Cara Membaca Label Makanan yang Jarang Orang Tahu

Menurut Bobbi De Porter dan Mike Hernacki dalam bukunya, Quantum Learning (1992), seseorang biasanya menggunakan salah satu dari tiga gaya belajar berikut ini : visual, auditorial atau kinestetik.

Apa yang dilakukan oleh teman Anda, saat membeli komputer yang bagian-bagiannya belum dirangkai? Jika ia langsung merangkai bagian-bagian tersebut, kemudian mencobanya dan membongkarnya lagi saat ia menemukan sesuatu yang tidak beres, maka kemungkinan besar, teman Anda adalah seorang yang bergaya kinestetik. Jika ia bertanya kepada orang lain untuk menjelaskan cara merangkai komputer, maka kemungkinan besar, ia adalah seorang yang bergaya auditorial. Tapi jika ia membaca dulu buku panduannya, memahami, baru kemudian merangkainya, maka kemungkinan, ia adalah seorang yang bergaya visual. Mereka belajar dengan gayanya masing-masing.

Nah, jika Anda ingin membeli sebuah produk, sebaiknya Anda bergaya visual, karena ada banyak informasi yang (biasanya) disajikan pada label produk tersebut. Bacalah label kemasan dan pahamilah isinya. Ini cara termudah untuk mengetahui produk yang dijual daripada Anda harus bertanya kepada orang lain (auditorial) ataupun langsung mencobanya (kinestetik).

Menurut Hermawan Kartajaya, pakar marketing, orang Amerika selalu memeriksa label makanan yang tercantum pada kemasan. Umumnya mereka berpengetahuan luas tentang karbohidrat, lemak dan sebagainya. Karena itu, kesadaran mereka akan makanan sehat jelas hebat. Di Indonesia, kita malas memeriksa label makanan. Bisa jadi, kita memang belum mengerti arti tulisan itu. Berikut ini hal yang perlu diketahui pada saat membaca label makanan.

Nomor pendaftaran. Keberadaan nomor pendaftaran pada label memberitahu kita bagaimana produk tersebut terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM). Produk yang sudah terdaftar di BPOM menandakan bahwa produk tersebut terbuat dari bahan-bahan yang diizinkan dan kadarnya tidak berbahaya bagi kesehatan. Ada dua jenis nomor pendaftaran yang biasa tercantum pada produk makanan dan minuman, yaitu : nomor MD (makanan yang diproduksi oleh industri menengah/besar dalam negeri) dan nomor ML (makanan import). Selain nomor MD dan nomor ML, ada juga nomor P-IRT. Nomor P-IRT dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk makanan yang diproduksi oleh industri rumah tangga.

Tanggal kadaluarsa. Produk yang sudah kadaluarsa tidak layak untuk dimakan. Biasanya, tanggal kadaluarsa ditulis sebagai “best before date” atau “use by date”. Apa bedanya?. Best before date: produk masih dapat dikonsumsi beberapa saat setelah tanggal yang tercantum terlewati. Use by date: produk tidak dapat dikonsumsi setelah tanggal yang tercantum terlewati, karena berbahaya bagi kesehatan manusia. Biasanya use by date tercantum pada produk yang sangat mudah rusak oleh mikroba, seperti produk susu cair dan daging. Beberapa produk memang tidak perlu mencantumkan tanggal kadaluarsa, contohnya : sayur dan buah segar, minuman beralkohol, vinegar/cuka, gula/sukrosa, bahan tambahan makanan dengan umur simpan lebih dari 18 bulan, roti dan kue dengan umur simpan kurang atau sama dengan 24 jam.

