Seberapa Gereget Marketplace di Indonesia ?

Bagikan ini ke temanmu :

Dulu, orang melakukan jual beli di pasar tradisional. Waktunya terbatas. Pagi hingga petang. Lokasinya terbatas. Satu wilayah, satu pasar. Pasar Legi, ramai hanya di hari Legi. Demikian pula Pasar Kliwon, Pasar Minggu dan sebagainya. Jenis barang yang dijual terbatas. Paling banyak sandang dan pangan.

Lalu, di periode berikutnya, orang jual beli tak hanya di pasar. Toko dan mall bermunculan. Lokasi dan waktu jual beli lebih fleksibel. Jangkauan pasar relatif lebih luas. Jenis barang pun lebih variatif.

Kini, orang melakukan jual beli tanpa dibatasi jarak, lokasi dan waktu. Pembeli bisa order barang sambil liburan. Penjual bisa terima order sambil momong bocah di rumahnya. Mereka terhubung lewat internet dan jasa ekspedisi.

Berawal dari online shop hingga FJB (forum jual beli) Kaskus dengan Rekber (rekening bersama) yang sempat fenomenal, selanjutnya pasar online didominasi oleh marketplace yang menawarkan keamanan dan kenyamanan bertransaksi. Sebut saja Lazada, Tokopedia dan Bukalapak, 3 marketplace di Indonesia yang masing-masing pengunjungnya mencapai kisaran 100 juta per bulan. Belum lagi penantang seperti Shopee yang meski jumlah pengunjungnya baru setengahnya, tapi paling gencar berpromosi. Konon, transaksi di Tokopedia saja bisa mencapai 1 triliun rupiah per bulan. Tak heran jika JNE harus melayani 14 juta pengiriman tiap bulan. Gurihnya bisnis jasa ekspedisi membuat perusahaan sejenis bermunculan, salah satunya Paxel yang menjanjikan paket tiba di tujuan hanya dalam waktu 8 jam.

Banyak hal di luar dugaan terjadi. Contohnya produk terlaris di Tokopedia bulan lalu. Menurut Anda, kira-kira produk apa yang terlaris ?. Di luar dugaan, minyak kutus-kutus dan seblak pedas nangkring di top ten produk terlaris.

Pembeli diuntungkan dengan banyaknya pilihan barang dan harga. Tak jarang, pembeli membandingkan harga di toko offline dengan harga di toko online. Sekarang, pembeli tak perlu repot datang ke toko. Barang yang dibeli bisa langsung diantar ke rumah. Barang yang dijual pun beragam. Mulai dari kendaraan, elektronik, alat tulis, alat olahraga, barang hobi, hingga mie ayam.

Banyak penjual yang tak punya toko mahal, tapi bisa beromzet puluhan juta per bulan. Banyak penjual tak bermodal dapat meraih laba hanya dengan menjadi dropshipper. Pendapatan tak hanya dari laba barang saja. Tapi juga dari cashback jasa ekspedisi. Ada seller di Bogor yang menjual sandal murah dengan laba hanya Rp. 250 per pasang. Tapi karena banyak transaksinya, ia bisa mendapat cashback 15 % dari jasa ekspedisi sejumlah 7 juta rupiah sebulan.

Siapa saja yang diuntungkan ?. Pembeli. Penjual (laba & cashback). Marketplace (iklan & deposit dana). Bank (transaksi pembayaran). Media (iklan). Jasa ekspedisi. Apakah hanya itu ?. Tidak. Produsen digital product juga diuntungkan. Misal saja, tools Risetic untuk mencari produk apa yang bisa dijual di marketplace laris terjual. Juga penerbit buku, seperti BillionaireStore yang memproduksi dan menjual ribuan eksemplar buku berisi tips untuk berjualan online.

Inilah revolusi industri 4.0. Masih bermimpi beli ruko mahal tapi ga tahu mau jualan apa ?.

4 Komentar

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*