Paharege : apaan tuh?

Sekilas, judul diatas mirip dengan kata-kata Spanyol yang digunakan dalam lirik lagu Asereje. Ah, siapa sangka jika ternyata istilah tersebut adalah ‘turunan’ dari bahasa Indonesia. Yup, paharege merupakan akronim dari pangan hasil rekayasa genetika (Genetically Modified Food). Apa sebenarnya pangan hasil rekayasa genetika itu ?.

Rekayasa genetika merupakan salah satu teknik bioteknologi yang dilakukan dengan cara pemindahan gen (transgenic) dari satu mahluk hidup ke mahluk hidup lainnya. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tanaman/hewan yang memiliki sifat-sifat tertentu sehingga mendatangkan keuntungan yang lebih besar bagi produsen. Ada Flavr Savr (tomat yang disisipi gen ikan agar awet), Bt-Corn (jagung yang disisipi gen bakteri Bacillus thuringiensis agar tahan hama), Golden Rice (beras yang mengandung prekursor vitamin A) dan masih banyak lagi.

Rekayasa genetika dikenalkan sejak 1973 oleh dua ilmuwan Amerika, Stanley Cohen dan Herbert Boyer. Perkembangan rekayasa genetika cukup cepat. Pada tahun 2001, tanaman hasil rekayasa genetika menempati total area tanam dunia seluas 52,6 juta hektar (seluas Perancis). Walau demikian, hingga saat ini, keberadannya masih menimbulkan pro dan kontra. Kalangan pro dimotori oleh Amerika, yang 60 % produk pangan olahannya dihasilkan dari pangan hasil rekayasa genetika. Sedangkan kalangan kontra dimotori oleh 6 negara di Eropa (terutama Perancis dan Italy), yang tujuh supermarket dan beberapa industri pangannya tidak menjual/mengolah pangan hasil rekayasa genetika. Mari kita ikuti perdebatan mereka.

Pro :    Keunggulan dari pangan hasil rekayasa genetika diantaranya adalah murah, cepat panen, hasil panen banyak, tahan hama, umur simpan lebih lama dan bergizi tinggi. Dengan demikian masalah kekurangan pangan dan kekurangan gizi bisa teratasi.

Kontra :    Eit, tunggu dulu……tidak segampang itu bung ! bagaimana jika gen manusia terpengaruh keseimbangannya gara-gara konsumsi pangan hasil rekayasa genetika ? bukankah tikus yang diberi ‘DNA bebas’ dari bacteriophages menyebabkan transfer DNA pada tikus tersebut ?

Pro :    Mmm, tapi belum ada bukti bahwa DNA dari makanan bisa menyebabkan transfer DNA pada manusia. Toh, DNA juga terdapat pada pangan nabati/hewani yang biasa kita konsumsi sehari-hari.

Kontra :    OK, alasan anda mungkin ada benarnya. Tapi, bagaimana dengan dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem ? bukankah tanaman tersebut mengalami perubahan hormonal dan biasanya akan memproduksi toxin terus menerus ? Akibatnya, predator yang menguntungkan akan mati, sedangkan hama merugikan malah semakin resisten terhadap pestisida. Bagaimana pula dengan kelangsungan hidup tanaman non rekayasa dan petaninya ?

Pro :    Wah, anda terlihat begitu khawatir. Semua itu bisa dicegah dengan desain gen yang baik dan pengaturan lahan pertanian yang baik pula.

Kontra :    Saya tidak begitu yakin dengan implementasinya. Anda terlalu percaya diri. Lha wong FAO dan WHO (2000) menyimpulkan bahwa masalah yang mungkin timbul untuk jangka panjang akibat konsumsi paharege masih sedikit diketahui. Apa komentar anda tentang kacang Brazil kaya methionine (salah satu jenis protein) dan Bt-Corn (Starlink) yang menyebabkan alergi ? atau kentang (paharege) yang mengganggu system pencernaan tikus percobaan ?

Pro    : ??????

Demikian perdebatan para ilmuwan yang disadur ke dalam bahasa gaul ala warung kopi. Sebagian besar negara-negara Eropa membatasi penggunaan pangan hasil rekayasa genetika pada ambang batas 1%. Brazil memberlakukan ambang batas 4 %, Australia sebesar 1 %, Korea Selatan sebesar 3 %, Chili sebesar 2 %, Thailand sebesar 3 %, Norwegia sebesar 2 %, sedangkan Jepang, Taiwan dan Indonesia sebesar 5 %. Berarti, Indonesia mengijinkan penggunaan 5 g kedelai hasil rekayasa genetika dicampur 95 g kedelai alami untuk membuat ± 100 g tempe.

Sebagai orang awam, kita hanya berharap agar penelitian tentang pangan hasil rekayasa genetika terus dilakukan. Hingga suatu saat, kita bisa yakin, apakah pangan hasil rekayasa genetika aman bagi kesehatan dan lingkungan atau justru merusak. Paharege ? ha..ha…he…he…..

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

2 Komentar

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*