Pesta Terakhir Oei Tiong Ham, Orang Terkaya Asia Tenggara asal Semarang

Foto Oei Tiong Ham

Tak banyak orang tahu bahwa di Semarang pernah tinggal seseorang yang dijuluki orang terkaya Asia Tenggara. Bisnisnya menggurita hingga mancanegara. Kantornya tersebar di Singapura, Malaysia, Thailand, India, China, Brazil, Inggris, Belanda, Swiss hingga Amerika. Dialah pemilik usaha terbesar pertama di Asia Tenggara. Dialah, Oei Tiong Ham. Ia lahir pada 19 November 1866 di Semarang.

Anda pasti penasaran, berapa sih harta kekayaannya ?. Sulit untuk dihitung. Tapi, pada saat meninggal, Oei dikabarkan mewariskan harta tak kurang dari 200 juta gulden (ƒ/Dutch guilder). Sebuah angka yang membuat ahli warisnya bisa hidup mewah. Oei Tjong Tjay (putra bungsu Oei Tiong Ham) menceritakan bahwa mobil Packard (mobil mewah produksi Amerika) saat itu hanya seharga 2.000 gulden. Mari berhitung. Jika pada masa itu, Belanda menetapkan 1 gulden setara dengan 604,8 mg emas, maka 200 juta gulden akan setara dengan 120,96 ton emas atau sekitar USD 4,7 miliar atau sekitar Rp. 62,5 triliun. Memang, jumlah tersebut masih lebih kecil jika dibandingkan dengan kekayaan orang terkaya Indonesia saat ini, yaitu keluarga Hartono (pemilik rokok Djarum, BCA, Polytron), sebesar USD 16,5 miliar atau sekitar Rp. 220 triliun. Tapi, tentu sulit membandingkan kekayaan Oei dengan kekayaan Hartono, karena jaman dan kondisinya berbeda.

Oei Tiong Ham bermukim di kawasan Gergaji, Semarang. Halaman rumahnya menempati lahan tak kurang dari 81 hektar dengan 50 orang tukang kebun. Anda pasti penasaran lagi, bagaimana kondisi rumahnya saat ini?. Rumah itu telah beralih fungsi. Pernah menjadi balai prajurit. Sekarang menjadi lembaga pendidikan. Demikian pula dengan halaman rumah yang luas itu. Kini, di lahan itu telah berdiri Kantor Gubernur, Pengadilan Tinggi, Kejaksaan Tinggi, Perguruan Tinggi (UNDIP, Pleburan) hingga kawasan Simpang Lima. Semua telah berubah drastis hanya dalam hitungan puluhan tahun saja. Maka jangan heran kalau kita seolah kehilangan jejak untuk menelusuri kemegahan kerajaan besar di Nusantara seperti Sriwijaya, Mataram dan Majapahit yang telah terpisah waktu selama berabad-abad. Sungguh Tuhan telah memenuhi janji-Nya, bahwa kejayaan dan kehancuran akan dipergilirkan, agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya. Saya membuat tulisan ini bukan untuk mengupas tentang kekayaan keluarga Oei seperti yang telah ditulis oleh banyak blogger lain, tapi saya ingin menulis tentang pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan keluarga Oei. Tidak semua orang bisa kaya seperti Oei, tapi semua orang bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup Oei.

