[Inspirasi Sukses 1] OEI TIONG HAM : Tak Ada Pesta Yang Tak Berakhir

Foto Oei Tiong Ham
Bagikan ini ke temanmu :

Tak banyak orang tahu bahwa di Semarang pernah tinggal seseorang yang dijuluki orang terkaya Asia Tenggara. Bisnisnya menggurita hingga mancanegara. Kantornya tersebar di Singapura, Malaysia, Thailand, India, China, Brazil, Inggris, Belanda, Swiss hingga Amerika. Dia-lah, Oei Tiong Ham. Lahir pada 19 November 1866 di Semarang.

Anda pasti penasaran, berapa sih harta kekayaannya ?. Sulit untuk dihitung. Tapi, pada saat meninggal, Oei Tiong Ham dikabarkan mewariskan harta tak kurang dari 200 juta gulden (ƒ/Dutch guilder). Mari berhitung. Jika pada masa itu, Belanda menetapkan 1 gulden setara dengan 604,8 mg emas, maka 200 juta gulden akan setara dengan 120,96 ton emas atau sekitar Rp. 80 trilyun. Sebuah angka yang membuat ahli warisnya bisa hidup mewah. Oei Tjong Tjay (putra bungsu Oei Tiong Ham) menceritakan bahwa mobil Packard (mobil mewah produksi Amerika) saat itu harganya cuma 2.000 gulden.

Memang, jumlah tersebut tak sebanyak kekayaan orang terkaya Indonesia saat ini, yaitu Hartono bersaudara (pemilik rokok Djarum, BCA, Polytron), sebesar USD 35 miliar atau sekitar Rp. 490 trilyun. Tapi, tentu sulit membandingkan kekayaan Oei Tiong Ham dengan kekayaan Hartono, karena keduanya hidup di jaman dan kondisi yang berbeda.

Oei Tiong Ham bermukim di kawasan Gergaji, Semarang. Halaman rumahnya menempati lahan tak kurang dari 81 hektar dengan 50 orang tukang kebun. Anda pasti penasaran lagi, bagaimana kondisi rumahnya saat ini ?. Rumah itu telah beralih fungsi. Pernah menjadi balai prajurit hingga menjadi lembaga pendidikan. Demikian pula dengan halaman rumahnya yang luas itu. Kini, di lahan itu telah berdiri Kantor Gubernur, Pengadilan Tinggi, Kejaksaan Tinggi, Perguruan Tinggi (UNDIP) hingga kawasan Simpang Lima.

Semua telah berubah drastis hanya dalam hitungan puluhan tahun saja. Maka jangan heran kalau kita seolah kehilangan jejak untuk menelusuri kemegahan kerajaan besar di Nusantara seperti Sriwijaya, Mataram Kuno dan Majapahit yang terpisah waktu berabad-abad lampau. Sungguh Tuhan telah memenuhi janji-Nya. Bahwa kejayaan dan kehancuran dipergilirkan. Agar manusia bisa mengambil pelajaran.

Saya membuat tulisan ini bukan untuk mengupas tentang kekayaan keluarga Oei semata. Tapi saya ingin menulis tentang pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan keluarga Oei. Tidak semua orang bisa kaya seperti Oei, tapi semua orang bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup Oei.

Oei Tiong Ham memiliki 18 istri dan 42 anak, meskipun yang “diakui” hanya 8 istri dan 26 anak (13 perempuan dan 13 laki-laki). Saking rumitnya, salah satu anak Oei Tiong Ham dari istri ketujuh menikah dengan cucu Oei Tiong Ham dari istri ketiga.

Oei Tiong Ham merupakan putra sulung dari Oei Tjie Sien. Tjie Sien berasal dari Tong-an, distrik Ch’uanchou, provinsi Fukien, China. Ia menjadi buronan pemerintahan Manchu karena terlibat pemberontakan Taiping. Pelarian Tjie Sien membawanya ke Semarang, salah satu kota perdagangan terbesar di Pulau Jawa pada saat itu. Semarang dianggap lebih ramai dibanding Batavia karena distribusi perdagangannya yang tersebar hingga pelosok. Sedangkan Surabaya belum terlalu besar.

