[Inspirasi Sukses 10] THERESIA WIDIA SOERJANINGSIH : mem-Bina Nusantara

Theresia-Widia-Soerjaningsih
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Ini siapa ?. Lha wong namanya tidak masuk daftar orang terkaya Indonesia, kok dibahas di sini. Ya. Meski bukan pendiri institusi bisnis yang bisa mendatangkan cuan (laba), perkembangan Bina Nusantara (BINUS) University yang inspiratif, layak untuk kita cermati. BINUS menempati urutan pertama perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia berdasar QS Asia University Ranking 2019. Sebagai universitas pertama di Indonesia yang bersertifikasi ISO 9001, BINUS dengan berbagai prestasinya telah menjadi magnet bagi 11.000 mahasiswa baru pada 2018. Salah satu alumni BINUS University yang terkenal di era e-commerce ini adalah William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia.

Sesuai dengan ujaran kuno Tionghoa, perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama. Begitu pula dengan perjalanan BINUS University. Joseph Wibowo Hadipuspito dan anak ketiga-nya, Theresia Widia Soerjaningsih merintisnya dari kursus komputer di teras rumah.

Wibowo lahir di Magetan, 21 Oktober 1918. Ibunya meninggal saat usianya baru 3 tahun. Pada umur 16 tahun, ayahnya (Oei Kiong Hie) meninggal dunia. Wibowo sempat mengenyam pendidikan hingga tingkat dua Meer Uitgerbreid Lager Onderwijs (MULO/setingkat SMP). Itupun harus ditempuhnya dengan mengayuh sepeda 10 km setiap hari ke Madiun. Wibowo muda bekerja di Surabaya hingga menikah dengan Cecilia Setianingsih pada 1946 di Probolinggo.

Setelah menikah, Wibowo pindah ke Malang. Ia bergabung dengan Pasukan Oembaran. Berjuang menentang penjajah. Wibowo berjualan ban dan rokok dari Malang ke Probolinggo. Pada 1950, ia dianugerahi Bintang Gerilya oleh pemerintah Indonesia. Kemudian, Wibowo pindah ke Probolinggo pada 1953 untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Ia berdagang kertas. Istrinya mengelola toko mas, usaha keluarga. Wibowo tipe pekerja keras. Ia berangkat dari rumah jam 5 pagi, pulang jam 10 malam. Itu dilakoninya setiap hari selama 6 hari dalam seminggu. Mengambil kertas dari Leces (sekitar 10 km dari Probolinggo), lalu menjualnya ke Probolinggo, Surabaya dan sekitarnya.

Pada 1966, Wibowo membawa keluarganya kembali ke Malang. Ia ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah menengah yang bagus. Tahun 1969, bisnis kertasnya bangkrut. Ia ditipu pelanggannya yang membayar dengan cek kosong. Untuk menyambung hidup, Wibowo berdagang hasil bumi. Sementara istrinya berjualan keripik singkong, sekoteng dan makanan kecil lainnya.

Selanjutnya, Wibowo pindah ke Jakarta. Ia mengikuti anak-anaknya yang tengah menempuh perkuliahan di sana. Awalnya, mereka menumpang di rumah seorang Romo di Rawabelong sebelum kemudian mampu menyewa rumah sendiri di Grogol. Wibowo berjualan roti goreng di Tanah Abang. Istrinya merintis usaha catering.

Widia lahir di Malang, 19 Oktober 1950. Meski sempat bercita-cita menjadi seorang dokter atau pramugari, jalan hidup Widia tak mengarah ke sana. Ia kuliah di Jurusan Teknik Elektro, Universitas Trisakti. Sembari menjadi guru les matematika dan fisika serta berjualan keripik singkong. Ia tertarik dengan komputer.

Komputer telah masuk ke Indonesia sekitar tahun 1967. Kebanyakan penggunanya adalah instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar. Saking pentingnya komputer pada saat itu, pemerintah merasa perlu membentuk lembaga yang berfungsi sebagai konsultan bagi institusi yang hendak menyewa atau membeli komputer. Pada 4 Juli 1969, berdirilah BAKOTAN (Badan Koordinasi Otomatisasi Administrasi Negara).

Kenbak 1 merupakan personal computer (PC) pertama yang dijual tahun 1971 seharga USD 750 atau setara dengan Rp. 352.500. Murah ?. Mahal. Harga Honda C50 (orang menyebutnya Honda pispot karena tanki pengisian bahan bakarnya mirip bentuk pispot) saat itu cuma seharga Rp. 158.000.

Di tahun 70-an, perkembangan komputer telah memasuki generasi keempat. Penggunaan chip micro processor yang terdiri dari banyak IC (integrated circuit) telah menggantikan transistor yang berukuran besar dan cepat panas. Tentu saja, selain lebih handal, komputer generasi ini lebih hemat listrik, berukuran lebih kecil dan harga lebih murah. Jauh berbeda dengan generasi pertama. Dulu, tahun 1946, sebuah komputer memerlukan daya sebesar 140 kilo watt, berat 30 ton dan berukuran sebesar rumah 167 m2.