Tulisan ini terinspirasi dari buku berjudul No Feast Last Forever (Tak Ada Pesta Yang Tak Berakhir) yang berkisah tentang perjalanan hidup Oei Hui Lan, putri kedua Oei Tiong Ham dari istri pertama. Ia terlahir sebagai putri orang terkaya yang terbiasa berfoya-foya. Ia bisa membeli apa saja. Sejak kecil ia terbiasa bepergian ke luar negeri mengikuti perjalanan bisnis ayahnya. Pada umur 16 tahun, ia tinggal di Inggris mengikuti ibunya, Bing Nio, yang sudah jenuh hidup di Semarang. Ibunya tidak betah jika harus hidup bersama Oei Tiong Ham yang memiliki 17 istri muda. Terlebih 2 orang anak dari Bing Nio semuanya perempuan (Tjong Lan dan Hui Lan) yang tidak mungkin mewarisi usaha ayahnya. Ya, Oei Tiong Ham memiliki 18 istri dan 42 anak, meskipun yang “diakui” hanya 8 istri dan 26 anak (13 perempuan dan 13 laki-laki). Saking rumitnya, salah satu anak Oei Tiong Ham dari istri ketujuh menikah dengan cucu Oei Tiong Ham dari istri ketiga. Bing Nio tinggal bersama kedua putri dan menantunya di London. Rumahnya di Wimbledon berdiri di lahan seluas 2,8 hektar. Untuk urusan rumah tangga, tersedia 3 pelayan dari Inggris, 1 pelayan dan 1 koki dari China serta 1 koki dari Jawa. Bing Nio terbiasa berbahasa Jawa dan memakan masakan Jawa. Mobilnya Roll Royce, mobil mewah lengkap dengan sopir dan pelayan yang tugasnya membukakan pintu mobil. Sebelum pindah ke London, Tjong Lan dinikahkan pada usia 18 tahun dengan pria pilihan ibunya, Ting Liang (putra Kan, keluarga kaya di Jakarta). Ting Liang yang awalnya pergi ke Inggris agar bisa menjadi dokter, nyatanya hanya menjadi majordomo (pengurus rumah tangga) yang mengurusi keperluan rumah tangga mereka, berbelanja, membayar rekening dan menyetorkan laporan pengeluaran rumah tangga ke kantor Oei Tiong Ham di Mincing Lane.  Tjong Lan dan suaminya pindah ke Paris. Suatu hari, Tjong Lan menyuruh Hui Lan dan ibunya datang ke Paris, karena Wellington Koo, seorang diplomat China, ingin berkenalan dengan Hui Lan setelah Koo melihat foto Hui Lan di rumah Tjong Lan. Akhir kisah, Ibunya dan Tjong Lan membujuk Hui Lan (19 tahun) untuk mau menikah dengan Koo, usia 32 tahun, duda beranak dua yang ditinggal mati istrinya. Meski Oei Tiong Ham tidak menyetujui, dengan alasan Koo sudah pernah menikah dua kali sebelum melamar putrinya, Oei Hui Lan tetap menikah dengan Koo. Resepsi mereka digelar di Kedutaan Cina di Brussel, Belgia. Hanya Bing Nio yang menghadiri resepsi itu. Meski sudah menikah dengan Koo, Hui Lan tetap hidup mewah dengan dukungan financial dari ayahnya, mengingat gaji Koo sebagai diplomat (USD 600 per bulan) tidak cukup untuk membiayai gaya hidupnya. Demikian pula saat Koo dipanggil untuk kembali bertugas di China, Hui Lan membeli istana seluas 4,2 hektar dengan 200 kamar sebagai tempat tinggalnya, lengkap dengan 40 pelayan. Dari mana lagi uangnya kalau bukan dari sang ayah, Oei Tiong Ham. Saat perjalanan menuju China itulah, Hui Lan singgah di Singapura dan bertemu dengan ayahnya. Ya, Oei Tiong Ham saat itu sudah tak lagi tinggal di Semarang. Oei Tiong Ham pindah ke Singapura bersama istri ketujuhnya yang tidak begitu cantik, Lucy Ho, pada tahun 1920 atau sesaat setelah Bing Nio memutuskan untuk tinggal di London. Kakek perdana menteri Lee Kuan Yew pernah menjadi salah satu karyawan Oei Tiong Ham di Singapura. Oei Tiong Ham memilih pindah ke Singapura karena beberapa sebab. Hindia Belanda selain menetapkan pajak yang tinggi juga memaksa Oei Tiong Ham untuk menjual