Lelaki Zuhud yang Lebih Jelek dari Hewan Peliharaannya

Di sebuah majelis di Baqi, sebelah tenggara kota Madinah, Rasulullah Saw memberi pengumuman: “Barangsiapa bersedekah dengan suatu sedekah, maka aku akan bersaksi untuknya pada hari kiamat kelak”.

Sebagian orang yang hadir pada saat itu masih ragu, apakah akan bersedekah langsung pada saat itu atau tidak. Tetiba, datanglah seorang laki-laki yang kulitnya sangat legam. Tak ada orang di Baqi yang lebih legam kulitnya dibanding dia. Laki – laki itu menuntun unta yang sangat bagus. Tak ada unta di Baqi yang lebih bagus dibanding untanya.

Ia bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ia – unta – (bernilai) sedekah?”

Rasulullah Saw menjawab: “Ya”

Lalu, laki-laki itu berkata: “Ambillah unta ini”

Ini kejadian langka. Laki-laki berkulit legam (jelek) menyedekahkan unta yang sangat bagus. Tak heran, sejenak kemudian muncul laki-laki lain yang membuntutinya seraya mencibir: “Orang ini (lelaki berkulit legam) telah bersedekah dengannya (unta yang bagus). Demi Allah, unta itu benar-benar lebih baik daripadanya (lelaki berkulit legam itu)”.

Rasulullah Saw yang mendengar cibiran itu langsung menegur: “Kamu salah, bahkan ia (lelaki berkulit legam) lebih baik daripada kamu dan daripadanya (unta)”. Rasulullah Saw mengulang perkataan itu sebanyak tiga kali sebagai peringatan bahwa ini persoalan serius. Jleb.

Rasulullah Saw melanjutkan: “Celakalah para pemilik ratusan unta”. Kembali, beliau mengulang perkataan itu sebanyak tiga kali. Lagi – lagi, ini persoalan serius.

Seseorang bertanya: “Kecuali siapa, wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab: “Kecuali orang yang mengeluarkan hartanya seperti ini dan seperti ini”. Beliau himpun kedua telapak tangannya dari kanan dan kirinya kemudian bersabda: “Sungguh beruntung orang yang zuhud lagi bekerja keras”. Rasulullah Saw mengulang perkataan itu sebanyak tiga kali. Beliau melanjutkan: “Zuhud dalam kehidupan (dunia), bekerja keras dalam ibadah” (Musnad Ahmad).

Sedekah itu mudah. Memasukkan uang sepuluh ribu rupiah ke kotak amal itu ringan. Hampir semua orang bisa melakukannya. Tapi, sedekah dengan sesuatu yang terbaik, itu yang butuh keberanian. Keberanian untuk mematahkan nafsu dan logika manusia. Keberanian untuk bebas dari ketakutan akan berkurangnya harta.

Lelaki itu memang legam. Jelek. Tapi, ia berhasil membuktikan bahwa jelek itu hanya sebatas wujud fisiknya saja. Jelek itu tak sampai meresap ke dalam hatinya.

Adapun lelaki yang membuntutinya, boleh jadi ia mewakili kejahilan orang-orang seperti kita. Ia tertipu oleh penampilan fisik. Ia memang tak sejelek lelaki legam itu. Kejelekan hatinya membuat ia mencibir demi melihat lelaki jelek bersedekah dengan unta yang bagus, sementara ia tidak mengeluarkan sedekah sebagus unta itu.

Berlaku zuhud bukan perbuatan mudah. Karena tak mudah, maka efeknya juga luar biasa. Di lain tempat dan di lain waktu, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw, minta petunjuk: “Wahai Rasulullah, tunjukkan aku suatu amal, jika aku lakukan, aku akan dicintai Alloh dan dicintai oleh manusia”.

Rasulullah Saw bersabda: “Zuhudlah terhadap dunia (jangan rakus terhadap dunia), niscaya dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang orang miliki (jangan tamak terhadap hak orang lain), niscaya mereka akan mencintaimu” (Sunan Ibnu Majah).

Zuhud itu meninggalkan dunia – mampu memiliki dunia, tetapi tidak mau tersandera olehnya. Jadi, orang yang hidup sederhana karena terpaksa oleh keadaan (miskin/ditinggalkan dunia) itu bukanlah orang zuhud. Paham ?.

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*