Pada 1973, Pertamina dibawah pimpinan Ibnu Sutowo berencana membuat Pertamina Academy of Computer Technology di Sukabumi. Sebelum lulus sarjana, Widia direkrut Pertamina untuk dididik menjadi calon pengajar di sana. Tenaga pengajarnya didatangkan langsung dari Amerika Serikat. Widia juga pernah kerja praktek selama 3 bulan di perusahaan komputer ternama saat itu. IBM. Namun, setahun berselang, ia kembali ke Trisakti untuk bekerja. Faktor ekonomi karena ketiadaan biaya saat adiknya harus masuk ke perguruan tinggi membuatnya menempuh jalan itu.

Widia bersama teman-temannya menjalankan usaha sampingan berupa kursus komputer. Lokasinya di Trisakti. Waktu belajarnya sore hari. Pesertanya cukup banyak. Pada masa itu, komputer termasuk barang wah dan pengoperasiannya susah. Sayang, usaha bersamanya tak bertahan lama. Bubar di tengah jalan.

Wibowo mengamati sepak terjang putrinya. Ia meminta Widia membuka kursus sendiri. Meski awalnya sempat mengganjal di hati (sebagai lulusan sarjana, ia ingin bekerja seperti orang-orang), Widia menuruti perintah ayahnya.

21 Oktober 1974, Modern Computer Course mulai beroperasi. Berlokasi di teras sebuah rumah di kawasan Grogol, Jl. Malikawe I no 10. Ruangannya kecil. Hanya ada bangku-bangku yang bisa menampung 15 orang.

Biaya kursusnya murah. Pemasarannya door to door ke sekitar lokasi. Banyak mahasiswa Trisakti dan Tarumanegara kos di kawasan itu. Targetnya sederhana, yang penting kelas harus penuh dan peserta bisa dilayani dengan baik. Ga muluk-muluk. Asalkan dapur bisa ngebul. Ternyata booming. Peserta membludak. Kelas terpaksa dibagi menjadi 3 shift : pagi, siang dan malam.

Widia ingin memperbesar kelasnya, tapi terkendala dana. “Jangan khawatir, pokoknya kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Kita bisa mulai dari kecil, kesananya maju terus”, Wibowo menyemangati putrinya. Lantas, Wibowo menjalin kerjasama dengan panti asuhan Vincentius di Keramat Raya. Ada 4 ruangan yang bisa dipakai di malam hari. Sistemnya bagi hasil. Fifty : fifty.

Setelah masalah tempat teratasi, tantangan berikutnya muncul. Sebagian peserta kursus yang hanya lulusan SMA menginginkan ijazah yang lebih diakui. “Kita buka saja akademi komputer”, cetus ayahnya.

Pada 13 Juli 1981, Akademi Manajemen Infomatika & Komputer (AMIK) Jakarta berdiri. “Jangan khawatir, pokoknya apa yang kamu tidak bisa, sebutkan. Saya yang akan lakukan”, ujar Wibowo. Lagi-lagi, persoalan tempat menjadi kendala. Dana juga tidak ada. Jadilah kegiatan belajar mengajar tidak dilaksanakan di gedung, tapi di gudang.

Barulah pada 1984, mulai dibangun gedung. Pada 21 September 1985, AMIK Jakarta berubah nama menjadi AMIK Bina Nusantara. Pada 01 Juli 1986, berdirilah Sekolah Tinggi untuk program sarjana. BINUS terus berkembang, hingga pada 1995, mahasiswa-nya mencapai 7.000 orang. BINUS bukanlah yang pertama berkecimpung di pendidikan khusus komputer. Sebelumnya telah berdiri Akademi Ilmu Komputer cikal bakal Universitas Budi Luhur pada 1979.

Sejak awal, perkembangan Bina Nusantara mengalir begitu saja. Tidak ada target yang muluk-muluk alias biasa-biasa saja. Setelah 1995, target-target besar ditetapkan. Widia punya pinsip. Kalau mau melakukan sesuatu, lakukan sesuatu yang besar sekaligus. Jangan yang biasa-biasa saja. Karena capeknya sama. Sejak saat itu, Bina Nusantara semakin melesat.

Pada 8 Agustus 1996, berdirilah Universitas Bina Nusantara. Pada 1997, BINUS menjadi universitas pertama di Indonesia yang meraih sertifikat ISO 9001 untuk standarisasi sistem manajemen mutu. Pada 1998, berdiri BINUS School (sekolah TK hingga SMA).

Wibowo meninggal dunia pada 16 Juli 2001 (83 tahun), sedangkan Widia meninggal dunia pada 24 Desember 2004 (54 tahun) setelah sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Melbourne (Australia) karena penyakit leukemia.

“Semua berawal dari mimpi. Dan jika kamu berikan yang terbaik untuk mimpimu, maka hanya yang terbaiklah yang akan menghampiri kamu sebagai balasannya” (Dr. Theresia Widia Soerjaningsih).

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*