Wooii, Puncak Macet Ga Sih ?

Puncak macet ga sih ?. Ini pertanyaan yang sering terbersit di benak orang. Kalau kagak macet, bukan Puncak namanya. Ibarat ada gula, ada semut. Kalau orang berbondong-bondong datang ke Puncak, berarti ada magnet yang membuat kawasan ini begitu diminati.

Macet dan Puncak bagaikan 2 sisi mata uang. Kalau kamu mau ke Puncak, ya harus mau macet. Itu sudah sepaket. Saking seringnya macet, Pemprov Jawa Barat & Pemda Kab. Bogor berencana membuka jalan Puncak 2. Jalan ini nantinya akan membentang dari Sentul Selatan hingga Cipanas. Panjang jalan Puncak 2 ini mencapai 40 km, melewati hutan-hutan di Sukaraja. Tapi, entah kapan bisa beroperasi.

Agar kamu selamat dari kesemrawutan lalu lintas Puncak, tak ada salahnya kamu simak tips berikut ini :

Pertama. Ketahuilah bahwa waktu macet di Puncak itu berpola. Jum’at sore hingga Minggu malam dalam sepekan, kawasan ini hampir pasti macet. Macet akan lebih parah jika berbarengan dengan masa liburan anak sekolah, libur panjang (pas tanggal merah atau mudik lebaran), tanggal muda (baca : habis gajian), akhir tahun (biasanya banyak instansi yang menghabiskan anggaran sebelum tutup buku..ups), tahun baru, ada kecelakaan serta hajatan di pinggir jalan (hadeuh). Di luar itu, jalanan Puncak seringkali lengang. Ya, lengang bin kosong alias lancar jaya.

Khusus hari Sabtu & Minggu, polisi memberlakukan jalan satu arah (one way traffic). Satu arah artinya, jalan raya yang biasanya terbagi menjadi 2 arah dibuat satu arah. Tujuannya agar lalu lintas lancar. Kamu bisa menyesuaikan jadwal kepergianmu dengan jadwal satu arah, agar tidak keriting di jalanan. Berikut jadwal satu arah di hari Sabtu & Minggu :

Sekitar pukul 09.00 – 12.00 = satu arah ke atas (dari Jakarta menuju Puncak)

Sekitar pukul 14.00 – 18.00 = satu arah ke bawah (dari Puncak menuju Jakarta)

Pada saat satu arah ke atas diberlakukan, arah yang berlawanan dihentikan secara paksa di beberapa titik. Maksud dihentikan secara paksa adalah, jika ada kendaraan yang jalan, maka akan diberhentikan secara paksa oleh polisi.

Hati-hati, pembaca. Meski satu arah, bukan berarti kamu bisa ngebut. Kendalikan kecepatan. Saya sudah sering menyaksikan kecelakaan terjadi di kawasan ini. Entah karena telat injek rem atau hilang kendali karena tiba-tiba ada orang/kendaraan lain melintas. Jangan terlalu mengambil sisi kanan jalan, karena pasti ada sepeda motor yang melawan arus atau melintas dari arah berlawanan.

Kedua. Ketahuilah titik macet di Puncak. Tragedi kemacetan itu bermula dari exit gerbang tol Jagorawi arah Puncak. Ini gerbang masuk utama dari Jakarta ke Puncak. Macet di sini karena lampu merah (pertigaan, pertemuan dengan Ciawi), penyempitan ruas jalan, tanjakan dan pertigaan ke arah Pasir Muncang. Komplit sudah. Kalau kamu terjebak macet di sini, sebaiknya antri. Jurus salip kanan, salip kiri tidak akan manjur, bahkan hanya akan menambah panjang kemacetan.

Titik macet berikutnya adalah tanjakan Cibogo (itu lho, jalan yang dibagi dua, terus di tengahnya ada patung orang & macan). Penyebab kemacetan di sini adalah penyebab terkonyol menurut saya. Di sini, jalan cukup lebar, sehingga pengendara seringkali termotivasi untuk berusaha mendahului kendaraan lain. Tapi naas, jalan cukup lebar itu panjangnya hanya sekitar 200 meter saja, selanjutnya jalan kembali menyempit. Terjadilah macet. So, mending ngantri aja deh.

