Makanan Sehat Saja Tidak Cukup

Love at the first sight, atau cinta pada pandangan pertama seringkali hanya didasarkan pada tampilan fisik. Laki-laki senang melihat wanita cantik dan seksi. Demikian pula sebaliknya. Tapi, sekadar cantik, seksi atau ganteng secara fisik saja tidaklah cukup. Untuk menjadi pasangan hidup, ada kriteria lain yang tidak boleh dikesampingkan. Kriteria apa itu? Jawabnya: inner beauty. Kebanyakan orang menginginkan pasangannya adalah seorang yang renyah di luar, garing dan lembut di dalam.

Demikian pula saat konsumen memilih produk makanan. Lezat, bergizi dan murah saja tidak cukup. Konsumen menginginkan sesuatu yang lain, yaitu makanan yang bisa bikin sehat, cepat disajikan, terbuat dari bahan alami dan halal. Walaupun masih ada saja konsumen yang sudah puas hanya dengan ”lezat” dan ”murah”. Hari gini?.

INGIN SEHAT

Konsumen memiliki kecenderungan untuk memilih produk makanan yang kandungan nutrisinya disesuaikan dengan kesehatan mereka. Orang yang menderita penyakit jantung memilih makanan rendah lemak. Orang yang menderita osteoporosis memilih makanan berkalsium tinggi. Orang yang menderita diabetes memilih makanan bebas gula.

Akses informasi yang semakin mudah, tingkat pendidikan dan taraf ekonomi yang semakin tinggi membuat konsumen menjadi semakin sadar akan arti penting kesehatan. Muncullah kemudian konsep pangan fungsional. Menurut konsensus pada The First International Conference on East-West Perspective on Functional Foods tahun 1996, pangan fungsional didefinisikan sebagai pangan yang kandungan komponen aktifnya dapat memberi manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Di Jepang, pangan fungsional dikenal sebagai FOSHU (foods for specific health use).

Jepang merupakan pasar pangan fungsional terbesar di dunia (senilai USD 16 miliar). Sejak 1990, tak kurang dari 5500 jenis produk pangan fungsional beredar di negeri matahari terbit ini. Jika dirata-rata, konsumsi orang Jepang untuk produk tersebut mencapai USD 126/orang/tahun, dimana Amerika Serikat hanya USD 67.9 dan Eropa sebesar USD 51.2, serta Asia pada umumnya, USD 3.2.

Saat ini, dengan mudah kita bisa menemukan produk-produk makanan sehat seperti susu tanpa lemak, biskuit yang diperkaya serat, minuman cola rendah kalori, susu tinggi kalsium dan lain sebagainya. Hal ini menandakan bahwa pasar produk makanan sehat mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Fenomena yang juga tak kalah menarik adalah penurunan angka penjualan produk pangan “tak sehat” di pasar global, seperti produk berbasis gula, french fries, fried chicken hingga minuman ringan. Keadaan ini telah memaksa beberapa perusahaan untuk memodifikasi produknya agar tetap diterima oleh konsumen.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Hipocrates, bapak ilmu kedokteran barat, sekitar 2.000 tahun yang lalu, “Let your food be your medicine and your medicine be your food“. Kini, isu kesehatan telah menjadi standar baru dalam industri makanan dan minuman. Hanya saja, kebanyakan konsumen di Indonesia terkadang keliru dalam mempersepsikan makanan sehat. Minyak goreng yang jernih malah dipersepsikan sebagai minyak goreng sehat. Kopi decafeinated yang rendah cafeine justru tidak disukai karena rasanya dianggap bukan kopi sungguhan.

INGIN CEPAT

Di siang hari bolong, istri-istri petani membawa rantang berisi makanan untuk suaminya di sawah. Makan berdua. Romantis. Penuh kasih sayang, walau hanya sepiring nasi, ditemani ikan asin dan sambal. Kontras sekali dengan kehidupan kota. Di kota, mana ada seorang istri mau mengantarkan makan siang untuk suaminya di kantor? Entah, karena kesibukan, gengsi atau hal lain – yang jelas – sisi-sisi manusiawi kita ikut tertelan oleh kehidupan kota yang hiruk pikuk.

Zaman memang sudah berubah. Gaya hidup berubah. Kebiasaan makan juga berubah. Di beberapa negara maju, produk jenis bars (snack berbentuk batang) dan minuman ready to drink (siap minum), serta beberapa makanan instan (cepat saji) lainnya, mengalami peningkatan penjualan yang cukup signifikan. Hal ini bisa dipahami. Orang yang sedang bepergian, orang yang dikejar waktu serta orang yang tidak memasak sendiri (misal: wanita karir) cenderung untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang praktis dalam penyajiannya. Kini, kecenderungan seperti ini sudah lazim kita temui. Pada tahun 1996 saja, sekitar seperlima dari total belanja produk pangan rumah tangga di perkotaan dialokasikan untuk makanan jadi, sedangkan rumah tangga di perdesaan membelanjakan sekitar seperdelapan dari total pengeluaran untuk makan. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, pengeluaran untuk makanan jadi (termasuk fast food) lebih besar lagi, yaitu sekitar seperempat dari total pengeluaran untuk makan. Tidak seperti dulu, saat orang masih suka membawa bekal dari rumah dengan rantang!.

Lain dulu lain sekarang. Tentang teh botol atau air minum dalam kemasan misalnya. Dulu, konsumen sempat terheran-heran. Lha wong teh, kok dijual dalam botol. Lha wong air, kok harganya bisa lebih mahal dari bensin. Tapi itu dulu. Sekarang? apa pun makanannya, minumnya teteep….

