[Inspirasi Sukses 6] BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE : Manusia Multidimensional

Bagikan ini ke temanmu :

Al Falah Investment Pte Ltd pimpinan Ilham Habibie akan menyuntikkan dana sebesar Rp. 1,7 trilyun ke Bank Muamalat Indonesia (BMI). Ia akan menjadi pemegang saham mayoritas Bank syariah tertua di Indonesia itu. Belakangan, BMI tengah bergelut menuntaskan pembiayaan bermasalah/Non Performing Financing (bank konvensional menyebutnya Non Performing Loan). Ilham tergerak untuk menyelamatkan BMI karena ayahnya merupakan salah satu pemrakarsa berdirinya bank tersebut.

Ilham Habibie masuk dalam jajaran orang terkaya Indonesia nomor 123 versi Globe Asia 2018 dengan taksiran kekayaan USD 250 juta atau sekitar Rp 3,5 trilyun. Ia menahkodai perusahaan keluarga, Ilthabi Rekatama. Bisnisnya menjamah berbagai bidang. Teknologi informasi, manufaktur pesawat terbang, sumber daya alam, keuangan dan properti. Regio Aviasi Industri, pabrik pesawatnya, telah mengantongi pesanan sebanyak 155 buah pesawat R80 dari 4 maskapai. Satu pesawat dihargai USD 23 juta atau sekitar Rp. 322 miliar. Saat ini, perusahaannya bekerjasama dengan Pollux Properti membangun Mega Superblok senilai Rp. 14 triliun di Batam yang terdiri dari 11 gedung pencakar langit, 6.500 unit apartemen, hotel, rumah sakit, mall dan perkantoran di atas lahan 9 hektar. Siapa Ilham Habibie ?. Anak pertama BJ Habibie.

Kalau ditanya, siapa orang paling pintar di Indonesia ?. Mungkin orang akan teringat Habibie. Apa prestasi Habibie ?. Dia penemu teori tentang keretakan body pesawat. Ceritanya begini. Hingga tahun 60-an, sambungan antara sayap dengan dudukan mesin atau badan pesawat kerap mengalami keretakan. Untuk mengatasi masalah ini, pabrik pesawat menambahkan baja sebagai materialnya. Efeknya, bobot pesawat menjadi lebih berat. Boros bahan bakar. Kejeniusan Habibie “Mr. Crack” mampu memecahkan masalah pelik ini. Ia mencetuskan teori untuk mengetahui posisi serta ukuran keretakan (crack propagation). Sehingga bisa diprediksi, bagian mana saja yang perlu diperkuat materialnya. Penerapan teori ini mampu mengurangi bobot pesawat sebesar 10 %. Habibie juga menemukan material komposit yang bisa mengurangi bobot pesawat hingga 25 %. Pesawat menjadi lebih ringan, tapi tetap aman digunakan. Tentu saja, irit bahan bakar.

Habibie menjadi anggota kehormatan di berbagai organisasi yang berhubungan dengan pesawat di berbagai Negara. Tahun 1983, Ia menjadi anggota kehormatan Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman serta The Royal Aeronauticals Society, Inggris. Pada tahun 1985, Habibie menjadi anggota The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia) dan Academie Nationale de l’Air t de I’Espace (Perancis). Ia juga memperoleh beberapa penghargaan internasional atas prestasinya. Penghargaan Award von Karman dari ICAS diperoleh pada tahun 1992. Dua tahun berikutnya, ia mendapat Edward Warner Award dari ICAO.

Prototype pesawat DO 31 rancangan Habibie dibeli oleh NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat). Hasil temuannya juga dipakai oleh Airbus dan perusahaan lainnya. Habibie mulai kaya dari royalti atas 46 hak paten karyanya. Sekembalinya ke Indonesia, Habibie dan keluarganya mulai merintis berbagai bisnis yang membuatnya semakin berharta.

Habibie lahir di Pare-Pare (Sulawesi Selatan), 25 Juni 1936. Anak keempat dari delapan bersaudara. Ayahnya, Alwi Abdul Jalil Habibie, kelahiran Gorontalo. Kakek dari ayahnya seorang pemuka agama Islam sekaligus pemangku adat. Alwi merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor. Selepas kuliah, ia ditempatkan di Pare-Pare sebagai ahli pertanian (adjunt landbouw consulent). Ibunya, Raden Ajeng Tuti Marini Puspowardojo lahir di Yogyakarta. Lulusan Hugeree Burger School. Keluarga besar dari ibunya banyak yang berprofesi sebagai dokter.