Selanjutnya, kemacetan menghantui di simpang Megamendung (dekat polsek Cisarua, tepatnya di samping Mesjid Nurul Huda), kalau belok kiri bisa ke Pusdik Polri, wisma Pertamina, Unilever Learning Center dan sebagainya. Kalau belok kanan, Anda bisa mampir ke posko Poentjak Weg (he..he..he..).

Setelah tanjakan di depan wisma Bima Sakti, bersiap-siaplah untuk macet. Anda menuju Taman Wisata Matahari (TWM) dan Curug Cilember.

Titik macet selanjutnya adalah pasar Cisarua. Titik ini paling parah macetnya. Bahkan terkadang di hari biasa pun, macetnya panjang. Ini pasar tradisional yang sangat sangat semrawut. Sama sekali tidak ada penataan. Kalau melihat pasar ini, saya merasa seakan-akan kita tidak punya pemerintah. Tapi kalau melihat di situ ada petugas retribusi, saya merasa pemerintah hanya mau enaknya tapi ga mau anaknya. Huh.

Macet juga terjadi di depan RSP Dr. Goenawan Partowidigdo, tepatnya di pertigaan arah Taman Safari Indonesia. Di sini, terkadang kendaraan dari atau ke Taman Safari seolah-olah lebih diutamakan untuk melintas. Contohnya, pada saat diberlakukan satu arah ke bawah (dari Puncak ke Jakarta), kendaraan dari Taman Safari bisa melintas, sementara kendaraan dari arah atas (Cipanas) dihentikan di pertigaan. Akibatnya, bisa macet panjang hingga ke Gunung Mas.

Ketiga. Ketahuilah jalan alternative yang bisa kamu gunakan untuk menghindari kemacetan. Jalan ini bisa dilewati oleh roda 2 maupun roda 4 (bus atau truk tidak disarankan untuk menempuh jalan ini). Tapi, pada saat jalan raya Puncak macet parah (misal: pada saat Tahun Baru), saya tidak menyarankan kamu melewati jalan alternative ini. Mengapa, karena biasanya jalan alternative juga macet. Lebih baik macet di jalan raya Puncak, karena di sepanjang jalan ini ada resto, pedagang, minimarket, toilet, dsb yang bisa kamu sambangi. Kalau macet di jalan alternative, yaa…jangankan minimarket, toko kelontong saja jarang. Paling cuma ada kodok ama jangkrik. Sesekali (mungkin) perempuan berjubah putih dan berambut panjang (hiiii…).

Boleh jadi kamu agak kesulitan menemukan jalan alternative. Tapi, kamu bisa menggunakan jasa tukang ojek ataupun pak ogah yang bersedia menunjukkan jalan dengan diberi imbalan sekian ratus ribu. Mahal memang. Apalagi ada beberapa tukang ojek yang terkesan memanfaatkan keadaan. Macet ga seberapa, dibilangnya macet parah. Tujuannya apalagi, kalau bukan untuk memperlaris jasanya.

Saran saya, kalau melintas jalan alternative, siapkan uang receh seribuan. Banyak pak ogah yang ogah diberi uang gopek apalagi cepek. Kalaupun kamu tidak mau menggunakan jasa tukang ojek atau pak ogah, kamu bisa bertanya ke penduduk sekitar yang berada di pinggir jalan. Mereka cukup ramah kok.

Tapi, baiklah. Saya coba tuliskan penjelasan singkat tentang jalan alternative. Jalan alternative yang saya cantumkan di sini adalah jalan alternative yang saya sarankan. Di luar itu, masih ada beberapa jalan alternative lain yang tidak saya cantumkan karena menurut saya jalan tersebut kurang layak dilalui. Kurang layak dilalui karena rute-nya memutar jauh, jalannya kecil, sehingga kalau banyak orang lewat sini, justru akan mengakibatkan macet tiada tara.

Sebelum memutuskan untuk melewati jalan alternative, selain perlu menyiapkan uang receh untuk pak Ogah, kamu juga perlu memastikan kondisi kendaraan dalam kondisi layak jalan, karena kamu akan melewati tanjakan, turunan dan tikungan bak roller coaster. Pastikan bahan bakar memadai, karena di sepanjang jalan ini tidak ada SPBU. Selain itu, di beberapa ruas jalan, aspalnya sudah terkelupas. Hati-hati. Oh ya, sebaiknya kamu tidak melewati jalan alternative ini di malam hari. Kondisi jalan agak gelap dan medannya kurang user friendly.

