[Inspirasi Sukses 12] JOHNY ANDREAN : Ini Passion Saya

Johny-Andrean
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Seorang berbaju piyama agak lusuh. Matanya menatap tajam ke seluruh penjuru bangunan. Tangannya bersedekap sambil sesekali memegang dagu. Sudah 2 hari ia berada di situ. Ia sedang mencari posisi untuk gerai barunya di sebuah mall baru di Bandung.

“Ini passion saya. Jiwa saya. Saya memerlukan dialog pribadi dengan semesta. Ini saya dengan diri saya. Saya perlu feedback dari getaran-getaran sekitar. Ini menentukan panjang atau pendeknya keberhasilan dan kegagalan sebuah investasi. Saya akan tahu hanya dari merasakan dan kemudian saya bawa getaran tersebut dalam pikiran saya dan saya visualkan. Semakin jelas visual tersebut, semakin mudah kenyataan terjadi. Kalau langsung visual tanpa menerima data vibrasi alam sekitar, itu ibarat masturbasi. Senang-senang sendiri. Bukan begitu cara mencipta”, jelasnya.

Dialah Johny Andrean. Pemilik Johny Andrean Salon, BreadTalk Indonesia, J.Co Donuts & Coffee serta Roppan. Pria peranakan kelahiran Singkawang (Kalimantan Barat) tahun 1961 ini mengawali profesinya sebagai hair stylist. Ia pertama kali belajar tentang gaya rambut dan kecantikan dari ibunya. Memang apel jatuh tak kan jauh dari pohonnya. Sang ibu memiliki usaha salon.

Johny merantau ke Jakarta. Ia membuka salon pertamanya tahun 1978 di Jakarta Utara. Dua tahun berikutnya, ia membuka 2 cabang baru. Selain menawarkan gaya rambut yang kekinian serta pelayanan prima, Johny Andrean Salon mematok harga yang relative terjangkau untuk semua kalangan.

Demi memasok tenaga professional di salonnya, Johny mendirikan Johny Andrean School & Training pada 1984. Ia acapkali jalan-jalan ke London, Paris hingga Jepang untuk mencari inspirasi gaya rambut baru. Metode yang sama ia terapkan untuk mencari varian produk saat membuka usaha kulinernya kelak.

Salon-nya berkembang pesat. Tiap tahun, 4 sampai 5 cabang baru dibuka. Kerugian besar terjadi ketika 19 cabang salon-nya dijarah massa saat kerusuhan Mei 1998. Namun, bisnisnya masih bisa bertahan bahkan terus bertumbuh. Pada 2008, jumlah salon-nya mencapai 190 cabang. Salah satu penyebab cepatnya pertumbuhan usaha salon-nya adalah pendirian cabang baru dengan sistem waralaba. Namun, standar pelayanan menjadi susah dikontrol. Untuk menyelamatkan perusahaan, sistem waralaba dihapus. Johny membeli kembali cabang salon dari mitranya. Salon yang kurang perform ditutup.

Sekitar 86 % wanita perkantoran rutin datang ke salon. Tapi, bukan berarti semua pengunjung salon adalah wanita. Kisaran 35 % pelanggan Johny Andrean Salon justru kaum Adam. Kenyataan ini membuat manajemen salon menyediakan area khusus bagi pelanggan berhijab untuk menjaga kenyamanan mereka. Pada 2015, Johny Andrean Salon membuka salon premium untuk menyasar pelanggan menengah ke atas.

Tahun 2003, Johny melakukan diversifikasi usaha. Ia menjadi master franchise di bisnis kuliner. Johny membawa gerai roti BreadTalk asal Singapura ke Indonesia. Konsep boutique bakery dengan dapur terbuka (open kitchen) membuat pelanggan bisa melihat kesibukan tukang roti serta mencium bau khas roti terpanggang. Ini menarik buat konsumen. BreadTalk tumbuh pesat hingga tersebar 140 gerai di Indonesia.

