Parenting : Adil Kepada Anak

Suatu ketika, seorang wanita miskin beserta 2 anak perempuannya mendatangi Aisyah Ra. Sejenak kemudian, istri Rasulullah Saw tersebut memberi tiga butir kurma kepadanya. Lalu, wanita miskin itu membagi dua butir kurma kepada masing-masing anaknya dan menyisakan sebutir kurma untuknya.

Tak perlu menunggu lama, sepenggal adegan dramatis terjadi. Setelah kurma di tangannya habis, kedua anak itu menatap ibunya tanpa kata. Bukan ibu namanya, kalau tidak tahu ungkapan hati si anak. Wanita itu memandangi sebutir kurma yang tersisa di tangannya, membelahnya menjadi dua bagian, lantas memberikannya kepada kedua anaknya tanpa menyisakan secuilpun untuk dirinya.

Hati Aisyah Ra bergetar. Ia menceritakan peristiwa itu kepada suaminya. Demi mendengar cerita itu, Rasulullah Saw bersabda: “Apa yang membuatmu heran dengan kejadian tersebut? Sungguh Allah telah menyayanginya karena dia telah menyayangi anaknya” (Shahih Adabul Mufrod – Imam Bukhari).

Kisah ini bercerita tentang seorang ibu yang rela menderita demi kebahagiaan anaknya. Kerelaan seorang ibu bukan ibarat lilin yang rela terbakar demi menerangi lingkungan sekitar. Bukan. Lilin benda mati. Ia tak memiliki hati (tak mengerti arti kerelaan dan pengorbanan). Ini naluri keibuan. Naluri yang tak akan mati, meski si anak terkadang berbuat durhaka kepadanya.

Tak hanya rela berkorban, ibu itu juga membagi kurma kepada kedua anaknya tanpa pilih kasih. Teringat kita akan kisah tentang seorang lelaki yang mendatangi Rasulullah Saw sambil menggendong anaknya yang bernama Nu’man. Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku memperlakukan Nu’man seperti ini”. Rasulullah Saw bertanya, “Apakah semua anakmu engkau perlakukan (seperti itu) ?” Lelaki itu menjawab, “Tidak”. Rasulullah Saw berkata, “Perlihatkan itu kepada selain aku”. Beliau tidak ingin melihat kasih sayang yang tak adil dari lelaki itu kepada anak-anaknya. Rasulullah Saw bertanya lagi, “Bukankah engkau senang jika mereka mendapatkan kasih sayang yang sama?”. Lelaki itu menjawab, “Tentu”. Beliau menimpali, “Kalau begitu, jangan perlakukan Nu’man seperti itu” (Shahih Adabul Mufrod – Imam Bukhari).

Ini menjadi bahan renungan bagi kita sebagai orang tua. Apakah kita rela berkorban dan berbuat adil kepada anak-anak kita seperti ibu itu ?. Betapa kini, kita sering mendengar berita tentang ibu yang menelantarkan, membuang, menganiaya, bahkan membunuh anaknya sendiri. Atau ibu yang menyuruh anaknya mengemis atau melacur. Ah! tak pantas orang seperti itu disebut ibu. Orang seperti itu hanyalah seonggok daging bernyawa yang berjenis kelamin betina dan beranak – yang saya tak tahu harus menyebutnya apa.

Jika masih ada orangtua yang tidak sayang kepada anak-anaknya, maka cermatilah sabda Rasulullah Saw berikut ini: “Allah Azza wa Jalla menjadikan rahmat (kasih sayang) itu seratus bagian, lalu Allah menahan sembilan puluh sembilan (bagian) berada di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dari satu bagian ini para makhluk saling berkasih-sayang, sampai masalah seekor kuda jantan yang mengangkat kakinya karena takut menimpa anaknya” (Shahih Adabul Mufrod – Imam Bukhari).

Ah, bahkan kuda jantan saja tak mau menyakiti anaknya. Dia kuda, jantan pula. Kita manusia.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*