Masa kecil Habibie biasa saja. Ia senang membaca buku. Kakaknya harus membujuk Rudy (nama panggilan Habibie) agar mau keluar rumah untuk bergaul dengan teman sebayanya. “Saya orang yang suka menyendiri. Jadi, tidak ambil pusing. Saya tidak merasa lebih pintar. Tapi juga tidak merasa lebih bodoh. Tidak pernah merasa iri dan juga tidak pernah mengganggu. I’m a sweet boy. Not a problem maker child”, ujar Habibie. Ia gemar berkuda. Ayahnya memiliki beberapa ekor kuda balap.

Pada 1948, keluarga Habibie pindah ke Ujung Pandang (Makassar) mengikuti Alwi yang kala itu dipromosikan menjadi Kepala Pertanian Indonesia Timur. Tempat tinggal mereka di Jalan Maricaya (Klapperland), berseberangan dengan markas pasukan Brigade Mataram pimpinan Overstee Soeharto (kelak menjadi Presiden RI). Soeharto ditugaskan di sana untuk menumpas pemberontakan Andi Azis. Rumah Alwi sering dikunjungi tentara. Mereka yang berasal dari Jawa merasa nyaman ngobrol dalam bahasa Jawa dengan Tuti. Karena keakrabannya itu, salah satu tentara, Kapten Subono Mantovani, kelak menjadi suami Titi (putri tertua Alwi).

3 September 1950, Alwi terkena serangan jantung saat sujud sholat Isya. Anak-anaknya yang sholat di belakang curiga mendapati Alwi tak kunjung bangun dari sujud. Habibie menggoyang-goyangkan kaki ayahnya. Tak juga bangun. Keluarga panik. Titi berlari meminta tolong ke markas Brigade Mataram. Overstee Soeharto dan Dokter Tek Irsan bergegas datang. Tapi nyawa Alwi sudah tak tertolong lagi. Overstee Soeharto menutup kelopak mata Alwi. Di depan jasad Alwi, Tuti bersumpah : “Demi Allah, seluruh anak-anak akan kusekolahkan setinggi-tingginya dengan biaya dari keringatku sendiri”.

Tuti memutuskan untuk mengirim Habibie kecil (anak laki-laki tertua) ke Jawa. Demi memperoleh pendidikan yang lebih baik. Ia dititipkan di rumah teman baik ayahnya di Bandung. Namanya Soejoed. Seorang inspektur pertanian. Sebelum meninggal, Alwi pernah berpesan kepada Titi untuk membawa ibu dan adik-adiknya ke Jawa jika terjadi sesuatu. Titi, setelah menikah dengan Subono, tinggal di Yogyakarta bersama suami dan 3 adiknya.

Habibie melewati masa SMP dan SMA di Bandung. Saat SMA, prestasi Habibie di ilmu eksakta mulai terlihat. Kemudian, Habibie melanjutkan kuliah ke Intitut Teknologi Bandung. Bersamaan dengan itu, ibundanya hijrah dari Ujung Pandang ke Bandung. Tuti menjual asetnya di Ujung Pandang untuk membeli asset di Bandung. Sebuah rumah tinggal, 1 rumah kost serta sebuah mobil.

Suatu hari, Habibie bertemu teman kuliahnya, Laheru, yang akan melanjutkan kuliah ke Jerman. Habibie tak mau ketinggalan. Meski baru 6 bulan menjadi mahasiswa ITB, ia juga ingin kuliah ke Jerman. Tanpa banyak pertimbangan, Tuti memenuhi sumpahnya. Ia membiayai sendiri kuliah Habibie di Jerman. Selain memiliki usaha rumah kost, Tuti juga menjalankan usaha catering dan mendirikan NV Srikandi, perusahaan eksport import.

“Saya memilih BJ Habibie karena anak itu kelihatan lebih serius dalam hal belajar. Sampai-sampai di balik pintu pun, ia bisa membaca buku dengan asyiknya. Sebenarnya kasihan adiknya yang juga minta disekolahkan di luar negeri. Tetapi bagaimana, waktu itu untuk BJ Habibie saja, saya harus melepas seluruh tabungan. Pokoknya, habis-habisan. Saya jual perhiasan. Sebagai janda yang tak memiliki koneksi, terpaksa saya harus berjuang sendiri demi anak”, cerita Tuti.

