[Inspirasi Sukses 3] EKA TJIPTA WIDJAJA : Sudah Terlalu Besar Untuk Bisa Bangkrut

eka-tjipta-widjaja
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Dialah sosok orang terkaya Indonesia ketiga versi Forbes (2018). Kekayaannya ditaksir mencapai USD 8,6 miliar atau sekitar Rp. 120,4 trilyun. Sinar Mas yang ia dirikan memiliki pabrik kertas terbesar di Asia dan pabrik minyak goreng terbesar di Indonesia. Tentakel bisnisnya juga merambah ke agribisnis, real estate, perbankan dan telekomunikasi.

Eka Tjipta Widjaja terlahir dengan nama Oei Ek Tjhong di Quanzhou, Fujian, Tiongkok pada 27 Februari 1921. Anak pertama dari tujuh bersaudara. Saat berusia 9 tahun, Eka menyusul ayahnya ke Makassar. Tinggal di rumah berdinding gedheg (anyaman bambu) dan beratap daun rumbia.

Ayahnya membuka toko kelontong. Bukan orang kaya. Uang tabungannya seringkali habis untuk ongkos perjalanan menengok keluarganya di Tiongkok. Eka kecil ikut menjajakan barang dagangan ayahnya. Kembang gula, biskuit dan spiritus. Berkeliling kampung. Dari pintu ke pintu. Pada umur 12 tahun, Eka disekolahkan. Meski kemampuannya terbatas, Eka malu duduk di kelas satu bersama anak berusia 7 tahun. Ia mengiba ke kepala sekolah. “Saya terus pegangi kaki kepala sekolah. Saya sembah. Saya cium kaki itu”, cerita Eka. Jadilah ia duduk di kelas tiga.

Setamat Sekolah Rakyat (setingkat SD), Eka tak lagi sekolah. Ia datangi toko-toko grosir. Eka hendak meminjam barang dagangan. Dibayar setelah barang laku dijual. Hampir tak ada toko yang mau meminjaminya barang. Kecuali toko Ming Heng. Eka dipinjami 4 kaleng biskuit setelah menyerahkan ijazah SD-nya sebagai jaminan. Biskuitnya laku dalam dua hari. Uang disetor ke toko. Begitu berulang kali, hingga Eka bisa membeli sepeda yang cukup untuk memuat 6 kaleng biskuit. Selanjutnya, Eka mampu membeli becak bekas yang bisa membawa 18 kaleng biskuit. Dalam empat tahun, Eka meraup untung 2.500 gulden. Sejumlah 1.000 gulden dipakai untuk memperbaiki rumah ayahnya yang reyot. Sisanya ditabung.

Uang tabungan diinvestasikan. Tapi, bukannya untung malah buntung. Uang tabungannya dibawa kabur orang. Eka bangkrut dan tak tahu harus berbuat apa. Ia banyak menghabiskan waktunya dengan bermain di pantai Losari.

Saat duduk di bebatuan, Eka mendapati truk yang sering membuang puing dan sampah. Setiap hari. Ada besi, kayu, seng, terigu, semen. Barang-barang dari gudang yang terbakar. Terbersit di pikiran Eka bahwa barang-barang itu bisa dijadikan uang. Tapi, bagaimana cara mengangkutnya ?. Uang tabungannya sudah tak ada.

Keesokan harinya, Eka mendirikan warung kopi di sekitar lokasi pembuangan. Semua perlengkapan ia bawa dari rumah. Saat itu, ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan tentara Belanda di Paotere. Mereka menjadi target market warung Eka. Sesuai rencana. Kopinya habis terjual. Eka menambah varian menu. Ayam rebus. Tapi tak laku. Padahal ayam rebus itu modal terbesarnya. Kepepet. Eka memberanikan diri. Ia datangi komandan Jepang. Eka menyajikan ayam rebus untuk dicicipi. Gratis. Mereka menyukainya. Ayam rebusnya laku.

Keuntungan dari warung kopi sudah cukup untuk biaya mengangkut rongsokan. Dalam sekejap, tanah kosong di sekitar rumahnya dipenuhi barang rongsokan. Besi-besi yang bengkok diluruskan. Seng-seng yang bergelombang diratakan. Terigu yang masih bagus dikumpulkan. Karungnya dicuci, diisi terigu dan dijahit lagi. Semen yang sudah mengeras ditumbuk, lalu dipakai untuk proyek pembangunan bong (kuburan) China. Semua bisa disulap jadi uang. Dari situ, Eka berhasil mengantongi uang Rp. 20.000.

