[Inspirasi Sukses 23] NADIEM MAKARIM ANWAR : Tukang Ojek Decacorn Indonesia

Bagikan ini ke temanmu :

Globe Asia 2018 menempatkan Nadiem di posisi 150 orang terkaya Indonesia. Kekayaannya ditaksir mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp. 1,4 triliun. Namanya juga disebut oleh Business Insider sebagai salah satu CEO top dunia lulusan Harvard University dan termasuk diantara 50 tokoh bisnis paling berpengaruh di dunia versi Bloomberg. Gojek yang ia dirikan menjadi startup decacorn pertama Indonesia dengan valuasi lebih dari USD 10 miliar. Pada 2018, Gojek diperkirakan telah menyumbang Rp. 44,2 triliun perekonomian Indonesia. Gojek memiliki lebih dari 2 juta pengemudi, 400 ribu merchant serta 60 ribu penyedia jasa. Gojek termasuk 20 perusahaan yang mengubah dunia versi Fortune 2019.

Bermula dari ojek motor (motorcycle ride hailing service), Gojek menjelma menjadi platform teknologi on demand terdepan di Asia Tenggara. Layanan Gojek tak lagi hanya on demand transportation (goride dan gocar), tapi juga merambah ke pengiriman barang (gosend dan gobox), mobile payment (gopay), antar pesan makanan (gofood) dan produk kesehatan (gomed), tukang pijat (gomassage), pembersih rumah (goclean), perawatan kendaraan (goauto), salon (goglam), streaming & download film (goplay) hingga pembelian tiket (gotix).

Nadiem lahir di Singapura, 4 Juli 1984. Putra bungsu dari 3 bersaudara. Ayahnya, Nono Anwar Makarim, asal Pekalongan (Jawa Tengah), keturunan Minang dan Arab. Ibunya, Atika Algadri, lahir di Pasuruan (Jawa Timur), keturunan Pasuruan dan Arab. Nono menyandang gelar master hukum dari Harvard Law School. Bersama rekannya sesama alumni Harvard, Frank Taira Supit, Ia mendirikan kantor hukum Makarim & Taira S pada tahun 1980. Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea pernah bekerja di kantor tersebut di tahun 1983. Begitu pula dengan investor pertama Tokopedia, Victor Fungkong. Nono juga mendirikan yayasan sosial : Yayasan Bambu Indonesia, Yayasan Biodiversitas Indonesia dan Yayasan Aksara. Atika seorang penulis. Putri dari pejuang kemerdekaan, Hamid Algadri.

Setelah lulus dari jurusan Hubungan Internasional Brown University (Amerika) tahun 2006, Nadiem bekerja sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company selama 3 tahun. Selanjutnya, pada tahun 2009, ia melanjutkan pendidikannya. Master of Business Administration di Harvard Business School. Di sana, Nadiem berteman dengan Anthony Tan. Proyek kuliah mereka tentang bisnis transportasi. Nadiem mendirikan Gojek di Indonesia, sementara Anthony mendirikan Grab di Singapura. Keduanya berhasil menjadi startup decacorn dari Asia Tenggara.

Kemacetan Jakarta membuat Nadiem sering menggunakan layanan ojek motor. Tak hanya untuk membawa dirinya, tetapi juga untuk mengantarkan barang serta membeli makanan. Namun, ia sering kesulitan mendapatkan tukang ojek di jam sibuk. Selain itu, tidak adanya transparansi dan standarisasi tarif ojek membuat orang menganggap bahwa layanan tukang ojek tidak profesional. Di sisi lain, 70 % waktu operasional tukang ojek dihabiskan hanya untuk menunggu penumpang.

Dari pengalamannya itu, Nadiem memiliki ide untuk menerapkan teknologi sebagai solusi layanan ojek yang bersifat win-win solution. Supaya kedua pihak diuntungkan. Ia mendirikan Gobiz (nama awal sebelum kemudian diganti menjadi Gojek) tahun 2010. Nadiem menggandeng teman lamanya, Michaelangelo Moran. Seorang Disk Jockey jebolan Academy of Art University (San Fransisco). Michael menangani marketing dan promosi, mulai dari mengenalkan brand Gojek, logo hingga promosi digital (salah satu promosinya yang sukses adalah melalui referral code).

Gobiz dijalankan di sebuah kantor berukuran 5 x 7 meter di sebuah rumah kecil di Jalan Kerinci (Kebayoran Baru, Jakarta Selatan). Sistemnya masih manual. Operator call center bertugas menerima telpon dari konsumen yang ingin menggunakan jasa ojek. Lalu, operator tersebut mengontak 20 tukang ojek mitranya untuk mengetahui lokasi mereka dan menyampaikan lokasi konsumen. Setelah itu, tukang ojek akan mendatangi konsumen sekitar 15 menit sejak konsumen menelpon.

Untuk membiayai operasional Gobiz, Nadiem nombok dengan merogoh kocek sendiri hingga berhutang ke keluarga dan teman. Maklum, Gobiz masih buntung, belum untung. Investor belum tertarik. Bahkan banyak yang meragukan lulusan Harvard terjun jadi tukang ojek. Maklum, profesi tukang ojek seringkali dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Nadiem memperoleh uang dengan bekerja sebagai managing editor di Zalora Indonesia pada tahun 2011 – 2012, sebelum kemudian bergabung di Kartuku sebagai Chief Innovation Officer hingga tahun 2014. Co founder dan karyawan senior Gojek sebagian merupakan teman kerja Nadiem di perusahaan sebelumnya, seperti : Kevin Aluwi (Zalora), Andre Soelistyo dan Antoine de Carbonnel (Kartuku) serta Hans Patuwo (Mc Kinsey). Selanjutnya, Nadiem resign dari perusahaan tersebut dan fokus membesarkan Gobiz yang telah berhasil menarik investor pertama, yaitu Openspace Ventures dan Capikris Foundation di tahun 2014.

Tahun 2015, Gojek meluncurkan aplikasi mobile. Booming. Penggunaan Gojek mulai berkembang luas. Investor berdatangan. Sequoia Capital India dan DST Global menyuntikkan dananya. Tahun 2016, Gojek memperoleh pendanaan USD 550 juta (sekitar Rp. 7,7 triliun) dari beberapa investor, diantaranya Northstar Group, Farallon Capital Management dan Rakuten. Tahun 2017, K3 Venture bergabung sebagai investor. Tahun 2018, 11 perusahaan (Temasek, Via ID, Astra International, TSO Salemba, New World Strategic Investment, Meituan Dianping, JD.com, Hera Capital, Google dan Blibli.com) yang dipimpin Tencent Holding membenamkan dana senilai USD 1,5 miliar atau setara dengan Rp. 21 triliun. Kabar terbaru, Mitsubishi dan Visa sudah menyiapkan dana untuk bergabung menjadi investor Gojek.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*