perkebunan tebunya seharga 70 juta. Sebab lainnya, Oei Tiong Ham ingin mewariskan usahanya hanya kepada 9 anak laki-laki dari istri ke 3, 5 dan 7 yang dianggap mampu berbisnis, sementara anaknya yang lain hanya akan diwarisi harta (bukan bisnis). Keinginan ini tidak akan terlaksana jika dia tetap bermukim di Semarang, karena hukum di Hindia Belanda mengharuskan ia mewariskan usahanya kepada semua anaknya. Di kemudian hari, keinginan Oei Tiong Ham tidak terlaksana dengan baik. Setelah Oei meninggal, 17 anaknya yang lain menuntut hak waris atas kerajaan bisnis ayahnya ke pengadilan. Akhirnya pada tahun 1939, masing-masing dari ke 17 anaknya tersebut mendapat tambahan uang sebesar 400.000 gulden. Kembali ke pertemuan Hui Lan dan ayahnya di Singapura. Hui Lan kaget mendapati kehidupan ayahnya di Singapura yang tidak semewah saat ia tinggal di Semarang. Tidak ada istana. Tidak ada istal kuda. Bahkan tidak ada air bersih dan WC duduk. Hui Lan melihat ayahnya tak lagi bersemangat dengan bisnisnya, meskipun ayahnya mengatakan bahwa bisnisnya baik-baik saja. Oei Tiong Ham menasehati Hui Lan, kalau saja Hui Lan dan ibunya bisa berhemat seperti Lucy Ho, mereka akan lebih kaya. Tapi Hui Lan justru tertawa. Buat apa repot-repot menghitung pengeluaran kalau ia memiliki ayah yang kaya raya. Tiga bulan sebelum Oei Tiong Ham meninggal mendadak di usia 57 tahun karena serangan jantung pada 3 Juni 1924, Hui Lan sempat mengunjungi ayahnya di Singapura. Saat itu, ada peramal India yang mengatakan bahwa semua orang hanya mencintai Oei Tiong Ham karena uangnya, kecuali satu orang. Peramal itu mengatakan jika akan ada musuh yang akan meracuni ayah. Walau demikian, Oei Tiong Ham tetap memilih tinggal di Singapura. Kata-kata terakhir yang ia ucapkan saat mengantar Hui Lan naik ke kapal adalah, “Hui Lan, aku lelah”. Setelah ayahnya meninggal, Hui Lan ingin melakukan otopsi atas jenazahnya karena teringat ramalan peramal India. Tetapi, otopsi hanya bisa dilakukan jika ada permintaan dari istri, Bing Nio. Padahal pada saat itu, Bing Nio menolak menghadiri pemakaman Oei Tiong Ham. Jenazah Oei Tiong Ham dikebumikan di Semarang, dekat makam ayahnya (kemudian pada tahun 1980-an, keluarga memindahkannya ke Singapura). Meski Hui Lan mendapat warisan jutaan gulden, kehidupannya berangsur-angsur suram sepeninggal ayahnya. Oei Hui Lan tak lagi sering berpesta pora. Sepeninggal pelayan-pelayannya, Hui Lan mulai belajar menyalakan oven, merebus telur, memasak ayam paprika dan tim ikan dengan tausi serta seafood. Kini ia percaya dengan pepatah Cina yang dulu pernah didengarnya, “Tak ada pesta yang tak berakhir”. Pepatah yang dulu tak ia dengar karena merasa bahwa uangnya yang sangat banyak itu tidak akan habis. Saat kekayaannya sudah tergerus, sebagian propertinya telah dijual dan suaminya tinggal bersama istri mudanya, Oei Hui Lan hidup kesepian bersama 2 anjing Peking-nya di sebuah apartemen di New York. Ia sering mengenang anjing-anjingnya yang telah mati. Anjing yang telah memberinya cinta kasih dan kebahagiaan di tahun tahun terakhir kehidupannya. Hui Lan berharap kelak mereka akan dilahirkan kembali dan saling mengenal. Pada tahun 1968, Hui Lan sempat mencoba menjalankan bisnis perkapalan, tembakau dan sepeda di Indonesia, tapi gagal. Di masa senjanya, ia berpendapat bahwa berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang orang lain dan hidup ini, seperti kata ibu : kita harus puas dengan yang kita miliki.

