[Inspirasi Sukses 15] SUSI PUDJIASTUTI : Ratu Lobster

susi-pudjiastuti
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Tenggelamkan !. Kata yang lekat dengan sosok Susi Pudjiastuti. Perempuan tangguh kelahiran Pangandaran tanggal 15 Januari 1965. Rumah pribadinya di Jalan Merdeka no 312 (Pangandaran) menempati lahan seluas 5 hektar. Berdasar data LHKPN 2017, kekayaan Susi mencapai Rp. 73,83 miliar. Sejak menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2014, Ia telah menenggelamkan 539 kapal pencari ikan ilegal. Saat dilantik, ijazahnya cuma SMP.

Gegara hanya lulusan SMP itulah, kebanyakan orang mengira masa kecilnya miskin dan bodoh. Padahal tidak demikian. Haji Ireng, kakek buyutnya, seorang tuan tanah di Pangandaran. Orang tuanya, H. Ahmad Karlan dan Hj. Suwuh Lasminah, pedagang ternak sukses. Ayah dari Purworejo. Ibu dari Kebumen. Tapi sudah lama menetap di Pangandaran. Mereka mendatangkan ratusan sapi dan kerbau dari Jawa Tengah untuk dijual di Jawa Barat.

Sedari kecil, Susi gemar membaca. Ia melahap buku apa saja. Novel Agatha Christie, cerita silat Kho Ping Hoo hingga filsafat Jean Paul Sartre. Sampai larut malam. Tak sedikit bukunya yang berbahasa Inggris. Ia mahir berbahasa Inggris karena kebiasaannya membaca. Susi remaja terlihat suka berbincang dengan bule asing di pantai Pangandaran. Ia juga langganan juara kelas selama duduk di SD dan SMP.

Setamat SMP, Susi melanjutkan pendidikannya ke luar kota, SMA Negeri 1 Yogyakarta. Sekolah favorit. Susi nge-kost di Jalan Gampingan Baru nomor 10. Sekitar 200 meter sebelah utara sekolah. Nilainya rata-rata. Kecuali Matematika. Ia mendapat nilai 5. Susi memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Susi merupakan siswa yang ceria, pandai bergaul dan apa adanya. Tapi, Ia sering tak masuk sekolah karena alasan sakit. Malah terkadang pingsan di sekolah. Susi pulang ke Pangandaran untuk berobat. Namun, Ia tak mau berangkat lagi ke Yogyakarta. Susi drop out tahun 1982 saat kelas dua SMA.

Tentu ayahnya sangat kecewa. Setahun lamanya ayah dan anak tak saling bicara. Meski mereka tinggal seatap. Sejak saat itu, Susi bertekad untuk mandiri. Tak ingin lagi bergantung pada orang tua. Susi pun berjualan bed cover. Ia juga menjajaki perdagangan cengkeh. Kehidupan nelayan yang dekat dengan tempat tinggalnya membuat Susi mencoba berjualan ikan hasil tangkapan nelayan. Bermodal Rp. 750.000 dari hasil penjualan gelang dan cincin, Susi menemukan dunianya.

Cuma butuh waktu satu tahun, Susi sudah bisa membaca kondisi pasar. Ia membeli ikan di Pangandaran dan Cilacap, lalu memasoknya ke beberapa restoran di wilayah itu. Tahun 1985, Susi pindah ke Cirebon bersama anak dan pembantunya. Ia mengekspansi bisnisnya dengan membeli udang dan kodok dari Cirebon, lantas menjualnya ke Tanjung Priok, Jakarta. Setiap hari, Susi menjalankan aktivitas itu. Naik turun truk dilakoninya. Usahanya tumbuh semakin pesat. Ia merambah Sumatera untuk mendapatkan pasokan udang yang lebih banyak.

Tahun 1996, Susi mendapat order perdana untuk mengeksport lobster ke Jepang. Letter of Credit (L/C) pertama kali senilai USD 270.000. Kini, dua pertiga dari total eksport lobster Indonesia ke Jepang disupply oleh Susi. Wujud lobster mirip dengan udang. Bedanya, lobster memiliki capit dan berukuran lebih besar. Kelezatan capit dan ekor lobster bikin orang ketagihan.

Di bawah bendera PT. ASI Pudjiastuti Marine Product, frozen lobster-nya dilabeli “Susi Brand”. Frozen lobster ini disajikan sebagai sashimi (hasil laut yang disajikan mentah bersama bumbu tertentu, seperti shoyu dan wasabi). Sashimi biasa dimakan bersama nasi sushi (nasi pulen dicampur cuka, garam dan gula).

Kelezatan sashimi dipengaruhi oleh kesegaran bahan baku. Karenanya, Susi hanya membeli lobster dari nelayan dalam keadaan hidup. Lalu, lobster tersebut dipilah dan dibekukan (untuk tujuan eksport). Sebagian dikirim ke restoran dalam kondisi hidup. Harga lobster hidup empat kali lebih mahal dibanding lobster yang sudah mati. Jenis lobster yang paling mahal adalah lobster mutiara. Harganya mencapai Rp 1,5 juta per kilogram. Lobster mutiara biasa hidup di perairan yang berombak besar. Musim panen lobster antara bulan November hingga Januari.

Produk hasil laut rentan busuk. Waktu perjalanan yang lama juga menyebabkan tingkat kematian meningkat 10 – 25 %. Susi tertantang untuk membawa ikan/udang/lobster dari laut ke konsumen dalam waktu singkat. Supaya terjaga kesegarannya. Didukung oleh suami ketiganya – Christian von Strombeck – asal Jerman yang berprofesi sebagai mekanik & pilot pesawat, Susi membeli 2 unit pesawat Cessna Grand Caravan pada tahun 2004 untuk mengangkut ikan, udang & lobster. Uangnya didapat dari pinjaman Bank senilai USD 4,7 juta. Kredit yang baru disetujui setelah 4 tahun mengajukan pinjaman ke beberapa Bank dan selalu ditolak. Pinjaman tersebut lunas 7 tahun kemudian.

Tak lama setelah pesawatnya beroperasi, terjadilah tsunami di pesisir Aceh pada 26 Desember 2004. Sehari setelah itu, Susi memutuskan terbang ke Meulaboh dan Pulau Simeuleu untuk mengangkut bantuan. Tanpa ijin terbang. Tanpa kepastian bisa mendarat atau tidak. Pesawat Susi menjadi yang pertama kali melakukan pendaratan di Aceh. Kemudian, berbagai pihak meminta bantuannya untuk mengangkut barang bantuan menggunakan pesawat. Namun, setelah 2 minggu berjalan, kondisi keuangannya menipis. Ia terpaksa memberlakukan tarif sewa bagi lembaga yang berminat menggunakan jasanya. Jadilah pesawat sewaan itu dikenal dengan nama Susi Air.

Susi menangkap peluang bisnis baru. Pesawat yang semula hanya digunakan untuk mengangkut hasil laut berekspansi menjadi usaha penerbangan. Kini, PT. ASI Pudjiastuti Aviation mengoperasikan 50 pesawat yang dikemudikan oleh 140 pilot dengan 150 hingga 225 penerbangan setiap hari.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*