[Inspirasi Sukses 17] TUNG DESEM WARINGIN : Motivator DAHSYAT

Tung-Desem-Waringin
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Success motivator. Itulah profesinya yang dikenal orang. Tak salah. Sebab Tung pernah dalam sebulan harus mengisi 52 kali seminar motivasi. Majalah SWA menominasikannya sebagai The Most Powerful People & Ideas in Business 2005. Tarifnya pernah mencapai Rp. 100 juta per jam. Tapi, Tung bukan motivator kaleng-kaleng. Selain sebagai konsultan (TDW Resources, Marketing Revolution Internasional, MUVI), ia juga menjalani berbagai macam bisnis. Sebagian masih berjalan, sebagian lagi sudah bangkrut. Mulai dari kepemilikan Toko Buku (TogaMas), dunia digital (hemat.com, laruno.com, theconversion.com, wakuliner), talent management, program kuliah S2 (Purdue University), Radio, Fitness Centre, Apotik, BPR, perakitan Sepeda Motor asal Tiongkok, tambang batu bara, pabrik tabung gas, penulis, kontraktor, perusahaan tiang pancang, pabrik tekstil, developer properti, hingga laundry (The Daily Wash Laundromart).

Pada 2010, omzet bisnisnya mencapai USD 48 juta. Tung sudah punya cukup uang untuk bisa mengoleksi barang-barang mewah. Mobilnya tak hanya Mercedez Benz SLK dan 2 unit Alphard, tapi juga Rolls Royce Ghost yang harganya belasan miliar. Tung bahkan mendirikan Heliclub. Sebuah club yang anggotanya membeli helicopter dengan cara patungan. Harga helicopter puluhan miliar. Fixed cost per tahun untuk operasionalnya saja (gaji pilot dan perawatan) sekitar Rp. 9 miliar.

Hasil karyanya yang fenomenal ialah buku berjudul Marketing Revolution. Terjual 38.878 eksemplar hanya dalam 1 hari. Harganya Rp. 200 ribu. Saat launching buku tersebut tanggal 01 Juni 2008, Tung menaiki pesawat Jabiru dan membagikan uang pecahan serta tiket seminar seharga Rp. 100 juta. Dari atas udara.

Tung Desem Waringin lahir di Surakarta, 22 desember 1967. Kehidupannya biasa saja. Sederhana. Ayahnya berjualan di toko. Tung mulai berbisnis sedari kuliah. Jual beli emas. Saat kuliah, Tung termasuk mahasiswa berprestasi. Ia lulus dari Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret tahun 1992.

Selepas kuliah, Tung berkarier di BCA hingga tahun 2000. Mengawali karier lewat Management Development Program di Cabang Surabaya. Posisi terakhirnya adalah Pemimpin Cabang Utama di Malang. Ia mengundurkan diri setelah menghadapi kenyataan yang membuatnya bersedih. Ayahnya jatuh sakit dan butuh perawatan. Ternyata hasil jerih payahnya selama ini hanya cukup untuk membayar biaya perawatan ayahnya di kelas 3. Sebentar. Ada yang aneh ?. Saya belum selesai menulis. Kelas 3 di RS Mount Elizabeth, Singapura !.

Sambil merintis usaha patungan Toko Buku, Tung memilih bergabung dengan Lippo Group sebagai senior vice president marketing di sebuah perusahaan rintisan. Lipposhop.com. Meski didukung dana Rp. 100 miliar, Lipposhop tak mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. E-commerce belum lazim saat itu. Internet masih jarang. Kalaupun ada, harganya mahal. Tak menunggu lama, 8 bulan kemudian Tung resign. Jadi pengangguran.

Dalam kondisi jobless, Tung nekat menjual tanah dan berhutang agar bisa mengikuti seminar motivator dunia idolanya, Anthony Robbins, di Singapura. Tiket seminarnya USD 10 ribu selama 8 hari. Total biaya Rp. 158 juta. Tak percuma. Selepas belajar dari motivator dunia tersebut, Tung membuktikan bahwa dirinya sukses menjadi motivator Indonesia. Tak cuma itu, pertumbuhan bisnisnya juga semakin dahsyat.

Tung biasa bergaul dengan orang yang lebih sukses. Ia banyak belajar dari mereka. Tung tak segan melakukan apa saja untuk membantu kepentingan mereka.

