[Inspirasi Sukses 2] LIEM SIOE LIONG : Taipan di Lingkaran Kekuasaan

Bagikan ini ke temanmu :

Liem Sioe Liong atau Sudono Salim lahir di Fuqing, Tiongkok pada 19 Juli 1916. Ia dikenal sebagai pemimpin Salim Group. Konglomerat yang pernah mengendalikan Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, Indomaret, Indomarco, PT. Mega, Bank Windu Kencana, PT. Hanurata, PT. Waringin Kencana, Bogasari dan ratusan perusahaan lainnya. Pada 1996, valuasi perusahaannya diperkirakan tembus USD 22 miliar atau sekitar Rp. 55 trilyun dengan kurs saat itu (asumsi USD 1 = Rp. 2.500). Sebagai pembanding saja. Pada saat itu, harga bensin Rp. 700/liter. Harga beras kisaran Rp. 1.100/Kg.

Liem tumbuh di keluarga sederhana. Ia putus sekolah. Berjualan mie saat usianya 15 tahun. Pada 1937, Jepang menginvasi Tiongkok. Ekonomi terbengkalai. Ditambah ayah Liem meninggal dunia. Kehidupan semakin tak menentu. Alih-alih ikut wajib militer, Liem Sioe Liong muda memilih untuk merantau dari Tiongkok ke pulau Jawa. Demi penghidupan yang lebih baik. Liem menaiki kapal layar tanpa mesin dan mendarat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Ia menyusul kakaknya, Liem Sioe Hie. Sang kakak telah merantau lebih dulu di tahun 1922 dan bekerja di toko pamannya, Liem Kiem Tjay (pengusaha minyak kacang tanah di Kudus, Jawa Tengah).

Di perantauan, Liem mencoba berbagai profesi. Ia pernah bekerja di pabrik tahu dan kerupuk. Berdagang hasil bumi. Berjualan pakaian dan barang kebutuhan rumah tangga menggunakan pikulan. Berkeliling ke kampung-kampung menawarkan barang kreditan. Liem muda terlihat kuat dan tampan. Ia disukai ibu-ibu yang serta merta menjadi pelanggan dagangannya.

Pada usia 24 tahun, Liem menikah dengan Lie Kim Nio. Anak saudagar terpandang di Kudus. Rejeki nomplok datang dari menikah. Ia mendapat suntikan modal dari mertuanya. Jeli melihat potensi, Liem menjadi pemasok cengkeh dan tembakau ke pabrik-pabrik rokok yang banyak terdapat di Kudus, termasuk Djarum. Ia paham jalur penyelundupan cengkeh dari Maluku, Sumatera dan Sulawesi. Namun, usahanya sempat berantakan saat Jepang menduduki Hindia Belanda sekitar tahun 1942.

Perlahan tapi pasti, Liem membangun kembali usahanya. Solidaritas para pedagang klan Hokchia asal Tiongkok sangat membantu perkembangan bisnis Liem. Ia juga tergabung dalam Cong Siang Hwee (perkumpulan pedagang China) yang pro pejuang kemerdekaan.

Tempat tinggal Liem di Kudus pernah dijadikan tempat persembunyian pejuang Indonesia yang sedang dikejar Belanda. Pejuang itu bernama Hasan Din. Tokoh Muhammadiyah. Ayah dari Fatmawati alias mertua dari tokoh proklamator, Ir. Soekarno. Kelak, Liem bermitra dengan Hasan Din dalam membesarkan Bank Central Asia dan mengimport cengkeh lewat PT. Mega (konon, nama perusahaan ini diambil dari nama cucu Hasan Din, putri pertama Ir. Soekarno, yaitu Megawati Sukarnaputri). Entah ada kaitan atau tidak soal kedekatan Liem dengan Hasan Din, yang jelas pada saat keruntuhan orde lama sekitar 1966, rumah Liem disatroni laki-laki berseragam marinir yang kemudian menembak perut istrinya.