Tjie Sien datang pada tahun 1858. Tanpa modal dan tak bisa berbahasa Jawa. Ia mulai bekerja di pelabuhan. Menghela kapal Jung yang kandas di lumpur. Tjie Sien tinggal di rumah kontrakan murah. Di kemudian hari, pemilik kontrakan menganggap wajah Tjie Sien bisa mendatangkan rejeki. Ia menikahkan Tjie Sien dengan putrinya. Tanpa pesta.

Setelah berkeluarga, Tjie Sien memikul barang pecah belah dari kota dan menjajakannya ke kampung-kampung. Pulangnya, Tjie Sien membawa beras dari kampung ke kota. Demikian seterusnya hingga ia menjadi makmur karena berdagang beras.

Pada tahun 1863, Tjie Sien mendirikan NV Handel Maatschappij Kian Gwan dengan modal 3 juta gulden. Walau tinggal di Jawa bertahun-tahun, Tjie Sien tetaplah seorang singkeh. Ia makan masakan Hokkian. Ia berbicara dengan bahasa Hokkian. Berpakaian ala Tionghoa. Semua karyawannya orang Tionghoa yang berhitung dengan sempoa. Tjie Sien memiliki 3 orang istri. Di masa tuanya, Ia tinggal di Simongan bersama 2 istri mudanya. Rumahnya berdiri di tanah seluas 2,75 hektar. Tjie Sien meninggal dengan mewariskan harta sekitar 10 juta gulden.

Saat Tjie Sien masih hidup, Tiong Ham diberi tugas untuk menagih uang sewa rumah kontrakan. Suatu ketika, Tiong Ham menghabiskan 10 ribu gulden uang hasil tagihan kontrakan di meja judi. Ia menyesal. Tiong Ham takut pulang dan bermaksud menceburkan diri dari jembatan. Tapi kekasihnya, seorang janda, melarangnya. Kekasih itu memberi pinjaman 10 ribu gulden agar Tiong Ham berani kembali ke rumah. Berbeda dengan ayahnya yang hidup hemat, Tiong Ham menyukai kemewahan.

Sekitar umur 24 tahun, Tiong Ham memasuki bisnis candu (opium). Di saat sebagian orang merugi di bisnis candu, Tiong Ham justru memperoleh keuntungan dan dipercaya oleh Pemerintah Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia di masa kolonial) sebagai pachter madat. Tiong Ham mendapat ijin untuk memperdagangkan candu di Semarang, Yogyakarta, Surakarta dan Surabaya. Selama 13 tahun menjalankan bisnis candu (sebelum dihentikan ijin peredarannya oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1904), Tiong Ham telah mengantongi keuntungan sekitar 18 juta gulden.

Tak lama setelah memulai bisnis candu di usia belia, Tiong Ham mendapat suntikan modal 300 ribu gulden dari seorang konsul Jerman yang menempati rumah kontrakan ayahnya. Naluri bisnis Tiong Ham memang jeli. Pada usia 25 tahun, ia membeli pabrik gula yang sedang merugi. Tak perlu menunggu lama. Bisnis gulanya maju. Hingga Tiong Ham berhasil mengakuisisi 5 pabrik gula di bawah Algemeene Maatschappij tot Exploitatie der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken sebelum usianya genap 30 tahun. Tiong Ham dijuluki raja gula (sugar baron) dari Semarang. Saat itu, mayoritas pasokan gula di dunia berasal dari pabrik-pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Imperium bisnis Tiong Ham makin membesar. Bisnisnya merambah ke kopra. Lalu, ia melakukan ekspansi lagi dengan mengakuisisi pabrik tapioka yang merugi. Bak tangan emas Midas. Di tangan Tiong Ham, pabrik yang merugi itu berubah menjadi menguntungkan. Tiong Ham mengekspor 1,5 juta ton tapioka. Grup usahanya dikenal dengan nama : Oei Tiong Ham Concern (OTHC).