Dari arah Jakarta menuju Puncak, kamu bisa menempuh jalan alternative sebagai berikut :

Untuk menghindari kemacetan di Gadog, kamu bisa keluar gerbang tol Sentul Selatan. Setelah tiba di Babakan Madang, ambil belokan ke kiri arah Ciawi. Kamu akan melintasi Rainbow Hill atau bukit pelangi, lalu keluar di Pasir Angin (sebelum tanjakan Cibogo). Waktu tempuh kisaran setengah hingga satu jam tergantung kondisi jalan. Selamat, kamu terbebas dari kemacetan di Gadog.

Jika kamu melihat kemacetan setelah keluar gerbang tol menuju Puncak (jauh sebelum lampu merah Gadog), kamu tidak usah ambil arah Puncak, tapi ambil arah Ciawi. Kamu akan keluar di perempatan Ciawi. Kalau lurus, ke Sukabumi. Kalau belok kanan, ke Jalan Tajur (outlet Tas dan Sepatu), Kota Bogor. Kalau belok kiri sebelum lampu merah, ke Mesjid Amaliah atau Unida (Universitas Djuanda). Kalau belok kiri setelah lampu merah, ke Puncak. Ambil jalur untuk kendaraan pribadi (jangan jalur angkot). Ikuti jalan. Sekitar 200 meter setelah RSUD Ciawi, kamu akan menemui pertigaan pertama di kanan jalan, yaitu Seuseupan. Pertigaan ini terkenal dengan Baso Seuseupan-nya yang khas karena ada kriuk-kriuk krispy yang terbuat dari kulit yang digoreng hingga kering. Jangan belok di pertigaan ini. Lurus saja. Sekitar 100 meter kemudian, kamu akan menemui pertigaan di kanan jalan, yaitu Bendungan. Kalau lurus, sampailah di lampu merah Gadog. Kalau mau lewat jalan alternative, belok kanan. Ikuti jalan, hingga ada pertigaan (ada penunjuk jalan di sini, belok kanan ke Puncak), silahkan belok kanan. Ini saya sebut jalur Pasir Muncang. Normalnya, jalur Pasir Muncang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit.

Seringkali, setelah keluar gerbang tol (pom bensin), banyak yang menawarkan jasa untuk memandu jalan lewat Pandansari. Menurut saya, jalan ini tidak layak. Memang sih, jalan ini shortcut langsung ke pertigaan Gadog. Tapi, jalannya kecil dan masih harus antri lagi di Gadog. Bisa-bisa malah kamu terjebak macet di sini. Lebih baik kamu ambil arah Ciawi deh.

Jika kamu terlanjur terjebak macet di sekitar lampu merah Gadog, kamu bisa belok kanan setelah tanjakan depan Alfamart/rest area Gadog (kira-kira kurang dari 100 meter dari lampu merah Gadog). Ikuti jalan (jalan Cikopo Selatan). Kalau ketemu pertigaan, lurus saja, ambil jalan utama. Kamu akan menemui kantor polsek Megamendung di kiri jalan. Ikuti jalan yang berkelok dan menanjak. Hati-hati, sisi kiri jalan, rawan longsor. Tanjakan ini mirip huruf S. Setelah tanjakan yang menikung, segera ambil arah kanan (jangan yang arah kiri/lurus. Banyak orang nyasar ambil kiri/lurus karena tidak sempat belok kanan). Ikuti jalan. Sampai ada pertigaan. Ambil kiri. Ikuti jalan. Rasakan sensasi turunan, tanjakan dan tikungannya yang aduhai. Sampai di pertigaan, kamu bisa ambil kiri atau kanan tergantung tujuan. Kalau ke kiri, kamu akan keluar di Cidokom (hotel Lembah Nyiur). Nongol di dekat kantor Pos Cisarua (dekat dengan kantor Telkom, Kantor Kecamatan Cisarua, Jogjogan, Hankam, Hotel Grand USSU). Jika ini bukan tujuan kamu, barangkali belok kanan lebih cocok. Kalau ambil kanan, kamu bisa keluar di Citeko atau Pasar Cisarua. Sebenarnya jalan ini juga bisa tembus ke Taman Safari ataupun langsung ke kebun teh Gunung Mas, tapi jalannya kecil. Saya sarankan kamu tidak keluar di pasar Cisarua, karena ibarat keluar dari goa macan, masuk ke lubang buaya. Di pasar, macetnya luar biasa (kecuali kalau lokasi yang ingin dituju dekat dengan pasar Cisarua, seperti Hotel Safari Garden, Pafesta/Pizza Hut dan sekitarnya).

