Baca Ini, Sebelum Kamu Memutuskan Untuk Pindah Kerja

Ada sebagian orang yang kerjaannya jalan-jalan, makan-makan, belanja-belinji, ketawa-ketiwi, kapan saja mereka mau, tanpa dibatasi oleh hari kerja kantor. Uenak banget ya. Iya. Orang seperti ini biasanya merupakan pemilik perusahaan (business owner) atau pemilik modal (investor). Uang bekerja untuk mereka melalui sistem yang telah mereka buat sebelumnya. Pak de Kiyosaki menyebutnya “rich dad”. Tapi itu cuma sebagian kecil orang saja. Menurut hasil penelitian Oxfam International, 2015, sebesar 50% kekayaan dunia akan berada di tangan 1% orang pada 2016. Sementara, sebagian besar orang lagi harus menerima kenyataan sebagai pekerja (self employed dan employee), baik itu pekerja lepas maupun pekerja “ketangkep” #aih.

Apa itu pekerja “ketangkep” ? pekerja “ketangkep” itu seperti aku dan seperti kamu. Bekerja dari pagi sampai sore (terkadang sampai malem), dari Senin sampai Jum’at (terkadang weekend juga #sedih) di sebuah tempat (kantor, pabrik atau apalah namanya). Gaji pas-pasan. Pas mau beli sesuatu, pas uang habis. Tanggal muda makan sate, tanggung bulan makan tempe, tanggal tua makan pete. Kere ! #bantinggelas. Waakkkkk…… gimana kalau kita piara tuyul aja yuuk ? atau babi ngepet ? aku rela jaga lilin-nya, asal kamu mau jadi ……..… babi-nya :p #hammer.

Tenang. Syukuri apa yang ada (lirik lagu D’nasib D’masiv). Kalau nasi sudah menjadi bubur, buatlah menjadi bubur ayam yang lezat (nasehat Aa Gym). Jadilah tukang bubur – biar bisa – naik haji (kalau yang ini mah judul sinetron, Gino !).

Orang bekerja itu ibarat orang pakai sepatu. Kalau sepatu nyaman, tentu kita betah berlama-lama memakainya. Tapi kalau sepatu kekecilan – jangan tanya – kaki lecet, jempol infeksi, hingga kuku berjamur itu sungguh perih, Jendral !. Tak perlu coba-coba merendam sepatu ke dalam minyak tanah agar melar kayak bola bekel. Segera ganti sepatu, sebelum sepatu itu membunuhmu !.

Demikian pula orang bekerja. Kalau tempat kerja nyaman, karyawan akan betah. Tapi kalau tempat kerja dirasa sudah kekecilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, pengembangan diri, impian dan kemanusiawian, sudah saatnya berpikir untuk pindah perusahaan. Entah perusahaan orang lain atau perusahaan sendiri.

Hasil penelitian Gallup (organisasi yang mencetuskan employee engagement pada 2004) di seluruh dunia menunjukkan bahwa hanya 13% karyawan yang engaged (antusias dan berkomitmen) terhadap pekerjaannya, sementara sisanya (87%) tidak #waduh. Engagement berbeda dengan loyalitas. Engagement diukur berdasar performance kerja, sedangkan loyalitas diukur berdasar masa kerja. Orang yang loyal belum tentu engaged. Menurut hasil penelitian Divisi Riset PPM Manajemen (2013), factor pendorong karyawan engaged adalah gaji dan benefit yang kompetitif, kesempatan berkarir serta suasana kerja yang menyenangkan.

Gaji dan Benefit

Gaji dan benefit kecil sering menjadi alasan orang untuk tidak betah bekerja. Memang sudah jadi bawaan orok, pada dasarnya semua orang itu mata duitan. Sudah punya gunung emas pertama, masih ingin punya gunung emas yang kedua. Pada kenyataannya, besar kecil gaji itu relative. Kita sendiri yang bisa mengukurnya. Kalau menurut kita gaji 10 juta itu pantas, take it. Kalau menurut kita ga pantas, ya leave it. Jangan sampai take it tapi pakai acara ngedumel apalagi sampai menurunkan performance kerja. Itu tidak bersyukur namanya. Untuk kasus ini, kisah Ray Kroc bisa jadi contoh. Ray adalah karyawan yang produktif. Ia memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai sales saat ia mengetahui kenyataan bahwa gajinya sama besar dengan gaji rekan kerjanya yang – menurut Ray – tidak produktif. Akhir cerita, dunia mencatat Ray Kroc sebagai pemilik kerajaan bisnis Mc Donalds.

Sebenarnya sih, kalau penggajian perusahaan tempat kerja kita sudah mengacu pada hasil survey gaji (contoh : Kelly Service’s Sallary Guide), maka gaji yang kita terima ga akan jauh berbeda dengan gaji orang lain di perusahaan lain untuk bidang dan tanggung jawab yang sama. Kalau pindah perusahaan, salah satu pertanyaan saat interview adalah : “Berapa gaji yang kamu peroleh di perusahaan sebelumnya ?”. Nah, biasanya nih, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan baru itu besarnya 10 – 40 % lebih tinggi dibanding gaji di perusahaan sebelumnya (sumber : mba-mba headhunter yang suka kirim-kirim email lowongan kerja).

Jika suatu saat kita dihadapkan pada pilihan untuk stay or go dari tempat kerja yang sekarang, tentu pertimbangannya bukan melulu soal gaji (kecuali bagi orang yang mata duitannya sudah tingkat dewa). Rumus Net Value of Living yang dicetuskan oleh Sam Gould berikut ini bisa jadi pertimbangan.