Salah satu kunci keberhasilan Tiong Ham adalah mempekerjakan karyawan yang kompeten. Ia tak segan merekrut orang non Tionghoa menjadi kepercayaannya. Banyak pekerjanya berasal dari Eropa. Bahkan sopirnya, Powell, dari Inggris. Guru les anak-anaknya, Elizabeth Jones, dari Inggris. Pengasuhnya dari Perancis. Pengacaranya, Baron van Heeckeren, dari Belanda. Juru bahasanya, Pietro, dari Belanda. Tiong Ham melakukan modernisasi mesin-mesin pabriknya lewat bantuan konsul Jerman yang pernah mengontrak di rumah ayahnya. Meski tak bisa berbahasa asing, Ia memiliki kantor perwakilan di luar negeri seperti Amsterdam, London dan New York.

Pada usia 35 tahun, Tiong Ham sudah kaya raya dan mendapat gelar kehormatan Majoor der Chinezen (pemimpin administratif Tionghoa di Semarang). Berbeda dengan Tjie Sien – ayahnya – yang berorientasi ke China, Tiong Ham berorientasi ke Eropa, termasuk gaya pakaiannya. Dalam menjalankan bisnisnya, Tiong Ham tidak mau disogok. Tapi ia gemar menyogok orang-orang yang bisa memperlancar bisnisnya. Mulai dari pejabat pemerintah hingga kelompok bandit, agar tidak mengganggu bisnisnya.

Meski banyak karyawannya yang berpendidikan tinggi lulusan Eropa, Tiong Ham justru menempatkan orang tak berpendidikan tinggi sebagai pemimpin perusahaan. Ia berkeyakinan bahwa bisnis membutuhkan mental judi (gambling) yang biasanya tidak dimiliki oleh orang berpendidikan tinggi yang cenderung mengedepankan rasio. Karenanya ia memilih Tan Tek Peng yang tidak pernah mengenyam perguruan tinggi sebagai pucuk pimpinan Kian Gwan.

Konsep ini bertolak belakang dengan praktek perusahaan zaibatsu (konglomerat) Jepang pada saat itu. Mereka menempatkan orang berpendidikan tinggi sebagai pemimpin perusahaan agar semua keputusan bisa diambil secara rasional dan mengikuti perkembangan jaman. Zaibatsu Jepang memisahkan antara kepemilikan dengan manajemen perusahaan, sehingga tak banyak keluarga pemilik yang berada di posisi manajemen. Mereka memiliki chairman yang menangani urusan dengan pihak luar (diplomasi, mencari relasi bisnis baru dan berurusan dengan pemerintahan) dan presiden director yang hanya menjalankan operasional perusahaan.

Oei Tiong Ham meninggal pada tahun 1924 (usia 58 tahun). Jenazahnya dikebumikan di Semarang, dekat makam ayahnya (kemudian pada tahun 1980-an, keluarga memindahkannya ke Singapura). Sepeninggal Oei Tiong Ham, konglomerasi Kian Gwan dinahkodai oleh Oei Tjong Hauw, putra tertua dari istri kelima. Group usaha Oei Tiong Ham Concern (OTHC) memasuki fase generasi kedua.

Tjong Hauw hanya mengenyam pendidikan menengah di Semarang. Bukan lulusan perguruan tinggi Eropa. Ia tak paham teori pengembangan organisasi, efisiensi perusahaan ataupun holding company yang sering disebut sebagai kunci sukses suatu bisnis. Tapi ia sukses mempertahankan kejayaan OTHC di masa sulit.

