40 tahun Nutrifood : The Living Company

Bagikan ini ke temanmu :
Share

The Bank of Korea pada tahun 2008 mengungkap fakta tentang perusahaan-perusahaan tertua di dunia. Menarik. Dari 5.586 perusahaan yang berusia lebih dari 200 tahun di dunia, sekira 56 %-nya merupakan perusahaan Jepang. Peringkat kedua ditempati Jerman dengan angka 15 %. Selebihnya tersebar di berbagai Negara dalam jumlah yang tidak signifikan. Perusahaan Jepang tertua adalah Kongo Gumi. Perusahaan konstruksi ini didirikan pada tahun 578. Pendapatannya mencapai USD 70 juta (sekitar Rp 980 miliar, asumsi kurs 1 USD = Rp. 14.000) pada tahun 2005. Ini bicara tentang durasi.

Bagaimana dengan valuasi perusahaan ?. Dalam daftar perusahaan terbesar Fortune Global 500 (2018), Jepang dan Jerman hanya menempati peringkat ketiga dan keempat dengan perolehan 10 % dan 6 %. Peringkat pertama dan kedua diraih oleh Amerika (25 %) dan China (24 %). Walmart, perusahaan ritel asal Amerika (berdiri tahun 1962) dengan 11.277 toko yang tersebar di seluruh dunia, menjadi yang terbesar dengan pendapatan USD 500,34 miliar (sekitar Rp 7.004 triliun, asumsi kurs 1 USD = Rp. 14.000). Pendapatan Walmart hampir tiga kali lipat dari APBN Indonesia lho, gaess.

Prof. Toshio Goto dari Japan University of Economics (2005) menyatakan bahwa rata-rata masa hidup perusahaan keluarga di Jepang mencapai 52 tahun. Salah satu factor yang membuat tingginya angka itu adalah budaya yang berlaku di Jepang, yaitu keinginan kuat untuk mewujudkan klan keluarga tetap survive dan sejahtera.

Kita bandingkan dengan Amerika. Menurut Prof. Richard Foster dari Yale University (2012), rata-rata masa hidup perusahaan Amerika yang tergabung dalam S&P 500 Index hanya 18 tahun. Lebih pendek dari rata-rata masa hidup 35.000 perusahaan (listed companies) Amerika yang mencapai kisaran 30 tahun. Resiko kematian terbesar (38,2 %) dialami oleh perusahaan di sector IT dan Telekomunikasi (sumber : Boston Consulting Group, 2010). Di Silicon Valley (kawasan industry yang terkait dengan computer & semikonduktor di Amerika), perusahaan yang bertahan lebih dari 10 tahun dianggap sebagai “kakek tua yang bijaksana” (wise old grandfather). Tak heran jika Bill Gates menjual sebagian saham-nya di Microsoft (perusahaan yang ia bangun) untuk not put all eggs in one basket. Menurut Investopedia (2018), Microsoft hanya berkontribusi sekitar 14,3 % dari kekayaan Bill Gates yang ditaksir mencapai USD 90 milliar (sekitar Rp 1.260 triliun, asumsi kurs 1 USD = Rp. 14.000). Mayoritas portofolio kekayaan Bill Gates (45,2 %) justru berasal dari Berkshire Hathaway (holding company yang dikendalikan oleh Warren Buffet). Sisanya tersebar di berbagai perusahaan.

Jadi, jika kita ingin belajar tentang durasi (masa hidup/life span) perusahaan, tengoklah Zaibatsu Jepang. Kalau kita ingin belajar tentang valuasi perusahaan, liriklah America’s Tycoons.

Lalu, berapa rata-rata masa hidup perusahaan di Indonesia ?. Pertanyaan yang tidak gampang untuk dijawab. Saya belum menemukan studi-studi yang cukup soal itu. Bagi Mahdi (mahasiswa abadi :), mungkin ini bisa jadi salah satu ide untuk bahan skripsi.

Bicara tentang masa hidup perusahaan di Indonesia, Nutrifood yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 40 menjadi menarik untuk dibahas. Menarik karena perusahaan ini merupakan salah satu contoh perusahaan keluarga di Indonesia yang masih tetap tumbuh meski telah beroperasi puluhan tahun. Memang, tak banyak orang tahu apa itu Nutrifood. Tapi, ketika disebut brand-brand yang dihasilkan oleh Nutrifood, yaitu : Tropicana Slim, Nutrisari, WRP, L-Men dan Hilo, kemungkinan besar orang akan tahu.