Tahun 1955, Habibie berangkat ke Jerman menggunakan pesawat. Sementara, calon mahasiswa penerima beasiswa berangkat menggunakan kapal laut. Habibie mengambil jurusan konstruksi pesawat di Rheinisch Westfalische Technische Hochschule (RWTH) Aachen University, Jerman. Habibie juga aktif berorganisasi. Ia ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Aachen. Semasa kuliah, Habibie sempat mengalami sakit parah. Virus influenza masuk ke jantung. Tuti mesti terbang ke Jerman untuk menengok anaknya yang sedang kritis.

Tahun 1962, Habibie pulang pertama kali ke Indonesia setelah 7 tahun tinggal di Jerman. Kepulangannya itu telah diatur oleh ibu dan teman-temannya. Mereka memiliki sebuah misi, yaitu memisahkan Habibie dengan pacarnya, Ilona Lanovska (perempuan Polandia yang telah meracuni pikiran Habibie untuk tidak kembali ke Indonesia setelah lulus kuliah). Habibie dipertemukan dengan adik kelasnya di SMA yang juga tetangganya di Bandung. Hasri Ainun Besari. Kelahiran Semarang, 11 Agustus 1937. Lulusan kedokteran Universitas Indonesia yang menjadi dokter di RS Cipto Mangunkusumo. Cinta lama bersemi kembali. Cuti 2 bulan diperpanjang menjadi 3 bulan. Keduanya menikah tanggal 12 Mei 1962.

Ainun diboyong ke Jerman. Menyewa pavilion kecil. Hidup sederhana di Jerman dengan gaji Habibie saat itu, 800 DM atau sekitar Rp. 180.000 sebulan. Habibie bekerja sebagai asisten peneliti dan bekerja sampingan di pabrik kereta api. Pulang pukul 23.00. Malamnya, ia menyelesaikan desertasi S3. Tahun 1965, Habibie meraih gelar doctor ingenieur dengan predikat summa cum laude. Angka rata-rata 10. Ainun juga sempat bekerja sebagai dokter di Jerman untuk membantu perekonomian keluarga. Berikutnya, Habibie berkarir di pabrik pesawat hingga mencapai posisi Wakil Presiden Direktur Teknologi di Messerschmitt Bolkow Blohm (MBB).

Pada tahun 1974, BJ Habibie pulang ke Indonesia atas permintaan pemerintah melalui Ibnu Sutowo, direktur Pertamina. Overstee – yang dulu menutup kelopak mata Alwi saat meninggal – telah menjadi Presiden RI. “Habibie, saya tahu dan mengenal kamu. Sekarang kamu harus membantu saya untuk mensukseskan pembangunan. Yang penting bagi saya adalah teknologi, coba kamu cari jalan”, kata Presiden Soeharto. Habibie diangkat sebagai penasehat presiden.

Tahun 1978, Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia. Pembentukan organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Malang, 7 Desember 1990 mendaulatnya sebagai ketua. Tahun 1998, Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden. Jabatan itu hanya diembannya selama 2 bulan. Mei 1998, ia harus menggantikan jabatan sebagai Presiden setelah Soeharto mengundurkan diri. Satu setengah tahun ia menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Setelah tak lagi menjadi presiden, ia banyak menghabiskan waktunya di Jerman. Pengabdiannya kepada bangsa disalurkan melalui Yayasan The Habibie Center serta Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orbit Hasri Ainun Habibie.

Habibie dijuluki manusia multidimensional. Cendekiawan. Hartawan. Dermawan. Negarawan. Dan juga, romantis. Sejak bersatu dengan Ainun, batin Habibie tak bisa berpisah dengannya. Begitu pula sebaliknya. Ainun meninggal dunia tahun 2010 setelah divonis menderita kanker ovarium. Dua bulan lamanya Habibie depresi. Menangis. Berteriak memanggil. Dalam sebuah wawancara di televisi, Habibie pernah menyatakan bahwa ia tak takut mati. Sebab ia yakin, Ainun akan menemuinya. Di alam sana. Habibie memenuhi pernyataannya itu. Ia meninggal dunia pada 11 September 2019 (83 tahun) setelah dirawat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Wer den Plenning nicht ehrt ist aucht des Thaler nich wert. Barang siapa yang tidak menghargai sesuatu yang kecil (Plenning : uang koin pecahan kecil di Jerman), maka ia tidak pantas mendapat sesuatu yang besar (Thaler : uang koin setara 25,984 g perak, lebih besar dari Plenning). Pepatah Jerman yang sering diucapkan Habibie.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*