Setelah membaca kisah sedih Hui Lan di atas, saya pun mencoba mencari tahu tentang kerajaan bisnis Oei Tiong Ham. Saya penasaran bagaimana ia memulai bisnisnya dan mengapa bisnisnya bisa terpuruk hingga nyaris tak bersisa di Indonesia. Saya mencoba menuliskan ulang cerita itu untuk Anda. Benar, tak ada pesta yang tak berakhir.

Oei Tiong Ham merupakan putra sulung dari Oei Tjie Sien. Tjie Sien berasal dari Tong-an, distrik Ch’uanchou, provinsi Fukien, China. Ia menjadi buronan pemerintahan Manchu karena terlibat pemberontakan Taiping. Pelarian Tjie Sien membawanya ke Semarang, kota perdagangan terbesar di Pulau Jawa pada saat itu. Semarang dianggap lebih ramai dibanding Batavia karena distribusi perdagangannya yang tersebar hingga pelosok, sedangkan Surabaya belum terlalu besar. Tjie Sien datang pada tahun 1858 tanpa modal dan tidak bisa bahasa Jawa. Ia mulai bekerja di pelabuhan, menghela jung jung yang kandas di lumpur. Tjie Sien tinggal di kontrakan murah. Di kemudian hari, pemilik kontrakan menganggap wajah Tjie Sien bisa membawa rejeki. Ia menikahkan Tjie Sien dengan putrinya. Tanpa pesta. Setelah berkeluarga, Tjie Sien memikul barang pecah belah dari kota dan menjajakannya ke kampung kampung. Pulangnya, Tjie Sien membawa beras dari kampung ke kota. Demikian seterusnya hingga ia menjadi makmur karena berdagang beras. Pada tahun 1863, Tjie Sien mendirikan NV Handel Maatschappij Kian Gwan dengan modal 3 juta gulden. Walau tinggal di Jawa bertahun-tahun, Tjie Sien adalah singkeh. Ia makan masakan Hokkian. Ia berbicara dengan bahasa Hokkian. Berpakaian China. Semua karyawannya orang China yang berhitung dengan sempoa. Tjie Sien memiliki 3 istri. Di masa tuanya, Ia tinggal di Simongan bersama 2 istri mudanya. Rumahnya berdiri di tanah seluas 2,75 hektar. Anehnya, Tjie Sien lebih sayang kepada istri muda-nya yang berwajah tidak cantik dan berkulit hitam dibanding istri mudanya yang cantik, berkulit putih dan berambut lebat. Tjie Sien meninggal dengan mewariskan harta sekitar 10 juta gulden.

