[Inspirasi Sukses 18] SANDIAGA SALAHUDDIN UNO : Investasi Papa Online

Sandiaga-Salahuddin-Uno
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Sebutan “Papa Online” dari netizen melekat sejak Sandiaga Uno berkampanye sebagai Calon Wakil Presiden 2019. Latar belakangnya sebagai pengusaha pernah mendudukkan namanya sebagai orang terkaya Indonesia nomor 47 versi Forbes 2013 dengan taksiran kekayaan sebesar USD 460 juta (sekitar Rp 6,4 triliun). Sebelum terjun ke politik tahun 2014, Sandi sukses membesarkan dua perusahaan investasi dan konsultan keuangan, yaitu : PT. Recapital Advisor dan PT. Saratoga Investama Sedaya, Tbk.

Sandi lahir di Pekanbaru, 28 juni 1969. Ayahnya, Razif Halik (Henk) Uno, berasal dari Gorontalo. Henk lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung dan bekerja di perusahaan minyak Caltex di Pekanbaru (Riau). Ibunya, Rachmini (Mien) Rachman, lahir di Indramayu dan besar di Bogor. Mien lulus dari Jurusan Administrasi Pendidikan IKIP Negeri Bandung. Namanya masuk dalam 99 Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia versi Globe Asia 2007. Setelah pindah dari Riau ke Jakarta mengikuti tugas suami, Mien mengajar di Martha Tilaar Beauty and Gallery. Ia juga menjadi pembawa acara di TVRI. Kecintaannya pada batik mengantarkannya menjadi Sekjen Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia serta aktif di Kamar Dagang dan Industri Indonesia.

Setamat dari SMA Pangudi Luhur, Sandi mendapat beasiswa dari perusahaan tempat ayahnya bekerja, Caltex. Ia mengambil Bachelor of Business Administration di Wichita State University (Kansas, Amerika). Pendiri Pizza Hut, Carney bersaudara, merupakan alumni dari Universitas ini. Wichita merupakan kota kecil, jauh dari bayangan Sandi tentang kota metropolis di Amerika. Lulus tahun 1990 dengan predikat summa cum laude, Sandi ditawari bekerja di Bank Summa milik Edward Soerjadjaja. Edward merupakan putra sulung William Soerjadjaja, pendiri Astra. Persentuhan Sandi dengan keluarga Soerjadjaja diawali oleh ibunya. Mien mengelola sekolah kepribadian John Roberts Power dimana Astra merupakan salah satu klien-nya.

Kemudian, Sandi memperoleh beasiswa dari Bank Summa untuk melanjutkan kuliah Master of Business Administration di George Washington University (Amerika). Namun, di tahun kedua kuliah, beasiswanya terhenti. Bank Summa yang berdiri tahun 1988 didera masalah keuangan. Penyaluran kredit tanpa prosedur yang benar menyebabkan Rp 1 triliun dari Rp 1,5 triliun kredit yang disalurkan bermasalah.  Akhirnya, Bank Summa dilikuidasi oleh pemerintah dan diwajibkan untuk menyelesaikan semua hutangnya. Sebagai pengusaha yang bertanggung jawab, William (ayah Edward) terpaksa menjual 10 juta lembar saham Astra Internasional untuk melunasi hutang Bank Summa milik anaknya. Setelah peristiwa itu, William kehilangan kendali atas Astra (perusahaan yang didirikannya).

Sandi tak punya cukup tabungan untuk biaya hidup dan melanjutkan kuliah di Amerika. Tapi Ia tak mau merepotkan orang tua. Pilihan Sandi adalah kuliah sambil bekerja. Ia diterima bekerja sebagai asisten laboratorium di kampusnya. Sandi dibayar USD 3 per jam. Selanjutnya, Sandi bekerja sebagai tutor dengan gaji USD 6 per jam. Kuliah S2-nya rampung dengan predikat summa cum laude di usianya yang ke 23.

Pulang ke Indonesia, Sandi tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga William, meski nasibnya di Bank Summa tak jelas. Ia banyak belajar tentang bisnis dari pendiri Astra tersebut. Walau di kemudian hari, Sandi beberapa kali terlibat kasus hukum dengan putra pertama William (Edward) – yang sering dikaitkan dengan masalah politis – Sandi hingga kini masih menjalin kerjasama bisnis dengan putra kedua William (Edwin).

Selanjutnya, Sandi bekerja sebagai finance and investment analyst di Seapower Asia Investment Limited (Singapura). Perusahaan investadi milik Edward Soerjadjaja. Setahun kemudian, Sandi bergabung ke MP Holding Limited Group sebagai investment manager. Tahun 1995, Sandi menduduki posisi executive vice president NTI Resources Ltd di Canada. Gajinya USD 8.000 per bulan. Cukup layak. Biaya hidup di Canada sekitar USD 750 hingga USD 2.250 per orang per bulan.