Meski sebagian pabrik gulanya hancur akibat perang serta mulai surutnya prospek bisnis gula, Ia berhasil mendiversifikasi usahanya di bidang karet. Tjong Hauw pantang berhutang ke Bank. Ia juga luwes menjalin hubungan dengan pemerintah yang berkuasa. Mulai dari Hindia Belanda, Jepang hingga kaum nasionalis.Tjong Hauw menjadi ketua partai Chung Hwa Hui pada 1928 dan menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1945. Tjong Hauw meninggal tahun 1950 di usia muda, 46 tahun, karena serangan jantung.

Tjong Tjay didaulat untuk meneruskan bisnis keluarga. Ia putra terbungsu Oei Tiong Ham dari istri ketujuh. Usianya masih belia. 27 tahun. Ia lahir di Singapura pada 21 Juni 1924, sekitar 3 minggu setelah Oei Tiong Ham wafat. Sebenarnya Tiong Ham ingin mengajak anaknya tinggal di China. Tapi keinginan itu tidak terealisasi. Sepeninggal Tiong Ham, Lucy Ho membesarkan anaknya di Eropa untuk memastikan putranya mendapat pendidikan terbaik. Semula ia tinggal di Belanda, lalu pindah ke Swiss. Tjong Tjay mengenyam pendidikan tinggi di Amerika.

Tjong Tjay segera mengambil keputusan strategis untuk menyelamatkan perusahaan yang, menurutnya, sedang krisis. Ia memberhentikan Tan Tek Peng, orang kepercayaan Tiong Ham (ayah) dan Tjong Hauw (kakak berlainan ibu). Tan Tek Peng, selain tak berpendidikan tinggi juga dinilainya terlalu tua (55 tahun) untuk memperbarui perusahaannya. Ia mengangkat Tjoa Soe Tjong menggantikan Tan Tek Peng. Soe Tjong adalah putra pengusaha beras dari Surabaya. Lulusan ekonomi dari Rotterdam.

Saat pendudukan Jepang, sebagian orang kepercayaan perusahaan memilih tinggal di luar negeri. Salah satunya adalah Dr. Djie Ting Liat, kepala keuangan, yang tinggal di Belanda. Menurut Tjong Tjay, hal ini membuat operasional perusahaan tidak berjalan dengan baik karena kurangnya koordinasi dalam pengambilan keputusan. Selain itu, ia merasa kesulitan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.

Tjong Tjay memutuskan untuk berhutang ke bank. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pendahulunya. Ia menganggap konyol jika harus menyimpan uang dalam jumlah besar hanya untuk membeli komoditi dari petani saat musim panen tiba, sementara nilai uang semakin menurun karena inflasi. Dengan meminjam uang dari Bank, ia berharap OTHC bisa mengembangkan potensi bisnisnya sehingga bisa menghasilkan uang yang lebih banyak.

Dulu, sebelum meninggal, Tiong Ham ingin menjadikan OTHC sebagai holding company, dimana 9 anak laki-lakinya yang terpilih (cakap dalam berbisnis) akan menjalankan operasional perusahaan dan membagi keuntungan perusahaan (deviden) kepada 17 saudaranya yang lain. Tapi, keingian itu tidak direalisasikan oleh penerusnya. Semua anggota keluarga yang ingin mendapatkan uang harus mau bekerja di perusahaan. Akibatnya, perusahaan menjadi tidak efisien dan sulit untuk mengambil keputusan karena konflik kepentingan.

Tjong Tjay yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan tidak mengenal budaya & politik di Indonesia diduga menjadi penyebab OTHC tidak mampu menjalin hubungan baik dengan pihak luar. Tjong Tjay tidak mendukung Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) yang didirikan oleh orang Tionghoa keturunan, sehingga OTHC kurang mendapat dukungan dari orang Tionghoa keturunan. Tjong Tjay juga tidak mau membebaskan beberapa karyawannya (keturunan Tionghoa) yang diculik oleh orang-orang anti China.