Net Value of Leaving = {Probability Really Better x (Value New Position – Value Current Position)} – Cost Quitting

Probability Really Better : seberapa besar kemungkinan yang kita yakini bahwa di tempat kerja yang baru akan lebih baik.

Value New Position: seberapa besar salary (gaji, tunjangan, bonus), benefit (fasilitas kesehatan, soft loan, pensiun), recognition (budaya kerja, leadership, lingkungan), maupun opportunity to growth (peluang karir, ruang bertumbuh lebih tinggi, kesempatan belajar) di tempat kerja yang baru.

Value Current Position: seberapa besar salary, benefit, recognition & opportunity to growth yang diperoleh dari tempat kerja sekarang.

Cost Quitting : biaya pindah (transportasi, rumah, sekolah anak)

Apabila net value of leaving hasilnya negatif, pilih stay. Apabila net value of leaving hasilnya positif, pilih go.

Berapapun gaji yang kita terima, syukuri. Jika kita pandai bersyukur, maka Tuhan akan menambahkan kenikmatan bagi kita. Kalau hidung kita pesek, syukuri saja. Toh masih bisa bernafas. Ga perlu iri dengan orang lain yang berhidung mancung. Kalau gaji kecil, tapi ingin punya rumah bagus dan mobil keren, itu urusan kita. Jangan salahkan perusahaan yang tidak mau memberi apa yang kita inginkan #emangnyaperusahaanmilikneneklo?. Kita harus mengusahakan kesejahteraan kita sendiri, dengan cara kita sendiri. Karena manisnya hidup, kita yang menentukan #eeaaa #iklanTropicanaSlim. Merdeka !.

Bicara gaji, bicara soal harta. Bicara harta, bicara tentang Warren Buffet. Siapa Buffet ? dia adalah salah satu orang terkaya dunia pemilik Berkshire Hathaway dengan kekayaan lebih dari USD 73 milyar atau lebih dari Rp 937 trilyun (sekitar setengah dari APBN Indonesia 2015). Meski bergelimang harta, ia nyaman dan bahagia dengan gaya hidup sederhana yang jauh dibawah kemampuannya. Ia tinggal di rumah berkamar tiga, biasa mengendarai mobil sendiri, tidak pergi dengan jet pribadi dan telah menyumbang sejumlah USD 31 milyar (Rp 397 trilyun) untuk kegiatan sosial. Buffet telah membuktikan bahwa bahagia itu bukan bergelimang harta. Tapi, bahagia itu sederhana.

Jenjang Karir

Kalau boleh bercita-cita nih ya, semua orang menginginkan career path yang ideal. Masuk kerja di posisi entry level pada usia 22 – 25 tahun, menempati posisi first line leader di usia 26 – 29 tahun, posisi middle management di usia 29 – 35 tahun, posisi senior management di usia 36 – 42 tahun dan posisi top management di usia 42 tahun ke atas. Tapi bagi sebagian besar karyawan, itu semua hanyalah mimpi. Sebagian besar karyawan akan stuck di jenjang karir tertentu. That’s life, dude. Roda kehidupan harus berputar, mesti ada miskin dan kaya, kudu ada jongos dan boss.

Eh, kok si Anu sih yang naik pangkat, padahal kan Anu ga sepandai Ani. Gosip seperti ini jamak terjadi ketika ada seseorang mendapatkan promosi jabatan. Padahal, karir seseorang tidak melulu ditentukan oleh pandai atau tidaknya seseorang. Menurut hasil penelitian Harvard University, Stanford University dan Carnegie Foundation, 15% kesuksesan seseorang ditentukan oleh pendidikan akademis, keterampilan dan pengetahuan umum, selebihnya (85%) ditentukan oleh sikap dan human relation. Sikap kita tercermin dari gaya komunikasi kita. Komunikasi bukan hanya soal bicara, tetapi komunikasi adalah tentang apa yg dikatakan (7%), bagaimana menyampaikan (35%) dan bahasa tubuh (58%). Membina hubungan baik kepada siapapun itu penting. Never burn your bridge. Sudah banyak contoh, orang yang dulunya diremehkan, justru menjadi tokoh di kemudian hari. Thomas Alva Edison kecil yang tuli, bodoh dan dikeluarkan dari sekolah berubah menjadi penemu dengan 2.332 hak paten atas namanya. Mau ditaruh di mana muka kita ketika bertemu dengan orang sukses yang dulunya pernah kita lukai hatinya ?. Ah, malu semalu-malunya.

Suasana Kerja

Perusahaan mana yang menjadi “great places to work” versi Majalah Time dan Fortune ?. Jawabannya adalah Google. Apakah kamu pernah melihat kantor Google ? Belum ? Hmm… aku pernah melihat (#sombong) …… fotonya ! huaaa..haa #nyakartembok.

Konon katanya, di Googleplex (sebutan untuk kantor pusat Google di California), karyawan berseliweran mengendarai otoped. Karyawan juga bebas seluncuran, pijat, spa, gym hingga menikmati menu makanan kelas dunia di café secara gratis. Hmmm, kebayang kan serunya seperti apa. Bisa-bisa karyawan betah di kantor sampai ga ingat pulang tuh. Suasana kerja seperti ini, selain memberi rasa homy (feel like a home), juga bisa mempererat rasa kekeluargaan (camaraderie) serta bebas dari stress. Kamu boleh bosan dengan pekerjaanmu, tapi kamu tidak akan bosan dengan teman dan lingkungan kerja yang menyenangkan.

Ah, sudahlah. Tulisan ini sudah menjadi terlalu panjang untuk enak dibaca. Aku mau istirahat. Kalau ada orang yang mencariku, tulung bilangin, cari aja di Google !.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

12 Komentar

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*