Usaha Makanan yang Menginspirasi

Mau merintis usaha makanan, tapi bingung mau usaha makanan seperti apa ?. Hmmm, barangkali contoh usaha makanan ringan berikut ini bisa menginspirasi kamu.

Meningkatkan nilai tambah suatu limbah. Limbah tak selamanya sampah yang harus dibuat musnah. Jika jeli memanfaatkannya, limbah yang harganya murah justru bisa mendulang rupiah. Lihatlah Wildan di Bogor yang memanfaatkan kulit ikan patin dan kakap menjadi kerupuk. Sebelumnya, kulit ikan tersebut merupakan limbah dari pabrik pembuat fillet ikan. Lain lagi dengan kisah pak Suratman di Magetan. Ia memproduksi manisan kulit jeruk. Siapa sangka, limbah dari jeruk jenis pamelo ini bisa mendatangkan keuntungan ?. Limbah lain yang bisa dimanfaatkan menjadi makanan, diantaranya adalah limbah tahu, jeroan, kulit melinjo dan air kelapa. Limbah dari pabrik tahu yang biasa disebut ampas tahu bisa dibuat keripik maupun kerupuk. Jeroan bisa diolah menjadi keripik ceker, keripik usus dan keripik paru yang renyah. Kulit melinjo bisa dijadikan kerupuk. Air kelapa biasa digunakan sebagai media perkembangbiakan Nata atau bahkan bisa diolah menjadi minuman yang menyegarkan. Kamu bisa merintis usaha makanan dari bahan baku yang kurang terpakai di sekitar kamu. Hayo, adakah limbah di sekitarmu yang bisa dimanfaatkan ?.

Mengenalkan makanan khas daerah. Makanan khas daerah seringkali dijadikan oleh-oleh saat seseorang mengunjungi daerah tertentu. Pemerintah daerah pun tak segan mempromosikan makanan khas daerahnya kepada khalayak luas melalui pameran dan acara lain yang terkait dengan kedaerahan. Jadi, produsen makanan khas daerah tidak perlu khawatir kalau produknya bakal tak dikenal orang. Bukankah kita mengenal bakpia pathok dari Yogya, lumpia basah dari Semarang, telor asin dari Brebes, gethuk goreng dari Sokaraja, sanjai dari Padang, dodol dari Garut, bika Ambon dari Medan, amplang tenggiri dari Samarinda dan makanan khas daerah lainnya ?. Bahkan kini sudah ada gudeg Yogya dan rendang Padang yang dikemas dalam kaleng. Sebuah inovasi yang berani, bukan ?.

Untuk memproduksi makanan khas suatu daerah, kamu tidak perlu tinggal di daerah tersebut. Tidak ada yang melarang kamu yang tinggal di Bogor membuat bakpia pathok khas Yogya untuk dijual di Jabotabek. Bukankah orang jaman sekarang (termasuk saya) lebih suka hal-hal yang praktis, tho ?. Karena alasan kepraktisan, misalnya, orang Jakarta yang pulang dari Yogya tidak perlu repot membawa oleh-oleh dari Yogya. Ia cukup membeli bakpia pathok khas Yogya di sebuah toko kue di Jakarta, lalu membagikannya kepada tetangga sembari berkata : ”Saya habis main dari Yogya lho, jeng”.

Kreasi produk dari bahan baku yang melimpah. Kalau kamu kreatif, bahan baku yang melimpah bisa diolah menjadi beraneka ragam makanan wah. Contohnya Waluh. Sayur sejenis labu ini biasanya hanya dihidangkan sebagai kolak pada saat berbuka puasa. Tapi di tangan Ibu Hana, waluh yang melimpah di daerah Malang diolah menjadi bakpia, brownies, pancake, burger, pizza, jus, kerupuk, pudding hingga lumpia. Begitu banyak jenis makanan yang bisa dibuat dari waluh. Bahkan pak Rahman di Jakarta berhasil menciptakan mie instan juga dari waluh. Lain lagi dengan Unggul Abinowo di Pasuruan yang mengolah ubi jalar menjadi beraneka ragam makanan. Atau bapak Tarwa Hadi di Ciamis yang membuat sale dan keripik pisang. Atau Larasati dan Yuliana di Gorontalo yang memanfaatkan ikan teri nike menjadi kerupuk. Mereka semua berhasil memanfaatkan hasil bumi yang melimpah di daerahnya sebagai bahan baku produk.

Kamu bisa membuat produk seperti kerupuk wortel, sirup markisa, jus jambu, manisan mangga, keripik nangka, keripik singkong/talas, saos tomat/pepaya, bubuk cabe hingga bawang goreng. Pokoknya makanan apapun yang terbuat dari bahan baku yang tersedia melimpah di sekitar kamu. Titik.

Boleh jadi, bahan baku terus melimpah sepanjang musim. Tapi terkadang, bahan baku melimpah hanya terjadi pada saat panen raya saja. Faktor ketersediaan bahan baku seperti ini perlu Anda pertimbangkan saat hendak merintis usaha makanan.