Setelah barang rongsokannya habis terjual, Eka pergi ke Selayar (pulau penghasil minyak goreng). Ia membeli 4.000 kaleng minyak goreng. Harga beli per kaleng Rp. 3. Ia berharap bisa menjual dengan harga Rp. 5 – 6 di Makassar. Namun, sekembalinya ke Makassar, pemerintah Jepang melarang swasta berjualan minyak goreng. Stok yang ada harus dijual ke pemerintah Jepang dengan harga murah. Satu setengah rupiah. Eka bangkrut lagi.

Saat pendudukan Jepang, semua orang hidup susah. Eka pernah dipenjara selama 2 minggu karena dituduh menimbun barang. Suatu hari, Eka ingin makan roti. Untuk membeli roti harus antri di pabrik roti. Itupun dibatasi maksimal dua potong per hari. Sudah capek antri, Eka hanya kebagian satu potong. Eka kesal. Ia lemparkan roti itu ke muka penjualnya dan bertekad ingin memiliki pabrik roti.

Lalu, Eka mencari tahu siapa juru masak di pabrik roti itu. Ia datangi rumahnya. Eka menawarkan gaji dua kali lipat agar tukang roti itu mau bekerja untuknya. Setuju. Jadilah Eka punya pabrik roti sendiri. Modalnya didapat dari penjualan ternak babi.

Usaha rotinya berkembang. Suatu saat, pasokan gula tersendat. Beli gula harus antri dan dibatasi. Seorang hanya boleh beli sekilo. Untuk memenuhi kebutuhan pabriknya, Eka harus membayar 7 orang pengantri bayaran untuk antri gula di 40 tempat berbeda dalam sehari. Eka meraup untung dari roti. Ia bisa membeli 1 mobil baru seharga Rp. 70.000 dan 1 mobil bekas seharga Rp. 30.000.

Perang meletus. Jalur logistik terputus. Perekonomian porak poranda. Pabrik roti tak bisa beroperasi. Eka terpaksa menjual 2 mobilnya dan kembali bersepeda. Ia merasa terhina. Malu. Eka pergi dari Makassar. Enam bulan menenangkan diri di Malino.

Tahun 1950, TNI mengerahkan pasukan ke Makassar untuk menumpas pemberontakan Andi Aziz dan Kahar Muzakkar. TNI butuh logistik. Mereka membutuhkan teh, sirup, rokok, abon, dendeng, sabun dan bawang putih. Tapi tak ada toko yang mau memasoknya karena pembeliannya tidak kontan alias ngutang. Toko khawatir tidak dibayar. Eka menangkap peluang itu. Ia datangi Geo Wehry (perusahaan dagang peninggalan Belanda). Eka hendak berhutang barang kebutuhan tentara dan menjanjikan pembayaran dua minggu berikutnya. Deal. Namun, hingga satu setengah bulan berselang, Eka tak kunjung melunasi. Ia menunggu pembayaran dari TNI. Eka meminta maaf ke Geo Wehry. Baru setelah 2 bulan, pembayaran cair. Plong. Eka ga jadi bangkrut lagi.

Sejak saat itu, Eka dekat dengan Kapten Surario, pewira TNI Angkatan Darat yang kelak membantu Eka membuka jalan bisnisnya. Eka diperbolehkan memanfaatkan kapal yang pulang ke Makassar tanpa muatan setelah mengangkut tentara ke Manado. Ia penuhi kapal itu dengan kopra yang melimpah di Manado. Ia jual ke Makassar dengan harga tinggi. Eka menjadi pedagang kopra. Jaringan dagangnya meluas. Ia memasok kopra dari Manado ke Jakarta dan Surabaya. Suatu ketika, Eka menyewa kapal besar untuk mengangkut 3.000 ton kopra. Bersamaan dengan itu, pemberontakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) terjadi. Perang lagi. Eka menyelamatkan diri dengan kapal sewaannya ke Surabaya. Tanpa membawa kopra.