Cikal bakal privately held company ini dirintis oleh Hari Budianto Darmawan sekitar tahun 1973. Selepas menempuh pendidikan Master-nya di North Carolina, lelaki kelahiran Juwana (Pati, Jateng) ini sempat bekerja di Carnation sebelum kemudian pulang ke Indonesia untuk merintis usaha sendiri. Produk pertama yang dihasilkan adalah Syrup untuk penderita Diabetes. Penjualannya dilakukan door to door. Menyadari besarnya potensi pasar di Jakarta, pak Hari memindahkan pabriknya dari Semarang ke Bogor pada 1979. Ini menjadi milestone berdirinya PT. Nutrifood Indonesia.

Keluarga Darmawan minim publikasi. Tapi, rekam jejak telah menunjukkan bahwa mereka memiliki idealisme untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Januar Karta Darmawan, Ph.D, kakak tertua, di masa senjanya menjadi mentor sekaligus menyiapkan modal demi mencetak entrepreneur baru melalui JDC (Januar Darmawan Venture Capital). Beliau prihatin dengan sedikitnya anak muda Indonesia yang mau menempuh jalan pengusaha. Saudaranya yang lain, Kwik Kian Gie, seorang ekonom pendiri sebuah institute bisnis serta mantan menteri. Beliau kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap berpotensi merugikan rakyat. Berikutnya, ada Budi Darmawan yang mendirikan Yayasan Obor Tani karena prihatin dengan nasib petani dan pertanian di Indonesia. Putra bungsu, Hari Budianto Darmawan telah menginspirasi masyarakat untuk hidup sehat melalui Nutrifood. Inilah value-value yang layak diperjuangkan. Idealisme seperti inilah yang perlu kita tularkan ke lebih banyak orang. Supaya kita tidak hanya tahu kisi-kisi pertanyaan, tapi juga tahu jawabannya saat kelak Tuhan bertanya : apa yang telah kamu perbuat semasa hidupmu ?.

Anda tentu penasaran, berapa sih valuasi Nutrifood ?. Lagi-lagi, tidak gampang menjawab pertanyaan seperti ini. Tapi sebagai gambaran, mengacu ke data Nielsen Advertising Information Services pada kuartal pertama tahun 2016, Tropicana Slim menggelontorkan biaya iklan sebesar Rp. 49 miliar. Anggaplah budget marketing itu sebesar 12,1 % dari pendapatan (mengacu pada temuan Gartner CMO Spend Survey 2016), maka perkiraan kasar pendapatan Nutrifood sekurang-kurangnya mencapai Rp. 405 miliar. Realisasinya tentu bisa jauh lebih besar dari itu, karena Rp. 405 miliar hanyalah estimasi pendapatan berdasar biaya iklan yang dikeluarkan selama 4 bulan pertama tahun 2016 dari satu brand Tropicana Slim saja.

Saat ini, Nutrifood dinahkodai oleh seorang professional yang termasuk ke dalam jajaran Best CEO versi majalah SWA, yaitu Mardi Wu. Jadi, kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang Nutrifood, cukup ketik keyword “Nutrifood Mardi Wu” di mesin pencari Google. Anda akan disuguhi beragam content tentang budaya perusahaan, volunterism, event dan tetek bengek lainnya. Tak perlu saya sajikan di sini. Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan menarik benang merah yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang telah berhasil survive. Menurut Arie De Geus (The Living Company, 1997), perusahaan yang mampu bertahan lama biasanya memiliki 4 kriteria, yaitu : adaptif terhadap perubahan (misal : perkembangan teknologi, kebijakan politik), memiliki karyawan yang kompak (merasa memiliki dan terikat sebagai satu kesatuan), terbuka terhadap ide-ide baru (inovasi, diversifikasi) dan menerapkan manajemen keuangan yang konservatif (menabung). Perusahaan bisa mati ketika manajemen hanya focus pada aktivitas ekonomi untuk menghasilkan produk dan layanan, tapi lupa bahwa perusahaan/organisasi merupakan komunitas manusia yang sangat menentukan keberlangsungan bisnis.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*