Terompah di dalam Surga

Pada suatu ketika di waktu Subuh, Rasulullah Saw meminta testimony dari Bilal Ra: “Wahai Bilal! Ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang paling bermanfaat, yang telah kamu lakukan setelah memeluk Islam, karena semalam aku mendengar suara langkah terompahmu di dalam surga”.

Perkataan ini membuat saya tercekat sejenak. Kok bisa, Rasulullah Saw sedemikian KEPO (knowing every particular object) – nya, sampai-sampai suara terompah Bilal Ra – pun beliau hafal ?. Ya, ya…boleh jadi ada suara khas dari langkah Bilal Ra saat memakai terompah itu, atau (lagi – lagi) memang Rasulullah Saw selalu menaruh perhatian terhadap hal – hal kecil di sekelilingnya. Entahlah. Yang jelas, pada saat itu manusia belum mengenal Gait Recognition (teknologi biometric yang mampu mengidentifikasi manusia dari cara mereka berjalan). Tak ada penjelasan lebih lanjut tentang terompah itu. Mungkin ia tak lebih dari sekedar pemanis kisah belaka. Kisah tentang Bilal Ra yang masuk surga dengan terompahnya.

Bilal Ra berkata: “Aku tidak pernah melakukan suatu amalan yang paling bermanfaat setelah memeluk Islam, selain aku berwudhu dengan sempurna pada waktu malam dan siang, kemudian melakukan salat dengan wudhu-ku itu selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepadaku” (Shahih Muslim).

Hmmm….menyempurnakan wudhu dan sholat sunat. Hanya amalan itu saja yang menurut Bilal Ra paling bermanfaat. Amalan yang semua orang muslim bisa melakukannya, jika mereka mau. Tapi, justru disinilah masalahnya. Mau dan tidak mau itu persoalan rumit. Bahkan untuk kebaikan yang sudah jelas imbalannya.

Di sebuah kesempatan, Rasulullah Saw bersabda: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang tidak mau”. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau?”. Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk surga dan barangsiapa yang tidak taat kepadaku, maka dialah yang tidak mau (masuk surga)” (Shahih Bukhari).

Jelas sudah. Masuk surga itu hanya urusan mau dan tidak mau. Sesederhana itu. Mau dan tidak mau. Mau dan tidak mau. Mau.

Ooh…betapa gambaran tentang surga itu, selalu mempesona semua orang tanpa terkecuali. Ya, semua orang. Orang saleh dan orang salah. Hanya saja, pesona itu seringkali ibarat pelangi yang lekas hilang terganti panas teriknya sang surya. Pesona itu tak cukup kuat untuk memotivasi orang agar mengerjakan perbuatan yang bisa mengantarkannya ke sana. Selalu saja ada, di setiap tempat, di setiap waktu, orang – orang yang dengan sadar mengerjakan perbuatan yang justru akan mengantarkannya ke neraka. Coba tanyakan kepada koruptor, yang belum tertangkap KPK – yang sedang memikirkan cara untuk korupsi berikutnya – apakah dia ingin masuk surga? Atau kepada residivis yang keluar masuk penjara berulang kali, apakah dia ingin masuk surga?. Atau kepada diri kita sendiri, apakah kita ingin masuk surga?. Hmmm, sungguh tidak sia – sia Allah menciptakan neraka, karena memang masih banyak peminatnya.

Benar. Kita tidak tahu persis alasan Tuhan memasukkan Bilal Ra ke dalam surga. Jangankan untuk tahu alasannya, bahkan bentuk terompah Bilal Ra seperti apa saja kita tidak tahu. Tapi, Rasulullah Saw telah bersabda, “Perbaikilah dirimu, ucapkanlah kebaikan, dan sampaikanlah kabar yang menyenangkan. Sesungguhnya amal seseorang tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. Para sahabat bertanya, “Apakah termasuk amal perbuatan Anda juga, ya Rasulullah?”. Rasulullah menjawab, “Ya. Termasuk juga amal perbuatanku, kecuali apabila Allah mencurahkan rahmat-Nya kepadaku. Ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah amal yang berkesinambungan meskipun sedikit” (Shahih Muslim).

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*