yudho membelah batu tidak menggunakan palu, melainkan dengan cemeti. Setelah terbunuhnya KRT Soemodilogo, nama Kabupaten Menoreh diganti menjadi Kabupaten Temanggung dengan pusat pemerintahan di kota Temanggung. Bupati pertama Temanggung adalah Djojonegoro. Bupati keenam bernama Tjokrosoetomo yang merupakan ayahanda dari Bang Nolly (Tjokropranolo), Gubernur DKI Jakarta tahun 70-an.

Perjalanan berlanjut. Setelah jembatan kali Galeh, ada jalan ke kanan menuju prasasti dan candi Gondosuli yang dibangun pada masa yang sama dengan dibangunnya Borobudur (sekitar abad 8 – 9 M). Sayang, prasasti dan candi ini sudah tidak utuh dan sangat tidak terawat. Melewati Bulu, Anda akan disuguhi Monumen Meteorit di Wonotirto. Pada tahun 2001, tempat itu kejatuhan meteor. Kalau Anda melewati Kedu, Anda bisa mampir ke Kandangan, tempat radio kayu Magno dan Spedagi (sepeda bambu) diproduksi.

Memasuki kota Temanggung, anda akan mendapati kampung-kampung di kota ini dalam keadaan bersih. Jarang ditemui sampah di jalan-jalan. Pantas saja kalau kota ini mendapat anugrah Adipura Kencana dari pemerintah untuk kategori kota kecil terbersih.

Tidak banyak yang berubah dari kota ini dari masa ke masa. Tak ayal, Kemen PU menganugerahi Temanggung sebagai 1 diantara 17 Kota Pusaka di Indonesia. Banyak situs bersejarah yang bertebaran. Ikon kotanya masih seperti dulu. Ada Taman Kartini di Kowangan, yang sekarang sudah lumayan terurus dibanding dulu. Selain kolam renang dan taman bermain, kini dilengkapi pula dengan Bioskop 4 dimensi. Cukup layak untuk dijadikan tempat rekreasi keluarga. Kita juga bisa menikmati segarnya bermain air di Pikatan Water Park dengan tiket murah meriah. Wahana di tempat ini tak kalah seru dengan tempat rekreasi air di tempat lain. Dulu, Pikatan hanyalah kolam renang biasa (tempat pertama kali saya belajar renang gaya batu). Ikon kota lainnya adalah tugu jam di dekat Rolikuran. Di sebrangnya ada patung pejuang dan kuda putih. Di belakang patung ada makam Kyai Babak (salah satu panglima perang Diponegoro) serta Kelenteng Kong Ling Bio.

Di dekat terminal, terdapat stadion Bambu Runcing, tempat Persitema biasa merumput di Liga Divisi Utama PSSI (semoga lekas naik pangkat ke Super League, biar bisa ditonton orang se-Indonesia ya). Masih di dekat terminal, ada pool bus Safari Dharma Raya milik pengusaha Temanggung, yaitu Darmoyuwono atau Oei Bie Lay (disingkat OBL). Ada pula Monumen Bambang Sugeng, mantan KASAD, penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949, mantan Dubes Vatikan, Jepang dan Brasil yang dimakamkan di Kranggan.

Ikon kota yang ramai dikunjungi adalah Alun-alun. Sebagaimana tata letak kota di jaman kerajaan Islam, alun-alun Temanggung berada dalam satu kawasan dengan pendopo Kabupaten dan masjid Agung Darussalam. Dulu, tempat ini sepi. Hanya dipakai untuk kegiatan upacara dan olahraga. Tapi, sejak adanya performance music gratis dan kembang api tiap malam minggu di akhir tahun 90-an, alun-alun mulai ramai didatangi pengunjung. Tak hanya alun-alun dan pendopo yang dipercantik, masjid juga direnovasi dan dilengkapi dengan menara tinggi menjulang. Sekarang, pak tani (patung di pinggir alun-alun) tak lagi kesepian (he..he..).

Patung pak tani di alun-alun seolah hendak melambangkan fakta bahwa kebanyakan masyarakat Temanggung hidup dari bertani. Komoditi pertanian yang menjadi primadona adalah tembakau. Tembakau terbaik Temanggung disebut srinthil (grade F ke atas). Satu kilogram tembakau srinthil harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Tak heran, banyak orang menjadi kaya dari bertani dan jual beli tembakau. Komoditi terkenal lainnya adalah kopi (kopi luwak juga ada lho) dan kelengkeng. Temanggung merupakan daerah pengekspor kopi terbesar di Jawa Tengah. Kopi jenis robusta ini sudah dieksport  ke Eropa, Timur Tengah, Jepang dan Amerika Serikat. Kopi Arabica Temanggung bahkan termasuk 8 besar kopi terbaik dunia pada ajang kejuaraan yang diselenggarakan di Swedia pada tahun 2015 serta telah mendapat hak paten dari Kemenkumham RI. Kelengkeng dari Temanggung juga tak kalah bagusnya, bahkan kelengkeng Batu dari Pringsurat termasuk kelengkeng varietas unggulan.

Sampailah kita di kerkop (kerkhof, bahasa Belanda yang berarti kuburan). Belok kiri. Di desa ini, terlahir seniman tari Tjoen An (Didik Nini Thowok). Tak jauh dari gapura kampung itu, saya mudik untuk sungkem ke rumah orang tua. Saya berjanji : ke Temanggung, aku kan kembali.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

3 Komentar

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*