Perang Jawa Memecah Mataram Menjadi Tiga

Bagikan ini ke temanmu :

Perang Jawa terjadi setelah peristiwa geger pecinan (baca : perang cina). Pemerintah Hindia Belanda tidak melaporkan peristiwa geger pecinan di Batavia kepada raja Mataram (Islam), Sunan Pakubuwono II di Kerta Sura. Tapi, raja pulau Jawa ini sebenarnya telah mengetahui peristiwa itu. Pada saat perayaan mulud (maulid Nabi), raja mendengar laporan dari para bupatinya, bahwa orang-orang Cina di berbagai daerah di pulau Jawa sedang menyiapkan perang untuk melawan pemerintah Hindia Belanda. Sunan berada dalam pilihan yang sulit. Sunan tidak mau mengusir orang-orang Cina dari wilayahnya karena merasa tidak ada masalah dengan keberadaan mereka. Tapi, bagaimanapun juga, Sunan terikat oleh perjanjian dengan Belanda akibat hutang di masa lalu.

Dulu, sekitar tahun 1679, Belanda (VOC) telah membantu raja Mataram menumpas pemberontakan besar Trunojoyo. Trunojoyo adalah bangsawan Madura yang memimpin pasukan gabungan dari Madura, Makassar dan Surabaya saat melakukan pemberontakan kepada Mataram. Akibat perjanjian itu, Mataram harus mengganti biaya perang kepada Belanda sejumlah 250.000 dollar dan 3.000 karung beras. Tak hanya itu, Mataram harus mengijinkan Belanda melakukan monopoli perdagangan tanpa dipungut pajak, Mataram harus merelakan sebagian wilayahnya ditempati Belanda (bagian barat sungai Karawang menjadi kekuasaan Belanda dan Belanda diperbolehkan untuk menempatkan sejumlah pasukannya di beberapa kota di pulau Jawa, seperti Jepara dan Semarang), Mataram juga harus bersedia membantu Belanda melawan musuhnya.

Atas usulan dari Adipati dan para Bupati, Sunan kemudian memerintahkan para Bupati untuk mendorong orang-orang Cina di daerahnya agar melawan pemerintah Hindia Belanda serta menjanjikan bantuan kepada mereka. Di lain pihak, Sunan juga mengabulkan permintaan Belanda untuk memerangi orang-orang Cina. Tapi, perang antara pasukan Jawa melawan orang-orang Cina hanyalah perang pura-pura untuk mengelabui Belanda. Pasukan Jawa bermain mata dengan pasukan Cina. Ini dilakukan agar Belanda tetap percaya bahwa Sunan berada di pihak Belanda. Padahal tidak sepenuhnya demikian.

Orang-orang Cina berhasil mengepung pasukan Belanda di Semarang dan mengusir pasukan Belanda dari Kembang, Juwana dan Demak. Orang-orang Cina bersama pasukan Jawa bahu membahu mengusir pemukiman Belanda di hampir semua wilayah pesisir, mulai dari Tegal hingga Pasuruan.

Melihat fakta ini, Belanda membujuk pangeran Madura agar melakukan pemberontakan lagi kepada Mataram. Dengan bantuan Belanda, pasukan Madura membunuh orang-orang Cina di Madura dan juga di beberapa daerah, salah satunya Gresik. Mereka menguasai Sidayu, Tuban, Jipang, dan Lamongan.

Sunan berubah sikap. Sepertinya Sunan merasa posisinya terancam. Ia kemudian menyepakati perjanjian damai dengan Belanda. Akibat dari perjanjian itu, Belanda berhak menguasai Madura, Surabaya, Blambangan, Rembang, Jepara hingga Semarang.

Adipati Natakusuma dan beberapa Bupati tidak setuju dengan perjanjian damai itu. Mereka memerintahkan pasukan Jawa dan pasukan Cina (di bawah pimpinan Singseh & Pandjang) untuk menyerang Kerta Sura. Tidak ada perlawanan sengit. Mereka berhasil menguasai Kerta Sura dan mendaulat Sunan Kuning yang baru berusia 10 tahun menjadi raja. Sunan Pakubuwono II dibantu Belanda terpaksa meninggalkan Kerta Sura menuju Ponorogo. Tapi, Sunan Kuning hanya berkuasa selama 4 bulan, karena diusir oleh pasukan Madura.

Atas bantuan Belanda, Sunan Pakubuwono II kembali menduduki singgasananya. Tak lama setelah itu, pasukan Cina kalah. Sunan kemudian memberikan pengampunan besar-besaran kepada orang-orang Cina. Pimpinan pasukan Cina dibuang ke Ceylon (Srilanka) menyusul Adipati Natakusuma yang sudah dibuang terlebih dahulu. Perang Cina berakhir di tahun 1746 M.

Beberapa bulan setelah itu, Sunan memindahkan kerajaannya dari Kerta Sura ke Sura Kerta (Solo). Tapi, kedamaian belum berpihak kepada Mataram. Cakra Diningrat, pangeran Madura, kembali tidak mau tunduk kepada Mataram. Perang berkobar kembali. Disamping itu, beberapa pangeran dan bupati juga tak lagi hormat kepada Sunan yang terlalu berpihak kepada Belanda. Diantaranya adalah pangeran Mangkubumi (adik dari Sunan) dan pangeran Mangkunegoro (keponakan dari Sunan yang dijuluki pangeran Sambernyowo, karena kehebatannya menjadi penyebar maut bagi musuhnya). Mereka berdua sebelumnya tergabung dalam pasukan Jawa yang bahu membahu dengan pasukan Cina melawan Belanda. Setelah pasukan Cina kalah, mereka tetap memimpin pasukan Jawa melawan Belanda.

Sekitar tahun 1749, Sunan wafat. Mangkubumi dan Mangkunegoro memproklamirkan berdirinya kerajaan Mataram di Yogyakarta dibawah raja Mangkubumi (bergelar Sultan Hamengkubuwono I). Sementara itu, Belanda mengangkat putra Sunan yang berumur 9 tahun menjadi raja Mataram (Sunan Pakubuwono III) di Sura Kerta.

Untuk meredam peperangan, Belanda mengadakan perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian tersebut memecah Mataram menjadi dua, yaitu Kesultanan Mataram yang berpusat di Yogyakarta dengan rajanya Hamengkubuwono I diluar wilayah Kasunanan Mataram yang berpusat di Sura Kerta dengan rajanya Pakubuwono III.

Tapi, perang masih berkobar. Pangeran Sambernyowo yang tidak ikut dalam perjanjian itu tetap melakukan perlawanan sengit kepada tiga pihak sekaligus, yaitu Belanda, Kerta Sura dan Yogyakarta. Ia sulit dikalahkan. Akhirnya, dibuatlah perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757 yang memberi hak kepada pangeran Mangkunegoro untuk mendirikan Praja Mangkunegaran (daerah otonom) dengan gelar pangeran Adipati Arya Mangkunegoro di atas lahan seluas 4.000 cacah.

Perang Jawa yang dimulai pada tahun 1746 (setelah perang Cina berakhir) berakhir pada tahun 1758. Perang tersebut menelan ribuan nyawa korban. Dalam peperangan itu, Belanda telah menghabiskan biaya sekitar 4.286.006.12.8 Florins (mata uang sebelum Gulden).

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*