Kejayaan Peradaban yang Tertunda

Musuh mana yang tak ciut nyalinya, tatkala mendengar teriakan Khalid bin Walid ra., kepada orang-orang Romawi yang bersembunyi di balik benteng Kinasrin, “Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit…untuk membunuh kalian !. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi….untuk membunuh kalian !”. Ini bukan sekedar gertakan. Peristiwa yang terjadi tanggal 03 Juni 637 M ini hanyalah penggalan kecil dari parade penaklukan negeri-negeri Romawi oleh tentara muslim di bawah khalifah Umar bin Khattab ra.

Sejarah mencatat bahwa bangsa Romawi pernah mencapai tingkat peradaban tertinggi di dunia. Sejarah juga mencatat bahwa Konstantinopel (sekarang terletak di Istanbul, Turki), kota terbesar, termegah dan termakmur di Romawi Timur, yang kemudian takluk di bawah Sultan Mahmud II pada 29 Mei 1453 M. Benarlah perkataan Rasulullah SAW, “Kota Heraklius akan ditaklukkan terlebih dahulu, yakni Konstantinopel” ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat, “Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel (Romawi Timur) atau Roma (Romawi Barat) ?” (HR. Ahmad). Kalau Konstantinopel sudah takluk, maka saat ini, sebenarnya kita sedang menunggu, bilakah Roma (Italia) takluk di tangan kaum muslimin.

Peradaban kaum muslimin pernah mencapai kejayaannya di masa lalu. Peradaban kaum muslimin akan kembali jaya di masa yang akan datang. Hanya saja, saat ini, kita sedang berdiri di bawah bayang-bayang dua masa itu. Saya tidak sedang mengatakan bahwa peradaban kaum muslimin saat ini terpuruk. Saya hanya mengatakan bahwa peradaban kaum muslimin saat ini sedang mengalami kejayaan yang tertunda, karena kelak kaum muslimin akan menjemput kembali takdir kejayaannya.

“….Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)….” (QS. Ali Imron : 140). Demikianlah, kejayaan itu akan dicapai oleh suatu kaum, apapun agama kaum itu, Islam (khilafah), Nasrani (Romawi), Yahudi (Israel) bahkan kafir (Mesir) sekalipun. Kenyataan yang kita hadapi saat ini adalah panji-panji kejayaan peradaban tidak berada di genggaman kaum muslimin. Benar, Islam itu agama yang mulia. Tapi kemuliaan itu tidak tercermin dalam perilaku pemeluknya, saat ini. Betul, Islam itu agama yang hebat. Tapi kehebatan itu tidak ada dalam pribadi pemeluknya, saat ini. Kini, tak ada pemimpin muslim seadil Umar bin Abdul Azis. Sekarang, entah kemana pengusaha muslim kaya sedermawan Utsman bin Affan ra. Saat ini, siapa ilmuwan muslim sekaliber Ibnu Sina atau Al Jabbar. Hari ini, susah mencari ulama se’alim Imam Syafi’i. Kalau begitu, marilah kita memulai langkah-langkah kecil untuk mengembalikan kejayaan peradaban kaum muslimin. Tak usah menyalahkan keadaan. Tak perlu menyandarkan beban ini kepada orang lain. “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan” (HR. Muslim).

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*