[Inspirasi Sukses 7] BUDI HARTONO & MICHAEL HARTONO : Raja Kretek

Budi-Hartono
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia versi Forbes (2018) dengan taksiran kekayaan sebesar USD 35 miliar atau sekitar Rp. 490 trilyun. Robert Budi Hartono lahir di Semarang, 28 April 1940. Kakaknya, Michael Bambang Hartono lahir di Semarang, 2 Oktober 1939. Keduanya merupakan anak dari Oei Wie Gwan.

Oei Wie Gwan lahir di Lasem, Rembang (Jawa Tengah) sekitar tahun 1903. Ia merintis produksi mercon sejak tahun 1929. Mercon merk Leeuw (Leo) buatannya cukup terkenal di pulau Jawa pada jamannya. Malang, pabrik mercon-nya meledak tahun 1938. 14 orang tewas, 13 orang luka berat dan 14 orang luka ringan akibat peristiwa itu. Pemerintah lantas melarang produksi mercon. Oei Wie Gwan terpaksa menutup pabrik mercon-nya dan mencoba peruntungan di bisnis lain yang tak jauh dari urusan bakar-bakar-an, yaitu : rokok.

Pada masa itu, industry rokok sedang berkembang. Banyak pabrik rokok bermunculan di berbagai kota, setelah Nitisemito (dijuluki Raja Kretek) meninggal dunia. Aset perusahaan-nya dirampas oleh Jepang yang kala itu baru saja menduduki wilayah Hindia Belanda. Dulu, rokok kretek “Tjap Bal Tiga” buatan Nitisemito laris terjual di Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga negeri Belanda. Tahun 1938, pabrik rokoknya menaungi 10.000 karyawan dengan kapasitas produksi 10 juta batang per hari. Salah satu promosinya yang unik adalah dengan cara menebarkan pamflet menggunakan pesawat Fokker di langit Jakarta dan Bandung.

Rokok kretek dari Kudus berbeda dengan rokok putih dari Eropa. Rokok putih terbuat dari tembakau tanpa tambahan cengkeh. Rokok kretek terbuat dari tembakau dan cengkeh. Rokok kretek diracik pertama kali oleh H. Djamhari di desa Langgar Dalem, Kudus (Jawa Tengah) sekitar tahun 1880. Konon, penyakit asma-nya sembuh setelah menghisap rokok yang dibuatnya dari campuran daun tembakau dan biji cengkeh. Rokok tersebut mengeluarkan bunyi “kretek… kretek” saat disulut dengan api. Kemudian, orang mengenalnya sebagai Rokok Kretek.

Oei Wie Gwan membeli pabrik rokok kecil yang nyaris bangkrut, NV. Moeroep, milik Moch. Sirod di Kudus (Jawa Tengah). Bungkus rokoknya bergambar jarum Gramophone (alat pemutar musik jaman dulu). Tanggal 21 April 1951 menjadi tonggak berdirinya Djarum. Pada saat itu, jumlah karyawannya hanya 10 orang, dibantu dengan peralatan sederhana.

Salah satu mitra bisnis Oei Wie Gwan adalah Liem Sioe Liong (pemasok cengkeh dan logistik tentara). Tak heran jika kemudian Djarum dipercaya sebagai pemasok rokok untuk Dinas Perbekalan Angkatan Darat sekitar tahun 1955. Penjualan rokok-nya meningkat. Oei Wie Gwan menambah dua pabrik untuk memenuhi permintaan pasar. Namun, penjualan Djarum merosot tajam pada tahun 1960. Dari 544 juta batang pada tahun 1959, menjadi hanya 430 juta batang. Djarum terpaksa merumahkan 25 % karyawannya. Persaingan usaha rokok semakin ketat dengan tumbuhnya perusahaan rokok lain seperti Gudang Garam, Djie Sam Soe, Bentoel dan Wismilak.

5 September 1963, pada saat Oei Wie Gwan dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta, pabriknya di Jalan Bitingan Baru 28 (Kudus) ludes terbakar. Keluarga merahasiakan kabar itu. Hingga Oei Wie Gwan meninggal sebulan kemudian, ia tak tahu kalau pabriknya kebakaran. Sepeninggal Oei Wie Gwan, kedua putranya yang masih muda melanjutkan estafet pengelolaan Djarum. Kuliah mereka di Universitas Diponegoro terpaksa ditinggalkan.

Pada 1964, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga rokok putih dan rokok kretek sebesar sepuluh kali lipat. Untung tak dapat ditolak. Konsumen lebih memilih rokok kretek. Djarum pun untung besar. Djarum lebih siap dibanding perusahaan lain karena memiliki stok persediaan bahan baku tembakau yang cukup banyak. Produksinya terus meningkat hingga 3 miliar batang pada tahun 1968. Pemasaran yang awalnya hanya berkutat di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta diperluas ke Jawa Timur, Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi.