Oh ya, alternative lain yang bisa ditempuh agar tidak terjebak macet adalah tetap melewati jalan raya Puncak, tapi minta dikawal oleh Polisi. Hanya saja, kamu perlu memberi imbalan ke polisi atas jasa khusus itu.

Keempat. Tak jarang pula ada mobil yang macet di kawasan ini. Asap & bau kopling terbakar sering tercium. Ada juga mobil yang mengalami rem blong. Gagal rem biasanya terjadi karena rem terlalu panas akibat keseringan ngerem (kecuali mobil yang sudah dilengkapi dengan AntiLock Braking System). Sekedar untuk kamu ketahui, di turunan panjang menuju Cipanas, sering ada orang yang berteriak-teriak, “asap… asap”. Orang itu berharap kamu menghentikan kendaraan dan menggunakan jasa mereka untuk memeriksa mobil kamu. Ongkosnya ? muahal !. Lebih baik, cuekin saja. Tak perlu berhenti. Kalau melewati turunan panjang, mobil transmisi manual baiknya menggunakan gigi rendah, sehingga putaran mesin dapat menghambat laju kendaraan (engine brake). Jangan lupa mengecek indicator temperature mesin. Jika indicator temperature mesin sudah naik lebih dari setengah, waspadalah. Lebih baik kamu menepi dan mematikan mesin. Tentu kamu ga mau mogok kan ?. Oh ya, di kawasan ini, bengkel mobil terkenal Afgan (sadis..he..he). Mereka seringkali mematok harga tinggi hanya untuk sekedar melakukan perbaikan sepele. Bahkan terkadang mobil yang harusnya tidak perlu diperbaiki, jadi harus diperbaiki gara-gara ulah nakal mereka.

Boleh jadi, selama di Puncak, kamu akan melihat orang asing berlalu lalang. Paling banyak adalah orang Timur Tengah (Arab, Dubai), karena mereka wisatawan mancanegara terbanyak di kawasan ini. Ada juga orang bule dari Rusia, Australia dan Inggris. Kedutaan besar negara mereka punya wisma di daerah ini. Selain itu, banyak pula orang Somalia, Irak, Afghanistan, Philippine dan lain-lain. Mereka adalah pengungsi yang dibiayai oleh UNHCR. Mereka digaji, tapi tidak boleh bekerja ataupun menikah.

Selain hotel, villa dan restoran, fasilitas lain di Puncak pun cukup komplit. Kamu bisa menjumpai ATM BCA, Mandiri, BRI, Muamalat, Danamon dan Niaga bertebaran. Mau shopping ?. Ada Toserba Selamet di Cipayung dan Britania di Cisarua. Kantor polisi ada dua, Polsek Cisarua di jalan utama dan Polsek Megamendung di jalan alternatif (yaa, barangkali aja kamu mau mampir.. he.. he..). Dari Jakarta, kamu bisa menjumpai tiga SPBU di kiri jalan (Cipayung, Cisarua, Tugu) serta dua SPBU di kanan jalan (Cipayung dan Taman Safari).  Di sepanjang jalan ada Masjid, Gereja dan Wihara. Tapi, tempat ibadah yang cukup representatif cuma ada tiga, yaitu : mesjid Amaliah, mesjid At Ta’awun dan mesjid Harokatul Jannah.

Toko dan lapak oleh-oleh bertebaran di sepanjang jalan. Barang yang dijual pun mirip-mirip, ada keripik, bakpia, sale, dodol dan manisan. Konon, oleh-oleh yang paling laris itu keripik tempe dan keripik bayam. Kalau saya lebih suka beli pisang tanduk atau talas bogor. Jangan heran kalau harganya tinggi. Kalau mau yang agak murah, carilah lapak pedagang di jalan-jalan kecil (bukan jalan utama). Pisang tanduk setandan di lapak pinggir jalan utama dihargai antara 100 hingga 120 ribu. Sementara di lapak jalan kecil cuma dihargai 60 ribu.

Burung Irian, burung Cendrawasih.

Cukup sekian dan terimakasih.

Selamat berlibur ya !.

Cek Daftar Hotel di Puncak

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share
About ngakunya admin 23 Articles

admin itu ya admin

3 Komentar

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*