Tahun 1996, Ia menikahi Nur Asia. Adik kelasnya di SMPN 12 Jakarta. Putri seorang tuan tanah di Jakarta Selatan, Abdul Aziz Marzuki. Mereka menikah di masjid Al Falah, Orchard Road, Singapura pada 28 Juli 1996. Mereka dihadiahi bulan madu keliling Eropa oleh keluarga William. Putri pertama mereka lahir di California.

Krisis ekonomi tahun 1997 berimbas pada perusahaan tempatnya bekerja. Sandi tak lagi menerima gaji. Tabungannya selama bekerja yang diinvestasikan di pasar modal juga ikut amblas. Akhirnya, keluarga kecil ini kembali ke tanah air. Tak punya apa-apa. Hidup menumpang di rumah orang tua.

Sempat melamar pekerjaan di beberapa perusahaan, namun tak ada satu pun yang menerimanya. Akhirnya, Sandi nekat mendirikan perusahaan bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Jebolan Oklahoma State University yang pernah bekerja di beberapa bank. Rosan merupakan anak dari dokter Roeslani. Nama perusahaan yang mereka dirikan adalah PT. Republik Indonesia Funding (kelak berganti nama menjadi Recapital Advisor). Bergerak di bidang jasa penasehat keuangan atau financial advisor sesuai keahlian mereka berdua. Perusahaan didirikan bukan berdasar perencanaan bisnis yang komprehensif melainkan karena terdesak kebutuhan hidup sehari-hari.

Mereka menempati kantor bekas salon berkarpet merah muda di Gedung Tifa, Kuningan (Jakarta). Luasnya tak lebih dari 80 meter persegi. Sebisa mungkin pertemuan dengan klien dilaksanakan di kantor klien atau di tempat lain, asalkan bukan di kantor mereka yang butut itu. Kendaraan yang digunakan adalah Suzuki Katana, pinjaman dari orang tua. Berbekal pengalaman serta kenalan mereka di luar negeri dan kenalan Mien Uno yang luas pergaulannya, mereka optimis (Sandi menyebutnya “sok tahu”) bisa memperbaiki kondisi perusahaan yang kolaps diterjang krisis ekonomi.

Berbulan-bulan usaha berjalan, belum ada klien yang mau menggunakan jasa mereka. Tak punya uang lagi, Sandi berniat meminjam uang sebesar 3 juta rupiah kepada Rosan. Tapi, Rosan hanya punya uang 50 ribu rupiah. Harapan muncul ketika mereka mendapatkan klien pertama. Melalui perantaraan keluarga Eric Samola, Sandi menemui Dahlan Iskan. Bos Jawa Group yang sedang dilanda kesulitan keuangan ketika membangun Gedung Graha Pena di Surabaya. Sandi dan Dahlan bertemu di lift. Setelah berbincang sebentar, Sandi menawarkan solusi kepada Dahlan dan bersedia tidak dibayar jika solusi itu gagal. Keluar dari lift, Dahlan sepakat dengan tawaran itu. Beberapa bulan kemudian, Sandi menerima pembayaran invoice USD 10.000 dari Dahlan.

Recapital di masa awal sering gagal mendapat pinjaman dari Bank. Namun, seiring prestasinya yang makin kinclong, makin banyak investor yang bersedia membenamkan uangnya. Selain menyehatkan perusahaan yang sakit, Recapital juga membeli perusahaan yang nyaris bangkrut. Uangnya berasal dari investor. Setelah kondisinya membaik, perusahaan dijual dengan harga lebih mahal. Recapital sukses menangani Mc Donald Indonesia, GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia), Pizza Hut Indonesia, BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional), Sumailindo Jaya Lestari, Bumi Plc hingga Bank Pundi. Recapital juga berinvestasi di properti, seperti Grand Kemang Hotel, Losari Spa Retreat hingga menguasai pulau Karang Beras. Tak selamanya usaha berjalan mulus. Recapital pernah gagal menguasai Dipasena.

Tahun 1998, Sandi menemui William di kantornya. Ia bertemu dengan putra kedua William, Edwin. Di pertemuan itu, Edwin meminta Sandi untuk membantunya dalam sebuah transaksi bisnis. Selanjutnya, Sandi bersama Edwin mendirikan PT. Saratoga Investama Sedaya. Setahun kemudian, mereka berusaha membeli Astra yang dilelang oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Namun, usaha itu gagal. Hingga kini, Astra belum bisa dimiliki lagi oleh pendirinya, keluarga Soerjadjaja. Gagal menguasai Astra, Saratoga kini menjelma menjadi konglomerat investasi. Saratoga menguasai perusahaan batu bara Adaro Energy, perusahaan pembiayaan MPM (Mitra Pinasthika Mustika), perusahaan pembangkit listrik Medco Power Indonesia dan Paiton Energy hingga perusahaan farmasi Deltomed.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*