Untuk membesarkan usahanya, Liem hijrah ke Jakarta pada 1952. Berpindah-pindah rumah hingga akhirnya menempati rumah di Jalan Gunung Sahari IV, Jakarta Pusat. Bukan kawasan mewah. Suara kereta yang melintasi rel pun terdengar sampai ke rumah. Seiring berjalannya waktu, keluarga Liem memiliki 15 rumah di lokasi itu. Salah satunya dibakar massa saat terjadi kerusuhan Mei 1998.

Liem memulai sebuah bisnis bukan berdasar rencana, tapi berdasar kebutuhan. Ia bisa berdagang apa saja. Liem juga memasok sabun, beras, alat medis dan barang kebutuhan lainnya ke markas Tentara Nasional Indonesia (TNI). Lewat jalan inilah, kemudian ia mengenal Kolonel Soeharto selaku Panglima Daerah Militer Diponegoro yang bermarkas di Semarang pada 1956. Perkenalan yang sangat berarti bagi perkembangan bisnisnya di kemudian hari.

Liem terlihat paling menonjol diantara para pemasok kebutuhan tentara lainnya. Ia dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah, bersemangat dan prima dalam pelayanan. Barang pasokannya selalu datang lebih awal. Gayung bersambut. Liem dan Soeharto menjadi mitra bisnis. Mereka memonopoli perdagangan cengkeh di Jawa Tengah dan penjualan besi tua. Karena aktifitas ini, Soeharto dicopot dari jabatannya pada 1959. Ia dituduh melakukan penyelundupan beras dari Singapura yang dibarter dengan gula pada saat petani padi gagal panen. Soeharto juga dituduh menggunakan truk tentara untuk bisnis hingga tuduhan menjual truk tentara.

Meski jabatannya sebagai Pangdam dicopot dan dikenal sebagai opsir koppig (keras kepala) karena pernah menentang perintah Presiden Soekarno, karir militer Soeharto tak berhenti sampai di situ. Di kemudian hari, Soeharto justru dipercaya sebagai Panglima Komado Mandala untuk pembebasan Irian Barat hingga menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Liem dekat dengan lingkaran penguasa orde lama (melalui perkongsiannya dengan Hasan Din, mertua Presiden Soekarno) serta memiliki Bank dan pabrik tekstil. Tapi Ia masih kurang begitu dikenal di Jakarta. Masih kalah pamor dibanding pengusaha yang dibesarkan Soekarno melalui Program Banteng, seperti Rahman Tamin, Hasjim Ning dan Dasaad Musin. Bisnis Liem belum terlalu besar. Keadaan berubah drastis ketika Mayjen Soeharto, sahabat-nya, diangkat menjadi pejabat Presiden RI pada 12 Maret 1967 oleh MPRS. Soeharto menggenjot pertumbuhan ekonomi dan membuka kesempatan luas kepada para pengusaha, termasuk Liem.

“Anda butuh uang, saya bisa membantu mendapatkannya”, ujar Liem kepada Soeharto. Kepiawaian Liem dalam berbisnis dan persahabatannya dengan Soeharto menjadikannya salah satu Taipan terkaya sepanjang Orde Baru.

Liem tak sendiri. Ia berkongsi dengan Sudwikatmono, sepupu Soeharto. Dulu, Soeharto kecil diasuh oleh pamannya (ayah Sudwikatmono). Dwi (panggilan Sudwikatmono) awalnya merupakan pegawai PN Jaya Bhakti sejak tahun 1950-an. Sebuah perusahaan dagang milik negara di Jakarta. Gajinya Rp. 400 per bulan. Setelah bermitra dengan Liem, Dwi digaji Rp. 1 juta per bulan dan berhak atas saham di beberapa perusahaan. Bersama Djuhar Soetanto (pemimpin kelompok bisnis Five Star yang memasok kebutuhan TNI Angkatan Laut) serta rekannya – Ibrahim Risjad – mereka berempat (dijuluki The Gangs of Four) membesarkan Salim Group.