Mengganti bahan baku utama dengan bahan lain yang lebih murah. Lazimnya, dendeng terbuat dari daging sapi, tapi pak Bambang di Cimahi membuat dendeng dari jantung pisang !. Rruarr…biasa..!. Di Pontianak, Nur Anisa memproduksi dodol dari lidah buaya. Dari segi rasa dan penampilan, kedua produk ini tak kalah jika dibandingkan dengan dendeng sapi ataupun dodol buah pada umumnya. Tapi, keduanya mampu membuat orang penasaran untuk mencicipi. Soal harga tak perlu diragukan, karena bahan bakunya lebih murah, harga jualnya tentu lebih rendah. Ada juga keluwih yang diolah menjadi abon. Yang penting jangan membohongi konsumen dan jangan kebablasan. Kamu mungkin pernah mendengar seorang pengusaha di Jakarta yang berurusan dengan pihak berwajib lantaran isi bakpianya tidak terbuat dari kacang ijo atau ubi, melainkan dari kardus. Haa, kardus ? wataw…! emang kambing, makan kardus ?.

Membuat produk yang menyehatkan. Tingkat pendidikan dan taraf ekonomi yang semakin tinggi membuat orang semakin sadar akan arti penting kesehatan. Produk berembel-embel kesehatan mulai banyak dicari orang. Buktinya, penjualan minuman isotonik Pocari Sweat pada 2006 mencapai Rp. 1,2 triliun. Di tahun yang sama, Yakult terjual 1,1 juta botol per hari. Selain itu, ada juga susu tinggi kalsium, makanan rendah kalori dan produk makanan kesehatan lain yang mulai booming di pasaran. Ya..iyalah, mereka kan perusahaan besar. Eit, siapa bilang usaha makanan kesehatan semata-mata menjadi hak pengusaha besar ?. Beberapa produk buatan UKM yang menawarkan efek kesehatan juga banyak kok, diantaranya adalah jus mengkudu, instan jahe merah, kopi ginseng, madu, sari kurma, teh rosella, jus lidah buaya, kunyit asam dan temulawak. Bahkan sekarang ada UKM yang memproduksi minuman isotonik, susu kedelai dan yoghurt. Kamu tertantang ?.

Mengubah produk biasa menjadi tampil beda dan luar biasa. Mungkin kamu pernah mendengar nama Roti Unyil di Bogor. Menurut saya, dari segi rasa, produk ini tak jauh berbeda dengan roti lainnya, tapi yang membuatnya luar biasa unik adalah bentuknya. Roti ini begitu imut dengan menonjolkan isi (sosis, keju, pisang) yang berukuran besar. Makanan yang biasa bisa menjadi luar biasa karena penyajiannya yang berbeda. Begitu pula dengan pisang goreng Pontianak yang berbentuk kotak tak seperti pisang goreng pada umumnya. Lain halnya dengan keripik singkong pedas Ma’ Icih. Produknya biasa saja, tapi cara memasarkannya yang luar biasa. Konsumen dibuat penasaran dengan mobile outlet (tempat jualan yang berpindah-pindah yang diumumkan melalui jejaring social) serta rasa pedas yang dibuat menjadi beberapa level kepedasan. Oh ya, ada juga brownies Amanda. Brownies sudah ada dari dulu, tapi brownies yang dikukus, Amanda jagonya. Masih banyak lagi contoh yang lain. Hayo, bangun..! bangun…! adakah produk biasa yang bisa dibuat tampil beda ?.

Meniru produk yang sudah ada. Kamu tak dilarang ”meniru” produk orang lain yang telah terbukti sukses di pasaran. Asalkan produk tiruan tersebut memiliki kelebihan dibanding produk yang ditiru, entah harganya yang lebih murah atau rasanya yang lebih wah. Ibu Tini di Depok misalnya. Ia berhasil membuat coklat batangan yang penampilannya mirip dengan coklat batangan merk Silver Queen dengan harga yang jauh lebih murah. Ya, rajin-rajinlah mengunjungi pameran makanan ataupun toko kue sekedar untuk menyontek ide.

Menjadi pewaralaba. Kalau kamu termasuk tipe orang yang ”maunya terima beres”, usaha waralaba bisa menjadi pilihan. Kamu tinggal menyiapkan orang, uang dan tempat jualan. Selebihnya, pihak franchisor akan membantu kamu menjalankan usaha. Beberapa jenis makanan yang diwaralabakan diantaranya adalah tela-tela (stick singkong), burger, kebab (makanan timur tengah), crepes hingga fountain chocolate. Info tentang waralaba bisa diperoleh di www.waralabaku.com atau sekretariat Asosiasi Franchise Indonesia di Jl. Darmawangsa X/19, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan telp. 021 7395577.

Mengemas produk orang lain. Kamu bisa menjual makanan tanpa harus memproduksi sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Happy Snack di Bekasi, Braganiaga di Bandung atau PrianganSari dan Sari Barokah di Bogor yang omzet per bulannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Usaha seperti ini lazim disebut packing house. Kamu tinggal mengemas beraneka ragam produk buatan orang lain kemudian menjualnya.

Jadi, bagaimana ?. Apakah kamu masih bingung, usaha makanan seperti apa yang akan kamu mulai ?

Komentar dari pengguna Facebook

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*