Singgih Susilo Kartono : Radio Kayu Yang Mendunia

Sebuah radio kayu berdesain vintage dijual di Jerman, Rusia, Portugal, Malta, Islandia, Amerika Serikat, Kanada, Brazil, Jepang, Korea, China, Hong Kong, Taiwan, Australia dan Selandia Baru. Harganya mencapai USD 150 – 300 per buah. Menariknya lagi, radio kayu itu buatan Indonesia. Bangga.

Singgih Susilo Kartono, seorang lulusan Desain Grafis Institut Teknologi Bandung (ITB), mengawali usaha pembuatan radio kayu di rumahnya (desa Kandangan, Temanggung) pada tahun 2003. Ia membeli sisa kayu potongan (limbah) dari tempat pemotongan kayu di sekitar rumahnya untuk dijadikan sebagai bahan baku casing radio. Sebagai “jeroan”-nya, ia membeli radio hasil pabrikan yang kemudian dipreteli casing plastik-nya untuk diganti dengan casing kayu buatannya. Desain yang unik menjadikan radio kayu buatan Singgih layak meraih berbagai penghargaan kelas dunia, seperti : Good Design Award 2008 di Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design, The Brit Insurance Design of the Year 2009 di London, serta dipajang di Design Museum of London dan Museum of Modern Art (MoMA) di New York. Sejak saat itu, lambat laun, radio kayu Magno mulai mendunia.

Dengan mengusung brand “Magno”, CV Piranti Works mampu memproduksi 1.500 radio per tahun untuk memenuhi permintaan eksport (85 %) dan dalam negeri. Singgih dibantu oleh 20 orang karyawan. Dalam satu tahun produksi, ia bisa menghabiskan sekitar 40 batang pohon sonokeling, mahoni dan pinus. Tak ingin merusak lingkungan, Singgih menanam pohon sejumlah 10 kali lipat dari jumlah pohon yang dipakai sebagai bahan baku produksi. Magno tak hanya sebuah radio kayu berdesain menarik, tetapi juga ramah lingkungan (isu yang belakangan ini semakin marak dikampanyekan).

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*