Pada tahun 1972, Djarum membentuk departemen Research & Development untuk pengembangan produk. Salah satu hasilnya adalah launching produk baru yang fenomenal, yaitu rokok kretek filter Djarum Super tahun 1975. Tahun 1974, Budi Hartono mendirikan Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum. Beberapa atlit binaannya sukses menorehkan prestasi bertaraf internasional, seperti : Liem Swie King, Alan Budi Kusuma, Ardy B. Wiranata dan Haryanto Arbi.

Tahun 1976, Djarum melakukan modernisasi pabrik. Mesin produksi rokok kretek didatangkan dari Inggris dan Belanda. Pada tahun 1988, Djarum menjadi pembayar cukai terbesar dengan memproduksi 35,2 miliar batang rokok dalam setahun. Kondisi ini berubah pada kurun 1991 hingga 1995. Djarum ditinggalkan konsumen karena buruknya kualitas rokok yang dihasilkan. Pembenahan manajemen, proses produksi hingga pemasaran lantas dilakukan untuk bisa keluar dari krisis. Tahun 2018, Djarum membayar cukai rokok ke pemerintah sebesar Rp. 25 triliun.

Sadar bahwa pangsa pasar rokok relative stagnan dan minim inovasi, sementara cukai terus naik dan aturan semakin ketat, Djarum melakukan diversifikasi usaha. Pada 2002, Djarum membeli 51 % saham BCA melalui Farindo Investment. Porsi kepemilikan Djarum atas BCA terus bertambah hingga sekitar 55 % melalui Dwimuria Investasi Andalan.

Dulu, BCA didirikan oleh Liem Sioe Liong. Sebagian sahamnya dimiliki oleh anak-anak Soeharto. Bank itu sempat kolaps setelah nasabah-nya rame-rame menarik dana-nya (rush) yang tersimpan di BCA saat krisis ekonomi 1998. Di kemudian hari, kinerja bagus BCA mengantarkannya menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Konon, lebih dari dua pertiga kekayaan keluarga Hartono berasal dari kepemilikan mereka atas BCA. Budi Hartono juga merupakan besan dari William Katuari (pendiri Wings Group, orang terkaya Indonesia nomor 23 versi Forbes 2018 dengan taksiran kekayaan mencapai USD 1,4 miliar).

Tak hanya mendiversifikasi usahanya ke perbankan lewat BCA, Djarum juga merambah ke perkebunan sawit serta hutan kayu industry (pohon yang bisa dipanen pada umur 7 tahun untuk pembuatan pulp/bubur kertas) di Kalimantan. Djarum ikut terjun ke bisnis elektronik melalui Polytron. Djarum juga mencoba peruntungan di properti dan perhotelan, diantaranya Grand Indonesia dan WTC Mangga Dua. Seiring dengan perkembangan jaman, generasi ketiga Djarum berinvestasi digital di Blibli.com, Kaskus.com, Tiket.com, Gojek, Cermati.com hingga Kumparan.com.

Meski kaya raya, Hartono bersaudara tetap low profile. Mereka jarang muncul ke publik. Kendaraan dan gadget yang dipakai-nya tak semewah artis-artis beken. Sebagian harta kekayaan Hartono disumbangkan melalui Djarum Foundation. Tujuannya untuk memajukan Indonesia dengan cara meningkatkan sumber daya manusia dan mempertahahankan kelestarian sumber daya alam.

Hartono bersaudara tak menyukai Golf yang identik dengan olahraga orang kaya. Budi memilih treadmill. Bambang menyukai bridge. Bahkan ia menjadi atlet tertua Indonesia dan berhasil menggondol medali perunggu supermixed bridge di Asian Games 2018. Sarapannya dua butir telur dan pisang. Menurutnya, bermain bridge itu mirip dengan pengambilan keputusan dalam dunia usaha. Harus berani mengambil resiko.

Kunci suksesnya menurut Budi adalah trust. Menjaga kepercayaan. Sekali berbuat khianat, selanjutnya orang tak mau bekerjasama. Ibarat sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.

Agak unik memang. Penduduk Indonesia yang mayoritas muslim tentunya tahu bahwa hukum merokok itu selain mubah (boleh) juga bisa makruh (sebaiknya ditinggalkan) atau bahkan haram (tidak boleh dikerjakan). Iklan “merokok membunuhmu” dengan alasan kesehatan juga jelas terpampang. Tapi, rokok telah menjadi candu. Sehingga keluarga terkaya Indonesia bisa mengawali kejayaannya dari bisnis rokok. Jika bos rokok Djarum menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia, maka bos rokok Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo, yang bermarkas di Kediri menempati peringkat kedua versi Forbes 2018 dengan kekayaan sekitar USD 9,2 miliar.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*