Komposisi. Mungkin banyak konsumen yang kurang familiar dengan nama-nama bahan baku yang dipakai dalam suatu produk. Biasanya bahan baku tersebut merupakan bahan tambahan makanan (BTM)/food additives yang ditambahkan untuk tujuan tertentu. Berikut ini beberapa BTM yang sering digunakan dalam produk pangan: pewarna (tartrazine, sunset yellow FCF, brilliant blue FCF, carmoisine, amaranth, ponceau 4R, erythrosine, red 2G, green S, caramel, anthocyanins), pengawet (potassium sorbate, sodium benzoate, nisin, sodium propionate, sodium nitrate, natamycine), antioksidan (L-ascorbic acid/vitamin C, tocopherols, lecithins, propyl gallate, buthylated hidroxyanisole (BHA), buthylated hidroxytoluene (BHT), erythrobat, TBHQ), pengemulsi (alginate, agar, carragee­nan, locust bean gum, guar gum, gum Arabic, xanthan gum, pectin, carboxy methyl cellulose /CMC, gelatin), pemanis (sucralose, acesulfame, aspartame, glucose, isomalt, mannitol, sorbitol, xylitol, saccharine dan cyclamate/siklamat) anti gumpal (MgCO3, tricalcium phosphate/TCP, silikon dioksida), pengatur keasaman (citric acid, malic acid, acetic acid, tartaric acid, calcium carbonate), penyedap rasa (ethyl maltol, eugenol, methyl salicylate, vanillin, butyric acid, caproic acid, cinnamic acid). Pada sebagian label produk makanan import, kita biasa menemukan huruf E (Eropa) yang diikuti dengan tiga digit angka dibelakangnya. Misal, E 100 untuk curcumin (pewarna), E 200 untuk asam sorbat (pengawet), E 300 untuk asam askorbat (antioksidan) dan E 400 untuk alginat (pengemulsi).

Garam nitrit biasa ditambahkan pada produk daging olahan (contoh: corned beef, sausage/sosis). Tujuannya untuk mempertahankan warna merah muda daging sekaligus sebagai pengawet. Tapi, Nitrit bisa berubah menjadi nitrosaamine yang bersifat karsinogenik (dapat memicu kanker).

Larutan sulfit biasa digunakan sebagai pengawet atau pemutih. Larutan sulfit (contoh : sulfur dioksida, potassium bisulfit, sodium sulfit) biasa digunakan pada sayur, buah hingga produk nata de coco. Larutan ini diduga dapat menyebabkan sesak nafas.

Trans fat disinyalir dapat meningkatkan kadar kolesterol darah. Beberapa produk seperti chips (keripik), margarine dan biskuit biasanya mengandung trans fat. Pada daftar komposisi yang tercantum pada label, trans fat dituliskan sebagai hydrogenated oil, hardener, vegetable oil & fat atau vegetable shortening. Akhir 2003, Denmark melarang penjualan produk makanan yang mengandung trans fatty acids lebih dari 2 %. Sedangkan U.S Food and Drug Administration mewajibkan pencantuman kandungan trans fat pada label makanan sejak 2006.

Hati-hati juga dengan barang haram. Beberapa bahan baku yang perlu dicurigai adalah : gelatin, enzyme, lemak, collagen, colostrums, embryo extract, blood extract, hydrolyzed haemoglobin, keratin, hair extract, placenta, protein, thymus extract, thymus hydrolisate, stomach extract, minyak, shortening, pengental, emulsifier, enhancer, l-sistein, monogliserida, digliserida, trigliserida, pepsin, rennin/ rennet/ chymosin/ chymase, suet dan tallow. Bahan tersebut bisa berasal dari sapi, domba atau babi. Adapun produk yang jelas berasal dari babi adalah bacon, lard dan pork/ham.

Perhatikan pula beberapa bahan yang harus dibatasi konsumsinya. Misal : sebuah minuman mengandung siklamat 0,15 g per serving dengan ADI (Acceptable Daily Intake) siklamat sebesar 11 mg/kg berat badan/hari. Artinya, anak berbobot minimum 13,6 kg baru boleh mengonsumsi minuman tersebut sekali dalam sehari. Untuk dapat mengonsumsi dua kali sehari, si anak harus berbobot minimum 27,2 kg. Hal seperti ini yang jarang diperhatikan oleh konsumen. Cara menghitung :

Pertama, konversikan berat kandungan siklamat ke dalam satuan miligram. Misal, kandungan siklamat sebesar 0,15 g setara dengan 150 mg. Kedua, hitunglah syarat berat badan. Kandungan siklamat (150 mg) dibagi ADI (11 mg), hasilnya sebesar 13,6 Kg.

