Merencanakan Keuangan Keluarga

Bagikan ini ke temanmu :

Saya coba menebak apa yang ada di pikiran Anda. Ya, Anda adalah orang yang punya banyak keinginan untuk membeli ini dan itu, tapi tidak punya cukup uang untuk membelinya. Benar begitu ? Kalau tebakan saya benar, bukan berarti saya pandai menebak, tapi karena saya tahu bahwa kebanyakan orang menghadapi persoalan yang sama. Pendapatan terbatas, sementara pengeluaran cenderung tak terbatas. Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan tersebut, kita perlu membuat perencanaan keuangan keluarga.

Sebelum membuat perencanaan, kita harus memahami bahwa harta yang baik adalah harta yang dimanfaatkan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat. Ingat, orientasinya tidak hanya dunia, tapi juga akhirat. Adapun prinsip dasar perencanaan keuangan keluarga setidaknya mencakup tiga hal.

Pertama. Sudah sepatutnya, harta yang kita miliki diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti : membayar hutang (sebisa mungkin, hindari berhutang), menafkahi keluarga dengan gaya hidup sederhana/tidak berlebihan (sandang, pangan, papan), mengeluarkan zakat serta berinfaq. Kesenangan/keinginan berbeda dengan kebutuhan. Mengikuti tren gadget, barang elektronik, fashion dan kendaraan adalah contoh kesenangan yang bisa ditunda (tidak harus dituruti). Bahasa ekstrimnya, biarlah handphone jadul, yang penting dapur bisa ngebul. Selain untuk memenuhi kebutuhan dasar tadi, ada baiknya kita juga memiliki dana cadangan jangka pendek (tabungan) yang dialokasikan untuk pengeluaran tak terduga (musibah), berobat, kelahiran anak, aqiqah, berqurban serta pengeluaran lain yang bermanfaat. Sebagian orang menganggarkan dana cadangan minimal 3 kali biaya hidup sebulan untuk menghadapi kondisi darurat.

Kedua. Pengeluaran harus lebih kecil dari pendapatan. Tunda kesenangan. Tunda keinginan. Kurangi pos pengeluaran yang tidak perlu, seperti : kebiasaan jalan-jalan dan makan di luar. Jika Anda merasa sudah tidak bisa mengurangi pengeluaran keluarga – karena sudah sangat pas-pasan – maka yang harus Anda usahakan adalah memperbesar pendapatan. Milikilah beberapa sumber penghasilan (multiple sources of income). Sebagian orang mengalokasikan maksimal 70 % dari pendapatan untuk biaya hidup.

Ketiga. Investasikan kelebihan harta Anda (selisih harta setelah pendapatan dikurangi pengeluaran). Tujuannya bukan untuk menumpuk harta, melainkan untuk kemaslahatan di masa depan, contoh : untuk menunaikan ibadah haji, untuk menyiapkan dana pendidikan anak, untuk dana pensiun (agar Anda tidak menjadi beban orang lain di kemudian hari), untuk membuka lapangan kerja dan tujuan mulia lainnya. Sebagian orang lebih suka berinvestasi langsung ke sektor riil secara mandiri ataupun bekerjasama dengan pihak kedua, seperti : pertanian, membeli ruko, sawah, perdagangan, manufaktur, peternakan, sewa rumah. Investasi seperti ini biasanya membutuhkan modal besar dan terkadang menyita pikiran, waktu dan tenaga. Sebagian yang lain lebih suka berinvestasi melalui kerjasama dengan pihak ketiga. Investasi seperti ini biasanya membutuhkan modal yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu menyita pikiran, waktu dan tenaga. Bentuk investasi jenis ini berupa deposito, obligasi, reksadana, dan saham. Berikut ini table yang memuat beberapa perbedaan dari kelima bentuk investasi tersebut.

Jenis Modal Bagi Hasil Resiko Rugi
Saham besar tinggi tinggi
Obligasi sedang sedang sedang
Reksadana kecil sedang sedang
Deposito sedang rendah rendah

Bentuk investasi di atas ada yang dikelola secara konvensional dan ada pula yang dikelola secara syariah berdasar ketentuan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Sebaiknya Anda memilih investasi syariah yang relative adil dan menentramkan.

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*