[Inspirasi Sukses 20] HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY : Ustadz Tapi Penulis

Bagikan ini ke temanmu :

Namanya meroket ketika novel karangannya yang berjudul Ayat Ayat Cinta (2004) menembus angka penjualan hingga 500 ribu eksemplar. Bahkan film yang diangkat dari novel itu – tahun 2008 – telah ditonton oleh 3,7 juta orang di bioskop. Konon, penghasilannya dari Ayat-Ayat Cinta tak kurang dari Rp. 2,5 miliar. Itu baru dari 1 novel. Sejak Ayat-Ayat Cinta terkenal, karyanya yang lain ikutan laris. Sebut saja, novel Di Atas Sajadah Cinta (dijadikan sinetron di Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 (dibuat film & sinetron), Dalam Mihrab Cinta, Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerusalem, Bumi Cinta, The Romance, Cinta Suci Zahrana, Api Tauhid dan Ayat-Ayat Cinta 2.

Abik lahir di Semarang, 30 September 1976. Sulung dari enam bersaudara. Nama lahirnya Muhammad Habibulwahid. Ayahnya, KH. Saerozi Noor, seorang mubaligh. Ayah yang tegas mendidik anak-anaknya. Ibunya, Hj. Siti Rodhiyah. Ibu yang penuh kasih sayang hingga selalu dirindukan oleh anak-anaknya. Sebelum kelahirannya, Rozi rajin beribadah dan berdo’a agar anak pertamanya menjadi anak yang saleh.

Saat balita, Abik sering sakit. Susah buang air besar. Susah makan dan minum. Dokter angkat tangan. Lantas, seorang kyai menyarankan Rozi untuk bersedekah dan mengganti nama Muhammad Habibulwahid dengan nama yang pernah dinazarkan oleh Rozi sewaktu masih jadi santri. Jadilah nama Habibulwahid diganti menjadi Habiburrahman. Setelah itu, Abik tak sakit-sakitan lagi.

Saat duduk di Sekolah Dasar, Abik selalu juara kelas. Sore harinya, Abik belajar agama di Madrasah Diniyah. Sambil sekolah di Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) Futuhiyah 1 (Mranggen, Demak), Abik nyantri di Pondok Pesantren Al Anwar. Lulus rangking satu. Lalu, Ia melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Aliyah Program Khusus di Surakarta. Abik aktif berorganisasi. Pulang ke rumah tiga bulan sekali. Sedari remaja, Ia kerap menjuarai berbagai lomba pembacaan puisi, lomba pidato hingga lomba menulis. Tahun 1994, kelas 2 MA, Abik menyabet juara 1 lomba pidato bahasa Arab se-Jateng & DIY yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta serta juara 1 lomba pidato bahasa Arab tingkat nasional yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Bahasa Arab Universitas Gadjah Mada. Ia juga mengisi acara Syahril Qur’an tiap Jum’at pagi di Radio JPI Surakarta.

Tahun 1995, setelah lulus dari MA, Abik melanjutkan kuliah ke Mesir. Ia mengambil jurusan Hadits (Fakultas Ushuluddin) di Universitas Al Azhar (Cairo). Orangtuanya terpaksa menjual sawah demi mewujudkan cita-cita sang anak. Untuk menambah uang saku, Abik berjualan telur asin di Mesir. Setahun kuliah, prestasi akademiknya jayyid (terbaik). Abik mendapat beasiswa dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia sebesar USD 600. Setamat S1 tahun 1999 dengan gelar License (Lc), Abik melanjutkan kuliah S2 di Institute for Islamic Studies (Cairo) hingga lulus tahun 2001 dengan gelar Postgraduate Diploma (Pg. D). Selama menjadi mahasiswa, Abik juga aktif berorganisasi.

Setelah tujuh tahun tinggal di Mesir, Abik kembali ke tanah air tahun 2002. Abik menjadi guru di MAN 1 Yogyakarta. Suatu ketika di tahun 2003, sepulang dari Sleman, Abik mengalami kecelakaan di Magelang. Kaki kanannya patah dan harus istirahat selama 8 bulan. Ia merasakan bahwa batas antara hidup dan mati itu sangat tipis. Abik termotivasi untuk membuat karya yang bermanfaat bagi orang banyak. Lantas, Abik menulis novel Ayat-Ayat Cinta yang diselesaikannya dalam tempo sebulan. Bukan tulisan pertama. Saat masih menjadi mahasiswa, Abik sudah menghasilkan beberapa buku, hanya tidak terlalu laku.

Tahun 2004, Abik menikah dengan Muyasaratun Sa’idah. Tak lagi menjadi guru, Abik beralih profesi menjadi dosen di Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shidiq UMS Surakarta hingga tahun 2006. Setelah novel-nya laris terjual, Abik tak lantas berfoya-foya. Uang hasil royalti digunakannya untuk mendirikan Pesantren Karya dan Wirausaha Basmalah Indonesia. Program unggulannya hafalan Al Qur’an.

Berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri dialamatkan kepadanya, diantaranya : Tokoh Perubahan Republika (2007), Sastra Nusantara Award (2008), Paramadina Award (2009), Anugerah Tokoh Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara Tingkat Asia Tenggara dari Ketua Menteri Negara Sabah Malaysia (2012), penghargaan dari The Istanbul Foundation for Science and Culture (2015). Buat Abik, menulis adalah ibadah. Ia bisa menyelipkan pesan moral lewat karyanya. Bagaimanapun, Abik seorang ustadz. Tapi juga penulis. Ia punya target untuk menghasilkan 500 karya. Salah satu inspirasinya adalah ulama, Imam Suyuthi, yang menulis 600 buku.

Perkenalannya dengan dunia sastra dimulai saat Abik belajar kitab kuning di pesantren Al Anwar asuhan KH. Abdul Bashir Hamzah. Ia terinspirasi dari syi’ir-syi’ir serta sastra Arab. Abik sangat memperhatikan nama dan karakter tokoh dalam novelnya. Ia benar-benar memutar otak saat mencari nama tokoh selayaknya memberi nama pada anak. Karakter masing-masing tokoh ditonjolkan. Ditulis dengan detail. Banyak karakter tokoh novelnya yang diambil dari karakter orang-orang di sekitar Abik. Bahkan termasuk karakter dirinya.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*