Saat Tjie Sien masih hidup, Tiong Ham diberi tugas untuk menagih uang sewa rumah kontrakan. Suatu ketika, Tiong Ham menghabiskan 10 ribu gulden uang hasil tagihannya di meja judi. Ia menyesal. Tiong Ham takut pulang dan bermaksud menceburkan diri dari jembatan. Tapi kekasihnya, seorang janda, melarangnya. Bahkan janda itu memberinya pinjaman 10 ribu gulden agar Tiong Ham berani kembali ke rumah. Berbeda dengan ayahnya yang hidup hemat, Tiong Ham menyukai kemewahan. Sekitar umur 24 tahun, Tiong Ham memasuki bisnis candu (opium). Di saat sebagian orang merugi dari bisnis candu, Tiong Ham justru memperoleh keuntungan dan dipercaya oleh Belanda sebagai pachter madat. Tiong Ham mendapat ijin dari Belanda untuk memperdagangkan candu di Semarang, Yogyakarta, Surakarta dan Surabaya. Selama 13 tahun menjalankan bisnis candu, sebelum dihentikannya ijin peredaran candu oleh Belanda pada 1904, Tiong Ham telah mengantongi keuntungan sejumlah 18 juta gulden. Tak lama setelah Tiong Ham memulai bisnis candu di usia belia, Tiong Ham mendapat modal 300 ribu gulden dari seorang konsul Jerman yang menempati rumah kontrakan ayahnya. Naluri bisnis Tiong Ham memang luar biasa. Pada usia sekitar 25 tahun, ia membeli pabrik gula yang sedang merugi. Tak perlu menunggu lama, bisnis gulanya maju, hingga Tiong Ham berhasil mengakuisisi 5 pabrik gula di bawah Algemeene Maatschappij tot Exploitatie der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken sebelum usianya genap 30 tahun. Tiong Ham dijuluki raja gula dari Semarang. Pada saat itu, mayoritas pasokan gula di dunia berasal dari pabrik-pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Imperium bisnis Tiong Ham makin membesar. Bisnisnya merambah ke kopra. Lalu, ia melakukan ekspansi lagi dengan mengakuisisi pabrik tapioca yang merugi. Di tangan Tiong Ham, pabrik yang merugi itu berubah menjadi menguntungkan. Tiong Ham mengekspor 1,5 juta ton tapioca. Grup usahanya dikenal dengan nama : Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Salah satu kunci keberhasilan Tiong Ham adalah mempekerjakan karyawan yang kompeten, ia tak segan merekrut orang non China menjadi kepercayaannya. Banyak pekerjanya berasal dari Eropa. Bahkan sopirnya, Powell, dari Inggris. Guru les anak-anaknya, Elizabeth Jones, dari Inggris. Pengasuhnya dari Perancis. Pengacaranya, Baron van Heeckeren, dari Belanda. Juru bahasanya, Pietro, dari Belanda. Ia juga melakukan modernisasi mesin-mesin pabriknya lewat bantuan konsul Jerman yang mengontrak di istana ayahnya. Meski tidak bisa berbahasa asing, Tiong Ham berhasil membuka kantor perwakilan di luar negeri seperti Amsterdam, London dan New York. Pada usia 35 tahun, Tiong Ham sudah kaya raya. Ia mendapat gelar kehormatan Majoor der Chinezen. Berbeda dengan Tjie Sien – ayahnya – yang berorientasi ke China, Tiong Ham berorientasi ke Eropa, termasuk gaya pakaiannya. Uniknya, dalam menjalankan bisnisnya, Tiong Ham tidak mau disogok, tapi ia gemar menyogok orang-orang yang bisa memperlancar bisnisnya, mulai dari pejabat Belanda hingga kelompok bandit, agar tidak mengganggu bisnisnya. Meski banyak karyawannya yang berpendidikan tinggi dari Eropa, Tiong Ham justru menempatkan orang yang tidak berpendidikan tinggi sebagai pemimpin perusahaan. Ia berkeyakinan bahwa bisnis membutuhkan mental judi (gambling) yang biasanya tidak dimiliki oleh orang berpendidikan tinggi yang selalu mengedepankan rasional. Karenanya ia memilih Tan Tek Peng yang tidak pernah mengenyam perguruan tinggi sebagai pucuk pimpinan Kian Gwan. Konsep ini bertolak belakang dengan praktek perusahaan zaibatsu (konglomerat) Jepang pada saat itu yang justru menempatkan orang berpendidikan tinggi sebagai pemimpin perusahaan agar semua keputusan bisa diambil secara rasional dan mengikuti perkembangan jaman. Zaibatsu Jepang memisahkan antara kepemilikan dengan manajemen perusahaan, sehingga tak banyak keluarga pemilik yang berada di posisi manajemen. Mereka memiliki chairman yang menangani urusan dengan pihak luar (diplomasi, mencari relasi bisnis baru dan berurusan dengan pemerintahan) dan presiden director yang hanya menjalankan operasional perusahaan.

Sepeninggal Oei Tiong Ham pada 1924, konglomerasi Kian Gwan dinahkodai oleh Oei Tjong Hauw, putra tertua dari istri kelima. Group usaha Oei Tiong Ham Concern (OTHC) memasuki fase generasi kedua. Tjong Hauw sudah dipercaya mengelola Kian Gwan sejak Tiong Ham memutuskan pindah ke Singapura. Ia hanya mengenyam pendidikan menengah di Semarang, bukan lulusan perguruan tinggi Eropa. Ia tidak paham mengenai pengembangan organisasi, efisiensi perusahaan ataupun sistem holding company yang sering disebut sebagai kunci kesuksesan dalam bisnis. Tjong Hauw juga pantang berhutang ke Bank. Tapi ia sukses mempertahankan kejayaan OTHC di masa sulit. Meski sebagian pabrik gulanya hancur akibat perang dan mulai surutnya prospek bisnis gula, Ia berhasil mendiversifikasi usahanya di bidang karet. Ia juga luwes menjalin hubungan dengan pemerintah yang berkuasa, mulai dari Hindia Belanda, Jepang hingga kaum nasionalis. Bahkan Tjong Hauw menjadi ketua partai Chung Hwa Hui pada 1928 dan menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945. Tjong Hauw meninggal di tahun 1950 pada usia muda, 46 tahun, karena serangan jantung.