Tjong Tjay disinyalir mendanai pihak oposisi, yaitu Ventje Sumual yang di kemudian hari memimpin pemberontakan di Sulawesi. Tjong Tjay juga diduga mendanai Partai Sosialis Indonesia yang kelak dikaitkan dengan pemberontakan PRRI/Permesta. Tjong Tjay tidak mendukung Masyumi yang berorientasi Islam. Tidak juga dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang nasionalis.

Di sisi lain, OTHC dicap sebagai pihak yang pro Belanda karena menjalin bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar Belanda (Jacobson, Geo Wehry, Borsumij, Internatio, Lindeteves). Saat terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1957, Tjong Tjay sempat terpikir untuk menempatkan pribumi sebagai petinggi OTHC. Tapi keinginan itu sulit terlaksana karena sebagian besar professional pribumi pada saat itu tidak mau dicap pro Belanda.

Suatu ketika, sebagian uang simpanan OTHC di Bank Indonesia cabang Amsterdam dibekukan oleh pemerintah Indonesia pada 1958. Tjong Tjay mengambil jalur hukum.  Meskipun Tjong Tjay menang di pengadilan Belanda, ia dinilai tidak kooperatif dengan pemerintahan baru Indonesia dibawah Sukarno.

Beberapa peristiwa lain yang terjadi juga menguatkan sentimen itu. Tjong Tjay kurang senang saat Sukarno meminta sumbangan 100 ribu rupiah untuk pembangunan Gelanggang Olahraga. Ia juga setengah hati saat diminta Sukarno membantu biaya perjalanan haji para pejabat.

Tjong Tjay pernah dipenjara gara-gara melakukan penimbunan komoditi pangan saat terjadi krisis ekonomi. Sebagian petinggi OTHC juga dipenjara karena tuduhan penyelundupan karet serta mengimpor beras berkualitas rendah. Rentetan pengalaman buruk ini membuat para pemilik OTHC khawatir akan keselamatannya di Indonesia dan memilih tinggal di luar negeri sejak 1957, termasuk Tjong Tjay. Padahal, pada saat itu mereka diharuskan menghadiri persidangan di Semarang dengan tuntutan tindak kejahatan ekonomi.

Sayangnya lagi, selain tak bermukim di Indonesia, semua pewaris sah OTHC yang masih hidup tidak memiliki kewarganegaraan Indonesia. Sehingga Pengadilan Ekonomi memutuskan bahwa mereka adalah orang tak dikenal yang assetnya bisa diambil alih oleh pemerintah pada 10 Juli 1961.

Sebelum assetnya diambil alih oleh pemerintah, OTHC sempat mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Di saat jeda itu, OTHC berusaha memproses balik nama sekitar 800 rumah miliknya ke dalam 30 yayasan. Tapi, ketika proses balik nama baru berjalan sekitar 7 %, Mahkamah Agung menguatkan keputusan Pengadilan Ekonomi Semarang pada 27 April 1963. Pemerintah mengambil alih rumah serta perusahaan dagang Kian Gwan, 3 pabrik gula, perkebunan karet, pabrik biskuit dan Oei Tiong Ham Trust (Bank) di Indonesia. Hanya asset OTHC di luar negeri yang tidak diambil alih oleh pemerintah. Akibat pengambilalihan itu, semua kantor cabang di luar negeri merugi. Sebab, semua bisnis mereka bergantung pada OTHC di Indonesia.

Oei Hui Lan (putri kedua Oei Tiong Ham dari istri pertama) mengisahkan perjalanan hidupnya dalam buku No Feast Last Forever (Tak Ada Pesta Yang Tak Berakhir). Sedari kecil, ia terbiasa hidup mewah. Pada umur 16 tahun, ia tinggal di Inggris mengikuti ibunya, Bing Nio, yang sudah jenuh hidup di Semarang. Ibunya tidak betah jika harus hidup bersama Oei Tiong Ham yang memiliki 17 istri muda. Terlebih 2 anak Bing Nio semuanya perempuan (Tjong Lan dan Hui Lan) yang tidak mungkin mewarisi usaha ayahnya.