Logo Halal. Awas, beberapa produsen mencantumkan logo halal tanpa proses sertifikasi dari pihak yang berwenang (LPPOM MUI). Klaim “100% halal” merupakan pembodohan. Halal tidak dapat dipersentasekan.

Keterangan lain. Biasanya, pada label juga tercantum beberapa informasi yang perlu diperhatikan, diantaranya:

“MENGANDUNG BABI”. Tulisan ini berwarna merah disertai gambar babi. Makanan seperti ini jelas tidak halal.

“Perhatian! Tidak cocok untuk bayi”. Peringatan ini terdapat pada label susu kental manis. Sebagian ibu-ibu di kampung memberikan susu kental manis kepada anaknya sebagai pengganti ASI. Sebagian lagi beranggapan bahwa mengonsumsi susu kental manis sama dengan mengonsumsi susu sapi. Padahal kalau dicermati, komposisi susu kental manis sangat jauh berbeda dengan komposisi susu sapi. Kandungan terbesar dari susu kental manis atau condensed milk adalah gula.

“PANGAN IRADIASI” atau “bahan telah diiradiasi” menunjukkan bahwa produk tersebut telah diiradiasi (misal : iradiasi menggunakan Cobalt-60). Iradiasi merupakan sebuah proses yang melibatkan senyawa radioaktif. Salah satu tujuannya adalah untuk memperpanjang umur simpan. Pangan yang telah diiradiasi berpotensi menghasilkan radikal bebas yang dapat memicu kanker.

“MINUMAN BERALKOHOL”. Minuman yang bisa membuat orang teler ini diharamkan bagi umat Islam.

“mengandung phenylalanine, tidak cocok untuk penderita phenylketonurics”. Peringatan ini tercantum pada label produk yang mengandung aspartame sebagai pemanis buatannya. Penderita phenylketonurics memiliki kelainan sehingga tidak dapat memetabolisme phenylalanine. Gejala kelainan ini diantaranya adalah keterbelakangan mental serta pusing dan lemas setelah mengonsumsi phenylalanine. Satu dari 15.000 orang dimungkinkan menderita kelainan ini.

“konsumsi berlebihan dapat menyebabkan efek laksatif”. Peringatan ini tercantum pada label produk yang mengandung sorbitol. Yang dimaksud dengan efek laksatif adalah efek yang memicu terjadinya pengosongan isi perut. Efek laksatif yang mungkin timbul adalah diare.

Cara penyajian dan penyimpanan. Lho, kok sirupnya kurang manis sih? Selidik punya selidik, ternyata airnya kebanyakan. Jika serving suggestion (saran penyajian) tertulis 3 sendok makan sirup untuk 1 gelas air dingin (200 ml). Ya, sebaiknya dituruti. Begitu pula dengan cara penyimpanannya. Beberapa produk (misal : cookies, susu bubuk) harus ditutup rapat setelah digunakan, kemudian disimpan di dalam lemari pendingin.

Informasi Nilai Gizi. Informasi nilai gizi menyajikan informasi tentang nilai/kandungan gizi sebuah makanan. Formatnya bisa horisontal ataupun vertikal. Informasi nilai gizi disebut juga nutrition facts. Berikut ini contoh cara membaca nutrition fact mi instant.

Nutrition Facts

Keterangan :

1. Jumlah saji per kemasan adalah 2 penyajian (baca: dalam 1 kemasan terdapat dua keping mie), dimana tiap penyajian (1 keping mie) beratnya 85 g. Nilai gizi yang tercantum merupakan kandungan gizi per takaran saji (1 keping mie). Artinya, jika kita mengonsumsi 1 kemasan (2 keping mie) berarti kita mendapatkan pasokan gizi sebanyak dua kali lipat dari angka yang tercantum.

2. Satu keping mie memasok energi sebesar 440 kilokalori, dimana 160 kilokalori berasal dari lemak. Ingat, konsumsi kalori berlebih dapat menyebabkan kegemukan (overweight hingga obesitas).

