[Insirasi Sukses 4] ACHMAD HAMAMI : Pilot Pesawat Jet Tempur Jadi Dealer Traktor

Achmad-Hamami
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Achmad Hadiat Kismet (AHK) Hamami tak banyak dibicarakan orang. Siapa dia ?. Orang terkaya Indonesia nomor 42 versi Forbes (2018) dengan kekayaan sekitar USD 725 juta atau lebih dari Rp. 10 trilyun. Itu saja ?. Tidak. Kalau hanya orang kaya, mungkin namanya tidak diulas di sini. Lalu ?. Dia seorang pilot pesawat jet tempur. Hah ?.

Met lahir di Jakarta, 29 April 1930. Masa mudanya dihabiskan untuk berkarier di dunia militer. Ia ditugaskan untuk menimba ilmu di Koninklijk Ins. V/d Marine (KIM) Academy dari tahun 1950 hingga 1953 dan Air Navigator School sampai tahun 1954. Keduanya di Belanda. Selanjutnya Met memperdalam ilmu penerbangannya di Royal Air Force (Pilot Training and Command & Staff Training) di Inggris pada tahun 1954 – 1956.

Saat itu, Ia bersama Rebo Tjokroadiredjo menjadi putra Indonesia pertama yang memperoleh kualifikasi penerbang tempur dengan mesin Jet (fighter). Mereka menerbangkan pesawat jet Vampire buatan Inggris yang tergolong canggih pada jamannya. Karir militernya di Angkatan Laut cukup moncer. Met menjadi kolonel termuda di divisinya pada tahun 60-an.

Pada 1967, Met memutuskan untuk pensiun dini dari militer. Ia tak mau terjerembab ke dalam perangkap korupsi yang tengah mewabah di institusinya. Jabatan terakhir yang diembannya adalah Wakil Direktur Operasi Departemen Pertahanan. Pada masa itu, Indonesia sedang mengalami gonjang ganjing politik. Terjadi peralihan kekuasaan dari Orde Lama di bawah Soekarno ke Orde Baru pimpinan Soeharto. Banyak pejabat, baik sipil maupun militer, dicopot dari jabatannya.

Selepas itu, perekonomian keluarga mulai goyah. Apapun dilakukan agar asap dapur bisa ngebul. Met membuka jasa les Matematika di rumahnya. Anak-anaknya ikut berjualan es lilin keliling di daerah Kwitang. Berbanding terbalik dengan kondisi hidup nyaman sebelumnya.

Tak dinyana, tawaran pekerjaan datang dari Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo (ayah dari Hashim Djojohadikusumo – pendiri Arsari Group – orang terkaya Indonesia nomor 35 versi Forbes 2018 dengan kekayaan USD 850 juta). Soemitro dikenal sebagai begawan ekonomi yang berkali-kali menjabat sebagai menteri di era Soekarno dan Soeharto. Soemitro berkawan dengan Mamoen Soemadipradja (ayah dari Rubiasih, istri Met). Keduanya merupakan dekan fakultas di Universitas Indonesia sekaligus teman bermain Tenis.

Jadilah Met bekerja di Indoconsult Associates yang bertugas mengawasi investasi asing (sekarang dikenal dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal). Malam harinya, Met melanjutkan kuliah kelas malam di Universitas Krisna Dwipayana hingga memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1970.

Saat menjalani pekerjaannya itulah, Met berkenalan dengan manajemen Caterpillar, produsen alat berat yang berpusat di Illinois (Amerika Serikat). Kala itu, Caterpillar sedang mencari dealer baru untuk menggantikan dealer lamanya di Surabaya yang dinilai kurang gencar dalam mempromosikan produknya. Met melihat peluang itu. Caterpillar juga tertarik dengan latar belakang dan pengalaman Met. Keduanya lantas menjalin kerjasama.

Met resign dari pekerjaannya. Ia mendirikan PT. Trakindo Utama pada 23 Desember 1970. Trakindo resmi menjadi dealer tunggal Caterpillar di Indonesia sejak 13 April 1971. Maraknya pembangunan yang digenjot oleh pemerintahan Soeharto menjadi lahan subur bagi pertumbuhan bisnis Trakindo. Semula, Trakindo hanya menjual traktor. Klien terbesarnya adalah perusahaan pertambangan, Freeport dan Newmont. Sejak 1970, Freeport membangun perumahan, bandara, jalan serta infrastruktur lainnya di Mimika, Papua. Di kemudian hari, Trakindo tak hanya menjual alat berat baru, tetapi juga menjual alat berat bekas serta menyewakannya.