Tjong Tjay didaulat untuk meneruskan bisnis keluarga. Ia putra terbungsu Oei Tiong Ham dari istri ketujuh. Usianya masih belia, 27 tahun. Ia lahir di Singapura pada 21 Juni 1924, sekitar 3 minggu setelah Oei Tiong Ham wafat. Sebenarnya Tiong Ham ingin mengajak anaknya tinggal di China, tapi keinginan itu tidak terealisasi. Sepeninggal Tiong Ham, Lucy Ho – ibunya – memilih membesarkan anak-anaknya di Eropa untuk memastikan putranya mendapat pendidikan yang bagus. Semula ia tinggal di Belanda, lalu pindah ke Swiss. Tjong Tjay mengenyam pendidikan tinggi di Amerika. OTHC memasuki generasi ketiga. Segera Tjong Tjay mengambil keputusan strategis untuk menyelamatkan perusahaan yang menurutnya sedang krisis. Ia memberhentikan Tan Tek Peng, orang kepercayaan Tiong Ham (ayah) dan Tjong Hauw (kakak berlainan ibu), pimpinan OTHC sebelumnya. Tan Tek Peng, selain tidak berpendidikan tinggi juga dinilainya terlalu tua (55 tahun) untuk memperbarui perusahaannya. Ia mengangkat Tjoa Soe Tjong menggantikan Tan Tek Peng. Soe Tjong adalah putra pengusaha beras di Surabaya, lulusan ekonomi dari Rotterdam. Saat pendudukan Jepang, sebagian orang kepercayaan perusahaan memilih tinggal di luar negeri, salah satunya adalah Dr. Djie Ting Liat, kepala keuangan, yang tinggal di Belanda. Menurut Tjong Tjay, hal ini membuat operasional perusahaan tidak berjalan dengan baik karena kurangnya koordinasi dalam pengambilan keputusan. Selain itu, ia merasa kesulitan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya. Tjong Tjay memutuskan untuk berhutang ke bank agar bisa menambah modal usahanya, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pendahulunya. Ia menganggap konyol jika harus menyimpan uang dalam jumlah besar hanya untuk membeli komoditi dari petani saat musim panen tiba, sementara nilai uang semakin menurun. Dengan meminjam uang dari Bank, ia berharap OTHC bisa mengembangkan potensi bisnisnya sehingga bisa menghasilkan uang lebih banyak. Sebenarnya, Tiong Ham ingin menjadikan OTHC sebagai holding company, dimana 9 anak laki-lakinya yang terpilih (cakap dalam berbisnis) akan menjalankan operasional perusahaan dan membagi keuntungan perusahaan (deviden) kepada 17 saudaranya yang lain. Tapi, keingian itu tidak direalisasikan oleh penerusnya. Semua orang yang ingin mendapatkan uang harus mau bekerja di perusahaan. Akibatnya, perusahaan menjadi tidak efisien dan sulit untuk mengambil keputusan karena konflik kepentingan. Tjong Tjay yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan tidak mengenal budaya & politik di Indonesia juga menjadi salah satu penyebab OTHC tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan pihak luar. Tjong Tjay tidak mendukung Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) yang didirikan oleh orang China keturunan, sehingga OTHC kurang mendapat dukungan dari orang China keturunan. Tjong Tjay juga tidak mau membebaskan beberapa karyawannya (keturunan China) yang diculik oleh orang-orang anti China. Tjong Tjay justru mendanai “pihak yang salah”, yaitu Ventje Sumual yang kemudian hari memimpin pemberontakan di Sulawesi. Tjong Tjay juga mendanai Partai Sosialis Indonesia (beberapa petingginya adalah Syafruddin Prawiranegara dan Prof Sumitro, ayah Prabowo Subianto) yang kelak dikaitkan dengan pemberontakan PRRI/Permesta. Tjong Tjay tidak mendukung Masyumi yang berorientasi Islam. Ia juga