INGIN ALAMI

Konon, Kemang merupakan daerah dengan komunitas ekspatriat tertinggi di Jakarta. Tak heran jika daerah di selatan Jakarta ini menyediakan fasilitas-fasilitas ‘wah’ untuk melayani kebutuhan mereka. Salah satunya adalah toko makanan yang di dalamnya menyediakan pangan organik (alami). Ada sayur organik, ayam organik hingga telur organik. Bagaimana dengan harganya? Cukup “murah” (yang juga berarti cukup mahal bagi kalangan tertentu). Untuk seekor ayam organik, Anda cukup membayar uang senilai Rp 56.000 !. Itu pun harus dipesan sehari sebelumnya.

Residu pestisida menjadi concern pada sayur dan buah. Residu pestisida dikaitkan dengan penyebab sakit perut, pusing, kontaminasi ASI dan produksi sperma yang kurang bermutu, hingga parkinson dan kanker. Inilah salah satu alasan mengapa konsumen kemudian mulai gemar berburu sayur tanpa pestisida (sayur organik). Selain itu, sayur organik juga memiliki kandungan phytochemical (antioksidan) sekitar 10 – 50% lebih tinggi dibandingkan kandungan phytochemicals pada sayur non organik. Oleh karena itu, sayur yang sebagian daunnya berlubang dimakan ulat justru lebih disukai dibanding sayur berdaun mulus. Ya, sayur berlubang menandakan bahwa sayur tersebut tidak beracun, karena ulat masih doyan makan. Berbeda dengan sayur mulus. Kemungkinan besar, sayur tersebut beracun (mengandung pestisida dalam jumlah banyak), karena ulat tidak doyan makan.

Pada hasil laut dan ternak, residu chloramphenicol (antibiotik) menjadi concern para pemburu makanan sehat. Pangan hewani organik (daging) memiliki kadar air lebih rendah, serta mineral dan vitamin C yang lebih tinggi dibanding daging non organik. Daging sapi (beef) organik mengandung lemak dengan rasio yang relatif seimbang antara kadar LDL (low density lipoprotein) atau lemak jahat dengan HDL (high density lipoprotein) atau lemak baik. Nah, apa lagi?

Jepang merupakan pasar utama di Asia untuk komoditi pangan organik. Maklum, Jepang merupakan negara termakmur di kawasan ini. Pada tahun 2002 lalu, penjualan pangan organik di Jepang diperkirakan mencapai USD 350 juta.

Pada kenyataannya, tak hanya sayur organik dan pangan hewani organik yang dikehendaki oleh konsumen. Kini, konsumen juga menginginkan produk makanan dan minuman olahan yang terbuat dari bahan-bahan alami, tanpa food preservatives/bahan pengawet makanan serta kemasan organik. Pendek kata, semua yang berbau alami mulai dicari. Sayang, harganya masih belum terjangkau oleh kocek kebanyakan konsumen.

INGIN HALAL

Selamat dunia akhirat menjadi dambaan setiap umat. Tak terkecuali umat Islam. Sekitar 87% penduduk Indonesia mengaku beragama Islam. Maka tak heran jika banyak penduduknya menginginkan produk halal.

Survey yang dilakukan Frontier pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 57,9% konsumen selalu memperhatikan label halal. Konsumen ingin pencantuman label halal diwajibkan (86%). Bila memperoleh makanan yang tidak berlabel halal, maka konsumen akan memilih alternative lain (66,2%). Bahkan, konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk produk halal (40,6%).

Senada dengan hasil survey sebelumnya, jajak pendapat yang diselenggarakan bersama antara situs indohalal.com, Yayasan Halalan Thoyyiban dan LPPOM MUI akhir 2002 lalu memperlihatkan bahwa 77,6% konsumen mempertimbangkan kehalalan produk saat berbelanja. Konsumen juga ingin pencantuman label halal menjadi sesuatu yang diwajibkan (93,9%).

Ya, angka-angka di atas sudah cukup menjadi bukti bahwa konsumen menginginkan produk halal. Sayang, keinginan ini tidak serta merta direspon baik oleh produsen makanan dan minuman. Dari ribuan produk pangan yang beredar, baru sekitar 2000-an produk atau sekitar 10% yang telah bersertifikat halal. Ironisnya lagi, ada produsen yang mencantumkan label halal tanpa sertifikasi dari lembaga yang berwenang. Ingat kasus sebuah perusahaan penyedap rasa di tahun 2001? Ribuan ton produknya terpaksa ditarik dari pasar, gara-gara ketahuan menggunakan enzim babi (bactosoytone) dalam proses produksinya.

Tak hanya produsen yang nakal, terkadang kredibilitas lembaga sertifikasi halal juga dipertanyakan. Konon, di luar negeri terdapat beberapa lembaga sertifikasi yang mengeluarkan sertifikat halal tanpa inspeksi terlebih dahulu. Lembaga seperti merekalah yang patut kita waspadai. Adapun beberapa contoh lembaga sertifikasi halal yang reputasinya sudah dikenal baik diantaranya adalah LPPOM MUI (Indonesia), JAKIM (Malaysia) dan MUIS (Singapura).

Kelak, World Halal Council (Dewan Halal Dunia) diharapkan dapat melakukan standarisasi proses sertifikasi halal di seluruh dunia. Jika harapan ini menjadi kenyataan, kita akan semakin yakin bahwa logo halal – yang dikeluarkan oleh lembaga manapun – dapat dijadikan sebagai ”jaminan” kehalalan produk. Contoh-contoh produk halal dapat Anda temui di situs www.halalmui.org

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*