10 Cara Membuat Obat Tradisional

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kalimat tersebut mudah diucapkan tapi susah dilaksanakan. Semua orang ingin sehat, tapi tak banyak orang yang mau bersungguh-sungguh mencegah datangnya sakit dengan menjalankan pola hidup sehat. Kurang olahraga, makanan berlemak, kebiasaan merokok hingga kurang tidur hanyalah contoh pola hidup tak sehat yang sering dilakoni orang.

Ketika sakit datang, barulah terasa betapa berharganya sebuah kesehatan. Jika sudah demikian, maka orang tak lagi peduli berapa uang yang harus dikeluarkan untuk memperoleh kesehatannya kembali.

Kesadaran untuk menjalankan gaya hidup kembali ke alam telah membuat sebagian orang memilih pengobatan tradisional sebagai alternatif pengobatan modern. Efek samping yang rendah serta harga yang terjangkau menjadikan obat tradisional sesuatu yang dicari. Tapi hati-hati, belakangan ini obat tradisional palsu banyak beredar di berbagai tempat. Oleh karena itu, tak ada salahnya kita mencoba obat tradisional buatan sendiri. Eh, tapi kan ribet, belum lagi kalau salah meramu, khasiatnya jutru bisa hilang. Tenang, ikutilah cara membuat obat tradisional berikut ini :

  1. Cucilah tanaman obat dengan air yang mengalir hingga bersih
  2. Perkecil ukuran tanaman obat dengan cara memotong-motongnya
  3. Setelah itu, tanaman obat direbus di dalam air selama 10 menit. Pastikan agar tanaman terendam di dalam air (sekitar 3 cm dari permukaan air). Untuk menghindari reaksi kimiawi, sebaiknya perebusan dilakukan menggunakan wadah keramik, beling atau enamel. Jangan menggunakan wadah berbahan logam seperti besi, alumunium atau kuningan. Logam mengandung iron trichloride dan potassium ferrycianide yang dapat menurunkan khasiat tanaman obat. Selain itu, jangan terlalu sering membuka tutup wadah pada saat perebusan. Tujuannya agar minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman obat tidak mudah menguap
  4. Tanaman obat yang berkhasiat sebagai tonikum (misal : ginseng, jamur ling zhi) direbus selama 2 jam menggunakan api kecil. Tujuannya agar kandungan aktifnya terserap ke dalam air rebusan. Demikian pula cara merebus tanaman obat yang mengandung toksin (misal : mahkota dewa)
  5. Tanaman obat yang berkhasiat diaforetik (mengeluarkan keringat) dan mengandung minyak atsiri (misal : daun mint, cengkeh, kayu manis) dimasukkan ke dalam wadah perebusan setelah air mendidih. Rebus sebentar saja. Tujuannya untuk mencegah penguapan minyak atsiri dalam jumlah banyak.
  6. Jika tanaman obat yang direbus berupa daun, maka waktu perebusan dianggap selesai setelah air rebusan tinggal setengahnya. Jika tanaman obat yang direbus berupa biji atau batang, maka waktu perebusan dianggap selesai setelah air rebusan tinggal sepertiganya
  7. Takaran penggunaan tanaman obat yang masih dalam keadaan basah/segar jumlahnya sebanyak dua kali lipat jika dibandingkan dengan penggunaan tanaman obat yang sudah dikeringkan
  8. Satu resep obat tradisional diminum 2 kali sehari (sisa ampas rebusan pertama di pagi hari dapat direbus sekali lagi untuk diminum di sore/malam hari)
  9. Pada umumnya, rebusan tanaman obat diminum dalam keadaan hangat sebelum makan
  10. Berbeda dengan obat kimiawi/modern, efek obat tradisional tidak langsung terasa dalam waktu singkat. Obat tradisional harus diminum secara teratur untuk memelihara kesehatan dan mengobati penyakit kronis/menahun. Jika obat tradisional akan dikombinasikan dengan obat kimiawi, sebaiknya obat tradisional diminum 2 jam setelah meminum obat kimiawi.

sumber :

Wijayakusuma, Hembing. 2008. Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit. Jakarta : Pustaka Bunda

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*