Saat masih bekerja di Malang, Tung ikut sebuah seminar yang menghadirkan Amir Abadi Jusuf sebagai pembicara. Amir adalah Ketua Ikatan Akuntan Publik serta pemilik Asuransi Bintang dan 8 usaha lain. Tung mendekati Amir dan mengajaknya makan siang. Sepakat. Mereka janjian untuk makan siang. Bukan di Malang, tapi di Jakarta. Artinya, Tung mesti berangkat dari Malang ke Jakarta. Tung membayar makan siang itu. Tagihannya Rp. 780.000. Cukup besar, karena gajinya di BCA saat itu cuma Rp. 1.380.000. Di kemudian hari, Tung bersama Amir dan Johan Budi Sava membuka usaha patungan, Toko Buku Diskon TogaMas di Yogyakarta. Usahanya berjalan dengan baik, karena Johan sebelumnya telah sukses membuka Toko Buku yang terlaris di Malang. Bisnis dengan orang yang telah sukses di bidangnya berpeluang besar untuk sukses. Konsep tokonya adalah menjual buku dengan harga diskon. TogaMas pernah memiliki lebih dari 20 gerai di Jawa & Bali.

Tung memiliki ayah angkat bernama Soetikno. Pemilik pabrik cat Avian. Awalnya, Soetikno berdagang hasil bumi di Lawang (Jawa Timur). Ketika pemerintahan Soekarno mengeluarkan PP no 10 tahun 1959 yang isinya melarang orang asing untuk berdagang di luar ibukota daerah, Soetikno berencana kembali ke Tiongkok. Ia jual seluruh asetnya. Uangnya dikirim ke saudaranya di Tiongkok. Namun, ia mengurungkan niatnya. Soetikno memilih tetap tinggal di Jawa. Meski harus tidur di pinggir jalan bersama istri dan 5 orang anaknya. Hartanya ludes. Saudaranya di Tiongkok tak mau mengembalikan uangnya.

Dengan modal pinjaman, Soetikno nekat membuka toko cat. Dulu, cat dijual hanya 12 warna. Soetikno mencoba untuk mencampur beberapa warna cat agar menghasilkan warna cat yang lebih menarik. Hasilnya, warna cat hasil campurannya disukai orang. Jadilah toko cat-nya terlaris di kota Malang.

Selain menjual warna cat yang disukai, Soetikno juga pintar merayu pembeli. Saat ada pembeli yang suka merokok, Soetikno memberinya rokok. Saat tiba makan siang, Ia mengajak pembeli makan gratis. Saat ada pembeli yang datang jauh dari luar kota, Soetikno memberinya oleh-oleh untuk dibawa pulang. Soetikno berpura-pura takaran cat-nya kelebihan agar pembelinya senang. Padahal ia sengaja memberi bonus 0,2 liter untuk 1 liter cat yang ia jual. Biasanya orang membeli cat sekaligus membeli amplas untuk menghaluskan permukaan. Jadilah Soetikno menjual amplas dengan harga khusus. Amplas yang di toko lain biasa dijual Rp. 5 per lembar, ia jual rugi Rp. 2,5 kepada pelanggan tokonya.

Lalu, Soetikno membeli pabrik cat yang hampir bangkrut. Usahanya terus berkembang hingga bisa mendirikan pabrik air minum dalam kemasan, depo bangunan hingga jaringan hotel di berbagai kota.

Tung juga bergaul dengan pemilik pabrik vulkanisir ban & aksesories mobil serta hotel di Bandung. Ia terbersit menjadi pengusaha setelah mendengar nasehat dari orang tua temannya. Begini. “Gini loh, nak. Kamu kalau cari kerjaan yang jelas, bisa bertumbuh dan buat kamu kaya”. Ia melanjutkan, “Gini ya, nak. Kalau kamu mau kaya, kamu liat orang sekeliling kamu. Siapa-siapa saja orang yang rumahnya besar, mobilnya mewah, anak-anaknya bisa kuliah tinggi. Nah, kamu tanya ke mereka, bisnis atau usahanya apa. Bantu dia. Kerja sama dia jangan hitungan waktu dan uang dulu. Kerja untuk belajar”. Tidak semua bidang harus dikuasai. Kalau kita tidak menguasai suatu bidang, kita bisa merekrut karyawan yang ahli di bidang itu. “Nak, orang kaya selalu mempekerjakan orang-orang yang sukses”, lanjutnya.

Salah satu bisnis Tung adalah menjadi developer property. Ia memilih itu karena keuntungannya bisa lebih dari 100 %. Jauh di atas property agen yang hanya memperoleh komisi 1 – 3 % atau kontraktor yang mendapat keuntungan 10 – 20 %. Workless, earn more.

Bagi Tung, uang adalah ide. Uang merupakan alat tukar. Lebih baik kaya tapi bahagia daripada miskin tapi tidak  bahagia. Menurutnya, sebaiknya 30 – 50 % uang dialokasikan untuk investasi, sisanya, 50 – 70 %, dihabiskan untuk kebutuhan hidup. Ia memiliki banyak usaha (multiple stream of passive income). Tujuannya agar bila salah satu usahanya bangkrut, ia masih punya pendapatan dari usahanya yang lain. Tung memiliki target penghasilan yang wah, agar bisa memenuhi gaya hidupnya yang mewah, seperti : ulang tahun ke 17 anaknya dirayakan meriah di Sunda Kelapa dengan helikopter dan kapal pesiar.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*