[Inspirasi Sukses 19] BAHLIL LAHADALIA : Pengusaha Yang Pernah Busung Lapar

Bahlil-Lahadalia
Bagikan ini ke temanmu :
Share

“Dari pengalaman saya selama ini, menjadi pengusaha bukanlah modal. Melainkan kreativitas dan jaringan. Dan yang paling penting berani memulai dan tidak mudah putus asa”, ujar ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia 2015 – 2018, Bahlil Lahadalia. Rifa Capital yang didirikannya menjadi holding company yang menaungi 11 perusahaan. Ia mengendalikan 39.000 hektar tambang batubara di Fakfak, 11.000 hektar tambang Nikel di Halmahera (Maluku Utara), pembangunan jalan trans Papua sepanjang 300 km, serta mengelola pelabuhan penumpang dan peti kemas di Fakfak.

Bahlil lahir di Banda (Maluku Tengah) tanggal 7 Agustus 1976. Anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya, Lahadalia, berprofesi sebagai buruh bangunan yang tak selalu mendapat pekerjaan. Upahnya Rp. 7.500 per hari. Ibunya, Nurjani, menjadi buruh cuci di 8 rumah. Setelah erupsi Gunung Banda Api tahun 1988, mereka pindah ke Fakfak (Papua Barat). Lahadalia tetap bekerja meski sakit-sakitan. Nurjani turut menopang perekonomian keluarga. Berangkat pagi, pulang pukul 6 petang. Tidur hanya 1 jam. Malam hari, Nurjani membuat kue yang akan dijajakan keesokan hari oleh anak-anaknya. Selepas subuh, anak-anak membantunya membuat kue. Kue pia, pisang goreng, kelapa gula merah. Hidup seadanya. Tak jarang mereka makan nasi berlauk garam dan sedikit sayuran. Meski lulusan SD, Nurjani bertekad menyekolahkan semua anaknya hingga SMA.

Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan membuat Bahlil ikut menjajakan kue mulai kelas 4 SD. Ketika duduk di bangku SMP, selain berjualan sayur, Bahlil menjadi kenek angkutan umum. Hidup di lingkungan teminal membuat Bahlil terlibat perkelahian dan mengkonsumsi minuman keras. Bahlil pernah dikeluarkan dari SMP gegara berkelahi dengan anak kepala sekolah. Menginjak SMEA, karier Bahlil meningkat menjadi sopir angkutan umum. Pagi menjadi sopir, siang sekolah. Kalau sekolahnya pagi, pulangnya menjadi sopir hingga pukul 10 malam. Meski sibuk mencari uang, Bahlil langganan juara kelas. Ia juga aktif di OSIS.

Setamat SMEA, Bahlil merantau ke Jayapura. Tahun 1995. Berbekal tiga baju, ijazah SMEA dan SIM, Bahlil menenteng kantong keresek menaiki kapal perintis selama 5 hari. Berjubel dengan kambing, kayu dan keladi.

Di Jayapura, Bahlil menumpang di asrama mahasiswa Fakfak. Ia bertekad untuk bisa kuliah. Uang pendaftaran dikumpulkan dari hasil narik angkot. Bahlil mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay program Diploma Tiga Keuangan dan Perbankan. Asrama yang ditinggalinya dekat dengan pasar. Untuk biaya hidup & kuliah, Bahlil menjadi porter. Ia membawakan barang belanjaan pembeli dari pasar ke jalan raya menggunakan gerobak. Upahnya dua ratus rupiah. Bahlil menjadi penjual koran di lampu merah dan terminal. Malu. Tapi tak ada pilihan. Bahlil juga kerap mengerjakan tugas makalah teman-temannya. Upahnya sepuluh ribu rupiah.

