[Inspirasi Sukses 13] CHAIRUL TANJUNG : Membeli Masa Depan Dengan Harga Sekarang

Chairul Tanjung
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Nama Chairul Tanjung terpampang dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes 2018. Ia berada di peringkat ke tujuh dengan taksiran kekayaan USD 3,9 miliar atau sekitar Rp. 54,6 trilyun. CT Corp miliknya menaungi Trans TV, Trans 7, Detik.com, Carrefour Indonesia, Transmart, Transtudio, Bank Mega, Wendy’s Indonesia, Versace Indonesia, Mango Indonesia, Jimmy Choo Indonesia serta beberapa perusahaan media, keuangan, retail dan property lainnya. Dalam waktu dekat, CT Corp bersama AccorHotels (Perancis) akan membangun 30 hotel di Indonesia. Konon, total karyawan CT Corp mencapai 75.000 orang.

Chairul Tanjung (CT) lahir di Jakarta, 16 Juni 1962. Ia lahir dari rahim ibu yang sangat dihormatinya, Halimah. Mojang priangan asal Cibadak, Sukabumi. Ayahnya, Abdul Ghafar Tanjung, asal Sibolga (Sumatera Utara).

Masa kecil CT dilalui seperti anak kebanyakan. Hingga tiba masa SMP, ekonomi keluarganya morat-marit. Surat kabar terbitan ayahnya dibredel. Abdul Ghafar berbeda pandangan politik dengan pemerintahan Soeharto. Ia kader PNI (Partai Nasional Indonesia) besutan Soekarno. Usahanya gulung tikar. Rumahnya dijual. Keluarga dengan 6 anak itu sempat menyewa kamar losmen di Keramat Raya. Tapi tak cukup biaya. Akhirnya, mereka pindah ke rumah orangtua Halimah di Gang Abu, Batutulis (Gambir, Jakarta).

“Hanya pendidikan yang bisa memotong rantai kemiskinan”, prinsip itu diyakini oleh CT. Meski tak cukup biaya, CT melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia pada tahun 1981. Di kemudian hari, CT baru tahu bahwa untuk membayar uang masuk kuliah sebesar Rp. 75.000, ibunya harus menggadaikan kain. Sejak saat itu, CT berjanji kepada dirinya sendiri untuk tak lagi membebani keluarga. Ia bertekad untuk hidup mandiri dan membiayai kuliahnya sendiri.

CT jeli melihat peluang. Ruang kosong di bawah tangga kampusnya disulap menjadi tempat fotokopi. Nyaris tanpa modal. Ia menggandeng investor untuk pengadaan mesin fotokopi dan sewa tempat. CT menerima upah sebesar Rp. 2,5 per lembar. Tak hanya itu, CT juga menjual stiker, memproduksi kaos, penjilidan hingga berjualan buku bekas. Pundi-pundi uangnya mulai terisi. Meski sebagian waktunya tersita untuk mencari duit, prestasi CT layak diacungi jempol. Ia terpilih menjadi Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984 – 1985.

CT pernah nekad berjualan alat-alat kedokteran gigi di Senen (Jakarta Pusat) pada 1983. Nama perusahaannya CV. Abadi Medical & Dental. Sewa kios 7 x 3 m2 sebesar Rp. 1 juta setahun. Hasilnya ?. Bangkrut. “Yang nongkrong lebih banyak dari yang beli”, kilah CT.

“Waktu saya kuliah, saya berusaha cari uang. Bukan berpikir supaya menjadi konglomerat. Bukan. Apa itu konglomerat saja waktu itu tidak mengerti. Mulailah dari lingkungan terdekat, yang bisa kita jangkau. Paling penting adalah do something, kerjakan sesuatu. Jangan mimpi terus, tidak berbuat sesuatu. Lakukan sesuatu. Action. Sekecil apapun”, nasehatnya di sebuah seminar.

Selepas kuliah, CT pernah bekerja di perusahaan baja yang baru berdiri. Kemudian pindah ke perusahaan pembuat furniture dari rotan. Saat mengurus pencairan kredit perusahaan, CT berkenalan dengan seorang karyawan bank swasta yang kemudian menjadi mitra bisnis pertamanya. CT resign. Bersama dua rekannya, Ia mendirikan PT. Pariarti Shindutama (pabrik sepatu) pada 1987 dengan modal Rp. 200 juta. Tanah CT seluas 1000m2 di Citeureup dihargai Rp. 100 juta. Dua rekan CT menyetor masing-masing Rp. 50 juta. Mengapa pabrik sepatu ?. Karena CT berkongsi dengan Michael Chiam, orang Korea yang telah mengantongi pesanan 200.000 sepatu dari Simote Italia. Dengan modal Letter of Credit itu, perusahaan CT mendapat pinjaman modal Rp. 150 juta dari Bank Exim.

