Sedekah Kepada Siapapun

Suatu sore di Madinah. Usai menjadi imam sholat Ashar, Rasulullah Saw langsung berdiri, kemudian berjalan tergesa-gesa hingga melangkahi jama’ah yang masih terduduk usai sholat. Beliau bergegas pulang ke rumah. Beberapa saat kemudian, beliau kembali menemui jama’ah.

Uqbah bin Al Harits yang melihat kejadian janggal itu penasaran, gerangan apa yang membuat Rasulullah Saw begitu tergesa-gesa pulang ke rumah. Ia pun bertanya kepada Rasulullah Saw tentang apa yang telah beliau perbuat. Rasulullah Saw menjawab: “Aku meninggalkan sebatang emas dari harta sedekah di dalam rumah. Aku tidak ingin emas itu sampai bermalam, maka aku bagi-bagikan” (Shahih Bukhari).

Oo, betapa kita sedang merindukan pemimpin seperti ini. Oo, betapa pemimpin seperti ini yang seolah tak pernah ada di kehidupan kita sekarang. Jangankan ingin korupsi atau memakan hak rakyat, menahan pemberian walau sehari-pun tidak ingin beliau lakukan. Jangankan hendak menahan pemberian kepada manusia, menahan pemberian kepada alam-pun tak hendak beliau kerjakan (tertulis dalam Shahih Bukhari, Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian tahan kelebihan air dengan maksud menahan tumbuhnya tanaman”).

Berbagi kepada sesama memang sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Saw. Anas bin Malik Ra – pembantu Rasulullah Saw – bercerita tentang seorang laki-laki yang pernah meminta seekor kambing kepada Rasulullah Saw di antara dua gunung. Lalu, tanpa ragu-ragu, Rasulullah Saw memberikan kambingnya kepada laki-laki itu. Setelah memperoleh kambing yang diminta, laki-laki tersebut pergi mendatangi kaumnya seraya berkata: “Hai kaumku, masuklah kalian ke dalam agama Islam! Demi Allah, sesungguhnya Muhammad memberikan sesuatu tanpa takut miskin” (Shahih Muslim).

Di lain waktu, Anas bin Malik Ra juga pernah bercerita: “Aku sedang berjalan bersama Rasulullah Saw, beliau mengenakan serban tebal yang berasal dari Najran (sebuah kota di sebelah barat daya Arab Saudi, berbatasan dengan Yaman). Tiba-tiba seorang Arab Badui manarik serban itu dengan kuat sehingga aku melihat bekas pada leher beliau akibat tarikan yang amat keras itu. Orang Arab Badui itu berkata: “Wahai Muhammad, berikanlah harta Allah yang ada padamu”. Beliau menengok sambil tersenyum, lalu memerintahkan untuk memberikan sedekah kepada orang itu (Shahih Muslim). Begitu ringan tangan beliau memberi sesuatu kepada orang lain, bahkan ketika orang itu memintanya dengan cara yang kasar.

Eit, tunggu dulu. Seandainya di jalan ada orang yang meminta harta kita dengan kasar, apakah kita akan memberinya sedekah ?. Ya, mungkin saja kita memberi, tapi hati kita dongkol. Jangankan diminta dengan cara yang kasar, diminta dengan cara yang halus pun, terkadang hati kita juga dongkol. Iya, kan ?. Bahkan tak jarang kita bermuka masam, ketika ada orang tak dikenal datang ke rumah kita membawa proposal untuk sumbangan ini dan itu yang kita ragukan kebenarannya.

Mari kita ikuti cerita Rasulullah Saw tentang seorang laki-laki yang berkata: “Malam ini aku akan bersedekah, lalu ia mengeluarkan sedekahnya, ternyata sedekahnya diberikannya kepada seorang pelacur, maka orang-orang membicarakannya sambil berkata: “Ia telah bersedekah untuk seorang pelacur”. Namun ia berkata: “Ya Allah segala puji bagimu, karena sedekahku ternyata jatuh pada seorang pelacur, akan tetapi aku akan terus bersedekah”. Lalu ia mengeluarkan sedekahnya dan ternyata ia memberikan pada orang kaya, sehingga orang-orangpun membicarakannya dan berkata: “Ia telah bersedekah pada orang kaya”. Namun ia berkata: “Segala puji bagimu ya Allah ternyata sedekahku atas orang kaya, akan tetapi aku akan terus bersedekah”. Lalu iapun mengeluarkan sedekahnya dan ternyata ia memberikanya pada seorang pencuri, maka orang-orang berkata: “Ia telah bersedekah pada pencuri!”. Kemudian laki-laki itu berkata: “Segala puji bagimu ya Allah atas sedekahku untuk pelacur, orang kaya dan pencuri”. Maka ia telah diberikan pahala dan dikatakan kepadanya: “Semua sedekahmu telah diterima dan sedekahmu kepada seorang pelacur, semoga ia (pelacur) akan mohon ampun atas perbuatanya. Sedekahmu atas orang kaya, semoga ia (orang kaya) mengambil pelajaran dan menginfakkan hartanya. Begitu juga semoga seorang pencuri akan insyaf dari perbuatanya” (Shahih Muslim)

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*