Bing Nio memilih tinggal bersama putri dan menantunya di London. Menantu pertama ingin menjadi dokter. Tapi ia justru sibuk menjadi majordomo (pengurus rumah tangga) yang berbelanja, membayar tagihan hingga menyetor laporan pengeluaran rumah tangga ke kantor Oei Tiong Ham di Mincing Lane. Menantu kedua, Wellington Koo, seorang diplomat. Gajinya tak seberapa, USD 600 per bulan. Tapi bisa hidup mewah dan membeli istana di Tiongkok seluas 4,2 hektar dengan 200 kamar. Lengkap dengan 40 pelayan. Dari mana lagi uangnya kalau bukan dari sang ayah mertua, Oei Tiong Ham.

Rumah Bing Nio di Wimbledon berdiri di lahan seluas 2,8 hektar. Tersedia 3 pelayan dari Inggris, 1 pelayan dan 1 koki dari China serta 1 koki dari Jawa. Bing Nio terbiasa berbahasa Jawa dan memakan masakan Jawa. Mobilnya Roll Royce. Mobil mewah lengkap dengan sopir dan pelayan yang tugasnya membukakan pintu mobil.

Sementara itu, Oei Tiong Ham memilih hidup sederhana di Singapura bersama istri ketujuhnya, Lucy Ho. Kakek perdana menteri Singapura, Lee Kuan Yew, pernah menjadi salah satu karyawan Oei Tiong Ham di Singapura.

Oei Tiong Ham diduga pindah ke Singapura pada 1920 karena beberapa sebab. Pertama, karena Pemerintah Hindia Belanda selain menetapkan pajak yang tinggi juga memaksa Oei Tiong Ham untuk menjual perkebunan tebunya seharga 70 juta. Kedua, Oei Tiong Ham ingin mewariskan usahanya hanya kepada 9 anak laki-laki dari istri ke 3, 5 dan 7 yang dianggap mampu berbisnis, sementara anaknya yang lain hanya akan diwarisi harta (bukan bisnis). Keinginan ini tidak akan terlaksana jika dia tetap bermukim di Semarang, karena hukum di Hindia Belanda mengharuskan ia mewariskan usahanya kepada semua anaknya. Di kemudian hari, keinginan Oei Tiong Ham tidak terlaksana dengan baik. Setelah ia meninggal, 17 anaknya menuntut hak waris atas kerajaan bisnis ayahnya ke pengadilan.

Pada tahun 1968, Hui Lan sempat mencoba menjalankan bisnis perkapalan, tembakau dan sepeda di Indonesia, tapi gagal. Di masa senjanya, ia berpendapat bahwa berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Menurutnya, “Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang lain dan hidup ini”. Ia teringat nasehat ibu-nya : “Kita harus puas dengan apa yang kita miliki”.

Meski Hui Lan mendapat warisan jutaan gulden, kehidupannya berangsur-angsur surut sejak kematian ayahnya. Oei Hui Lan tak lagi sering berpesta pora. Sepeninggal pelayan-pelayannya, Hui Lan mulai belajar menyalakan oven, merebus telur, memasak ayam paprika dan tim ikan dengan tausi serta seafood. Kini, ia percaya dengan pepatah Cina yang dulu pernah didengarnya, “Tak ada pesta yang tak berakhir”. Pepatah yang dulu ia hiraukan karena merasa bahwa uang ayahnya yang sangat banyak itu tidak akan habis. Saat kekayaannya sudah tergerus, sebagian propertinya telah dijual dan suaminya tinggal bersama istri mudanya, Oei Hui Lan hidup kesepian bersama 2 anjing Peking-nya di sebuah apartemen di New York. Ia sering mengenang anjing-anjingnya yang telah mati. Anjing yang telah memberinya cinta kasih dan kebahagiaan di tahun-tahun terakhir kehidupannya. Hui Lan berharap, kelak mereka akan dilahirkan kembali dan saling mengenal.

 

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*