Mengapa Harus Membuat Blog ?

Hanya karena mengelola sebuah blog, lantas beberapa teman menganggap hobi saya menulis. Anggapan itu wajar, meski tidak sepenuhnya benar. Percayalah, tulisan saya jelek. Nilai pelajaran bahasa Indonesia saya sejak SMP hingga kuliah hanya rata-rata kelas. Bahkan saya pernah dihukum membuat tulisan berlembar-lembar folio gegara nilai “mengarang” saya yang (sangat) tidak bagus.

Lalu, mengapa nekat membuat blog ?. Jawaban saya sederhana (sesederhana warung nasi sederhana di pinggir jalan) : saya diberi hidup. Karena diberi hidup itulah, maka saya harus bersyukur dengan cara berkarya dan berbagi. Wuidih…

Lantas, mengapa harus membuat blog ?. Di jaman sekarang, informasi itu aset mahal yang bisa diproduksi dengan harga murah. Ngerti kan ?. Dengan membuat blog, tulisan saya bisa dibaca oleh ribuan orang tiap bulan tanpa saya harus keluar modal yang banyak. Modal saya cuma dengkul dan kawan-kawannya. Saya punya mata & telinga (ini kawannya dengkul). Dengan itu saya bisa membaca dan mendengar informasi. Saya punya akal & tangan (ini juga kawannya dengkul tho). Dengan itu saya bisa berbagi informasi lewat tulisan.

Eh, jangan anggap remeh sebuah tulisan ya. Beberapa artikel sederhana yang saya buat sambil makan kacang ternyata lebih banyak dibaca dibanding artikel lain yang saya tulis dengan cucuran keringat dan air mata !. Huaaaa…. gimana ga bercucuran air mata, lha wong artikel itu saya buat hingga berjam-jam dengan sumber beberapa jurnal internasional dan artikel berbahasa asing, tapi jumlah pembacanya hanya bisa dihitung dengan jari kaki. Sangat tidak sepadan dengan perjuangan saya membuka & menutup kamus (ha.. ha…). Tapi, begitulah hidup. Untuk kasus ini, saya tidak percaya sepenuhnya pada pemeo “hasil tidak pernah mengingkari usaha”. Mengapa why tidak pernah never ?. Karena because selalu always (tuh kan, trauma buka tutup kamus telah menorehkan luka yang cukup dalam… kkkkkk).

Sedari awal saya sadar. Background pendidikan saya kurang bagus. Karir & pengalaman saya kurang mulus. Jalan kehidupan saya pun tidak segampang ucapan Mario Teguh. Akan sangat tidak menarik kalau saya membuat blog berisi hal-hal pribadi atau motivasi seperti blog orang-orang hebat itu. Saya juga bukan pemecah belah persatuan bangsa yang tega menebar informasi kontroversial serta berita heboh demi menaikkan rating blog. Saya hanya orang biasa yang memilih untuk berbagi informasi dengan cara saya sendiri.

Saya juga sadar, semangat membuat blog itu bisa jadi cuma hangat-hangat tahi kebo (lebih dahsyat dari tahi ayam) alias Edi Tansil (ejakulasi dini tanpa hasil). Karenanya, untuk memelihara semangat itu agar tetap membara, saya tidak mau membuat blog gratisan (maaf, saya bukan tipe orang pemburu gratisan… he..he..). Sengaja saya membayar paket domain & hosting termahal (untuk ukuran blog) dari sebuah ISP (Internet Service Provider). Nah, kalau sudah terlanjur basah begini, mau ga mau harus nyemplung kan ?.

Lalu, apa ga rugi keluar uang hanya untuk membuat blog ?. Ah, dasar koret..  medit… pelit… buntut kasiran. Kalau untuk berbuat baik selalu mikir untung rugi, bisa jadi emak & bapak kita ga bakal mau punya anak yang ala kadar seperti kita ini.

Ga rugi lah. Setidaknya sudah ada agen iklan yang mau membayar space di blog saya. Selain itu, ndeso-ndeso begini, Google Adsense (GA) pun mau bekerjasama walau blog saya tidak seperti kata orang-orang (kata orang, agar approved by Google, jumlah artikel harus sekian, niche-nya harus begini, harus memuat privacy policy, disclaimer dll). Ah, mungkin Google sedang berbaik hati. Tiap ada pembaca yang klik iklan dari Google, otomatis recehan dollar akan masuk ke rekening. Walau income belum besar, setidaknya sudah cukup untuk bayar ISP, beli paket internet dan (yang penting) secangkir kopi.

Kalau ada satu dua pembaca yang terinspirasi setelah membaca blog saya, itu sudah lebih dari cukup. Toh saya juga jadi nambah teman lantaran nge-blog.

 Ini blog-ku, mana blog-mu ?.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*