Setahun berselang, CT mengakuisisi perusahaan genteng yang nyaris bangkrut. Di tahun-tahun berikutnya, CT merambah ke pabrik kertas dan pabrik sandal. Tahun 1996, CT mengambil alih Bank Karman di Surabaya yang nyaris kolaps. Ia mengubahnya menjadi Bank Mega dan berhasil meraup untung besar dari transaksi pinjaman antar bank (call money). Pada saat krisis ekonomi 1998, kondisi keuangan Bank Mega overliquid. Bank Indonesia (BI) meminta Bank Mega untuk mengucurkan pinjaman ke Bank-Bank yang sakit. Salah satunya adalah memberi pinjaman ke BCA sebesar Rp. 1,3 trilyun. Karena pinjaman itu, Anthony Salim berterimakasih kepada CT yang juga memberikan pinjaman kepada Indofood. Menurut Anthony Salim, saat itu dirinya seperti penderita kusta karena tidak ada orang yang mau menolong. CT pernah ditawari untuk membeli BCA yang sedang kolaps. Tapi, CT tak punya cukup dana. Akhirnya, BCA dibeli oleh Djarum melalui perusahaan bayangannya yang bermarkas di Mauritius, Farallon Capital.

Tahun 2000, CT mendirikan Trans TV. Di awal beroperasi, CT merugi hingga Rp. 30 miliar per bulan. Berat. Tapi, lambat laun, Trans TV dibawah kepemimpinan Dr. Ishadi Soetopo Kartosapoetro (sebelumnya pernah berkiprah di TVRI dan TPI) mulai tumbuh. Tahun 2006, CT mengambil alih TV 7 yang merugi dari kelompok usaha Kompas. Bisnis CT makin menggurita. Ia terjun ke property. Salah satu tonggaknya adalah pembangunan Bandung SuperMall (TransStudio Bandung). CT mengakuisisi Carrefour Indonesia dan membuka café serta penjualan high end fashion brand semisal Prada dan Hugo Boss.

Seperti orang kaya kebanyakan, CT bukan tipe orang konsumtif. Ia hanya memiliki 1 kartu kredit yang dikeluarkan oleh Bank Mega, miliknya. Ia cuma memiliki sepasang sepatu Hugo Boss, barang dagangannya. Bagi CT, uang hanyalah deretan angka. Uang di dompetnya tak lebih dari Rp. 1 juta. Saat ditanya oleh wartawan majalah Gatra soal kekayaannya, CT menjawabnya dengan bersahaja, “Saya nggak bisa ngerasain. Saya sendiri nggak tahu uangnya dan nggak pegang uangnya. Demi Allah, karena saya hanya hidup dari gaji yang saya terima dan dividen kecil untuk bayar pajak. Segitulah kewenangan saya, karena yang lain semuanya di perusahaan. Saya tidak kaya. Yang kaya itu perusahaan”.

Kunci sukses menurut CT adalah membeli masa depan dengan harga sekarang. Ia tak pernah memasuki bisnis di industry yang termasuk sunset industry (pangsa pasarnya lebih kecil dibanding rata-rata industry pada umumnya serta pertumbuhannya di bawah rata-rata). CT seorang pekerja keras. Di umur 20 tahun, ia bekerja selama 18 jam sehari. Memasuki umur 30 tahun, CT bekerja 16 jam sehari. Setelah 40 tahun, CT masih bekerja 14 jam sehari.

“Kalau Anda mau anak buah Anda bekerja keras, Anda harus memberikan contoh bekerja lebih keras dibanding anak buah. Saya masih menjadi orang terakhir yang pulang dari kantor setiap harinya, sekitar jam 1 pagi”, ujar CT.

Selain pekerja keras, CT juga pandai mengembangkan jejaring (networking). Baginya, mitra kerja yang handal adalah segalanya. Ia membangun relasi kepada siapa saja, termasuk petugas pengantar surat.

CT bersama istrinya, Anita Ratnasari (adik kelas di FKG UI yang dinikahi tahun 1994), menyalurkan energy filantrophy-nya melalui CT ARSA Foundation. Berdiri sejak tahun 2005. Visinya adalah memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas serta optimalisasi kesehatan bagi masyarakat Indonesia yang kurang mampu.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*