Presiden ? Bau Kentut !

picture downloaded from horoscope.tips

Kuncung : “Kamu jelek”

Bawuk : “Kamu yang jelek”

Kuncung : “Ga. Kamu”

Bawuk : “Kamu”

Kuncung : “Kamu yang jelek”

Bawuk : “Ennngggaaaaa !”

Kuncung : “Jeellleeekk”

Bawuk : “Ga”

Kuncung : “Lek”

Hussss… mbok ya wis tho, le. Kalian itu menengo. Diam. Jangan ribut bersahut-sahutan kayak supporter pemilihan presiden (pilpres) yang sok-sokan itu. Saya heran seheran-herannya, lha wong mereka itu bukan keponakannya Jokowow, bukan juga sepupunya Prabowow. Kok ya bela-belain sampai berantem sendiri sesama teman. Wuedian tenan. Kecuali kalau capres itu Mbahmu, kalian mau bacok-bacokan juga ndak pa pa. Lha emangnya kalau pilihanmu menang, terus kamu bisa berubah jadi ganteng maksimal, gitu ?. Yo ndak. Kamu jadi “apa” itu tergantung usahamu dan belas kasihan Gusti Allah.

Pilihan presiden itu 5 tahun sekali, le. Kalau jagoanmu sekarang ga menang, ya tunggu saja 5 tahun lagi. Siapa tahu nanti jagoanmu …. ga menang lagi. Lha wong jare Gusti Allah, menang dan kalah itu dipergilirkan. Ndak usah maksain pengin menang sampai dengkulmu mlicet. Kalau dengkulmu mlicet, yang rugi kan kamu sendiri tho ?. Tunggu saja sampai giliranmu menang. Kalau sekarang jagoanmu menang, sah-sah saja kamu senang. Ndak ada yang melarang. Tapi jangan kebablasan yo, le. Ojo dumeh. Ingat, habis turunan ada tanjakan. Siapin kopling.

Ngerti ?.

Ojo gumunan. Sok heboh. Pilpres ? biasa saja. Menang ? biasa saja. Kalah ? biasa saja. Sama persis kayak kamu kalau habis kentut. Biasa saja. Ndak usah ekspresif. Biarin kentutmu sendiri yang bikin heboh dengan baunya yang semerbak. Jujur saja-lah. Kentut-mu bau apa ndak ?. Kentut presidenmu bau apa ndak ?. Kamu dan presiden itu sama. Sama-sama bau kentut. Jadi , biasa saja lah.

Saya khawatir, alasan kalian berantem itu sebenarnya bukan soal cari pemimpin untuk kemaslahatan umat. Tapi kalian berantem gara-gara masing-masing kamu merasa pilihanmu benar, lalu pilihan orang lain salah. Kamu merasa lebih baik, lalu orang lain itu lebih jelek. Persis kayak kuncung bawuk itu. Padahal yo, le. Latar belakang tiap orang itu berbeda. Wajar kalau seleranya beda. Gudeg itu enak, bagi yang suka Gudeg. Jangan sampai menganggap orang yang ndak suka gudeg itu seleranya rendahan. Gitu.

Kalau rasa “aku benar, kamu salah” itu dituruti, efeknya bisa kemana-mana. Orang pasang bendera Perancis, salah. Presiden ga fasih bahasa Inggris, salah. Orang memuji Erdogan, salah. Orang simpati ke Palestina, salah. Partai sapi, salah. Tuhan, salah. Yang benar cuma kamu dan pacar kamu, tok til !.

Mau dengar nasehat dari pemimpin sebuah Negara yang berhasil menaklukkan Persia dan Byzantium tanpa memaksa penduduknya pindah agama ?. Pemimpin yang merasa bersalah ketika ada – tak cuma anak manusia – bahkan, anak kambing di negerinya mati. Pemimpin yang suka blusukan sambil membawa makanan untuk dibagikan ke rakyat miskin. Pemimpin yang menghargai kejujuran, hingga menjadikan seorang wanita miskin penjual susu sebagai menantunya. Inilah nasehat dari pemimpin itu, Umar bin Khattab Ra : “Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap pendapatnya sendiri. Ketahuilah, orang yang mengaku cerdas sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang mengatakan bahwa dirinya pasti masuk Surga, dia akan masuk Neraka”.

Mbok ya sudah. Biarkan “salah – benar” itu hanya keluar dari mulut juri cerdas cermat. Bukan kamu. Ingat kisah Musa As dan Khidir As. Benar atau salah itu seringkali tidak terlihat dari kacamata awam dan logika manusia.

Berbuatlah baik sebisamu dan jangan menghalangi orang lain untuk berbuat baik. Mau nyumbang duit ke Palestina untuk kemanusiaan, silahkan. Jangan dihalang-halangi. Apalagi sampai diomong, nyumbang kok yang jauh, mbok nyumbang ke Papua aja yang dekat. Jangan ngomong begitu. Orang lain nyumbang ke yang jauh, kamu nyumbang ke yang dekat. Gak usah heboh. Mau pake sorban atau jilbab, silahkan. Jangan dihalang-halangi. Apalagi sampai diomong, orang Indonesia kok pake pakaian kayak orang Arab, mbok pakai pakaian Nusantara. Jangan ngomong begitu. Orang lain pakai sorban atau jilbab, kamu yang pake belangkon atau konde. Gak usah heboh. Lha kamu itu sebenarnya manusia apa gethuk tho ?. Bukan Menteri Keuangan, tapi sok sok mikirin rasio utang Negara ke PDB. Oalah Ju….Ju…. mending mikirin ra iso utang bakwan ke warunge Mbok Ju.

Kuncung & Bawuk : “Sebentar, pak de. Sebenarnya pak de itu ngomong apa sih ?. Kok ngalor ngidul. Kita ndak ngerti, pak de”

Ngomongin kentut.

Kuncung & Bawuk : “Ooo… ngomongin kentut. Halah, pak de lebay. Ngomongin kentut aja kok sampai ditulis panjang lebar kayak gini. Emang siapa yang mau baca ?”

Curut !.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*