Tentang

Bagikan ini ke temanmu :
Share

Selamat datang di PoentjakWeg !

Untuk bisa menikmati semua fitur di situs ini, kamu hanya perlu Log in. Itu saja.

Kamu bisa Log in jika kamu sudah “register/daftar” terlebih dahulu di situs ini. Hubungi kami jika kamu belum berhasil Log in.

Di PoentjakWeg, kamu tidak hanya disuguhi artikel menarik saja. Uniknya, kamu bisa berinteraksi di situs ini seperti layaknya berinteraksi menggunakan media sosial terkemuka di Jejaring Sosial. Kamu bisa berteman, update status dan saling mengirim pesan. Rame dan seru, kan ?. Kamu juga bisa melakukan jual beli di Pasar Puncak. Info lalu lintas Puncak juga ada di sini (info kemacetan Puncak). Pokoknya komplit deh.

Dahsyatnya lagi, semua aktifitas yang kamu lakukan di PoentjakWeg akan dinilai menggunakan sistem point. Point kamu akan bertambah tiap kali kamu melakukan aktifitas positif seperti membaca, komentar, posting dan sebagainya. Tapi, point kamu akan berkurang jika kamu menghapus komentar, melakukan provokasi berbau SARA (suku, agama, ras dan antar golongan), komentar tidak sopan serta diduga memperoleh point dengan cara yang tidak semestinya.

Jumlah point (biji) yang kamu peroleh akan menentukan jenjang keanggotaan kamu di PoentjakWeg. Silahkan cek profil kamu. Jenjang keanggotaan di PoentjakWeg (diurutkan dari jenjang terendah ke jenjang tertinggi) adalah sebagai berikut :

1. Saya mah apa atuh

2. Jongos

3. Juragan

4. Pendekar

5. Guru

6. Pahlawan

Kamu juga bisa mendonasikan sebagian point yang kamu miliki kepada anggota lain.

Kumpulkan point sebanyak-banyaknya. Jika kamu beruntung, sebagian point kamu bisa ditukar dengan produk/jasa dari sponsor kami.

Catatan : per 01 Desember 2018 hingga waktu yang belum ditentukan, fitur selain artikel kami non aktif-kan karena keterbatasan sumberdaya serta belum optimal-nya penggunaan fitur tersebut.

Mengapa dinamakan PoentjakWeg ?.

PoentjakWeg bermakna Jalan Puncak (Weg = jalan, bahasa Belanda). Konon, jalan ini pernah dilewati oleh pasukan Mataram saat menyerang Kompeni di Batavia sekira tahun 1628. Pada saat itu, kondisi jalan Puncak masih susah dilalui kendaraan. Jalan yang menanjak mengharuskan pengendara mengganti kuda setelah menempuh jarak 10 km perjalanan. Bahkan di beberapa titik, kuda harus dibantu oleh kerbau untuk bisa menarik kereta. Hingga kemudian Gubernur Jendral Herman Willem Daendels memperbaiki Jalan Puncak sekira tahun 1808. Rute Batavia – Cipanas┬áberjarak kurang lebih 80 km yang sebelumnya ditempuh dalam waktu 8 hari perjalanan menggunakan kereta kuda dipersingkat menjadi hanya sekira 10 jam saja. Sejak saat itu, kawasan Puncak yang semula hutan, berubah menjadi perkebunan dan tempat peristirahatan.

Dulu, bapak Proklamator RI, Soekarno – Hatta, melewati jalan ini untuk sekedar melepas kepenatan. Kini, makin banyak orang melewati jalan ini setiap pekannya. Banyak lembaga (lokal dan asing) maupun perorangan yang membuat tempat pelatihan atau villa peristirahatan atau tempat wisata atau hotel dan restoran di kawasan ini. Tak hanya wisatawan, baik domestik maupun mancanegara (terutama dari Timur Tengah), bahkan ribuan pengungsi dari negeri-negeri yang dilanda konflik di dunia juga ada di sini.

Dengan segala dinamika dan kompleksitasnya, jalan ini telah menjadi saksi betapa sebagian orang lewat dengan menaiki kendaraan mewah (sebut saja Hummer, Ferrari, Lamborghini, dsb) dan kehebatannya. Demikian pula, jalan ini juga menjadi saksi betapa sebagian orang melewati jalan ini dengan sederhana, bermotor hingga berjalan kaki.

Kami ada di sini. Untuk berbagi.

Hubungi kami :

Namamu

Emailmu

Judul

Pesan

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*