Liem pandai menjalin kerjasama dengan orang-orang yang mampu membesarkan bisnisnya. Di bidang perbankan, Liem menggandeng Mochtar Riady (bankir pendiri Lippo Group). Untuk pabrik tepung, Ia mengajak Robert Kuok (pendiri Kerry Group, pengusaha kaya Malaysia). Dalam bidang property, Liem mempercayakannya pada Ciputra (pendiri Ciputra Group).

Bisnis Liem menggurita. Pada 1967, Liem mendapat kepercayaan dari Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk mengimpor 35 ribu ton beras. Bogasari yang didirikan pada 1969 dengan modal 100 juta, menerima kredit Rp. 2,8 miliar untuk membangun pabrik pengolahan tepung terigu dan memonopoli pasokan 2/3 kebutuhan terigu Indonesia. Pada 1970, Tarumatex – perusahaan tekstil-nya – memperoleh kredit murah sekaligus kontrak tanpa tender senilai USD 1,7 juta untuk pengadaan pakaian militer. Waringin mendapat ijin eksport karet dan kopi. Mega memonopoli import cengkeh. Indocement mendapat suntikan modal dari pemerintah senilai Rp. 364 miliar. Singkatnya, perusahaan yang didirikan Liem mendapat privilege (hak istimewa) dari penguasa. Bisnisnya melejit dengan cepat.

Liem tak hanya memberikan sebagian saham perusahaan-nya kepada putra-putri Soeharto sebagai “balas budi”, tapi juga menjadi mitra bisnisnya pada periode menjelang 1990. Liem bekerjasama dengan Siti Hardijanti (mbak Tutut) di perusahaan jalan tol lewat Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP). Liem menjalin bisnis dengan Bambang Trihatmodjo di perkebunan tebu hingga beberapa proyek di Batam (Kepulauan Riau). Liem juga turut menyelamatkan Bank Duta (sebagian besar sahamnya dimiliki oleh tiga yayasan Soeharto, yaitu : Dharmais, Dakab dan Supersemar) dari kerugian sebesar USD 419 juta.

Tak ada yang abadi. Begitu pun dengan kerajaan bisnis Liem. Gerakan reformasi tahun 1998 tak hanya melengserkan Soeharto dari kursi Presiden RI, tapi juga meluluhlantakkan bisnis Liem. Selain krisis ekonomi yang menghantam bisnisnya secara langsung, hilangnya privilege dari penguasa negeri secara tak langsung juga ikut memukul usahanya. Liem terpaksa menjual sebagian perusahaannya (termasuk BCA, Indocement dan Indomobil) untuk menutupi hutang sekitar Rp. 52 trilyun pada saat itu.

Salah satu putra Liem, Anthony Salim, berjuang menyelamatkan perusahaan agar tidak terperosok semakin dalam. Selain menghadapi tuntutan hukum yang dilontarkan oleh lawan bisnisnya, Anthony juga bernegosiasi dengan pemerintah. Anthony bersikeras agar asset perusahaan yang diagunkan sebagai jaminan hutang tidak diambil alih semua oleh pemerintah. Ia berusaha mati-matian mempertahankan Indofood dibawah kendalinya. Mengapa Indofood ?. Karena di saat krisis ekonomi tahun 1998, kinerja Indofood tetap menunjukkan tren positif. Sempat merugi Rp. 1,2 trilyun pada 1997 karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika, Indofood menorehkan keuntungan Rp. 150 miliar pada 1998. Bahkan setahun kemudian, Indofood meraup laba Rp. 825 miliar.