tidak berhasil menjalin hubungan baik dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang revolusioner. Di sisi lain, OTHC menjalin bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar Belanda (Jacobson, George Wehry, Borsumij, Internatio, Lindeteves), sehingga dicap sebagai Pro Belanda, ditengah semangat nasionalisme yang sedang berkobar menentang penjajah. Saat terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1957, Tjong Tjay terpikir untuk menempatkan pribumi sebagai petinggi OTHC. Tapi keinginan itu sulit terlaksana karena sebagian besar professional pribumi pada saat itu tidak mau dicap pro Belanda. Saat sebagian simpanan uang OTHC di Bank Indonesia cabang Amsterdam dibekukan oleh pemerintah Indonesia pada 1958, Tjong Tjay mengambil jalur hukum.  Meskipun Tjong Tjay menang di pengadilan Belanda, ia dinilai tidak kooperatif dengan pemerintahan baru Indonesia dibawah Sukarno. Beberapa peristiwa lain yang terjadi juga menguatkan sentiment itu. Tjong Tjay tidak senang saat Sukarno meminta sumbangan 100 ribu rupiah untuk pembangunan Gelanggang Olahraga. Ia juga setengah hati saat diminta Sukarno membantu membiayai perjalanan haji ribuan pejabat. Tjong Tjay juga pernah dipenjara gara-gara melakukan penimbunan komoditi pangan di saat terjadi krisis ekonomi. Sebagian petinggi OTHC juga dipenjara karena tuduhan penyelundupan karet serta mengimpor beras kualitas rendah. Rentetan pengalaman buruk itu membuat para pemilik OTHC khawatir dengan keselamatannya di Indonesia dan memilih tinggal di luar negeri sejak 1957, termasuk Tjong Tjay. Padahal, pada saat itu mereka diharuskan menghadiri persidangan di Semarang dengan tuntutan tindak kejahatan ekonomi. Sayangnya lagi, selain tidak bermukim di Indonesia, semua pewaris sah OTHC yang masih hidup tidak memiliki kewarganegaraan Indonesia, sehingga Pengadilan Ekonomi memutuskan bahwa mereka adalah orang tidak dikenal yang assetnya bisa diambil alih oleh pemerintah pada 10 Juli 1961. Sebelum assetnya diambil alih oleh pemerintah, OTHC mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Sementara itu, proses balik nama sekitar 800 rumah ke dalam 30 yayasan baru selesai sekitar 7 %. Akhirnya, Mahkamah Agung menguatkan keputusan Pengadilan Ekonomi di Semarang pada 27 April 1963. Pemerintah mengambil alih 93 % rumah serta perusahaan dagang Kian Gwan, 3 pabrik gula, perkebunan karet, pabrik biscuit dan Oei Tiong Ham Trust/Bank di Indonesia. Adapun asset OTHC di luar negeri tidak diambil alih oleh pemerintah. Akibat pengambilalihan asset OTHC di Indonesia, semua kantor cabang di luar negeri merugi, karena semua bisnis mereka bergantung pada OTHC di Indonesia.

Kita bisa menganalisa penyebab kebangkrutan OTHC dari sisi mana saja, tapi, menurut saya pribadi, kehancuran OTHC disebabkan oleh “kehendak alam”. “Alam” hendak mempergilirkan kejayaan itu kepada orang lain. Ini bisa terjadi pada siapa saja, tanpa ada yang bisa menundanya. Karena “alam” adalah representasi dari Tuhan.

Sumber :

http://www.semarang.nl/oei-tiong-ham/oei-tiong-ham-concern.html

https://silviagalikano.com/tag/oei-tiong-ham/

Kunio, Yoshihara. Interview: Oei Tjong Tjay. Kyoto University Research Information Repository. Southeast Asian Studies, Vol. 27, No.2, September 1989.

Taves, Isabella. No Feast Last Forever. New York: Quadrangle, 1975

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*