Tukang Sapu Istimewa

Siapa? tukang sapu.
Tukang sapu? ya, tidak lebih.
Ouw… tukang sapu istimewa ? entahlah, yang jelas tukang sapu itu ada di hati Rasulullah Saw. Karenanya, ia terekam dalam sejarah. Kisahnya diceritakan oleh Abu Hurairah Ra dan ditulis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (dua kitab hadits yang dipercaya sebagai kitab hadits yang paling banyak kebenarannya).

Wanita berkulit hitam itu bernama Ummu Mihjan. Dia bukanlah Kartini di jamannya. Titel yang patut disandangnya hanyalah “tukang sapu”. Bukan orang penting. Titel itu pula yang melekat di benak sahabat Rasulullah Saw. Sedemikian tidak pentingnya wanita berkulit hitam itu, sampai-sampai tak ada sahabat yang merasa perlu mengabarkan berita kematiannya kepada pemipin Negara, Rasulullah Saw – orang penting saat itu.

Hingga suatu ketika, Rasulullah Saw merasakan suasana yang tak seperti biasa. Beliau tak melihat kehadiran Ummu Mihjan di sana. Rasulullah Saw menanyakan kabar wanita tukang sapu itu kepada sahabat.

“Dia telah meninggal”, jawab sahabat, sepele.

“Oh, meninggal ?”, begitu kira-kira ucapan kita seandainya hadir pada saat itu. Tentu saja dengan nada sedikit terkejut. Kita juga tak lupa menunjukkan rasa turut berbelasungkawa kita dengan mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” seraya mendoakan arwah wanita itu. Ya, itu saja sudah cukup, bukan ?. Toh, wanita itu hanyalah tukang sapu.

Tapi, akhir dari kisah ini sungguh menyentak mata batin kita. Rasulullah Saw menegur sahabat: “Mengapa kamu tidak memberitahukan kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya kepadaku!”. Lantas, Rasulullah Saw mendatangi kuburan Ummu Mihjan dan mensholatinya.

Kesibukan Rasulullah Saw sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin negara tak menghalanginya untuk peduli serta memenuhi hak “wong cilik”. Di sisi beliau, “wong cilik” yang biasanya hanya pantas “lungguh” (duduk) di “dingklik” (bangku kecil) justru mendapat tempat yang istimewa. Bahkan Anas bin Malik Ra, pembantu Rasulullah Saw, pernah bercerita: “Sekiranya ada seorang budak dari budak penduduk Madinah menggandeng tangan Rasulullah Saw, sungguh beliau akan beranjak bersamanya kemana budak itu pergi” (Shahih Bukhari).

Lihatlah ke sekitar kita. Seringkali “wong cilik” adalah orang yang lemah dan tersingkir dari hiruk pikuk kehidupan. Padahal, boleh jadi, mereka yang bukan siapa-siapa di dunia akan menjadi orang yang dihormati di akhirat kelak. Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni surga? Yaitu setiap orang lemah dan ditindas, yang sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni neraka? Yaitu setiap yang beringas membela kebatilan, kasar lagi sombong” (Shahih Bukhari). Karenanya, kita tak boleh meremehkan orang-orang lemah di sekitar kita. Ingatlah akan peringatan Rasulullah Saw: “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya (do’a) orang-orang yang lemah (diantara) kalian” (Shahih Bukhari).

Kita bukanlah Nabi, sang manusia super itu. Wajar jika akhlak kita jauh dari sempurna. Kita – siapapun kita – orang yang merasa paling sibuk sedunia, yang mengeluh dengan kemacetan kota (padahal kita juga menjadi salah satu penyebab kemacetan itu) dan gundah gulana mengejar rejeki (padahal rejeki sudah dijatah) – seringkali tak menganggap kehadiran “orang kecil”, semisal tukang sapu tadi, di sekitar kita. Ah, sudahlah. Itu yang saya rasakan. Mungkin Anda tidak seperti itu.

Catatan : di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tidak dijelaskan tentang identitas tukang sapu itu, tapi menurut Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani, “Yang benar, dia adalah seorang perempuan, yaitu Ummu Mihjan”.

Komentar dari pengguna Facebook
Bagikan ini ke temanmu :
Share

Apa komentarmu ?

Tulis di sini

Alamat email akan disembunyikan. Terimakasih.


*