Di semester tiga, Bahlil mulai aktif di kegiatan kemahasiswaan hingga kemudian menjadi ketua senat. Ia punya pekerjaan tambahan. Demonstrasi. Bahlil memimpin pergerakan mahasiswa hingga keluar masuk penjara. Memasuki semester enam, Bahlil menderita busung lapar. Maklum, kemiskinan membuatnya makan ala kadarnya. Makan bubur. Terkadang makan mangga muda yang tumbuh di sekitar asrama. Saat sakit itu, ia bertekad untuk menghentikan kemiskinan yang telah dialaminya sejak lahir.

Lulus diploma tahun 1999, Bahlil sempat bekerja di Bank Papua sebagai petugas pengarsipan transaksi harian. Digaji 2 juta rupiah sebulan. Lalu, Bahlil melanjutkan pendidikannya ke jenjang sarjana. Penyemangatnya adalah Sri Suparni. Gadis Solo yang kelak menjadi pendampingnya. Sesama aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang mau jadi istri Bahlil kalau ia sudah lulus sarjana. Bahlil lulus S1 Manajemen Keuangan tahun 2002.

Bahlil sempat menjadi agen asuransi sebelum beralih menjadi karyawan kontrak di Sucofindo. Bersama kawan-kawan aktivis HMI dari Jakarta, Bahlil merintis perusahaan konsultan keuangan dan teknologi informasi, PT. Prima Cipta Niaga. Bahlil membuat feasibility study, konsep bisnis hingga sistemnya. Tenaga ahli didatangkan dari luar. Berbekal koneksi ke alumni yang menjadi kepala daerah, Bahlil berhasil menggaet beberapa pemerintah daerah untuk menjadi klien-nya. Momentumnya tepat. Saat itu, pemerintah daerah sedang memulai implementasi Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD). Dalam tempo setahun, perusahaannya berhasil memperoleh laba Rp. 10 miliar. Bahlil sukses memutus rantai kemiskinan keluarganya. Ia mendapat fasilitas berupa rumah, mobil dan gaji Rp. 35 juta per bulan.

Namun, jiwanya resah. Keberhasilannya mendatangkan keuntungan bagi perusahaan membuat ia merasa mampu berwirausaha. Ia berpikir lebih baik mendirikan perusahaan sendiri daripada menjadi anak buah di perusahaan orang lain. Bahlil memutuskan resign setelah bekerja di perusahaan tersebut selama 14 bulan.

Deviden dan pesangon yang ia peroleh sebesar Rp. 750 juta digunakan sebagai modal pendirian PT. Bersama Papua Unggul di tahun 2004. Bahlil memasuki perdagangan kayu. Bangkrut dalam waktu 7 bulan. Kemana-mana naik ojek. Tapi ia bangkit lagi. Perlu waktu 1 tahun untuk recovery. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk membangun networking. Mendatangi kepala dinas dan pimpinan proyek. Bahlil mulai mengerjakan beberapa proyek pemerintah daerah. Karena bersinggungan dengan proyek pemerintah, tuduhan KKN dialamatkan kepadanya. Tapi sampai saat ini, belum ada yang terbukti secara hukum. Menurut Bahlil, banyak pengusaha daerah yang memulai kiprahnya dari proyek-proyek pemerintah daerah. Setelah memiliki modal yang cukup, mereka melakukan diversifikasi usaha hingga menjadi pengusaha nasional.

Rumah Bahlil di Duren Tiga (Jakarta Selatan) berdiri 3 lantai di atas tanah seluas 1000 m2. Ia mendirikan sebuah bangunan di sebelah rumahnya yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Tamunya kebanyakan adalah aktivis dari berbagai daerah. Datang dan pergi silih berganti. Berorganisasi telah menjadi hobi Bahlil. Ia pernah menjadi Bendahara Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 2001 – 2003. Jalannya sebagai pengusaha semakin terbuka saat Bahlil menjadi Ketua BPD HIPMI Papua 2007 – 2010. Ia bekerjasama dengan beberapa anggota HIPMI dalam mendirikan unit bisnis baru hingga kemudian berhasil menduduki kursi Ketua Umum HIPMI 2015 – 2018. Selanjutnya, 2019, presiden Jokowi menunjuknya sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*