Memilih Minyak Goreng

Secara alami, minyak sawit (crude palm oil) berwarna merah. Tetapi, sering kita dapati minyak sawit yang dijual di pasaran berwarna jernih. Perubahan warna ini disebabkan oleh proses bleaching pada minyak sawit yang menyebabkan warna merah teradsorbsi (terserap di permukaan) oleh senyawa karbon. Padahal, di dalam warna merah tersebut justru terdapat beta karoten (sebagaimana telah diketahui, beta karoten dapat diubah menjadi vitamin A oleh tubuh). Jadi minyak sawit berwarna merah lebih bagus dibanding yang jernih. Lalu, bagaimana dengan minyak goreng yang berwarna kecoklatan? Minyak goreng seperti ini biasa kita jumpai di “angkring” pedagang kaki lima. Minyak berwarna gelap menandakan bahwa minyak tersebut telah digunakan untuk menggoreng berulang kali. Akibatnya, minyak akan teroksidasi sehingga dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan dan diare (jika dikonsumsi). Kalau Anda “terpaksa” menggunakan minyak untuk menggoreng lebih dari satu kali, usahakan untuk tidak menggunakannya lebih dari 4 kali. Karena berdasar sebuah penelitian di IPB, kualitas minyak goreng yang digunakan lebih dari 4 kali sudah tidak aman bagi kesehatan.

Minyak goreng ”ini” non kolesterol. Minyak goreng ”itu” juga non kolesterol. Ya, semua minyak goreng memang tidak mengandung kolesterol. Kolesterol berasal dari produk hewani, sementara kebanyakan minyak goreng merupakan produk nabati. Sebenarnya, konsumsi kolesterol dari makanan hanya menyumbang sedikit ”dosa” terhadap peningkatan kadar kolesterol darah. Sekitar 75% penyebab kolesterol darah naik adalah tingginya produksi kolesterol oleh tubuh (hati) yang dipicu oleh konsumsi lemak jenuh. Jadi, kita harus lebih waspada terhadap makanan berlemak dibanding makanan berkolesterol. Lalu, bagaimana dengan kandungan lemak jenuh pada minyak goreng? Tabel 1. akan memberitahukannya.

Tabel 1. Kandungan lemak jenuh

Jenis minyak makan Jumlah kandungan lemak jenuh (%)
Minyak Kelapa 92
Mentega 64
Lemak Sapi 52
Minyak Sawit 51
Lemak Babi 41
Lemak Ayam 31
Minyak Kacang Tanah 18
Minyak Kedelai 15
Olive oil 14
Minyak Jagung 13
Minyak Biji Matahari 9
Minyak Safflower 9
Minyak Canola 6

Tetapi, kandungan lemak jenuh yang tinggi pada minyak goreng belum tentu berarti bahwa minyak tersebut dapat meningkatkan kadar kolesterol darah. Minyak sawit misalnya. Minyak sawit mengandung asam palmitat (lemak jenuh) sekitar 51%. Ternyata, menurut Prof. Ali Khomsan, minyak sawit bersifat netral alias tidak meningkatkan kadar kolesterol darah. Nah loh!. Lemak jenuh yang lebih perlu untuk dibatasi adalah lemak yang berasal dari hewan (daging). Karena lemak hewani bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah hingga stroke.

Minyak goreng dua kali penyaringan. Apa hebatnya? Penyaringan di sini dimaksudkan untuk mengambil lapisan lemak jenuh. Jadi, minyak goreng dua kali penyaringan lebih sedikit mengandung lemak jenuh dibanding minyak goreng satu kali penyaringan.

Beberapa minyak goreng mencantumkan kandungan Omega 9 pada label kemasannya. Omega 9 banyak terdapat pada minyak zaitun/olive oil. Sejauh ini, omega 9 dianggap mampu menurunkan kadar lemak jahat dan meningkatkan kadar lemak baik dalam darah.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*