Untuk menghasilkan tekstur roti yang lembut, BreadTalk menggunakan tepung terigu berprotein (gluten) tinggi. Sifat protein yang elastis ibarat balon karet yang bisa menahan udara saat dipompa. Udara (gas) dalam proses pembuatan roti dihasilkan oleh khamir (mikroba yang terdapat pada ragi). Untuk bisa menghasilkan gas, khamir butuh makanan berupa gula dan mineral. Gula biasa ditambahkan sebagai bahan pembuat roti. Adapun mineral, biasanya sudah dicampur di dalam ragi. Khamir akan bermetabolisme dalam suhu yang hangat dan udara lembab. Oleh karena itu, pada saat adonan dibiarkan mengembang, kita perlu menutup adonan dengan kain basah di tempat yang hangat.

Setelah berpengalaman mengelola BreadTalk Indonesia, 2 tahun kemudian, Johny meluncurkan produknya sendiri. J.Co Donuts & Coffee. Awalnya sepi pengunjung. Namun, dalam waktu 8 tahun, J.Co berhasil memiliki 187 gerai di Indonesia, 14 gerai di Malaysia, 38 gerai di Filipina serta 6 gerai di Singapura. Setelah 10 tahun beroperasi, J.Co telah menjual 805 juta donut dan 52 juta cangkir kopi kepada pelanggannya. Tahun 2018, gerai di Indonesia bertambah menjadi 262 cabang.

Ukuran donat-nya tidak terlalu besar. Bertekstur lembut. Resep ala Amerika. Coklat didatangkan dari Belgia. Rasanya cocok untuk lidah Indonesia. Awalnya, J.Co mengimport kopi sangrai dari Italia. Tapi, karena kendala jarak, kopi pesanannya baru tiba 2 sampai 3 bulan kemudian. Tentu saja aromanya sudah jauh berkurang. Biasanya, aroma kopi hanya bertahan selama 2 minggu. Akhirnya J.Co melakukan roasting kopi sendiri. Proses roasting atau penyangraian sangat menentukan rasa dan aroma kopi yang dihasilkan. J.Co mendatangkan biji kopi dari Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Teknik penjualan J.Co menarik untuk dikupas. Pada saat konsumen datang, pramusaji J.Co akan menawarkan beberapa paket promo yang bisa dipilih oleh konsumen. Dengan adanya penawaran ini, konsumen tergerak untuk membeli paket promo. Konsumen yang awalnya hanya ingin membeli beberapa donut, tergerak untuk membeli donut yang lebih banyak karena ada paket promo. Konsumen jadi mengeluarkan uang lebih banyak. Untung buat J.Co.

Di saat usaha bakery lain – seperti : Holland Bakery, The Harvest, Amanda serta toko bakery besutan artis – memilih untuk membuka toko sendiri, BreadTalk dan J.Co memilih untuk menjadi tenant (penyewa) di pusat perbelanjaan. Entah siapa juaranya. Yang jelas, potensi bisnis roti masih menjanjikan. Industri ini tumbuh lebih dari 10 % per tahun.

Suatu ketika, Johny pergi ke Jepang. Di Shinjuku, ia menjumpai gerai yang menjual roti panggang (Roppongi). Laku keras. Terbersit ide untuk menjual produk tersebut di Indonesia. Setelah mencari konsep dan varian menu selama 2 tahun, Johny memperkenalkan Roppan (Roppongi Pan) pada 2010. Konsep restonya tak hanya menjual makanan dan minuman, tapi juga kebahagiaan. Menunya beragam. Bisa untuk sarapan, makan siang, sore dan malam. Namun, pertumbuhan Roppan tak seagressif unit bisnis Johny sebelumnya. Jumlah gerainya baru 19 cabang. Bagi Johny, menjaga brand lebih sulit dibanding memulainya.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*