Pada 1977, Trakindo mendirikan Sanggar Sarana Baja yang bergerak dalam bidang perancangan dan fabrikasi. Pada 1982, berdiri Natra Raya yang mengerjakan perakitan alat berat. Tahun 1993, Trakindo membuat divisi pertambangan. Tahun 1995, Chandra Sakti Utama Leasing berdiri untuk melayani pembiayaan pembelian alat berat. Pada 1997, berdiri Cipta Kridatama untuk melayani kontrak dan sewa alat berat.

Penjualan Caterpillar di Indonesia berada di peringkat ketiga setelah Canada dan Australia. Bahkan, Caterpillar sempat menguasai pasar Indonesia. Tapi, bukan berarti Trakindo tanpa saingan. Pada 1972, William Soerjadjaja (ayah dari Edwin Soerjadjaja, orang terkaya Indonesia nomor 45 versi Forbes 2018 dengan kekayaan USD 660 juta) lewat Astra-nya menggandeng Komatsu dari Jepang. Selanjutnya, Komatsu menguasai pasar Indonesia. Jauh diatas Caterpillar dan Hitachi.

Pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998, Trakindo sempat limbung. Selain pendapatannya menurun, hutangnya juga menumpuk hingga USD 118 juta. Tak ada lagi Bank yang mau memberinya pinjaman. Met memang memiliki banyak perusahaan, tapi hampir semuanya berhubungan dengan bisnis utama. Industri alat berat. Jadi, ketika bisnis utamanya mengalami penurunan, maka perusahaannya yang lain pun terkena imbasnya. Sadar akan hal ini, Met dan keempat anaknya mulai fokus untuk mendiversifikasikan usahanya. Tiara Marga Trakindo (TMT) sebagai holding company merambah ke bisnis logistik, pembiayaan, teknologi informasi, property, bakery hingga perhotelan.

Seperti umumnya perusahaan yang bergerak di bidang dealership, Trakindo hidup bukan dari penjualan alat berat, tapi dari penjualan suku cadang dan jasa perbaikan (aftersales service). Hebatnya, inovasi yang dilakukan Trakindo dalam hal jasa perbaikan telah memenangkan penghargaan di kompetisi Six Sigma Project antar dealer Caterpillar se-Asia Pasifik di tahun 2002.

Inovasi itu bernama Formula 1 Concept Workshop. Inspirasinya memang berasal dari pit stop di lomba balap formula one. Inovasi ini tentang bagaimana caranya agar alat berat yang rusak bisa segera beroperasi kembali. Ini penting. Karena kehilangan waktu satu jam, perusahaan bisa rugi ratusan dollar. Dulu, perbaikan alat berat yang masuk ke bengkel memakan waktu 3 hingga 6 jam. Teknisi perlu waktu untuk melakukan analisa kerusakan dan menyiapkan suku cadangnya. Sekarang, perbaikan hanya butuh waktu paling lama 1 jam.

Dengan inovasi ini, teknisi bisa memantau kondisi unit customer yang sedang mengoperasikan alat berat melalui Integrated Equipment Management System. Jika ada indikasi kerusakan, teknisi akan menghubungi customer untuk segera membawa alat beratnya ke workshop untuk diperbaiki sebelum kondisinya bertambah parah. Suku cadang sudah disiapkan sebelum alat berat tiba di bengkel. Waktu tunggu bisa dipangkas. Ini menjadi best practice di industri pertambangan di seluruh dunia. Dalam teori operation management (lean production), metode ini dikenal dengan istilah SMED (Single Minute Exchange of Die). Konsepnya adalah dengan mengurangi waktu tunggu dan menjalankan proses perbaikan/pergantian secara paralel (tidak serial) sehingga keseluruhan proses bisa berjalan lebih efisien.

Meski tak lagi menjabat sebagai President Director (sejak 2001, jabatan itu telah diserahkan kepada anaknya, Muki), Met di usia senjanya masih rutin ngantor dari jam 8 pagi hingga 5 petang. Ia bermimpi perusahaan yang didirikannya akan bertahan hingga seratus tahun lamanya. Deviden dari perusahaan tak pernah diambil. Ia investasikan lagi agar perusahaannya bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang layak dan berkualitas untuk sebanyak-banyaknya orang Indonesia. Di kala petang, Met acapkali menyapa karyawannya. Entah beliau tahu atau tidak siapa saja orang di sekelilingnya. Karena sejak 1999, Met menderita glaucoma yang membutakan matanya.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*