[Inspirasi Sukses 5] BOB SADINO : Pengusaha Nyentrik

Bob-Sadino
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Nama Bob Sadino tidak masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes. Tapi, Bob Sadino terlanjur menjadi ikon pengusaha nyentrik yang mampu menyihir banyak calon entrepreneur. Celana pendek dan umpatan “goblok”-nya yang nyeleneh itu. Serta pemikirannya yang dianggap out of the box oleh sebagian orang. Diantara beberapa pemikiran Bob yang menggelitik adalah :

“Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satupun yang menjadi kenyataan. Orang goblok cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan”

 “Saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa. Bagaimana saya mau menghitung kalau duit tidak punya. Modal saya hanya kemauan. Saya punya kaki dan tangan. Terus saya melangkah. Saya berbuat”

Pengusaha bernama asli Bambang Mustari Sadino tergolong pujakesuma. Putera Jawa kelahiran Sumatera. Orang tuanya berasal dari Solo. Hijrah dari Jawa ke Sumatera. Lahirlah Bob di Tanjung Karang (Lampung), 9 Maret 1933. Anak bungsu dari lima bersaudara. Setahun kemudian, mereka pindah ke Jakarta. Ayahnya, Sadino, adalah seorang guru ambtenaar (pegawai negeri pemerintah Hindia Belanda).

Kehidupan Bob kecil tidak terlalu susah. Saat anak-anak lain pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, Bob sudah naik sepeda. Ayahnya meninggal saat Bob berusia 19 tahun. Selepas SMA tahun 1953, Bob bekerja di perusahaan FMCG (fast moving consumer goods), Unilever. Sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tapi hanya beberapa bulan saja. Bob tak betah kuliah di sana.

Selanjutnya, Bob bekerja di McLain & Watson Coy (Djakarta Loyd). Perusahaan pelayaran dan ekspedisi. Bob menjelajah Eropa. Amsterdam dan Hamburg menjadi dua kota pelabuhan yang paling lama disinggahi. Sembilan tahun lamanya. Bob menikah dengan Soelami Soejoed, mantan karyawan Bank Indonesia di Amerika.

Bosan bekerja di Eropa, Bob memutuskan pulang ke Jakarta tahun 1967. Ia membawa serta 2 mobil Mercedez Benz. Satu mobil dijual untuk membeli tanah di Kemang (Jakarta Selatan). Satu mobil lagi disewakan.

Belum genap setahun, mobilnya hancur karena kecelakaan. Hati Bob ikut hancur. Mobil itu sumber pendapatannya. Bob tak punya dana untuk memperbaiki mobil itu. Untuk menyambung hidup, Bob beralih profesi menjadi kuli bangunan. Gajinya 100 rupiah per minggu. Hidup pas-pasan. Makan seadanya. Soelami terkadang mencari ikan dan sayur di rawa-rawa untuk bisa makan. “Kalau masih ingin makan nasi esok hari, jangan beli rokok”, pinta istrinya. Bob mengumpulkan puntung rokok dan menyambungnya agar tetap bisa merokok.

Saat hidupnya berada di bawah, Bob terinspirasi untuk beternak ayam dari Sri Mulyono Herlambang, mantan Panglima TNI AU kelahiran Solo yang beralih profesi menjadi peternak ayam di halaman rumahnya di Jakarta Selatan. Herlambang diberhentikan dari jabatannya pada 01 April 1967 di usia 37 tahun. Saat itu, TNI AU dituduh dekat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Beberapa pejabat dicopot pasca melemahnya kekuasaan Presiden Soekarno.

Jika sebelumnya import ayam dari luar negeri baru sebatas hobi, maka pada tahun 1967, Indonesia mulai meng-import bibit ayam untuk tujuan komersial. Saat itu, Direktorat Jendral Peternakan dan Kehewanan sedang menggalakkan program Bimas Ayam. Bimbingan masyarakat yang bertujuan untuk memasyarakatkan ayam ras.

Berbeda dengan ayam kampung, jenis ayam ras atau ayam negeri bisa menghasilkan telur dan daging yang lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat. Kalau ayam kampung baru bisa diambil dagingnya pada umur 8 – 12 bulan, maka ayam broiler (pedaging) sudah bisa dipanen pada usia 5 – 6 minggu. Jika ayam kampung hanya menghasilkan 115 butir telur per tahun, maka ayam layer (petelur) bisa menghasilkan lebih dari 200 butir telur per tahun. Harapannya, program ini mampu meningkatkan pasokan telur dan daging sehingga bisa meningkatkan konsumsi protein hewani masyarakat yang masih sangat rendah kala itu (kisaran 3,5 gram per kapita per hari).

Bob memulai peternakan ayamnya dengan 50 ekor bibit ayam. Ia belajar cara beternak ayam dari majalah peternakan. Jadilah Bob dan istrinya berjualan telur ayam dari rumah ke rumah dengan sepeda. Banyak ekspatriat yang tinggal di sekitar rumahnya di Kemang menjadi pelanggan. Bob pandai merayu mereka agar membeli telurnya. Ia menyelipkan setangkai anggrek di setiap kilo telur. Siapa yang tak suka anggrek ?. Kemampuan Bob dan Soelami berbahasa asing juga memudahkannya berkomunikasi dengan mereka. Lambat laun, penjualan telur-nya semakin banyak. Bob membeli mobil pick up Datsun untuk mengangkut barang dagangannya.

Suatu ketika, di toko-nya, Bob berpromosi. Jika ada yang menemukan telur jelek dalam 1 Kg telur yang dibeli, maka akan diganti 3 Kg telur. Lalu diam-diam, Bob sengaja menyisipkan 3 telur busuk yang dibeli oleh seorang nenek pelanggannya. Tak lama berselang, nenek itu complain. Ia menemukan telur busuk di 1 Kg telur yang telah dibeli. Sesuai janjinya, Bob menggantinya dengan 3 kg telur. Kisah ini tersebar. Ini semacam guarantee. Orang-orang pun berdatangan ke toko Bob.

Tak lama berselang setelah membuka toko retail Kemchicks, Bob mendirikan perusahaan pengolahan daging, Kemfood, pada tahun 1978. Berikutnya pada tahun 1980, Bob mendirikan Kemfarm yang menghasilkan sayur dan buah. Pada tahun 1985, perusahaan Bob rata-rata per bulan mampu menjual 40 – 50 ton daging segar, 60 – 70 ton daging olahan dan 100 ton sayuran segar.

Usaha Bob terus berkembang hingga pada awal tahun 2000-an, karyawannya mencapai 1.600 orang. Namun, industry peternakan dan pengolahan daging yang menjadi core business Bob bukan tanpa saingan. Banyak pemainnya. Japfa Comfeed yang kini menguasai pangsa pasar terbesar berdiri tahun 1983 di Pasuruan. Charoen Pokphand asal Thailand beroperasi mulai 1972. Sierad Produce memulai kiprahnya di tahun 1992.

Bisnis Bob kian meredup. Pada Juni 2008, Kemfood yang beromzet Rp. 3,5 miliar per bulan diakuisisi oleh Super Capital Indonesia. Empat bulan sejak meninggalnya sang istri pada Juli 2014, kondisi kesehatan Bob mulai menurun. Ia merasa kesepian. Bob meninggal dunia pada 19 Januari 2015 (82 tahun) setelah dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah untuk sebuah penyakit yang belum diketahui penyebabnya.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*