Revolusi Mental Metode Jepret

Kemarin pagi, setelah ayam berubah menjadi bubur…

Ku lihat sekelompok ABG sedang bertengkar di pinggir jalan. Mereka saling memaki, semaki makinya. Melotot. Berteriak – teriak, padahal jarak mereka tak lebih jauh dari tiga jengkal.

Maaf, mereka anak perempuan. Maaf (sekali lagi), mereka masih berseragam sekolah. Dan maaf (2 kali lagi), mereka berkerudung. Tiga kombinasi hebat yang membuat perbuatan mereka tak bisa ditolerir.

Lalu, masalahnya apa ?. Masalahnya adalah mereka tidak menempatkan ‘anu’ pada tempatnya. Melanggar etika (istilah MKD). Tak sopan (kata orang tua). Kamseupay (kata 4L4y).

Reaksi orang yang berlalu lalang di tempat itu pun beragam seperti beragamnya nasib mereka. Ada pedagang yang cuek bebek kayak komodo (bebek = komodo ?). Ada anak sekolah lain yang hanya ternganga mulutnya. Ada pula satpam yg berusaha melerai dengan berkata : “sudah… sudah”. Tapi, biar pun anjing menggonggong, pertengkaran tetap berlangsung. Mereka tak peduli dengan reaksi lingkungan sekitar.

“Hmmm… ini tak baik. Ini harus dihentikan”, gumamku. Jiwa kepahlawanan ala ksatria wajan hitam-ku membuncah.

Aku sadar, tampangku jauh dari orang tua, guru, ustadz atau orang yang nasehatnya pantas untuk mereka dengar. Tapi aku tahu, mereka adalah generasi selfie yang narsis… suka memfoto diri sambil monyong-monyongin mulut serta menjulurkan lidah tanpa peduli kehadiran orang lain di sekitar mereka. Untuk menghadapi ABG seperti ini, aku harus pakai cara lain. Aku menyebutnya metode jepret.

Sekonyong-konyong, aku berhenti persis di hadapan mereka. Diam. Tanpa kata. Aku ambil HP berkamera. Aku foto muka mereka satu per satu. Dan…. berhasil !. Anak yang sedang memaki-maki langsung terdiam seraya melengos, seolah risih dengan kehadiranku. Mereka pun bubar.

Ya. Didiklah anak sesuai dengan jamannya. Tolong dicatat, ini jaman selfie.

Kalau ada di antara kalian yang bekerja di kementrian di bawah PMK. Tolong usulkan ke bu Menko. Sisihkanlah sebagian dari dana 130 milyar biaya iklan kampanye revolusi mental itu untuk membuat sayembara seperti ini : Barangsiapa berhasil menjepret foto/kejadian yang menunjukkan kebobrokan mental, lalu mengupload fotonya ke situs revolusi mental untuk disebarluaskan ke khalayak… maka orang itu berhak mendapat hadiah senilai Sop Sapi sebuntut-buntutnya… tolong (sekali lagi) daftarkan saya ke sayembara itu.

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*