3. AKG merupakan kependekan dari angka kecukupan gizi. Istilah lain AKG adalah DV (daily value). Karbohidrat total yang terkandung dalam 1 keping mie sebesar 63 g, dimana jumlah tersebut memasok 19% dari kebutuhan rata-rata manusia akan karbohidrat per hari. Jika di hari itu kita telah mendapat karbohidrat dari mie sebesar 19%, maka di hari yang sama, kita masih diperbolehkan mengonsumsi makanan lain yang mengandung karbohidrat sebesar 81% AKG (81% merupakan hasil pengurangan dari 100% dengan 19%). Tinggi rendahnya nilai gizi bisa dilihat dari % AKG. Nilai gizi dinyatakan rendah, jika kurang dari 5% AKG, sedang nilai gizi yang lebih besar dari 20% AKG dinyatakan tinggi. Saat berbelanja, kita dapat membandingkan nilai gizi antar produk dengan cara membandingkan AKG-nya. AKG juga dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan saat kita hendak menyusun menu makan harian. Sayangnya, belum semua bahan dapat diketahui patokan AKG-nya. Contohnya adalah trans fat. AKG untuk bahan ini ditandai dengan tanda plus (mirip salib). Padahal, trans fat dan lemak jenuh dapat menaikkan kadar LDL (low density lipid/lemak jahat) dalam darah yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner.

4. Konsumsi lemak, lemak jenuh, trans fat, kolesterol dan natrium/sodium sebaiknya dibatasi, karena konsumsi yang berlebih dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker dan tekanan darah tinggi. Usahakan agar konsumsi bahan tersebut kurang dari 100% AKG per hari.

5. Adapun zat gizi seperti kalsium, zat besi, vitamin A dan C serta serat makanan sebaiknya dikonsumsi hingga mencukupi 100% AKG per hari. Vitamin dan mineral sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, karena keduanya dapat menyehatkan dan mengurangi risiko terkena penyakit tertentu. Berbeda dengan karbohidrat, lemak dan protein yang kelebihannya dapat disimpan dalam tubuh, kelebihan asupan vitamin akan dibuang. Jadi, jangan sampai mubazir dalam mengonsumsi vitamin.

6. Catatan kaki menyatakan bahwa% AKG dihitung berdasarkan pada kebutuhan rata-rata, yaitu: 2000 kilokalori. AKG dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung pada kebutuhan kalori masing-masing orang.

Apa yang ada dipikiran Anda saat menemukan sebuah produk bertuliskan ”bebas lemak”? Jangan pernah mengira bahwa produk tersebut mengandung 0% lemak. Karena Anda akan salah. Produk ”bebas lemak” artinya mengandung kurang dari 0,5 g lemak per penyajian. Wow!

Nah, berikut ini contoh-contoh klaim produk yang sering kita temui:

  1. Rendah kalori : produk mengandung kalori kurang dari atau sama dengan 40 kkal per penyajian.
  1. Tanpa kalori : produk mengandung kalori kurang dari 5 kkal per penyajian.
  1. Rendah lemak : produk mengandung kurang dari atau sama dengan 3 g lemak per 50 g produk.
  1. Bebas lemak : produk mengandung lemak kurang dari 0,5 g lemak per penyajian.
  1. Rendah kolesterol : produk mengandung kurang dari atau sama dengan 20 mg kolesterol dan kurang atau sama dengan 2 g asam lemak jenuh per 50 g produk.
  1. Bebas kolesterol : produk mengandung kurang dari 2 mg kolesterol dan kurang atau sama dengan 2 g asam lemak jenuh per 50 g produk.
  1. Rendah Natrium/Sodium : produk mengandung kurang dari atau sama dengan 140 mg Natrium per 50 g.
  1. Bebas Natrium/Sodium : produk mengandung kurang dari 5 mg Natrium per penyajian.
  1. Bebas gula : produk mengandung kurang dari 0,5 g gula per penyajian.

Informasi ini hanya ingin meluruskan persepsi konsumen yang kurang benar terhadap klaim gizi yang banyak ditemukan pada produk makanan dan minuman.

Selamat mencermati label sebelum membeli produk makanan. Sekian.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*