Indofood memang bukan produsen mie instant yang pertama. Tapi ia yang terbesar. Awalnya, Liem belum tertarik membuat mie meski telah memiliki pabrik tepung Bogasari. Pada 1968, Lima Satu Sankyu menjadi produsen mie instant pertama dengan merk Supermie. Dua tahun kemudian, Sanmaru memproduksi mie instant dengan merk Indomie. Barulah pada tahun 1977, Liem mendirikan Sarami Asli Jaya untuk memproduksi mie instant ber-merk Sarimi.

Liem memperkirakan permintaan pasar untuk mie instant akan tinggi karena pada saat itu terjadi kelangkaan beras. Tidak tanggung-tanggung, Liem membeli 20 mesin produksi dari Jepang. Satu mesin bisa memproduksi 100 juta bungkus mie instant per tahun.

Kali ini, perkiraan Liem meleset. Produksi beras Indonesia berangsur membaik. Pasar mie instant tak setinggi yang ia perkirakan. Akibatnya, sebagian mesin produksinya menganggur. Tapi bukan Liem namanya kalau tidak bisa membalikkan keadaan. Ia mendekati Djajadi Djaja, pemilik Indomie, untuk berkongsi. Tapi, tawaran Liem ditolak oleh Djajadi. Ibarat menabuh genderang perang, Liem menggelontorkan dana USD 10 juta untuk mempromosikan Sarimi sebagai mie instant yang harganya lebih murah dibanding Indomie milik Djajadi. Tak butuh waktu lama, Sarimi menguasai 40 % pasar mie instant.

Djajadi menyerah. Ia memilih berkongsi dengan Liem. Pada tahun 1984, mereka mendirikan PT Indofood Interna dengan porsi kepemilikan saham 57,5 % untuk Djajadi dan 42,5 % untuk Liem. Dua tahun berikutnya, mereka mengakuisisi Supermie. Liem kembali menunjukkan keperkasaannya dengan menambah porsi kepemilikan sahamnya di Indofood. Kekuasaan Djajadi melemah. Selanjutnya, pada tahun 1992, Indofood menghentikan kerjasama distribusi dengan Wicaksana (perusahaan distribusi milik Djajadi) dan menggantinya dengan perusahaan distribusi milik Liem, Indomarco. Di kemudian hari, pasca  Soeharto lengser, Djajadi menggugat penggunaan merk dagangnya oleh Indofood. Tapi, Djajadi kalah di tingkat kasasi Mahkamah Agung.

Kini, Indofood makin menggurita. Tak hanya memproduksi mie instant, tapi juga memproduksi makanan ringan, minuman, makanan bayi, terigu, bumbu, kecap, saos, minyak goreng dan susu. Tak hanya itu, Indofood juga merambah ke produksi kemasan, perkebunan hingga perkapalan. Pasarnya berkembang ke Asia, Afrika, Australia hingga Eropa. Kesuksesan Indofood mengantarkan Anthony (anak ketiga Liem) menjadi orang terkaya ke 5 Indonesia versi Forbes (2018) dengan taksiran kekayaan sebesar USD 5,3 miliar atau sekitar Rp. 74,2 trilyun.

Selepas kerusuhan Mei 1998, Liem memilih tinggal di Singapura. Meski banyak perusahaannya yang terpaksa dijual untuk menutupi hutang, Liem tetap saja berduit. Ia masih mampu membeli saham Philippine Long Distance Telephone senilai USD 760 juta pada 1999.

Di Singapura, Liem menempati rumah yang berdiri di lahan seluas 8.000 m2. Harga rumahnya sekitar SGD 100 juta atau setara dengan Rp. 1 trilyun. Ulang tahunnya yang ke 90 dirayakan secara mewah di hotel Shangri-La, Singapura. Dua hari berturut-turut. Dihadiri oleh 2.000 orang pejabat dan pengusaha dari berbagai Negara. Konon, pesta ulang tahun itu menghabiskan dana USD 2 juta atau sekitar Rp. 28 miliar. Tgl 10 Juni 2012, Liem meninggal dunia di Raffles Hospital, Singapura pada usia 96 tahun.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*