Minum Teh Yuk

Tradisi minum teh tak terlepas dari budaya yang berkembang di suatu masyarakat. Masyarakat China mengenal gong fu cha, orang Jepang mengenal chanoyu, penduduk Korea mengenal panyaro, masyarakat Inggris mengenal afternoon tea dan tea break. Lalu, bagaimana dengan masyarakat kita ?. Boleh jadi memang tidak ada budaya minum teh yang menonjol di masyarakat kita. Tapi, jangan lupa, di daerah Pantai Utara Jawa (terutama di daerah Tegal), orang mengenal teh poci, yaitu teh hijau yang dicampur bunga melati yang diseduh di dalam poci (teko kecil yang terbuat dari tanah liat). Rasa manis teh poci berasal dari gula batu yang ditaruh di dalam cangkir. Sluuurrrppp…ah…., nasgitel (panas, legi/manis, kentel/kental).

Pohon teh (Camellia sinensis [L.] Kuntze) ditanam di perkebunan dengan ketinggian 200 – 2.300 m dpl dan bersuhu 14-25 derajat celsius. Pohon teh diduga berasal dari kawasan India bagian Utara dan Cina Selatan. Ada dua kelompok varietas teh yang terkenal, yaitu var. assamica yang berasal dari Assam dan var. sinensis yang berasal dari Cina. Varietas assamica daunnya agak besar dengan ujung runcing, sedangkan varietas sinensis daunnya lebih kecil dan ujungnya agak tumpul. Nama lain teh diantaranya adalah : enteh (Sunda); pu erh cha (China), tehler (Perancis), teestrauch (Jerman), te (Itali), cha da India (Portugis) dan tea (Inggris).

China, India, Srilanka, Indonesia, Kenya, Malawi, Tanzania dan Zimbabwe adalah negara-negara berkembang di Asia Selatan dan Afrika Timur yang menghasilkan lebih dari 85% produksi dan ekspor teh dunia. Merk teh dari Srilanka yang terkenal adalah Dilmah, sedang merk teh dari Inggris yang terkenal adalah Twinning. Di Indonesia, kedua merk tersebut cukup bergengsi : harga mahal dan dijual di hotel, resto serta supermarket. Soal harga boleh bergengsi, soal rasa ? Hmm….nanti dulu. Teh dari Indonesia kualitas eksport (seperti broken peko 1) rasanya juga ga kalah juara lho.

Konon, minum 5 cangkir teh setiap hari (setara dengan 600 mg kafein) dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan gangguan pencernaan makanan (dispepsia), fasa lemah, gelisah, tremor, sukar tidur, tidak nafsu makan, sakit kepala, pusing (vertigo), bingung, berdebar, sesak napas, dan susah buang air besar. Jadi, jangan kebanyakan minum teh yah.

Berdasar cara pengolahannya, teh dibagi menjadi beberapa jenis :

  1. Teh Putih

Teh putih diambil dari kuncup daun terbaik. Teh dipetik ketika kuncup daun masih ditutupi (seperti) rambut putih yang halus. Pengolahannya dengan cara pengeringan dan penguapan singkat, tanpa fermentasi, sehingga kandungan katekinnya sangat tinggi. Sebagaimana kita ketahui, katekin bermanfaat bagi kesehatan manusia, karena berfungsi sebagai antioksidan di dalam tubuh. Teh putih banyak dikonsumsi di daerah Tiongkok.
  1. Teh Hijau

Teh hijau diolah tanpa melalui proses fermentasi, melainkan hanya dengan cara pengeringan dan penguapan yang prosesnya sedikit lebih lama dibanding teh putih. Teh hijau memiliki kandungan katekin tinggi dan dipercaya mampu mencegah pertumbuhan penyakit kanker, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) serta resiko terkena stroke dan menghaluskan kulit.
  1. Teh Oolong

Oolong dalam bahasa China berarti naga hitam. Teh Oolong merupakan teh semi fermentasi. Teh jenis ini diyakini dapat membantu kinerja pencernaan, mengobati sakit kepala, mengontrol kadar kolesterol serta membantu menurunkan kadar gula.
  1. Teh Hitam

Teh hitam diolah melalui proses fermentasi, sehingga menghasilkan warna gelap dan aroma kuat serta kandungan katekin yang tidak terlalu tinggi. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia. Teh jenis ini dipercaya mampu meningkatkan konsentrasi dan mencegah kantuk.
  1. Teh Melati

Teh melati merupakan teh hijau yang dicampur dengan bunga melati dan bunga gambir. Teh ini cukup popular di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Teh melati diyakini mampu menurunkan kadar kolesterol dan menyegarkan badan.
  1. Pu erh

Teh jenis ini disimpan dalam jangka waktu lama (10 – 50 tahun) di sebuah ruangan dengan kelembaban dan temperature terkontrol. Teh Pu-erh biasa dijual dalam bentuk padat setelah dipadatkan menjadi persegi seperti batu bata, piring kecil atau mangkuk. Aromanya yang apek membuatnya kurang disukai oleh kebanyakan orang.
  1. Teh Herbs

Teh jenis ini berasal dari tanaman herba seperti Chammomile, Rosella dan Secang. Rasanya tidak seperti teh yang biasa kita kenal.

Teh juga bisa disajikan dengan bahan lain. Kita mengenal teh yang dicampur dengan aroma mint, lemon, kayu manis, pandan, vanilla (banyak dijumpai di daerah Sumatera) dan sebagainya. Ada juga teh yang dicampur dengan susu. Cara pencampurannya cukup unik. Teh dan susu dituang berulang-ulang ke dalam 2 gelas secara bergantian. Kita mengenalnya sebagai teh Tarik. Teh jenis ini popular di daerah Melayu. Rasanya enak, tapi relative miskin gizi. Miskin gizi ? ya, kandungan mineral dalam susu (misal : Fe) yang bermanfaat bagi kesehatan akan bersenyawa dengan tannin yang berasal dari teh, sehingga bioavailability mineral-nya rendah. Mirip kejadiannya dengan Lemon Tea. Warna teh yang kecoklatan akan memudar setelah ditambah dengan air perasan Lemon. Tannin dan Vitamin C bereaksi.

Ah, apapun seleramu, minumnya… ya terserah kamu. Minum teh aja yuuk.
Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*