Eka tak mau lagi tinggal di Makassar. Ia menetap di Surabaya yang lebih menjanjikan. Tinggal di kamar kontrakan. Ia datangi Mayjen Basuki Rahmat, Pangdam Brawijaya. Eka menawarkan kerjasama. Membawa bahan makanan dari Surabaya ke Sulawesi dengan kapal tentara. Eka menjanjikan 25 persen keuntungannya untuk mereka.

Perwira tentara yang dikenalnya telah menjadi pejabat di sebuah perusahaan hasil nasionalisasi. Perusahaan tersebut memegang hak monopoli ekspor hasil bumi dan import tekstil. Eka memanfaatkan peluang ini. Ia mendirikan CV. Sinar Mas di Surabaya pada tahun 1962. Ia berdagang dengan cara yang cerdik. Eka membeli barang hasil bumi (jagung, biji kapuk, kopra) dengan cara berhutang, lalu menjualnya dengan sistem pembayaran kontan. Jual rugi. Harga jualnya di bawah harga pasar. Dengan cara ini, dagangannya laku keras karena harganya lebih murah. Eka sengaja merugi di bisnis hasil bumi hanya untuk mendapat modal berupa uang kontan. Selanjutnya, uang tersebut digunakan untuk membeli tesktil import yang bisa dijual dengan harga mahal.

Kebijakan ekonomi orde baru pada 1968 melalui Undang – Undang Penanaman Modal Dalam Negeri menguntungkan pengusaha. Tax holiday (bebas pajak) selama 4 – 5 tahun serta bebas bea masuk untuk pembelian mesin. Eka memanfaatkan peluang itu dengan mendirikan pabrik minyak goreng Bitung Manado Oil Limited (Bimoli) di Sulawesi Utara pada 1969. Modalnya 800 juta rupiah. Kapasitas pabriknya setara dengan 120 ribu ton kopra per tahun. Di kemudian hari, Bimoli pindah tangan ke Liem Sioe Liong. Lalu, Eka membuat minyak goreng lagi dengan merk Filma.

Tahun 1974, Eka mengakuisisi cikal bakal pabrik kertas, Tjiwi Kimia, di Mojokerto. Di tahun 80-an, Eka membeli lahan sawit di Riau seluas 10 ribu hektare berikut pabrik pengolahannya. Eka juga memiliki 1.000 hektare perkebunan teh beserta pabriknya. Berikutnya, Eka mengakuisisi Bank Internasional Indonesia (BII). Eka mengambil alih Amcol Holding senilai USD 2 miliar sebagai pintu masuk bisnisnya di Singapura. Eka mendirikan pabrik kertas dengan investasi USD 5 miliar di China untuk menghindari pengenaan pajak 30 % jika melalui prosedur eksport. Ia juga memasuki bisnis property dengan membangun ITC Mangga Dua, apartemen Green View, Mal Ambassador, Bumi Serpong Damai dan Duta Pertiwi. Eka juga memiliki pabrik tekstil dan biscuit. Tahun 2006, Sinar Mas terjun ke industri telekomunikasi dengan meluncurkan Smartfren. Eka menyukai bisnis yang terkait dengan produk massal yang dibutuhkan oleh orang banyak.

Saat wawancara dengan Dahlan Iskan di tahun 1992, Eka mengatakan : “Sekarang sudah tidak mungkin lagi bangkrut. Sudah terlalu besar untuk bisa bangkrut”. Terbukti. Krisis ekonomi tahun 1998 yang membuat Sinar Mas harus menanggung hutang sebesar Rp. 110 trilyun ke 60 bank dari 40 negara tak mampu membangkrutkan bisnisnya. Sinar Mas tetap bersinar.

Meski bergelimang harta, Eka hidup sederhana. “Saya tidak merasa kaya. Selama ini saya merasa hidup sederhana saja. Kalau mau makan ada. Mau nonton video ada. Itu saja”, ujarnya kepada wartawan Matra. Eka mengaku kalah kaya jika dibandingkan dengan Liem Sioe Liong, William Soerjadjaja dan Ciputra (pada masa kejayaan mereka).

Pada tahun 2006, Eka mendirikan Eka Tjipta Foundation. Tujuannya untuk meningkatkan pendidikan dan konservasi lingkungan. Eka memiliki 15 anak dari dua istri. Tanggal 26 Januari 2019, Eka meninggal dunia pada usia 98 tahun di rumahnya, Menteng (Jakarta Pusat).

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*